Yang Perlu Diketahui Tentang Ketulian

December 3, 2014

ketulian

Sementara yang lain mengeluhkan bunyi kemacetan, suara televisi dan teriakan orang. Telinga Anda hanya menangkap suara yang samar-samar. Dunia begitu sepi karena telinga yang tak lagi bisa berfungsi dengan baik. Bisakah kembali normal?

Jika anda sering berkata “Apa?”, “Hah?”, dan “Kenapa?” saat bercakap-cakap dengan orang lain dengan jarak normal, waspadalah. Mungkin Anda mengalami gangguan pendengaran atau bahkan ketulian. Gangguan pendengaran, bahkan yang ringan sekalipun dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, terutama dalam berkomunikasi. Jika penyebabnya diabaikan, penderita gangguan pendengaran lama kelamaan dapat mengalami ketulian.

Data dari WHO menyatakan bahwa ada 360 juta atau 5% orang di seluruh dunia yang mengalami kecacatan akibat gangguan pendengaran. Padahal, separuh dari gangguan pendengaran dapat dicegah. Banyak kasus gangguan pendengaran dianggap lumrah dan dibiarkan saja. Ada juga yang malu dan menyembunyikannya. Meski demikian, akhirnya ketulian seseorang menjadi rahasia publik, karena biasanya si tuli berbicara dengan suara lebih keras dibanding orang yang normal dan sering salah menanggapi suatu percakapan alis nggak nyambung.

Secara medis, yang dimaksud dengan gangguan pendengaran adalah ketidakmampuan seseorang untuk mendengar suara dengan batas percakapan normal, yaitu 25 dB. Gangguan pendengaran dikatakan menimbulkan disabilitas jika baru dapat mendengar suara dengan intensitas lebih dari 40 dB pada dewasa, dan lebih dari 30 dB pada anak-anak.

Penyebab Tuli

Berat ringannya gangguan pendengaran dapat dibagi menjadi ringan, sedang, berat, dan sangat berat. Yang disebut dengan ketulian biasanya adalah gangguan pendengaran yang sudah sangat berat, dengan kemampuan mendengar suara yang intensitasnya di atas 95 dB, sehingga hanya dapat berkomunikasi melalui bahasa isyarat. Ia dapat mengenai satu atau kedua telinga, dan menyebabkan kesulitan dalam mendengar percakapan atau suara yang keras.

Karena berhubungan dengan telinga, maka gangguan pendengaran dan ketulian terjadi karena adanya gangguan pada penghantaran suara di dalam telinga. Mulai dari telinga bagian luar, tengah, dalam, ataupun pada saraf pendengaran dan otak.

Meski tuli terkenal sebagai penyakitnya orang lanjut usia, namun akhir-akhir ini jumlah penderita gangguan pendengaran dan ketulian di kalangan anak-anak dan dewasa muda khususnya semakin meningkat. Gangguan pendengaran dan ketulian dapat disebabkan oleh kelainan kongenital (cacat lahir) maupun didapat setelah dewasa. Terjadinya ketulian kongenital dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti faktor keturunan, infeksi campak atau sifilis yang diderita ibu saat hamil, berat badan lahir rendah, asfiksia (kekurangan oksigen saat baru lahir), penggunaan obat tertentu saat ibu sedang hamil, dan lahir prematur.

Sedangkan gangguan pendengaran yang didapat kemudian, dapat disebabkan oleh infeksi seperti meningitis, campak, dan gondongan, infeksi kronik pada telinga (congekan), penumpukan cairan di dalam telinga, penggunaan obat yang bersifat ototoksik atau merusak telinga, benturan pada kepala, mendengar suara yang terlalu keras (seperti ledakan bom, konser musik), penuaan, tumor, serta tersumbatnya liang telinga.

Dampak Negatif Tuli

Jika gangguan pendengaran dan ketulian terjadi pada anak dapat memberikan dampak negatif yang sangat besar pada hidupnya. Hal ini dapat terjadi segera setelah lahir ataupun di kemudian hari saat anak sudah mulai agak besar. Anak dapat mengalami ketulian akibat berbagai hal, di antaranya:

□ Otitis media atau peradangan telinga tengah. Infeksi pada telinga tengah adalah penyebab utama gangguan pendengaran dan ketulian pada anak. Infeksi telinga tengah sering dialami anak karena tuba Eustachiusnya belum berkembang dengan baik. Akibatnya terjadi penumpukan di belakang gendang telinga. Infeksi yang akut dapat mengganggu pendengaran sementara waktu. Namun otitis media yang kronik dan berat dapat menyebabkan ketulian permanen.

□ Faktor kongenital atau bawaan lahir. Anak dapat lahir dalam keadaan tuli, akibat adanya faktor genetik atau adanya gangguan selama di dalam kandungan. Lebih dari separuh ketulian bawaan disebabkan oleh faktor genetik. Gangguan pendengaran juga dapat timbul jika ibu mengalami diabetes atau toksemia selama kehamilan. Penyakit selama kehamilan, seperti infeksi campak, sifilis, serta obat-obatan tertentu dapat menimbulkan kecacatan pada telinga. Kelahiran prematur juga salah satu faktor terjadinya ketulian kongenital pada anak.

□ Gangguan pendengaran yang didapat setelah lahir. Ini dapat dicetuskan oleh meningitis, ensefalitis, campak, cacar air, gangguan genetik, dan influenza. Penyebab lainnya adalah cedera kepala, suara yang sangat keras, dan obat-obatan tertentu.

Gejala Pada Anak

Orang tua umumnya mulai mencurigai adanya gangguan pendengaran pada anak karena anak tidak merespon ketika dipanggil, sering meminta orang tua mengulang kata-kata yang diucapkan, tidak memperhatikan suara berisik di sekitarnya atau cuek saja ketika diajak berbicara. Karena kesulitan dalam mendengar, anak juga akan mengalami keterlambatan bicara dan kesulitan dalam belajar di sekolah. Jika terdapat faktor risiko di atas disertai tanda-tanda ketulian, tidak ada salahnya untuk memeriksakan anak ke dokter THT.

Pendengaran sangatlah penting dalam proses berbicara, berbahasa, berkomunikasi, dan belajar pada anak. Semakin dini usia anak saat terjadi ketulian, maka dampaknya terhadap perkembangan anak akan semakin besar. Untuk itu, semakin dini diketahui dan dilakukan intervensi, maka dampaknya dapat dikurangi.

Dampak ketulian pada anak antara lain keterlambatan perkembangan kemampuan komunikasi (berbicara dan berbahasa), berkurangnya kemampuan akademik, dikucilkan dari lingkungan sosial dan rasa rendah diri, serta kesulitan dalam memilih pekerjaan. Oleh karena itu, jika telah terdeteksi maka perlu dilakukan intervensi dengan segera. Dokter akan mencari tahu apa penyebab ketulian pada anak. Pada kasus dengan penyebab tertentu, ketulian dapat disembuhkan dengan pembedahan. Anak juga diberikan program audiologi khusus untuk membantunya mengenali ucapan lawan bicaranya, serta menentukan alat bantu dengar yang tepat untuk digunakan sehari-hari. Keluarga juga dapat membantu dengan mengajak bicara guna memperbaiki kemampuan berbicara dan berbahasa anak.

Tips mencegah ketulian

Lebih dari separuh ketulian sebenarnya dapat dicegah, terutama yang bersifat didapat. Berikut beberapa langkah mencegah ketulian:

  • Memberikan imunisasi pada anak dan wanita usia subur sebelum hamil.
  • Pemeriksaan teratur dan pengobatan sifilis serta infeksi lainnya pada wanita hamil.
  • Menghindari penggunaan obat-obatan yang bersifat ototoksik jika risiko lebih besar dari manfaatnya.
  • Memeriksakan bayi yang berisiko mengalami ketulian.
  • Menghindari dan mengurangi paparan suara bising, baik di tempat kerja ataupun saat mendengarkan musik.
  • Jangan pernah memasukkan apapun ke dalam telinga selain obat dari dokter.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: