Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Infeksi Saluran Cerna

October 4, 2014

infeksi saluran cerna

Terminologi diare sudah begitu melekat pada awam sehingga semua gejala buang air besar dengan konsistensi lunak hingga cair disebut ‘diare’. Penyakit infeksi perut yang masih konstan endemik menandakan derajat kebersihan yang masih buruk. Derajat kebersihan buruk mengindikasikan taraf ekonomi dan pendidikan yang juga tidak bisa dibanggakan.

Ironisnya, hingga saat ini masih ada kasus keterlambatan penanganan infeksi saluran cerna yang berujung pada kematian. Biasanya berasal dari ketidaktahuan penderita dan keluarganya, yang masih berpegang pada istilah ‘diare’ saja.

Di Indonesia, khususnya di pemukiman padat penduduk masih banyak ditemukan diare dengan ciri khas: berlendir yang disertai darah, yang disebut ‘disentri’. Pada banyak kasus disertai juga dengan demam/meriang dan nyeri perut. Disentri bisa disebabkan oleh infeksi berbagai mikroorganisma penyebabnya, entah itu bakterial (disentri basiler) atau protozoa (disentri amuba) yang sangat umum di daerah tropis.

Darah (yang disebut seperti air cucian daging itu) berasal dari amuba yang menerobos dinding dalam usus. 10% kasus yang tidak ditangani dengan baik menyebabkan amuba masuk ke dalam aliran darah dan menjelajah ke organ lain, terutama hati – sebagaimana darah dari usus halus menjangkau hati dulu sebagai organ detoksifikasi/pemusnah racun. Penanganan disentri tentu harus sesuai dengan penyebabnya yang dengan mudah dapat diperiksa lewat kotoran penderita di bawah mikroskop. Baru dengan cara inilah maka obat yang tepat dapat diberikan. Semua infeksi tentu harus bisa dijelaskan dari mana sumbernya.

Bagaimana bila dijumpai diare yang bersamaan dengan radang tenggorok pada anak kecil dengan kondisi kesehatan yang buruk? Radang tenggorok pada anak sangat jarang memberikan gambaran buang air dengan diare yang disertai lendir dan darah. Istilah ‘kuman yang tertelan’ pun tidak akan membuat gejala diare seperti itu karena kuman penyebabnya berbeda. Radang tenggorok pada balita memang terkadang berlanjut hingga muntah dan memengaruhi buang airnya, itu pun disebabkan karena balita belum mampu mengeluarkan riak sendiri. Atau, bisa jadi karena antibiotik berlebihan yang diberikan dokter akhirnya juga mematikan kuman sehat ususnya sehingga anak diare. Kuman usus sangat dibutuhkan untuk membuat ‘kotoran yang sehat’ dan ‘berbentuk’.

Konyol sekali bila anak maupun orang dewasa batuk pilek atau radang usus bolak balik diberi antibiotik yang tidak bertanggung jawab. “Kuman baik”, bakteri sehat/ pro-biotik ikut mati. Harga yang harus dibayar adalah kelenjar getah bening kerja keras menghasilkan ’tentara’ lebih banyak (sel darah putih) untuk memerangi penyakit. Amandel (kelenjar tonsil) bengkak, kelenjar getah bening sebagai produsen ‘bala tentara kekebalan tubuh’ di sekitar selangkangan atau sekitar leher bengkak. Kabar yang lebih mengerikan, karena amandel/kelenjar tonsil semakin bengkak, perintah tindakan operasi muncul atau: ‘basmi’ lagi dengan antibiotik. Akhirnya usus buntu nya pun sebagai reservoir pro biotik licin habis rata – selesailah sudah. Operasi usus buntu di depan mata bila terserang infeksi lagi. Tubuh manusia akhirnya seperti mobil keluar masuk ‘bengkel’ – akibat medikalisasi berlebihan tanpa konseling apalagi pendidikan bagi yang empunya tubuh.

Kasus anak seperti di atas seringkali terletak pada infeksi berulang yang bolak balik menyerang saluran pernapasan atas (ISPA) dan saluran pencernaan. Inilah yang membuat anak jadi letih, lesu, tidak punya nafsu makan dan gizinya habis hanya untuk ‘memerangi’ penyakit ketimbang dipakai untuk tumbuh kembang. Kuncinya, bukan lagi tentang rajin berobat. Tapi justru masalah higiene alias kebersihan dan lingkungan sekitar. Aneh sekali bila titik masalah terletak pada kebersihan tapi larangannya ada di masalah sayur dan buah – yang justru merupakan sumber enzim dan antioksidan yang mempertinggi daya tahan kekebalan tubuh. Sama anehnya seperti larangan bepergian agar tidak terjadi kecelakaan, padahal sumber celakanya karena tidak menaati rambu-rambu lalu lintas.

Jadi, yang perlu dikerjakan oleh anak dan semua orang yang berada di sekitarnya (dari yang tinggal serumah hingga teman dan gurunya):

– Terapkan kebiasaan cuci tangan dengan benar menggunakan sabun (tidak usah berantiseptik): kita sering lupa sehabis buang hajat atau membersit hidung buang ingus maka parasit dan bakteri nempel di jari-jari.

– Biasakan mencuci tangan juga sebelum memegang makanan atau meracik makanan, apalagi habis berhubungan dengan anak yang sedang sakit.

– Pisahkan pakaian mereka yang terkena disentri (terutama celana anak dengan bekas mencretnya), jika perlu rendam dengan air panas.

– Cegah pemakaian handuk bersama (pada orang dewasa, gejala disentri bisa sering dikira ‘hanya mencret biasa karena sambel’, belum sampai diare berkali-kali, padahal sebenarnya orang itu menderita disentri).

– Dengan menjalankan pola hidup bersih (salah satu butir dari Pedoman Umum Gizi Seimbang, yang sudah menggusur ‘empat sehat lima sempurna’) maka pola makan sehat seimbang pun dengan mudah bisa diterapkan, tanpa takut makan lalap dan buah segar!

Selain disentri amuba dan basiler, infeksi cacingan sebagai masalah kebersihan pun bisa memberi gejala yang agak mirip: diare. Mendeteksi cacingan sama mudahnya dengan mengetahui penyebab diare: cek tinja di laboratorium. Telur cacing positif menandakan adanya investasi cacing.

Kebiasaan hidup bersih dan bermain di luar rumah dengan alas kaki adalah pendidikan penting untuk anak. Begitu pula untuk duduk belajar makan sendiri, bukan seperti kebanyakan anak Indonesia yang ‘kejar-kejaran’ dengan pengasuh atau ibunya makan di luar rumah.

Sambil mengatasi disentrinya dengan obat anti amuba yang tepat dan memberantas investasi cacing di usus, pencegahan infeksi berulang dan peningkatan kekebalan tubuh harus dimulai. Semua kebutuhan gizinya sangat kaya terdapat di beras merah, berbagai kacang-kacangan, ikan laut dalam, ayam, telur, tempe, segala jenis sayur berdaun hijau dan buah berbagai warna. Tinggal sekarang bagaimana orang tua mampu memberi contoh dan pendidikan untuk membiasakan lidah anak menyukai makanan alam.

Untuk pertumbuhan, anak membutuhkan protein langsung dari daging ayamnya, bukan kaldu tulang apa lagi ceker seperti yang kepercayaan umum. Memang ceker dan tulang lebih murah ketimbang daging ayam, jika ingin lebih jujur itulah alasan pertama mengapa pilihan itu terjadi. Sumsum tulang tidak mengandung protein, sebaliknya hanya lemak jenuh (apalagi tulang bulat). Dari pada mengasup lemak berkualitas buruk (seperti isi sumsum) lebih baik anak mendapat sumber lemak sehat seperti alpukat, ikan, dan bumbu kemiri, dan extra virgin olive oil yang dibubuhkan setelah masakan diangkat dari api.

Belum lama ini muncul bakteri yang tiba-tiba ’terkenal’: Escherichia coli, kuman berbentuk batang yang namanya cantik. Ia bukan ‘kuman asing’ apalagi baru. Bahkan terdapat di usus semua makhluk berdarah panas, termasuk manusia. Kebanyakan jenis E. coli sifatnya tidak berbahaya, bahkan merupakan ‘flora normal’ usus yang menghasilkan vitamin K bagi manusia yang penting untuk mekanisme pembekuan darah. Dalam 40 jam setelah kelahiran, E.coli sudah membuat koloni dalam usus bayi, melekat pada bagian selaput kelenjar usus besar. Disebut sebagai bakteri fakultatif anaerob, karena ia bisa hidup baik dengan atau tanpa adanya oksigen.

Dengan kata lain, E. coli merupakan komponen utama kotoran manusia. Sehingga, terdapatnya kuman ini merupakan indikator/ tanda bahwa lingkungan telah tercemar (kotoran manusia). Begitu mudahnya pula ia dibiakkan dalam kondisi laboratorium sehingga merupakan kuman yang telah diteliti seeara ekstensif selama 60 tahun. E. coli mendapat julukan ‘organisme model’ dan merupakan salah satu spesies penting di arca bioteknologi dan mikrobiologi. Dirinya digunakan sebagai media/organisme ‘tuan rumah’ atas banyak penelitian yang berhubungan dengan DNA. Salah satunya adalah manipulasi E. coli untuk menghasilkan insulin manusia, pengembangan vaksin, bioremediasi dan enzim.

Penyebaran kotoran manusia melalui mulut (transmisi fekal-oral) merupakan rute dimana jenis E.coli yang patogen (potensial menyebabkan penyakit) ditularkan. Hanya beberapa serotipe yang dapat mengakibatkan keracunan makanan pada manusia. Penyakit yang muncul bisa berupa muntaber, infeksi kemih hingga radang selaput otak pada bayi baru lahir. Jalur umum penularan bisa akibat proses penyediaan makanan yang tidak bersih, kontaminasi dari peternakan, hingga konsumsi air yang terpolusi. Sebelum hebohnya penularan E. coli melalui sayuran termasuk ketimun, produk susu, dan ternak sebenarnya merupakan sumber E. coli tipe 0157:H7 sekalipun ternaknya tidak menunjukkan gejala apapun/ asimptomatik.

Pada manusia yang terkena infeksi E. coli patogen, gejala muncul setelah 7 hari infeksi. Tanda pertama bisa berupa kejang perut hebat yang tiba-tiba. Beberapa jam kemudian baru diare. Diare menyebabkan tubuh kehilangan cairan dan elektrolit (disebut dehidrasi). Diare sehari bisa berubah menjadi kotoran merah terang berdarah. Saat ini sudah terjadi perlukaan pada usus. Diare berdarah berlangsung hingga 2-5 hari, dengan frekwensi buang air 10 kali lebih, yang lebih terlihat seperti perdarahan hebat karena kotoran hampir tidak tampak lagi. Demam/meriang bisa ada atau tidak. Kasus bisa menjadi fatal Komplikasi/penyulit infeksi E. coli yang tersering sebenarnya sindroma hemolitik uremia, yang merupakan kasus gagal ginjal. Pada kasus ini ginjal tidak mampu menyaring darah menjadi air seni, sehingga kadar ureum meningkat tajam dan menjadi racun. Keping darah pembeku/trombosit sangat rendah, begitu pula hitung sel darah merah. Kejadian ini lebih banyak terjadi pada kanak-kanak, 5-10 hari setelah diare dimulai. Jadi, begitu ada perubahan warna pada kotoran diare (termasuk munculnya darah) jangan coba-coba untuk mengobati sendiri. Apalagi bila sudah terjadi kehilangan cairan tubuh yang parah.

Cara Menghindari Infeksi E. coli:

1. Selalu perhatikan kebersihan. Cuci tangan sebelum mempersiapkan makanan. Seringkali bukan makanan kita yang kotor, tapi karena dipegang oleh tangan yang kotor.

2. Cuci sayuran mentah atau lalap dan buah dengan air keran mengalir lalu dibilas lagi dengan air minum (air matang bersuhu ruangan). Tidak perlu sampai menggunakan larutan kimia atau cairan buatan pabrik yang aneh-aneh. Atau hingga menggunakan teknologi canggih. Sering dalam kehebohan seperti kasus E. coli banyak orang mencoba meraih peluang berjualan. Hati-hati kebablasan dalam penggunaan antiseptik. Hal ini semakin mendorong “kuman jahat” berkembang biak karena matinya kuman normal di tubuh kita.

3. Biasakan memasak daging (termasuk ayam dan ikan) hingga tidak lagi nampak warna merahnya.

4. Bagi penggemar shabu-shabu, seringkali sumpit atau alat penjepit makanan yang masih mentah dipakai juga untuk mencapit daging yang sudah matang! Nah yang matang ini tercemar lagi.

5. Untuk ‘melunakkan daging’ dari keadaan beku, jangan dibiarkan di suhu ruangan berlama-lama. Ayam atau ikan beku dari freezer sebaiknya dimasukkan ke dalam lemari pendingin semalaman, sehingga keesokan harinya sudah cukup lunak untuk dimasak tapi belum masuk ‘proses pembusukan’.

6. Makanan sisa makan malam harus langsung masuk dalam lemari pendingin atau buanglah, bila harus ‘menginap’ sampai esok hari.

7. Penderita diare harus cermat mencuci tangan sesering mungkin dengan sabun paling tidak 30 detik. Begitu pula mereka yang bekerja di panti atau tempat pengasuhan anak.

8. Kehidupan urban (perkotaan) yang penuh sesak dengan kondisi kali atau sungai yang amburadul adalah sumber penular E. coli yang paling serius.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: