Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Radikal Bebas dan Antioksidan

February 25, 2015

radikal bebas

Apa itu radikal bebas dan antioksidan? Apa saja bahaya radikal bebas yang berdampak buruk bagi kesehatan manusia? Radikal bebas bisa datang dari mana saja? Dan apa saja peranan antioksidan dalam melawan radikal bebas?

Kemajuan teknologi yang begitu pesat pada abad 20 sampai 21 ini telah membawa persoalan baru dan serius terhadap kesehatan manusia, yaitu pencemaran lingkungan. Polutan tersebar di mana-mana: pembuangan limbah industri ke sungai lalu mengalir ke laut; tanaman diberi pupuk kimia dan insektisida; makanan ditambah zat aditif, esens, dan pewarna; setiap rumah tangga menggunakan deterjen, dan sebagainya.

Selain itu, ada juga faktor-faktor yang berpengaruh buruk terhadap kesehatan. Radiasi yang menyebar luas akibat percobaan ledakan bom nuklir di beberapa negara adidaya. Sinar ultraviolet dari matahari yang telah menerobos lapisan ozon Bumi. Ditambah lagi kehidupan di kota modern yang penuh dengan ketegangan (stres), ambisi untuk mengejar uang dan kedudukan yang mendorong orang untuk bekerja keras sampai kelelahan dan kurang istirahat, serta persaingan yang begitu ketat dan keras. Semua itu adalah faktor-faktor yang bisa menghadirkan zat radikal bebas yang berbahaya dalam tubuh manusia. Radikal bebas yang berlebihan ini dapat mengancam kesehatan manusia dan menimbulkan berbagai penyakit yang serius, seperti kanker, jantung koroner, stroke, diabetes, dan sebagainya. Radikal bebas juga bisa mempercepat proses penuaan.

Para ilmuwan telah bekerja keras meneliti tanpa henti, mencari sifat-sifat apa saja yang berbahaya dari radikal bebas terhadap tubuh manusia. Dan bersamaan dengan itu juga berusaha keras mencari zat antiradikal bebas, yaitu zat antioksidan yang efektif untuk melawan serangan radikal bebas yang jahat itu.

Dalam usaha mengatasi radikal bebas yang berbahaya itu, selain harus mengonsumsi tambahan nutrisi yang kaya akan zat antioksidan, kita juga harus berusaha menghindari serangan radikal bebas dari luar. Kita harus mengubah gaya hidup yang tidak benar, makan banyak sayuran dan buah-buahan yang mengandung zat antioksidan, menghindari pola makan yang tidak sehat, dan melakukan olahraga secara rutin namun tidak berlebihan. Di samping itu, kita juga perlu mengubah cara berpikir yang negatif.

Radikal Bebas

A. Apa itu radikal bebas?

Radikal bebas (free radical) adalah senyawa yang sangat aktif, tidak stabil, dan periode usianya pendek. Karena tidak stabil, radikal bebas bisa bereaksi secara biokimia dengan sel-sel jaringan tubuh. Reaksi kimia itu dinamakan reaksi oksidasi yang bisa membuat sel jaringan tubuh kehilangan fungsi yang normal, bahkan reaksi kimia ini dapat merusak molekul DNA (deoxyribonucleic acid) dan dalam sekejap bisa berubah menjadi karsinogen (benih kanker).

Proses reaksi oksidasi ini sering kita lihat, misalnya besi yang menjadi karatan dan permukaan potongan apel yang berubah warna menjadi kecokelatan (tanin teroksidasi). Ini adalah proses reaksi oksidasi yang bisa kita lihat dengan jelas dan kasat mata. Bayangkan saja jika sel-sel jaringan tubuh yang normal teroksidasi oleh radikal bebas, seperti apa jadinya?

Bila ditinjau dari segi teori atom (atomic theory), reaksi oksidasi adalah orbit elektron paling luar sebuah atom yang belum mencapai 8 butir elektron (belum jenuh). Maka, atom itu mudah sekali menarik elektron dari atom lain. Proses ini dinamakan reaksi oksidasi. Atom yang menarik elektron atom lain dinamakan oksidator. Atom yang memberi elektron kepada atom lain dinamakan reduktor.

Jahatnya radikal bebas adalah mengoksidasi sel-sel yang normal hingga menjadi rusak. Jadi, radikal bebas adalah oksidator yang mampu merusak sel-sel normal.

Bapak radikal bebas Dr. Denham Harman pada tahun 1954 mengeluarkan satu teori tentang “free radical”. Dia mengatakan bahwa radikal bebas bisa merusak salah satu komponen di dalam sel normal, yaitu mitochondria. Perusakan inilah penyebab utama terjadinya proses penuaan.

Radikal bebas berhubungan erat dengan penyakit dan proses penuaan. Radikal bebas bisa diidentifikasi dengan instrumen ESR. Dr. Denham Harman menyebut beberapa reduktor yang bisa digunakan dalam pengobatan kanker, atherosclerosis dan beberapa penyakit lainnya. Radikal bebas dapat melakukan hal-hal berikut.

■ Langsung merusak komponen sel jaringan tubuh, termasuk lemak, protein, dan DNA, yang dapat mengakibatkan penyakit dan penuaan.

■ Bekerja sama dengan sel darah putih ikut membasmi serangan patogen dari luar. Tetapi sayangnya, radikal bebas tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Maka, bila jumlah radikal bebas di dalam tubuh melampaui keseimbangan, hal itu bisa menjadi ancaman bagi sel-sel yang normal. Setiap hari sel-sel yang normal mengalami 73.000 kali serangan dari radikal bebas, yang mengakibatkan kerusakan pada DNA.

B. Bagaimana radikal bebas bisa terjadi?

Ada dua sumber yang bisa menghasilkan radikal bebas. Pertama, gerakan tubuh fisiologis yang normal. Kedua, pengaruh luar (lingkungan) yang tidak wajar.

(1) Gerakan tubuh fisiologis yang normal

Metabolisme tubuh manusia membutuhkan energi ATP (adenosine triphosphate). Dalam proses menghasilkan energi tersebut, radikal bebas adalah produk sampingan (by-product) dari reaksi biokimia tersebut. Aktivitas metabolisme dari mitokondria yang dijuluki “the power house of the cell”, dapat menghasilkan ATP, dan pada waktu yang bersamaan reaksi itu menghasilkan produk sampingan radikal bebas.

(2) Pengaruh dari luar (lingkungan)

Lingkungan bisa memberi atau membiarkan tubuh manusia menghasilkan radikal bebas lebih banyak, yang mana dapat mengancam kesehatan manusia, misalnya hal-hal berikut.

Merokok. Asap 1 batang rokok bisa mengeluarkan 10.000 triliun radikal bebas.

Radiasi. Radiasi ultraviolet, gelombang magnetik, sinar matahari, atau radioterapi yang diberikan kepada pasien kanker, dapat menghasilkan banyak sekali radikal bebas.

Pencemaran lingkungan. Termasuk di dalamnya polutan dari polusi udara, pencemaran air minum, limbah industri, dan pencemaran tanah.

Penggunaan obat kimia sintetis. Zat aditif dan insektisida yang mencemarkan sayur-mayur dan buah-buahan, juga narkoba (drugs), dan salah penggunaan obat yang lain.

Keadaan jiwa dan emosi. Mengalami stres berat, terburu buru harus menyelesaikan pekerjaan, gampang marah, gelisah, depresi, tegang, dan sebagainya. Semuanya itu dapai menghasilkan banyak radikal bebas.

Orang yang tinggal di kota modern, hidupnya penuh dengan stres. Lingkungan hidup tidak bersih, dipenuhi oleh bermacam-macam polutan, akibatnya terjadi akumulasi radikal bebas di dalam tubuhnya. Jika kondisi ini tidak segera diatasi, kemungkinan setiap hari tubuhnya akan diserang oleh ribuan miliar radikal bebas.

C. Bahaya radikal hebas

Radikal bebas bisa menyerang se-sel jaringan tubuh. Kerusakan apa saja yang mungkin terjadi?

(1) Mengoksidasi lemak

Radikal bebas dapat mengoksidasi lemak di dinding membran sel, mengakibatkan lemak dinding sel mengeras. Sehingga, cairan nutrisi dari luar sel tidak bisa meresap masuk ke dalam inti sel. Akibatnya, sel itu menjadi rusak dan kemudian mati.

Bila kecepatan proses kerusakan sel melampaui kecepatan produksi sel yang baru, hal ini dapat memengaruhi fungsi jaringan tubuh, sehingga terjadi proses penuaan.

(2) Menyerang protein

Bila protein diserang oleh radikal bebas, protein itu bisa hilang fungsinya sebagai protein, atau berubah menjadi molekul protein yang lebih besar, sehingga protein itu terpecah belah. Akibatnya, terjadi perubahan mendadak yang mengakibatkan penyakit. Jika terjadi di bawah kulit, pada jaringan kolagen, kulit bisa kehilangan elastisitas dan urat-urat sendi menjadi kaku.

(3) Merusak DNA

Radikal bebas dapat memutuskan ekor molekul DNA, atau mengubah gugusan hydroxyl-nya. Bila DNA mengalami kerusakan, tubuh kita sudah tidak mampu lagi memperbaikinya. Maka bisa terjadi suatu perubahan mendadak, yang akhirnya bisa terjadi penyakit.

Setelah radikal bebas menyerang gugusan hydroxyl DNA, DNA tersebut bisa menghasilkan beberapa by-products yang bisa membuat gen terjadi kesalahan, sehingga memungkinkan terjadinya karsinogen.

Bila jaringan tubuh mengalami kerusakan berlanjut, bisa mengakibatkan terjaninya penuaan dan bermacam penyakit.

D. Radikal bebas vs penyakit

Penyakit yang paling banyak menyerang manusia adalah kanker, stroke, penyakit jantung, diabetes, hepatitis, nephritis, pneumonia, dan hipertensi. Semuanya itu berhubungan dengan radikal bebas. Bagaimana radikal bebas bisa menimbulkan penyakit?

(1) Radikal bebas vs kanker

Di seluruh dunia, setiap 4 detik ada satu orang yang meninggal karena kanker. Bagaimana penyakit kanker itu bisa datang?

Kanker adalah penyakit yang disebabkan karena gen di dalam sel mengalami suatu perubahan tiba-tiba, sehingga sel tersebut berkembang biak dengan cepat menjadi karsinogen. Sel kanker tidak memiliki fungsi apa-apa, mereka justru merampas nutrisi dari dalam tubuh lainnya, sehingga memengaruhi dan menghambat sel yang normal berkembang. Yang lebih berbahaya lagi, sel kanker tersebut berkembang biak terus tanpa terkontrol. Karsinogen itu menjalar ke mana-mana dan tumbuh subur di jaringan lainnya, ini disebut metastasis.

Dr. Vermon, peraih hadiah Nobel dalam bidang kedokteran pada tahun 1989, menemukan bahwa DNA yang berada di dalam sel setiap orang, sudah mengandung benih karsinogen (oncogene). Bila DNA ini dirangsang oleh carcinogenic agent, karsinogen ini ada kemungkinan menjadi sel kanker. Maka, setiap orang berpotensi menjadi penderita kanker! Jika tidak ingin menjadi penderita kanker, cara yang paling baik adalah berusaha mengurangi karsinogen dalam tubuh.

Radikal bebas mampu melukai sel-sel normal dengan cara menembus ke dalam membran sel, lalu menghantam ke dalam inti sel (nucleus). Sel yang mati itu berubah menjadi sel kanker.

(2) Radikal bebas vs penyumbatan pembuluh darah

Penyumbatan pembuluh darah jantung koroner dan pembuluh darah arteri otak utamanya disebabkan oleh trombosis. Kedua penyumbatan tersebut dapat memengaruhi kesehatan manusia, yang tidak kalah bahayanya dibandingkan dengan penyakit kanker.

Jika terjadi penyempitan pembuluh darah jantung koroner atau arteri otak, maka fungsi normal jantung dan otak akan berkurang. Kejadian semacam ini disebabkan karena di sebagian pembuluh darah jantung koroner atau arteri otak sudah terjadi aterosklerosis sebagai akibat dari serangan radikal bebas.

Aterosklerosis biasanya disebut pengerasan pembuluh darah arteri. Saat kolesterol bertemu dengan radikal bebas, ini adalah permulaan terjadinya aterosklerosis. LDL (low density lipoprotein) kolesterol yang jahat mudah sekali dioksidasi oleh radikal bebas.

LDL yang telah dioksidasi ini bisa mengalami serentetan perubahan menjadi busa sel. Sel yang berbusa ini kelihatannya seperti bubur nasi, yang bisa menempel di dinding pembuluh darah arteri, dan lambat laun bisa mengeras bila ketemu dengan ion kalsium (Ca).

(3) Radikal bebas vs penyakit yang lain

■ Radikal bebas vs penyakit Parkinson

Penyakit Parkinson terjadi karena radikal bebas sudah merusak sel otak, mengakibatkan dopamin yang dihasilkan oleh otak berkurang, sehingga menyebabkan tangan tremor tak terkontrol.

■ Radikal bebas vs katarak

Ketika protein di dalam lensa mata dirusak dan dioksidasi oleh radikal bebas, lensa mata menjadi keruh, tidak jernih lagi. Sehingga sinar dan gambar yang masuk ke dalam permukaan retina tidak jelas, penglihatan menjadi terganggu.

■ Radikal bebas vs kanker kulit

Ultraviolet bisa menghasilkan radikal bebas yang membuat kulit menjadi kasar, muncul black spot, dan lebih daripada itu, bisa menyebabkan kanker kulit.

■ Radikal bebas vs rematik dan artritis

Jika tubuh kita diserang bakteri atau virus dari luar, sel darah putih (leukocyte) akan segera memproduksi radikal bebas untuk membasmi patogen yang menyerang dari luar. Namun, jika kadar radikal bebas berlebihan, bisa merusak jaringan tubuh normal di sekitarnya, sehingga terjadi inflamasi.

■ Radikal bebas vs udim paru-paru

Radikal bebas bisa merusak salah satu jenis inhibited-enzyme di dalam sel paru-paru, sehingga enzyme tersebut tidak bisa mengontrol digestive-enzyme yang dapat merusak paru-paru. Maka terjadilah penyakit udim paru-paru (paru-paru berair).

■ Radikal bebas vs diabetes

Penyakit diabetes terjadi karena beta sel di pankreas yang berfungsi sebagai ekskresi hormonal insulin dirusak oleh radikal bebas, sehingga gula (glukosa) yang ada dalam darah tidak bisa disimpan oleh hati dan sel jaringan tubuh lainnya. Maka, terjadilah kelebihan glukosa di dalam darah (hyperglycemia).

E. Radikal bebas vs penuaan

Seumur hidup, manusia rata-rata mengalami duplikasi sel 40-60 kali. Setelah itu sel mati. Namun, pada saat yang bersamaan, tubuh manusia bisa memproduksi sel-sel yang baru lagi, agar fungsi tubuh bisa berjalan terus tanpa ada hambatan.

Ketika sel-sel normal jaringan tubuh diserang oleh radikal bebas, itu ibarat besi dioksidasi oleh oksigen di udara lembap lalu jadi berkarat. Besi berkarat itu mengalami erosi, perlahan-lahan akan menjadi keropos, rusak dan hancur. Proses ini dinamakan reaksi oksidasi.

Proses penuaan pada manusia juga seperti reaksi oksidasi tersebut. Seperti menjadikan besi berkarat, reaksi itu membuat sel-sel normal tubuh menjadi “karatan”, karena adanya banyak radikal bebas. Sel-sel normal yang terluka itu menjadi terlalu banyak, sedangkan produksi sel-sel baru tidak bisa mengejar untuk menggantikan sel-sel yang sudah rusak itu. Maka, organ jaringan tubuh bisa kehilangan fungsinya. Kemudian bisa berubah jadi penyakit, muncul gejala penuaan, dan akhirnya mengalami kematian.

Saat usia manusia bertambah, sel-sel yang dirusak juga bertambah. Fungsi organ tubuh dengan sendirinya mulai menurun. Berdasarkan penelitian, saat manusia mencapai usia 30 tahun, proses penuaan sudah mulai terjadi. Fungsi organ tubuh menurun dengan kecepatan 6.25% per tahun. Maka umumnya, ketika berusia 40 tahun, fungsi organ tubuh manusia tinggal 80%. Pada usia 50 tahun, tinggal 70%. Pada usia 70 tahun tinggal 35%.

2. Antioksidan

A. Apa itu antioksidan?

Jika ada tank baja, pasti ada senjata bazoka anti-tank; jika ada rudal (roket), pasti ada roket antirudal. Ada bakteri, tentu ada obat antibakteri (antibiotik). Ada radikal bebas, tentu ada zat antiradikal bebas, yaitu antioksidan.

Sudah diketahui bahwa sifat radikal bebas itu dapat mengoksidasi lemak di dinding sel, sehingga sel tersebut menjadi rusak dan mati. Radikal bebas itu dinamakan oksidator. Antioksidan dapat bereaksi secara kimiawi dengan radikal bebas, sehingga radikal bebas itu bisa dinetralisir oleh antioksidan menjadi tidak aktif lagi. Dalam hal ini, antioksidan berfungsi sebagai reductor. Dengan kata lain, antioksidan di sini berlaku sebagai martir, mampu melindungi sel-sel jaringan tubuh yang normal dari serangan radikal bebas.

B. Kemampuan mempertahanan tubuh secara alami

Dalam tubuh manusia ada seperangkat sistem antioksidan yang mampu menghilangkan radikal bebas yang berlebihan, agar radikal bebas di dalam tubuh bisa dipertahankan dalam keadaan seimbang. Fungsi semacam itu biasanya disebut sebagai kemampuan antioksidan di dalam tubuh.

Dengan melakukan penelitian para ilmuwan mengetahui bahwa di dalam tubuh manusia terdapat tiga jenis enzim yang mampu menyapu bersih radikal bebas dan mencegah jangan sampai sel-sel yang normal dirusak oleh radikal bebas. Tiga jenis enzim tersebut adalah:

(1) Superoxide dimutase (SOD),

(2) Catalase,

(3) Glutathione peroxidase (CPX).

Bila orang sudah mencapai usia 40-50 tahun, stamina dan sistem imunnya sudah mulai menurun, segala macam penyakit bisa datang. Misalnya, penyakit tekanan darah tinggi, diabetes, jantung koroner, stroke, dan sebagainya. Maka, makanan yang berlemak harus dikontrol dan dibatasi, serta perlu berolahraga secara rutin.

Ada orang yang berusia 60 tahun. Karena terkena stroke, jalannya jadi tertatih-tatih sehingga harus ada orang yang menjaganya. Ada orang yang berusia 70 tahun. Karena sudah pikun, keluarganya khawatir. Ada juga orang yang belum cukup menikmati hidupnya, tetapi sudah keburu meninggal karena terkena penyakit kanker.

Hidup yang sibuk dan melelahkan tentu dilakukan karena kita ingin mencari kualitas hidup yang lebih baik. Di masa muda kita ingin penuh dengan gairah, pada usia tua kita ingin menikmati masa tua yang tenang dan sehat, serta mampu memberi kenyamanan dan ketenangan kepada keluarga. Oleh karena itu, mencegah kerusakan tubuh yang ditimbulkan oleh radikal bebas telah menjadi isu penting.

Untuk mencegah radikal bebas masuk ke dalam tubuh, kita harus menghindari serangan radikal bebas dari luar, misalnya tidak terlalu lama di bawah terik sinar matahari. Bekerja dan beristirahat dengan seimbang. Tidak terlalu banyak stres. Tidak merokok dan minum minuman beralkohol. Minum air bersih yang tidak tercemar. Menghindari udara yang terkena polusi, dan sebagainya.

Telah diketahui bahwa antioksidan mampu menetralisir radikal bebas. Maka, perlu banyak makan sayur-sayuran dan buah-buahan yang kaya dengan zat antioksidan, termasuk vitamin C dan E (antioksidan kuat), untuk menetralisir radikal bebas yang berlebihan di dalam tubuh.

Perlu diketahui bahwa, zat antioksidan (betakaroten, vitamin A, C, dan E) sangat sensitif terhadap suhu panas. Suhu 60°(sudah mampu merusakkan zat antioksidan secara total. Buah merah dari Papua yang terkenal kaya akan zat betakaroten (antioksidan), bila digoreng (220°C) untuk diambil minyaknya, produk minyak tersebut sudah tidak ada lagi betakarotennya sama sekali. Begitu juga kalau membuat orange juice, harus segera diminum; jika disimpan beberapa jam baru kemudian diminum, sebagian besar vitamin C-nya sudah teroksidasi.

Minyak kelapa yang telah disimpan beberapa hari, sudah teroksidasi dan berbau tengik, karena sudah terjadi “rancit oil”. Rancit oil tersebut bila terikat dengan kolesterol dalam darah, akan menempel di dalam pembuluh darah koroner, membentuk plak yang sangat kuat dan keras, tidak mudah lepas. Maka, jangan sekali-kali menggunakan minyak yang sudah berbau tengik untuk memasak. Juga jangan menggunakan minyak goreng sampai berkali-kali atau menggunakan jelantah.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: