Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Penyakit Hepatitis

October 6, 2014

penyakit hepatitis

Hati (liver) adalah salah satu organ yang paling vital di dalam tubuh manusia. Hati seperti sebuah pabrik di dalam tubuh manusia. Semua proses metabolisme dilakukan di dalam organ hati. Fungsi hati ini adalah melakukan proses anabolisme dan katabolisme.

Di samping itu, hati juga mampu melakukan detoksifikasi racun yang masuk ke dalam tubuh. Fungsi hati juga sebagai gudang penyimpan glukosa dalam bentuk glikogen sebagai cadangan energi, dan bila diperlukan bisa dilepas dalam bentuk glukosa ke dalam darah. Maka, bila fungsi hati sehat, tubuh manusia bisa sehat. Sebaliknya, jika hati sudah rusak total diserang virus hepatitis, fungsinya bisa terganggu atau bisa mati total, akibatnya manusia akan meninggal.

Orang yang memiliki kebiasaan minum banyak alkohol setiap hari, hatinya akan bekerja keras melakukan detoksifikasi untuk menghancurkan racun alkohol. Jika kadar alkohol dalam darah melebihi batas, berarti melampaui kemampuan fungsi detoksifikasi hati. Kelebihan kadar alkohol yang tidak mampu didetoksifikasi ini akan berubah menjadi lemak yang ditimbun di dalam hati. Maka, hatinya menjadi “fatty liver” (hati berlemak). Bila proses itu berlangsung terus-menerus, organ hati akan mengeras, yang disebut “liver alcoholic cirrhosis”.

Penyakit radang hati (hepatitis) biasanya dikategorikan sebagai “akut” atau “kronis”. Masa penyakit hepatitis “akut” biasanya singkat, tidak berlangsung lama, dan bisa sembuh dalam beberapa minggu tanpa efek berkelanjutan. Sedangkan penyakit hepatitis “kronis” akan berlangsung bertahun-tahun lamanya.

Berdasarkan laporan kedokteran hepartology, virus yang menyebabkan penyakit hepatitis ada 5 jenis, yaitu virus hepatitis A, hepatitis B, hepatitis C, hepatitis D, dan hepatitis E. Meskipun jenis virus kelima itu berbeda, tetapi dapat menghasilkan simtom yang hampir mirip dan memiliki efek yang sama. Masing-masing virus hepatitis memiliki keunikan dalam cara penularan dan dampaknya terhadap kesehatan. Kelima hepatitis tersebut adalah sebagai berikut.

A. Hepatitis A

Penyakit hepatitis A bersifat akut, tidak membahayakan seperti hepatitis lainnya. Penyakit ini berlangsung selama 1-2 minggu.

Virus hepatitis A mudah sekali dan cepat menular kepada orang lain. Penularan bisa melalui makanan dan air yang terkontaminasi oleh feses pasien yang terkena hepatitis A. Piring, sendok, dan gelas, bekas digunakan penderita hepatitis A yang belum tuntas dibersihkan atau sisa makanannya, juga dapat menularkan virus hepatitis A kepada orang yang menggunakan peralatan makan tersebut, atau yang menyantap sisa makanan itu. Penyakit ini paling banyak menginfeksi masyarakat di pemukiman kumuh, atau mereka yang suka jajan di warung pinggir jalan yang tidak bersih dalam mencuci piring, sendok, dan gelasnya.

Berdasarkan data klinis, organ hati yang terinfeksi virus hepatitis A bisa membesar, tetapi tidak timbul kerusakan hati yang permanen. Simtom penyakit hepatitis A yang umum adalah mata dan kulit menjadi kuning, warna urine menjadi kuning atau kecokelatan karena kadar bilirubin dalam darah meningkat. Kadar SGPT dan SGOT (fungsi liver marker) dalam darah tinggi. Pasien hepatitis A bisanya merasakan gejala seperti terkena flu, mual, lemas, kehilangan nafsu makan, dan nyeri perut. Fesesnya berwarna pucat.

Simtom klinis orang yang terkena virus hepatitis A biasanya hilang dengan sendirinya setelah beberapa minggu. Untuk mencegah atau menangkal infeksi virus hepatitis A, tersedia vaksin hepatitis A.

Tanda dan gejala hepatitis A klinis adalah:

  • Kelelahan
  • Mual dan muntah
  • Nyeri perut atau rasa tidak nyaman, terutama di daerah hati (pada sisi sebelah kanan, di bawah tulang rusuk)
  • Kehilangan nafsu makan
  • Demam
  • Urine berwarna cokelat gelap
  • Nyeri otot
  • Menguningnya kulit dan mata (jaundice).

Secara umum biasanya hepatitis A tidak memerlukan pengobatan khusus, dan rata-rata orang yang terkena infeksi ini bisa sembuh total tanpa kerusakan hati permanen.

B. Hepatitis B

Hepatitis B adalah salah satu jenis penyakit hati yang berbahaya, dan bisa berakibat fatal bila tidak ditanggani oleh dokter spesialis hepartology.

Berdasarkan laporan klinis kedokteran, virus hepatitis B bisa ditularkan melalui hubungan seksual, peralatan medis, dan jarum suntik yang belum disteril, transfusi darah, atau, bagi janin, terinfeksi dari ibunya yang saat mengandung sudah terkena virus hepatitis B.

Berdasarkan statistik, 90% kasus hepatitis B menghilang begitu saja secara alami. Tetapi 10% lainnya, virus hepatitis B itu masih tetap tertahan dan berkembang menjadi hapatitis B kronis, yang potensial menjadi sirosis atau liver mengeras, atau bisa berkembang menjadi kanker hati. Kita perlu berhati-hati terhadap orang yang kelihatannya sehat tetapi membawa virus hepatitis B (viral carrier), yang mana bisa menularkan virus tersebut kepada orang lain.

Hepatolog menjelaskan bahwa simtom penyakit hepatitis B sering kali tidak tampak. Gejala, keluhan yang sering terasa adalah nyeri dan gatal di persendian (joint), mual, tidak nafsu makan, dan sakit perut. Hepatitis B bisa ditangkal dengan vaksinasi. Anak-anak biasanya mendapatkan vaksin ini dalam program vaksinasi anak-anak.

Di kalangan orang dewasa, pengguna narkoba yang menggunakan jarum suntik bersama, tenaga kesehatan yang menangani pasien HIV, pasien liver kronis, dan sebagainya, adalah mereka yang rentan terkena virus hepatitis B.

Tanda dan gejala klinis hepatitis B biasanya muncul sekitar 3 bulan setelah terinfeksi. Level terinfeksinya berkisar dari ringan sampai parah. Berdasarkan laporan klinis kedokteran, tanda dan gejala hepatitis B hampir sama dengan hepatitis A, sebagai berikut:

  • Sakit perut.
  • Urine berwarna gelap.
  • Demam.
  • Nyeri sendi.
  • Kehilangan nafsu makan.
  • Mual dan muntah.
  • Merasa lemah dan kelelahan.
  • Kulit dan bagian putih mata menguning (jaundice).

Penyakit hepatitis B sebetulnya dapat disembuhkan, namun umumnya proses pengobatannya harus dilakukan dalam jangka waktu yang panjang, atau bahkan seumur hidup. Jika tidak diobati, hepatitis B bisa berkembang menjadi sirosis dan bahkan berlanjut menjadi kanker hati.

C. Hepatitis C

Hepatitis C dapat ditularkan melalui transfusi darah yang terkontaminasi oleh virus hepatitis C. Namun, kita tidak perlu menjadi takut menerima donor darah. Jika darah donor sudah dikontrol ketat dan bebas dari virus hepatitis, maka tidak jadi masalah lagi. Virus ini juga bisa ditularkan lewat jarum suntik, atau jarum akupunktur yang tidak steril, atau jarum untuk pembuatan tato.

Penularan hepatitis C juga bisa dimungkinkan melalui hubungan seksual. Seperti hepatitis B, orang sehat pun bisa menjadi pembawa virus hepatitis C (carrier).

Simtom hepatitis C sama dengan hepatitis B. Namun karena virusnya susah menghilang, mengakibatkan hepatitis C lebih berbahaya. Pada sebagian besar pasien (70% lebih), virus hepatitis C terus bertahan di dalam tubuh sehingga mengganggu fungsi liver.

Evolusi hepatitis C tidak dapat diperkirakan. Infeksi akut sering tanpa simtom. Kemudian, fungsi liver pada suatu waktu dapat membaik atau memburuk selama beberapa bulan atau bahkan bertahun. Pada sekitar 20% pasien, hepatitis C akan berkembang terus tanpa henti sehingga menjadi sirosis. Saat ini belum ada vaksin yang dapat melindungi kita dari infeksi hepatitis C.

Simtom klinis yang ditemukan oleh hepatolog pada penderita hepatitis C antara lain:

  • Kelelahan.
  • Demam.
  • Mual atau nafsu makan yang buruk.
  • Otot dan nyeri sendi.
  • Nyeri di daerah hati.

D. Hepatitis D

Berdasarkan observasi klinis yang dilakukan oleh hepatolog, virus hepatitis D adalah yang paling jarang ditemukan, tetapi paling berbahaya dari semua virus hepatitis.

Pola penularan hepatitis D mirip dengan hepatitis B. Orang yang sudah terkena hepatitis B juga bisa terinfeksi hepatitis D. Infeksi virus hepatitis D dapat terjadi bersamaan (koinfeksi) atau setelah seseorang terkena hepatitis B kronis. Orang yang terkena infeksi virus hepatitis D kronis punya kecenderungan besar terkena sirosis (hati mengeras).

Sampai saat ini belum ada vaksin hepatitis D, namun pencegahan tetap bisa dilakukan dengan mendapatkan vaksinasi hepatitis B, karena virus hepatitis D tidak mungkin bisa hidup tanpa adanya virus hepatitis B.

E. Hepatitis E

Hepatitis E mirip dengan hepatitis A. Virus hepatitis E ditularkan melalui kotoran manusia ke mulut dan menyebar melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh virus hepatitis E. Tingkat tertinggi infeksi hepatitis E terjadi di daerah bersanitasi buruk yang mendukung penularan virus.

Hepatitis E dapat mengakibatkan penyakit akut, tetapi tidak menyebabkan infeksi kronis. Secara umum, penderita hepatitis E sembuh tanpa mengalami penyakit jangka panjang. Saat ini, belum ada vaksin hepatitis E yang tersedia secara komersial. Kita hanya dapat mencegahnya melalui penerapan standar kebersihan yang baik.

Berdasarkan pengalaman klinis, dokter hepatolog mengatakan bahwa virus hepatitis sering kali bisa dicegah. Namun, virus ini masih dianggap sebagai ancaman serius bagi kesehatan manusia karena bisa mengakibatkan hal-hal berikut:

  • Menghancurkan jaringan sel liver.
  • Melemahkan sistem imun tubuh.
  • Mengakibatkan fungsi liver gagal.
  • Menyebabkan kanker hatiĀ (hepatitis B dan C).
  • Mengakibatkan kematian.

Dan, virus ini bisa menular dengan cara “person to person”.

Lebih jauh dikatakan bahwa orang mempunyai risiko tinggi terinfeksi virus hepatitis, bila:

  • Menggunakan jarum suntik bersama (biasanya untuk menyuntikkan narkoba).
  • Melakukan hubungan seks tanpa diproteksi dan oral seks.
  • Melakukan hubungan seks dengan banyak orang.
  • Minum banyak minuman keras.
  • Malnutrisi.
  • Bekerja di rumah sakit sehingga terpapar dengan berbagai virus.
  • Menerima tindakan hemodialisis jangka panjang.
  • Melakukan perjalanan ke daerah yang sanitasinya sangat buruk.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: