Skoliosis dan Kehamilan

February 5, 2014

skoliosis

Tulang belakang adalah salah satu bagian dari tubuh manusia yang sangat krusial, namun pada kenyataannya sering terlupakan. Bagian ini sangat penting untuk menopang tubuh kita dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Bukan saja untuk menopang pergerakan, tapi juga melindungi bagian dalam tubuh kita khususnya organ tubuh agar tetap berada pada posisi yang benar dan berfungsi dengan baik. Salah satu masalah tulang belakang yang seringkali tidak kita sadari adalah skoliosis.

Menurut Dr. Fachrisal Ipang SpOT(K)-SPINE, skoliosis merupakan kelainan berupa lekukan yang abnormal pada tulang belakang, sehingga membengkok atau melengkung ke arah samping. Normalnya, tulang belakang akan terlihat lurus dari tengah. Pada skoliosis, tulang belakang dapat membentuk huruf C atau S. Lengkungan ini akan menyebabkan komplikasi berupa nyeri hingga tidak bisa berjalan. Bagi kaum perempuan, komplikasi bisa lebih banyak, karena mungkin akan mengganggu kehamilan dan proses persalinan. Namun jangan kuatir, dengan kemajuan teknologi kedokteran sekarang ini, penderita skoliosis pun tetap dapat menikmati proses penantian si buah hati dengan nyaman.

Resiko Skoliosis Selama Kehamilan

Ini adalah berita baik bagi para perempuan dengan skoliosis bahwa skoliosis bukanlah halangan bagi perempuan untuk hamil dan melahirkan. Penderita skoliosis, dapat menjalani kehamilan seperti layaknya wanita lain yang normal. Meski demikian, ada beberapa hal yang perlu diwaspadai. Dengan bentuk tulang belakang yang abnormal, seiring dengan bertambah besarnya janin akan mendesak diafragma dan menurunkan kapasitas vital dan residu di paru-paru. Akibatnya, dapat timbul sesak dan mungkin memerlukan alat bantu untuk bernapas.

Selain itu, skoliosis juga dapat meningkatkan risiko terjadinya pendarahan rahim, keguguran, dan kelahiran prematur akibat gangguan serviks. Pada yang derajat skoliosisnya berat, akan lebih sulit untuk memberikan anestesi spinal atau epidural. Ini karena rongga tulang belakang yang sempit dan meningkatkan risiko prosedur pembiusan. Inilah yang menjadi kekuatiran pada wanita hamil yang memiliki skoliosis.

Jika ada rencana untuk hamil, mungkin Anda bisa mempertimbangkan untuk menjalani prosedur pembedahan. Pembedahan dilakukan untuk memperbaiki lengkungan tulang belakang, sehingga diharapkan mengurangi komplikasi selama kehamilan. Dokter biasanya akan menganjurkan agar tidak hamil dulu dalam waktu 6 bulan setelah pembedahan, agar punggung dapat sembuh sempurna terlebih dahulu. Namun, meski telah dioperasi bukan berarti penderita skoliosis bisa sembuh untuk seterusnya. Setelah melahirkan, punggung dapat kembali melengkung meski tidak banyak. Untuk itu, mungkin akan diperlukan pembedahan lagi untuk memperbaiki tulang belakang secepatnya sebelum bertambah parah.

Konsultasi Dulu

Ada mitos yang mengatakan, bahwa kehamilan pada penderita skoliosis akan memperparah nyeri punggung dan kemiringan tulang belakang. Benarkah? Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar wanita hamil memang akan mengalami nyeri punggung. Jadi, meski penderita skoliosis mungkin mengalami nyeri, tapi bukan berarti nyeri ini disebab┬Čkan oleh skoliosisnya.

Penelitian menunjukkan bahwa banyak wanita dengan skoliosis ringan hingga sedang dapat mengalami proses kehamilan dan persalinan layaknya wanita normal. Penambahan berat badan tidak akan memperberat kelengkungan tulang belakang, asalkan lengkungan memang sudah tidak bertambah. Lengkungan skoliosis umumnya akan menetap setelah usia 25 tahun.

Untuk wanita yang menderita skoliosis derajat berat, harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum merencanakan kehamilan. Ini karena pada penderita skoliosis derajat berat, kehamilan dapat memperberat nyeri. Risiko terjadinya sesak juga akan lebih tinggi. Karena itu, penderita skoliosis sebaiknya meminta saran dari ahli tulang belakang mengenai cara memindahkan titik tumpu berat badan dan cara mengatasi nyeri baik yang disebabkan oleh skoliosis maupun kehamilan. Selain itu, sebelum memasuki masa akhir kehamilan, ada baiknya berdiskusi dengan dokter mengenai kemungkinan cara persalinan dan manajemen nyeri yang mungkin timbul.

Nyeri, Siapa Takut?

Nyeri pinggang dan punggung saat hamil memang bukan barang baru. Namun, bagi wanita penderita skoliosis, akan makin ragu untuk hamil karena takut skoliosis dan nyeri bertambah hebat dengan bertambahnya berat badan dan janin. Jangan kuatir, ternyata ini bukanlah alasan yang kuat bagi Anda untuk menunda kehamilan.

Tentunya dengan dibantu oleh teknik-teknik manajemen nyeri yang tepat. Nyeri yang sering terjadi selama kehamilan umumnya terjadi di punggung bagian bawah (pinggang). Beberapa nyeri yang sering terjadi adalah nyeri lumbal, nyeri sakroiliaka, dan nyeri nokturnal.

“Nyeri lumbal adalah nyeri di pinggang. Nyari lumbal dapat menjalar ke kaki ataupun tidak. Nyeri sakroiliaka terjadi di bagian bawah dan samping tulang belakang. Sedangkan nyeri nokturnal adalah nyeri yang timbul hanya pada malam hari di daerah pinggang,” jelasnya. Lalu apa saja yang bisa membantu mencegah dan mengurangi timbulnya nyeri?

1. Perhatikan postur tubuh

Saat hamil, titik tumpu berat badan akan bergeser dan memaksa ibu untuk sedikit berdiri ke arah belakang. Hal ini dapat menyebabkan tulang belakang dan otot menjadi tegang, apalagi jika sudah ada skoliosis sebelumnya. Tidak heran mengapa wanita hamil sering sakit pinggang bukan? Namun, ternyata sakit pinggang ini pun tidak wajib, karena ada cara untuk mencegahnya. “Misalnya dengan membiasakan diri berdiri tegak lurus dan mengangkat dada. Upayakan bahu agar tetap rileks di belakang, dan hindari membungkuk. Selain itu, tidak dianjurkan untuk menyilangkan kaki saat duduk,” jelasnya. Agar posisi tetap tegak dan nyaman, tidak ada salahnya membawa bantal kecil yang manis untuk menyangga punggung Anda.

2. Kenakan pakaian dan aksesoris yang tepat

Bukan untuk sekedar fashion, wanita hamil dengan skoliosis juga harus memperhatikan pakaian yang dipakai sehari-hari. Agar tidak jadi korban sakit pinggang, ada beberapa pakaian yang dapat membantu mengurangi nyeri seperti celana hamil dan penyangga perut. Selain itu, simpan dulu sepatu high heels nan menggoda sebelum punggung dan leher jadi tegang. Kenakan alas kaki yang nyaman dan ramah di pinggang.

3. Angkat barang dengan posisi yang tepat

Punya skoliosis ataupun tidak, mengangkat barang dengan cara yang tepat wajib dilakukan setiap orang. Tindakan ini tidak hanya mencegah timbulnya sakit pinggang, tapi juga menjaga tulang belakang yang rapuh agar tidak rusak. Misalnya jika ingin mengangkat benda berat, dianjurkan untuk duduk atau jongkok terlebih dahulu hingga sejajar dengan benda tersebut, dan baru angkat dengan berdiri perlahan. Namun, buat apa repot- repot kalau ada orang lain yang bisa membantu anda?

4. Tidur cukup

Kebiasaan tidur yang baik, ternyata juga dapat membantu mencegah nyeri pinggang saat sedang hamil. Mulai dari tidur dengan posisi menyamping, sesuai dengan posisi janin. Saat tidur, wanita hamil juga dianjurkan untuk menekuk lutut sambil mengapit bantal di sela kedua kaki. Letakkan juga bantal atau guling di bawah perut untuk menahan badan.

5. Coba terapi pijat panas atau dingin

Terapi ini dapat membantu mengurangi nyeri yang terjadi. Jangan lupa konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter kandungan dan dokter ahli tulang belakang, dan hanya lakukan pijat di pemijat profesional dan terlatih seperti di rumah sakit.

6. Lakukan olahraga ringan sesuai anjuran dokter

Saat kontrol ke dokter kandungan, jangan lupa tanyakan latihan ringan seperti apa yang boleh dilakukan. Latihan fisik tidak hanya membantu mempersiapkan anda saat melahirkan nanti, tetapi juga baik untuk punggung. Beberapa contoh latihan yang dianjurkan adalah berjalan dan/atau berenang, latihan peregangan pinggang, dan latihan peregangan lain yang diperbolehkan dokter.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: