Tentang Penyempitan Pembuluh Darah dan Kenaikan Tekanan Darah

June 22, 2014

penyempitan pembuluh darah

Serangan jantung koroner bukan masalah kecil yang bisa disembuhkan hanya dengan mengikuti pola makan melalui konsultasi umum dari sebuah majalah atau tabloid tanpa tuntunan langsung dari dokter yang menangani.

Cukup banyak pasien yang ’lelah’ bergantung pada obat dan akhirnya dengan membaca sana-sini ’resep-resep’ menurunkan tekanan darah dan berbagai ramuan populer ’pencegah penyakit jantung’. Hilangnya keluhan sesaat entah itu nyeri atau pusing bukan jaminan masalahnya selesai. Pengetahuan kesehatan populer yang bijak semata-mata memberi pencerahan tentang duduk perkara masalah, penyebabnya, anjuran yang bisa dilakukan sehari-hari dan bukan ’terapi’. Peran bimbingan dan pengawasan dokter mutlak menjadi keharusan.

Penyakit jantung koroner sebagai salah satu dari lima besar penyebab kematian di dunia dikarenakan oleh sumbatan pada salah satu atau beberapa pembuluh darah yang memberi makan jantung. Pembuluh-pembuluh darah ini mengelilingi jantung berbentuk seperti ‘korona’ atau mahkota yang berada di seputar jantung. Deteksi sumbatan koroner secara pasti hanya bisa melalui kateterisasi jantung atau angiografi (teknik pencitraan pembuluh darah). Teknik pencitraan ini dilakukan dengan menelusuri pembuluh menggunakan semacam ‘selang’ kecil sekali yang menyemprotkan zat kontras yang dapat ditangkap oleh sinar rontgen ketika dibuat foto x-ray. Sumbatan akan nyata terlihat ketika zat kontras buntu, mengumpul – tak mampu meneruskan perjalanannya ke ujung carang-carang pembuluh darah koroner Pembuluh darah koroner bisa tersumbat akibat gaya hidup dan pola makan sebelum serangan koroner terjadi. Ini ditandai dengan berat badan berlebih, tekanan darah tinggi, dan defisiensi/ kekurangan beberapa asam amino, vitamin C serta vitamin B3. Faktor lainnya adalah kolesterol molekul kecil (LDL) yang teroksidasi dalam darah – jadi bukan semata-mata hanya ‘kolesterol tinggi’- ditambah kadar homosistein tinggi yang juga teroksidasi dalam darah. Semua teori tentang penyebab penyakit jantung koroner akhirnya perlu mencermati juga mengapa penyumbatan pembuluh darah jantung tidak terjadi pada hewan yang makanannya masih murni. Banyak bukti juga menunjukkan ketika pakan hewan mulai dikacaukan oleh teknologi industri maka umur hewan tersebut tidak lagi panjang dengan penyebab matinya banyak yang mirip dengan kematian manusia: termasuk kanker, infeksi virus dan gangguan fungsi organ – antara lain jantung.

Penyempitan pembuluh darah dengan akibat tekanan darah tidak akan kembali ke posisi ‘normal’ seperti yang diharapkan apabila memang kondisi pembuluh darahnya masih belum sehat. Kakunya dinding pembuluh darah dan menciutnya diameter pembuluh darah ditambah adrenalin yang naik karena stres pastinya membuat tekanan darah tetap tinggi!

Mengembalikan pembuluh darah kembali elastis, sehat, dan mampu menyuplai darah yang cukup untuk jantung membutuhkan waktu cukup lama. Paling tidak sama lamanya seperti manusia merusakkan pembuluh darahnya sendiri dengan memulai gaya hidup dan makanan tidak sehat. Selama proses penyembuhan ini tentu ada parameter-parameter yang perlu diobservasi, bukan hanya tekanan darah. Bagaimana dengan laju endap darahnya? Rasio kolesterol? Lp(a)? Protein C-reaktif? Homosistein? LDH? Fasting Insulin? Semua ini perlu bimbingan dokter yang paham dan mampu menuntun pasien dan keluarganya.

Walaupun demikian, pola makan dan gaya hidup adalah yang terutama, bukan sebaliknya: sebagai ‘pendamping’ obat. Sudah saatnya para dokter kita bersedia melihat bahwa komitmen pasien dan ketekunan menjalani well-balanced life termasuk memilih makanan sehat merupakan kunci keberhasilan dan tentu saja tubuh dengan segera meresponsnya dengan sangat baik.

Banyak tindakan dokter yang disebut sebagai iatrogenesis (menimbulkan penyakit baru akibat salah penanganan, walaupun sudah dijalankan secara etis dan ‘sesuai prosedur kedokteran yang berlaku’). Kenyataannya tidak etis bila pasien tidak diberi informasi lengkap tentang sebab penyakitnya dan dokter tidak turut berjuang bersama pasiennya untuk membereskan permasalahan yang ada (termasuk pola makan, pola pikir, cara menyelesaikan masalah). “Berjuang” dengan pasien stroke bukan hanya sekadar menangani kasus gawat daruratnya saja, justru seninya terletak pada keberhasilan menjaga pasien untuk tidak mengulangi lagi penyakitnya atau malah berkembang menjadi penyakit lain! Hanya ada satu cara: pendidikan yang komprehensif terhadap pasien.

Sehingga, tidak akan ada lagi pasien (atau keluarganya marah): ”Kok bisa serangan lagi dalam waktu kurang dari setahun?” Jangan pernah sekali-kali menganggap obat sebagai sang penjaga. Mematok angka tertentu (tekanan darah, kolesterol, gula darah, kekentalan darah) dengan obat pada tubuh yang hidup, bergerak, berubah, dan perlu beradaptasi tentunya sangat menggelikan. Sudah selayaknya tekanan darah akan meningkat dan pembuluh darah menyempit akibat pengaruh adrenalin dalam keadaan stres, untuk mengalirkan darah dan oksigen lebih cepat akibat dibutuhkan lebih banyak oleh tubuh (terutama otak). Bayangkan kalau seorang manusia sedang berdebar dikejar penjahat, atau meratap kematian anggota keluarga tapi ’tekanan darahnya biasa-biasa’ saja – alias berada di batas ’normal’nya orang sedang duduk minum teh: 120/80. Dia akan pingsan saat itu juga.

Tubuh manusia bukanlah lemari pendingin yang perlu diperangkati dengan stabiliser agar voltase listrik tetap terjaga ‘stabil’. Tubuh manusia adalah jasad yang hidup, yang selalu berubah, dan memang harus berubah untuk bertahan hidup. Menjadi sadar tentang apa yang membuat ‘hidup saya tidak terkendali’, makanan dan gaya hidup seperti apa yang merusak tubuh – itulah hal yang terbaik. Bukannya masih tetap stres dan makan ngawur tapi memaksa mempunyai ’tekanan darah normal’.

Pemahaman nutrisi yang hanya setengah-setengah atau hanya ‘dicaplok’ sebagian kecil juga memberi dampak besar yang bisa jadi membahayakan. Sudah merupakan ‘kepercayaan awam’, bahwa garam adalah biang kerok tekanan darah tinggi atau penyempitan pembuluh darah. Hanya sebatas pelajaran bahwa sodium (natrium) pada garam bersifat menarik air, dan meningkatnya volume cairan menyebabkan kondisi darah tinggi memburuk (bahkan gagal jantung). ‘Diet garam ketat’ diikuti bersamaan dengan konsumsi obat darah tinggi yang ‘menendang cairan keluar lebih banyak’ (karenanya penderita berkemih lebih banyak) – diharapkan menurunkan tekanan darah.

Sayangnya, tubuh manusia yang hidup terlalu pintar untuk hanya sekadar diperintah dengan hukum fisika sesederhana itu. Dengan deteksi turunnya cairan dan semakin sedikitnya kadar air, rangkaian hormon tubuh dalam ginjal (renin-angiotensin) memberi perintah: sempitkan lagi pembuluh darahnya! Tekanan darah kembali naik.

Lebih konyol lagi, menyiasati agar sodium (natrium) tidak naik, bukan hanya pantang garam saja, tapi orang dianjurkan makan pisang – yang ‘dipercayai’ tinggi potasium (kalium). Hukum kimia memang mengamini: natrium dan kalium bekerja saling berseberangan. Jika ingin natrium turun, tinggikan kaliumnya. Dan sebaliknya. Dan semakin banyaklah penderita jantung dan darah tinggi mengonsumsi pisang. Masalah baru timbul: pisang adalah buah yang tinggi indeks glikemiknya. Sangat cepat diubah menjadi gula. Akibatnya, insulin melonjak – bukan hanya ancaman kegemukan – tapi juga muncul hormon eikosanoid pro-peradangan, yang salah satunya memberi perintah: sempit-kan pembuluh darah! Tekanan darah kembali naik.

Contoh lain: orang Amerika dan Eropa Utara mengonsumsi 800 mg – 1200 mg kalsium sehari, tapi tetap saja mereka lebih banyak menderita osteoporosis ketimbang orang Asia dan Afrika yang mengonsumsi 300 mg – 500 mg kalsium per hari. Ini karena daging merah, gula, tepung, dan bumbu non-alam menyebabkan keasaman darah meningkat. Untuk menetralisirnya, tubuh mengambil kalsium (yang bersifat alkalis) dari tulang. Sehingga masalah osteoporosis bukanlah soal tidak cukup memakan kalsium. Masalahnya adalah mereka kehilangan kalsium. Dengan demikian, mengasup lebih banyak kalsium ke dalam tubuh bukanlah jawabannya, karena Anda bisa kehilangan lebih banyak daripada yang Anda asup (misalnya dengan tetap memakan daging merah, gula, terigu, beras, berbagai saus, dan kecap produksi pabrik). Apabila ekstra kalsium yang dikonsumsi berasal dari makanan yang mengandung protein tinggi seperti susu, keju, dan es krim, keadaan jadi lebih buruk karena makanan ini adalah pembentuk asam yang sangat tinggi. Tubuh semakin kehilangan kalsium.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: