Terapi Jus: Enak dan Sehat

December 9, 2013

terapi jus

Kalau ada pengobatan yang tidak menyakitkan, tapi malah justru terasa enak di lidah, maka terapi jus adalah jawabannya. Banyak sekali jenis penyakit yang bisa disembuhkan lewat terapi jus. Apalagi, jika Anda bisa meramunya sendiri. Kami merangkum dan memberi tip praktis membuat jus.

Jus terapi biasanya diberikan para nutrisionis pada penderita penyakit-penyakit degeneratif seperti jantung, kardiovaskular, diabetes, obesitas, hipertensi, hiperlipideniia dan hiperkolesterolemia. Namun, dalam pengobatan tradisional India, Ayurveda, jus terapi bisa memperkuat sistem saraf tubuh. Praktisi Ayurveda meyakini bahwa stres dan ketidakseimbangan emosional disebabkan oleh tidak terserapnya zat nutrisi oleh tubuh dengan baik. Maka, terapi jus juga baik untuk penderita anemia, konstipasi dan arthritis.

Dalam buku “160 Jus Buah & Sayur Diet Sehat” yang ditulis Dr. Juliani L. Suprapto disebutkan, jarang terjadi efek samping akibat mengonsumsi sayuran dan buah. Kecuali, memang ada alergi terhadap sayuran dan buah tertentu. Yang mungkin terjadi adalah reaksi detoks, yaitu pembuangan racun dari dalam tubuh. Reaksi detoks ini beragam, mulai dari diare, sakit kepala, mual dan lain-lain. Namun, reaksi ini akan hilang dengan sendirinya. Untuk pencegahan penyakit, sebaiknya minum jus 2 kali sehari. Sementara untuk pengobatan, gandakan jadi 4 kali sehari. Minumlah jus setengah sampai satu jam sebelum makan, dalam keadaan perut kosong. Jus pun bisa terserap dan dicerna dengan sempurna oleh tubuh.

Mengonsumsi jus dari sayuran dan buah segar lebih bermanfaat ketimbang mengasup buah atau sayur yang dimasak. Ada sekitar 30-80 persen zat gizi yang hilang dari proses memasak buah atau sayur. Padahal, keduanya mempunyai gizi yang lengkap dan sangat dibutuhkan untuk kesehatan, pertumbuhan, serta memelihara dan memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak.
Yang paling baik, Anda minum jus sesegera mungkin setelah buah atau sayur dibuat jus. Ini untuk menghindari reaksi oksidasi yang dapat merusak kandungan zat-zat dalam jus tersebut. Reaksi oksidasi terjadi karena sel-sel dari zat dalam buah dan sayur sudah pecah saat proses pembuatan jus. Namun, ada yang perlu diperhatikan dalam membuat jus. Dr. Samuel Oetoro, M.S., SpGK mengatakan, “Hati-hati menggunakan madu dalam jus, terutama bagi penderita diabetes. Karena, madu memiliki kandungan gula yang cukup tinggi.” Maka, jika Anda sedang menjalani pengobatan penyakit tertentu, sebaiknya Anda tetap berkonsultasi pada dokter dan ahli nutrisi sebelum menjalani terapi jus.

Jenis Buah & Sayur Untuk Terapi

Buah dan sayur memiliki banyak nutrisi seperti vitamin, mineral, enzim dan gula alami, yaitu fruktosa. Selain itu, buah dan sayur juga kaya dengan zat alkalin yang membantu menormalkan kadar asam dalam darah dan saraf. Untuk terapi yang lebih efektif, Anda harus mengetahui jenis-jenis buah dan sayur yang baik untuk mencegah atau mengobati penyakit tertentu. Beberapa penyakit tersebut adalah:

  • Jerawat atau penyakit kulit, minumlah jus anggur, tomat, timun, wortel, kentang, atau bayam.
  • Penyumbatan pembuluh darah atau hipertensi, minumlah jus jeruk, semangka, blueberry, delima, nanas, lemon, sledri, wortel, sawi, timun dan bayam.
  • Arthritis atau radang sendi, minumlah jus cherry asam, nanas, apel manalagi, lemon, jeruk, timun, bit, wortel, kentang, sawi dan bayam.
  • Asma atau penyakit saluran pernapasan, minumlah jus lemon, nanas, peach, wortel, kubis, dan sledri.
  • Kardiovaskular, stroke dan jantung, minumlah jus tomat, jambu biji merah, peterseli, pisang, pepaya, nanas, dan kiwi.

Tip & Trik Membuat Jus

Dr. Juliani L. Suprapto membagikan beberapa tip dan trik dalam bukunya untuk membuat jus yang menyegarkan. Berikut tip dan triknya:

  1. Jika mungkin, pilih buah atau sayuran organik yang tidak menggunakan pupuk kimia atau pestisida.
  2. Bersihkan buah dan sayur di bawah air yang mengalir. Bilas dengan air matang lalu potong-potong.
  3. Jika buah atau sayur yang digunakan anorganik, setelah dicuci di bawah air mengalir, cuci dengan sabun khusus, lalu siangi. Meski vitamin dan serat banyak terdapat di kulit buah, sebaiknya buah dikupas saja, karena kulit adalah daerah yang kontak langsung dengan bahan kimia.
  4. Anda bisa menggunakan dua macam alat yaitu juice extractor yang bisa memisahkan sari dengan ampasnya, atau blender.
  5. Untuk sayur, sebaiknya menggunakan juice extractor agar ampasnya terpisah dari sarinya.
  6. Untuk buah, Anda bisa menggunakan blender dan mendapatkan serat buah yang memang dibutuhkan tubuh. Serat buah berguna untuk mencegah penyerapan gula secara cepat ke dalam darah.
  7. Jika Anda mencampur jus buah dan sayur, gunakan juice extractor. Mulai dengan sayuran yang memiliki sari lebih sedikit, lalu masukkan buah berkandungan air lebih banyak.
  8. Saat membuat jus, masukkan air atau es batu bersamaan dengan buah atau sayur. Air atau es ini bisa mengurangi panas yang ditimbulkan oleh putaran pisau.
  9. Jenis juice extractor dan kesegaran buah memengaruhi jumlah sari atau jus yang dihasilkan. Untuk satu porsi minum, biasanya 250 ml.
  10. Gunakan rempah-rempah dalam bentuk bubuk seperti bubuk adas manis, bubuk jahe, bubuk kunyit, bubuk kayu manis, bubuk jahe dan sebagainya untuk menambah rasa.
  11. Jika tak menyukai bau langu jus sayur, tambahkan sedikit perasan jeruk lemon. Lemon juga akan memberi rasa segar pada jus Anda.
  12.  Buah-buahan manis seperti pepaya, mangga, pisang, sebaiknya diproses pada urutan terbelakang saat menggunakan juice extractor. Ini berguna agar jus yang dihasilkan lebih terasa manisnya.
  13. Sebaiknya, kulit buah tetap diproses jika Anda menggunakan juice extractor. Tapi, buang bijinya terlebih dahulu. Beberapa biji buah memberi rasa getir atau pahit.
  14. Anda bisa mencampurkan jus buah atau sayur dengan yoghurt. Jadilah, yoghurt rasa buah atau lassi.
  15. Jika jus terasa getir atau terlalu asam, Anda boleh menambahkan pemanis buatan seperti stevia yang rasanya 300 kali lebih manis dari gula biasa.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: