Tulisan Cakar Ayam Dokter, Masih Jaman?

March 16, 2014

tulisan cakar ayam dokter

Dari jaman nenek moyang semua orang juga tahu kalau semua dokter punya satu kesamaan, yaitu bertulisan jelek. Entah itu di Indonesia, entah di luar negeri, pria atau wanita, ternyata sama saja. Meski tulisan tangan tersebut dengan ajaib dapat dibaca oleh apoteker, tapi tetap saja ada rasa waswas apakah obat yang diberikan memang sesuai dengan yang ditulis. Fenomena ini cukup menggelitik dan membuat kita bertanya-tanya. Mengapa banyak dokter bertulisan jelek? Apakah hal ini berefek negatif bagi sang pasien?

Faktor Kebiasaan

Pernahkah Anda mendapat resep dari dokter, tapi tidak bisa membaca satu kata pun dalam resep tersebut? Tenang, Anda bukan satu-satunya yang mengalami hal ini. Untungnya, ada apoteker yang masih mampu membaca tulisan ini dengan tepat. Sebenarnya, ada apa di balik tulisan unik ini?

Sebagai orang berpendidikan tinggi, rasanya aneh jika dokter memiliki tulisan yang jelek. Namun, inilah yang kita jumpai sehari-hari. Usut punya usut, rupanya hal ini terjadi bukan tanpa alasan, atau karena sengaja agar resep tidak dapat dibaca oleh pasien. Alasan utama terjadinya tulisan jelek ini adalah terbawanya kebiasaan mencatat cepat saat sang dokter masih kuliah.

Menulis cepat dan steno bagi seorang mahasiswa kedokteran adalah salah satu senjata untuk bertahan hidup. Saat kuliah atau bimbingan di rumah sakit, seorang mahasiswa kedokteran harus bisa menyerap dan mencatat begitu banyak ilmu dari apa yang dikeluarkan oleh mulut dokter pembimbing. Lantas, tidak heran jika muncul singkatan-singkatan yang tidak lazim, serta tanda-tanda baca yang tidak pada tempatnya. Bahkan, karena saking seringnya suatu istilah disebut, seringkali yang jelas hanya dua huruf pertama, diikuti dengan ekor cacing. Demi mencatat dengan cepat, “suara napas” bisa hanya ditulis SN, “tekanan darah” ditulis TD, misalnya. Tidak jarang huruf-huruf vokal dalam suatu kata lenyap tak berbekas, sehingga orang lain, bahkan mungkin dokter itu sendiri bingung saat membaca catatannya kembali.

Masalahnya, kebiasaan ini bisa terbawa saat si mahasiswa kedokteran sudah mulai berpraktik. Seorang dokter atau rumah sakit harus memiliki catatan dan dokumentasi mengenai pasien. Mulai dari identitas, keterangan mengenai penyakit yang diderita pasien, serta terapi yang diberikan. Cukup banyak bukan yang harus ditulis? Belum lagi jika pasiennya antri, tidak ada jalan lain selain menulis cepat. Dalam sehari saja, seorang dokter dapat menandatangani dokumen sebanyak 50-100 kali, lebih banyak dari pemimpin perusahaan. Ada juga dokter menganggap bahwa tulisannya hanya dokumentasi, kalah penting dengan tugasnya memeriksa dan mengobati pasien. Jadi buat apa menulis indah?

Ayam yang Ketinggalan Jaman

Stempel tulisan cakar ayam sudah resmi tertempel di jas putih dokter, dan sulit sekali hilang meski sekarang banyak dokter yang memiliki tulisan bagus. Saat ini, dokter sangat dianjurkan untuk menulis dengan tulisan yang ‘layak baca’ Menurut Dr. Chairulsjah Sjahruddin SpOG, MARS, hal ini terutama bertujuan untuk mengurangi kesalahan medis akibat salah membaca instruksi yang ditulis oleh dokter.

Petugas apotek sebagai ujung tombak pelayanan obat, tentu yang menerima getahnya seandainya salah memberikan obat karena salah membaca resep. Banyaknya obat yang beredar dengan nama yang mirip meningkatkan risiko ini. Apalagi, resep mengandung sandi-sandi penulisan, sehingga tidak hanya jenis obat yang bisa salah, namun juga dosis yang diberikan.

Masalah ini tidak hanya dijumpai oleh petugas apotek, namun juga perawat dan dokter lain yang menerima limpahan pasien dari sejawatnya. Perawat dapat salah melakukan instruksi atau mengalami kebingungan karena tidak mengerti obat apa yang harus diberikan di ruang perawatan. Sedangkan dokter sejawat dapat kesulitan membaca riwayat perjalanan penyakit pasien dalam dokumentasi yang ditulis oleh dokter yang menangani sebelumnya. Hal ini juga dapat menghambat penanganan pasien karena apoteker, perawat atau dokter lain terpaksa harus menelepon dokter yang bersangkutan terlebih dahulu untuk memastikan apa yang tertulis di buku pasien.

Dengan demikian, tulisan cakar ayam ini sebaiknya ditinggalkan karena sudah tidak lagi sesuai jaman. “Instruksi dokter, termasuk juga resep obat, harus dibuat sejelas mungkin guna menghindari kesalahan dan meningkatkan efisiensi perawatan. Jika tulisan jelek ini tidak bisa diselamatkan lagi, mungkin ada baiknya dokter atau rumah sakit tersebut memberdayakan teknologi komputer,” tambahnya.

Bertanyalah!

Kita dapat melindungi diri dan keluarga dari kesalahan medis akibat kesalahan pembacaan resep yang seharusnya tidak perlu terjadi. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko ini. Yang pertama, Anda bisa meminta dokter untuk menuliskan apa saja kegunaan obat yang dituliskan dalam resep. “Anda juga bisa bertanya-tanya tentang obat yang akan diberikan, mulai dari nama obat, gunanya, serta berapa kali sehari obat harus diminum. Karena itu tidak menyalahi aturan sama sekali, malah sangat dianjurkan,” jelasnya.

Jika Anda termasuk orang yang memiliki penyakit kronik dan minum obat yang sama dalam jangka waktu panjang, pastikan obat memiliki bentuk dan tampilan yang sama dengan sebelumnya. Perhatikan juga informasi yang tercantum dalam kemasan atau label dan bandingkan dengan obat sebelumnya.

Dari pihak dokter, sangat dianjurkan untuk menulis dengan jelas untuk meminimalkan kesalahan. Saat ini, pengetikan resep dan buku pasien banyak dilakukan secara elektronik menggunakan komputer. “Dengan demikian, kesalahan medis akibat salah baca dapat ditekan serendah mungkin,” tambahnya.

Jika masih kurang yakin, atau tidak ingin percaya begitu saja dengan petugas apotek, coba cari tahu mengenai obat yang sudah diberikan dari apotek. Jangan ragu meminta petugas apotek untuk menelepon dokter penulis resep jika tidak yakin apa dan bagaimana dosis obat yang tertulis di resep.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: