Yang Wajib Anda Ketahui Tentang Formalin

May 19, 2015

formalin

Siapa yang tak kenal formalin? Sepuluh tahun yang lalu, jika Anda menyebut formalin orang akan langsung teringat pada cairan untuk mengawetkan jenazah. Namun, kini penggunaan formalin sebagai pengawet makanan telah menjadi fenomena di Indonesia. Formalin dengan sengaja digunakan oleh para produsen dan pedagang dl dalam bahan makanan sehari-hari, termasuk buah, sayur, ikan, dan makanan sehat lainnya. Hal ini tentu menimbulkan teror di masyarakat. Apa itu formalin dan apa dampaknya mengonsumsi formalin di dalam makanan? Apa yang telah dilakukan pemerintah untuk memberantas penggunaan formalin di dalam makanan? Berikut ulasan yang perlu Anda ketahui agar keluarga terhindar dari bahaya formalin.

Zaman dahulu kala, manusia berburu untuk mendapatkan makanan. Mungkin awalnya manusia purba merasa oke-oke saja harus berburu setiap hari. Namun, seiring waktu mereka mulai sadar bahwa jika hasil buruan adalah hewan-hewan besar, tentu sisa makanan menjadi banyak. Sayangnya, sisa ini tidak bisa disimpan karena akan membusuk dan membuat sakit orang yang memakannya. Selain itu, berburu menjadi sulit dilakukan pada musim dingin. Berawal dari kebutuhan ini, manusia purba berusaha mencari cara untuk mengawetkan makanan.

Hal serupa juga dilakukan oleh manusia modern. Berbagai cara dan zat pengawet sudah dicoba manusia, terutama untuk mengawetkan daging. Pengawet ini berfungsi sebagai antimikroba atau antioksidan agar makanan tidak menjadi tengik dan memperlambat proses pembusukan. Namun, ada satu hal yang sering dilupakan oleh manusia modern. Pengawet tidak hanya harus efektif memperpanjang masa pakai makanan tetapi juga harus aman digunakan, baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang.

Salah satu zat yang telah lama dikenal sebagai pengawet adalah formalin. Formalin adalah bahan kimia formaldehid yang dilarutkan di dalam air dengan kadar 40%. Formalin memiliki bau yang menyengat, tidak berwarna, dan mudah menguap. Formalin digunakan di dalam berbagai industri seperti karpet, plastik pelapis kertas, cat, tekstil dan lain sebagainya untuk melindungi dan mengawetkan produk. Formalin juga digunakan di dalam kosmetik, sabun, shampoo, pelembab dan tabir surya, serta produk-produk pembersih. Karena sifatnya yang menghambat pertumbuhan kuman, formalin juga sering digunakan dalam keperluan medis untuk mensterilkan alat bedah dan sebagai pengawet jenazah.

Sulit Dideteksi Di Dalam Makanan

Entah ide siapa, formalin yang digunakan sebagai pengawet industri dan kedokteran kemudian disalahgunakan sebagai zat pengawet makanan. Hal ini kian marak justru setelah penyalahgunaan formalin diberitakan ke khalayak ramai. Jika dahulu ‘hanya’ digunakan pada tahu, mie basah, bakso, dan ikan, kini penyalahgunaan tersebut sudah merambah ke hampir semua jenis makanan, termasuk ke jajanan anak-anak yang dijual di depan sekolah. Selain sebagai pengawet, formalin juga sering digunakan sebagai ‘pemutih’, misalnya untuk memutihkan beras, ceker ayam, tahu, dan mie.

Mengapa formalin makin populer? Ada beberapa hal yang mendukung, di antaranya karena formalin mudah dicari dan harganya tergolong murah. Formalin juga mudah menguap sehingga tidak ada lagi bau yang tersisa pada makanan atau bahan pangan yang diawetkan. Membedakan antara produk yang mengandung formalin juga sulit. Ditambah lagi para penjual yang tidak tahu atau bahkan tidak peduli akan dampak penggunaan formalin terhadap pembelinya.

Penggunaan formalin di dalam makanan perlu diwaspadai karena ia merupakan bahan beracun dan berbahaya bagi kesehatan manusia. Tidak hanya dalam jangka pendek, tetapi juga jangka panjang. Gas formalin yang terdapat di dalam udara dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan. Formalin ini juga dapat terserap ke dalam kulit dan menimbulkan iritasi kulit. Pada yang alergi, formalin dapat menimbulkan reaksi berupa gatal, ruam, lepuhan pada kulit. Dan jika dimakan, formalin dalam jumlah berlebih dapat menyebabkan mual muntah, diare dan urine bercampur darah, hingga kematian akibat syok.

Meski biasanya pedagang hanya menggunakan formalin dalam jumlah sedikit, konsumsi formalin di dalam makanan juga akan merusak tubuh perlahan-lahan. Konsumsi formalin jangka panjang dapat mencetuskan sejumlah penyakit seperti kanker, terutama leukemia (kanker darah) dan kanker nasofaring (tenggorokan), serta gangguan pada saluran cerna. Formalin juga dapat menimbulkan kerusakan saraf dan otak yang menyebabkan penderitanya sulit tidur, sensitif, mudah lupa, dan sulit berkonsentrasi. Masuknya 125 ppm formalin di dalam tubuh dapat merusak hati. Pada anak-anak, konsumsi formalin dapat menimbulkan gangguan berat di berbagai organ. Sedangkan pada wanita, konsumsi formalin dapat menyebabkan gangguan menstruasi dan mengganggu kesuburan.

Penggunaan formalin di dalam makanan sering menjadi masalah dan kekuatiran para turis asing yang hendak berkunjung ke Indonesia. Demikian juga dengan para importir bahan pangan dari negara lain. Akibat maraknya penggunaan formalin, sektor pariwisata dan ekonomi ikut terganggu.

Dianggap Gertak Sambal?

Sepertinya kita sudah cukup bosan melihat berita investigasi tentang bahan-bahan pengawet dan tambahan makanan yang berbahaya di televisi. Makin hari, para pedagang terlihat ‘makin kreatif’ dalam menyiasati agar dagangannya tampak menarik, laris, dan tidak mudah busuk. Sebenarnya, apakah sudah ada langkah yang diambil pemerintah untuk menekan dan mencegah hal ini?

Pemerintah melalui BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) sebenarnya telah mengambil beberapa langkah seperti mengeluarkan Permenkes No. 722 tahun 1998 mengenai bahan tambahan yang dilarang digunakan dalam pangan, melakukan sosialisasi mengenai bahan tambahan makanan yang diizinkan dalam proses produksi makanan dan minuman sesuai UU No. 23 tahun 1992 untuk aspek keamanan pangan dan UU No. 71 tahun 1996. Namun, sepertinya hal ini tidak digubris oleh para pedagang. Sanksi tegas untuk para pedagang yang masih menggunakan boraks dan formalin juga belum terlihat. Akibatnya, meski pernah ketahuan, minggu depannya dilakukan lagi.

Indonesia bukan satu-satunya negara yang menghadapi masalah ini. Beberapa negara seperti Bangladesh, Hong Kong, dan Vietnam juga mengalami hal yang sama. Berbagai tindakan dan peraturan telah dilakukan pemerintah, tetapi sepertinya praktik ini tidak akan berhenti dalam waktu dekat akibat kurangnya pengawasan dan ketegasan dari pemerintah.

Kita sebagai anggota masyarakat juga perlu berperan aktif di dalam meberantas penggunaan formalin sebagai bahan tambahan makanan. Meski sulit untuk dibedakan, kini alat pengetes formalin sudah mulai beredar di masyarakat. Pengetesan dapat dilakukan secara kolektif, misalnya ibu-ibu PKK terhadap bahan makanan. Hasil yang positif dapat disampaikan kepada BPOM untuk ditindaklanjuti.

Kita juga tentu berharap agar BPOM dapat lebih giat dan aktif memberantas penggunaan formalin di dalam bahan pangan. Sanksi tegas hanyalah salah satunya. Yang terpenting adalah memberikan pelatihan terus menerus kepada para produsen dan pedagang mengenai cara penyimpanan, transportasi, dan display saat penjualan dilakukan agar makanan tetap awet dan sehat meski tidak diberi pengawet berbahaya.

Hindari Dengan Mencuci Bahan Pangan

Bahan makanan yang mengandung formalin sulit dibedakan dengan yang alami. Karena itu, kita perlu mencuci semua bahan makanan sebelum dikonsumsi atau dimasak. Formalin merupakan bahan kimia yang larut dengan air. Tindakan mencuci ini setidaknya dapat membantu mengurangi kadar formalin yang melekat. Untuk makanan kering seperti jamur kering, dianjurkan untuk merendam dan membuang air rendamannya sebelum dikonsumsi. Proses memasak juga dapat membantu menyingkirkan formalin dari makanan. Formalin akan rusak dengan pemanasan dengan suhu 75°C atau lebih.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: