Siasati Gangguan Makan pada Anak Autis

May 11, 2014

anak autis

Penampilan yang menarik dari penyajian sebuah makanan, baik bentuk atau warna serta penggunaan alat makan, sangat disarankan pada anak autis. Karena dengan menarik perhatian, anak autis mudah tergerak untuk mencoba.

Meski belum ada penelitian pasti untuk angka kejadian autis di indonesia, tetapi terdapat kecenderungan terjadinya peningkatan penderita autis dari tahun ke tahun. Kondisi ini bisa disebabkan oleh karena sudah banyaknya dokter anak, psikolog dan psikiater yang sudah lebih sadar terhadap kondisi autis sendiri, disamping beberapa kondisi lain.

Autis diartikan sebagai sebuah gangguan yang terjadi pada individu dalam hal ini anak dalam melakukan gangguan berinteraksi secara sosial. Lebih ditegaskan, pada anak-anak penderita autis umumnya memiliki kekurangan dalam hal berkomunikasi, atau biasanya juga ditandai dengan perilaku-perilaku sterotip atau repetitive (berulang-ulang). Misalnya; memukul-mukul badan, atau menepuk-nepuk tangan. “Gerakan berulang atau istilahnya stereotipik ini yang sering muncul pada penderita autis” ujar dr. Margareta Komalasari SpA, dari Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta.

Pada anak autis, umumnya akan mengalami keterlambatan dalam bidang bahasa. Sementara dilain pihak mereka juga akan mengalami gangguan makan.

Susah Makan

Seorang anak yang menderita autis mempunyai dunia yang berbeda dengan anak normal pada umumnya, termasuk makanan yang dikonsumsi. Kondisi ini senada dengan apa yang disampaikan dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Kodak T dan Piazza C di tahun 2008. Mereka mengatakan 90% dari anak autis sering mengalami gangguan makan. Gangguan makan yang terjadi umumnya berupa refuse eating (menolak untuk makan), tidak perhatian saat makan, atau ingin dengan segera menyudahi waktu makan, picky eater (memilih makanan tertentu). Mereka umumnya penyuka makanan satu jenis saja, bahkan mereka tidak mau mencoba makanan baru. “Umumnya gangguan makan pada anak autis spektrumnya seperti itu,” tambahnya.

Selaras degan Penyebab

Menurut dr. Eta, karena sampai saat ini belum diketahui penyebab autis ini secara pasti, menjadikan pendekatan terhadap anak autis ini menjadi sangat bervariasi dan individual.

Khusus untuk masalah gangguan makan, biasanya seorang dokter akan melihat apa dulu yang menyebabkan gangguan makannya ini. Seperti contoh; ketika seorang anak dengan autis ini saat makan tidak bisa diam, atau tidak bisa duduk diam. Dalam kondisi semacam ini, selain sebelumnya sudah dilakukan terapi perilaku, oleh dokter atau tenaga medis, bisa juga di berikan fermakoterapi, dengan pemberian obat yang memberikan efek menenangkan, seperti pada kasus autis yang hiperaktif, sehingga dengan di pemberian obat, maka anak akan diam, dan anak tersebut bisa berkonsentrasi lebih baik.

Masalah pangan pada anak autis mungkin sedikit kompleks. Mereka mesti mengurangi diet makanan tertentu, misal diet makanan yang banyak mengandung ragi (yeast), kemudian diet freegluten atau freecasein. “Intinya menghindari makanan yang banyak mengandung pengawet”. Seperti sosis, buah kemasan, kornet, buahan kering atau makanan yang mengandung saos, es krim, keju. Anak dengan autis dianjurkan pula untuk mengasup makanan yang segar dan bebas pengawet.

Lakukan Diet

Menurut dr. Eta, kebanyakan diagnosis autis didahului adanya gangguan makan. “Sering anak dengan gangguan makan, dibawa ke dokter, setelah didiagnosis ternyata anak ini mengalami autis,” ujarnya.

Anak-anak autis biasanya tidak begitu menyukai tekstur atau bau-bau makanan tertentu. Hanya menuntut jenis makanan yang terbatas, dan menolak untuk meng-konsumsi makanan baru. Dengan melakukan diet freegluten, free cosein dan free yeast itu akan menurunkan gejala autistik pada penderita. “Dalam sebuah penelitian menunjukan bahwa diet casein, glutain dan yeas itu secara signifikan penderita menunjukan perbaikan perilaku yang lebih baik,” tambahnya lagi.

Yang perlu dipikirkan pada anak autis itu, menurut dr. Eta, adalah mencari makanan pengganti beras. “Pasalnya beras bersifat hipoalergenik,” imbuhnya. Sebab itu, berikan santapan pengganti seperti ubi atau jagung. Tambahkan dengan daging atau ikan, tapi harus yang masih segar. Kacang-kacangan seperti kacang merah, kacang hijau juga baik. Jika memang diperlukan, bisa diberikan sayuran organik bebas peptisida. “Bisa juga sayuran biasa tetapi cuci dengan bersih dan baik, sehingga peptisidanya hilang,” kata dr. Eta. Intinya anak dengan autis ini tidak dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan kemasan atau kaleng, karena banyak mengandung pengawet.

Dalam penelitian dikatakan bahwa sebagian besar anak dengan autis ini dalam tubuhnya mengandung atau keracunan logam berat, seperti: plumbum, mercury, dan logam berat lainya. Ini terlihat dalam sebuah uji sampel darah dan sampel rambut penderita autis. “Mungkin juga keracunan mercuri itu saat anak masih dalam kandungan karena konsumsi makanan ibunya,” ujar dr. Eta.

Dugaan itu mungkin saja benar, karena sampai saat ini, penyebab autis ini belum bisa dipastikan, tidak seperti kondisi penyakit lain pada anak seperti, penyakit infeksi; typus, cacar. Sebab itu, ibu hamil sangat dianjurkan untuk menghindari makanan yang banyak mengandung pengawet, atau ikan laut yang berlebihan karena kemungkinan mengandung logam berat.

Peran Orangtua

Meskipun anak autis memerlukan diet khusus, sebagai orang tua, tidak disarankan untuk terlalu keras dalam mengatur diet makanan. Diet ketat mengakibatkan kekurangan zat gizi. Kondisi ini bisa disiasati dengan membuat komposisi gizi sehat seimbang dari makanan segar, dan bentuk penyajian yang lebih variatif sehingga menimbulkan ketertarikan pada anak autis.

“Penampilan yang menarik, bentuk atau warna serta penggunaan alat makan yang menarik, sangat disarankan. Karena dengan menarik perhatian anak, ia cenderung memiliki keinginan untuk mencoba,” jelasnya.

Suplemen makanan, penting bagi anak autis, terutama yang memiliki sifat antioksidan. Dengan tujuan untuk menjaga kondisi tubuh anak, karena anak autis ini gampang terkena penyakit tertentu seperti diare, dan ISK (Infeksi Saluran Kemih). “Namun tetap lebih baik jika diambil dari sumber makanan alami. Sekaligus sebagai terapi pada anak untuk belajar mengunyah, dan memberikan ketajaman pada indra perasa,” sarannya kemudian.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: