Seperti Apakah Bahaya Mie Instan Bagi Anda?

August 25, 2017

bahaya mie instan

Mie instan adalah makanan yang sangat populer yang dinikmati di seluruh dunia.

Meskipun harganya murah dan mudah disiapkan, ada kontroversi mengenai apakah mie instan memiliki efek kesehatan yang merugikan atau tidak. Hal ini karena mie instan mengandung sedikit nutrisi, namun tinggi kandungan sodium dan MSG.

Artikel ini membahas kemungkinan efek mie instan terhadap kesehatan anda.

Apa itu Mie Instan?

Mie instan adalah jenis mie siap masak, biasanya dijual dalam bentuk kemasan, cangkir atau mangkuk individual.

Bahan dasar dalam mie adalah tepung. Paket penyedap umumnya mengandung garam, bumbu, minyak sawit dan monosodium glutamat (MSG) atau kita mengenalnya sebagai vetsin.

Setelah mie dibuat di pabrik, mereka dikukus, dikeringkan dan dikemas.

Setiap paket berisi satu bungkus mie kering serta sebungkus bumbu dan / atau minyak untuk bumbu. Pembeli memasak atau merendam mie kering dalam air panas dengan penyedapnya sebelum mengkonsumsinya.

Fakta Nutrisi untuk Mie Instan

Meskipun ada banyak variabilitas antara berbagai merek dan rasa mie instan, kebanyakan jenis memiliki kandungan nutrisi yang umum.

Sebagian besar jenis mie instan cenderung rendah kalori, serat dan protein, dengan jumlah lemak, karbohidrat, sodium dan mikro nutrisi yang lebih tinggi.

Satu porsi mie ramen rasa daging sapi mengandung nutrisi berikut ini:

• Kalori: 188
• Karbohidrat: 27 gram
• Total lemak: 7 gram
• Lemak jenuh: 3 gram
• Protein: 4 gram
• Serat: 0,9 gram
• Sodium: 861 mg
• Tiamin: 43% dari minimal jumlah dibutuhkan
• Folat: 12% dari minimal jumlah dibutuhkan
• Mangan: 11% dari minimal jumlah dibutuhkan
• Besi: 10% dari minimal jumlah dibutuhkan
• Niacin: 9% dari minimal jumlah dibutuhkan
• Riboflavin: 7% dari minimal jumlah dibutuhkan

Perlu diingat bahwa satu paket ramen tersebut diatas mengandung dua porsi, jadi jika anda memakan seluruh paket dalam satu porsi, jumlah di atas akan berlipat ganda.

Perlu dicatat juga bahwa ada beberapa varietas khusus yang tersedia yang dipasarkan sebagai pilihan yang lebih sehat. Ini bisa dibuat dengan menggunakan biji-bijian atau memiliki jumlah sodium atau lemak lebih rendah.

Kesimpulan: Mayoritas mie instan rendah kalori, serat dan protein, namun tinggi lemak, karbohidrat, sodium dan beberapa zat mikronutrien.

Mie Instan Rendah Kalori, tapi Juga Rendah Serat dan Protein

Dengan 188 kalori per porsi, mie instan lebih rendah kalori daripada beberapa jenis pasta lainnya.

Karena mie instan lebih rendah kalori, mengkonsumsinya berpotensi menyebabkan penurunan berat badan.

Di sisi lain, banyak orang mengonsumsi paket mie instan yang berisi 2 porsi dalam 1 bungkus.

Penting juga untuk dicatat bahwa mie instan rendah serat dan protein, yang mungkin tidak menjadikannya pilihan terbaik dalam hal penurunan berat badan.

Protein telah terbukti meningkatkan perasaan kenyang dan mengurangi rasa lapar, menjadikannya alat yang berguna dalam manajemen berat badan.

Serat, di sisi lain, bergerak perlahan melalui saluran pencernaan, membantu meningkatkan perasaan kenyang sekaligus mendorong penurunan berat badan.

Dengan hanya 4 gram protein dan 1 gram serat per porsi, seporsi mie instan kemungkinan tidak akan membuat anda merasa kenyang. Jadi meskipun rendah kalori, itu mungkin tidak menguntungkan lingkar pinggang anda.

Kesimpulan: Mie instan rendah kalori, yang bisa membantu mengurangi asupan kalori. Namun, mereka juga rendah serat dan protein dan mungkin tidak mendukung penurunan berat badan atau membuat anda merasa sangat kenyang.

Mie Instan Dapat Memberikan Mikro Nutrisi Penting

Meskipun relatif rendah pada beberapa nutrisi seperti serat dan protein, mie instan mengandung beberapa mikro nutrisi, termasuk zat besi, mangan, folat dan vitamin B.

Beberapa mie instan juga diperkaya dengan nutrisi tambahan.

Di Indonesia, sekitar setengah mie instan diperkaya dengan vitamin dan mineral, termasuk zat besi. Satu penelitian benar-benar menemukan bahwa mengkonsumsi susu dan mie yang diperkaya zat besi dapat menurunkan risiko anemia, suatu kondisi yang disebabkan oleh kekurangan zat besi.

Selain itu, beberapa mie instan dibuat dengan menggunakan tepung terigu yang diperkaya, yang telah menunjukkan potensi peningkatan asupan mikro nutrisi tanpa mengubah rasa atau tekstur produk akhir.

Penelitian juga menunjukkan bahwa makan mie instan dapat dikaitkan dengan peningkatan asupan mikro nutirisi tertentu.
Sebuah penelitian 2011 membandingkan asupan nutrisi 6.440 konsumen mie instan dan konsumen non mie instan.

Mereka yang mengkonsumsi mie instan memiliki asupan tiamin 31% lebih banyak dan asupan riboflavin 16% lebih tinggi daripada mereka yang tidak makan mie instan.

Kesimpulan: Beberapa jenis mie instan diperkaya untuk memberi tambahan vitamin dan mineral. Asupan tersebut mungkin terkait dengan riboflavin dan tiamin yang lebih tinggi.

Mie Instan Mengandung MSG (Vetsin)

Kebanyakan mie instan mengandung bahan yang dikenal sebagai monosodium glutamat (MSG), aditif makanan biasa yang digunakan untuk meningkatkan rasa pada makanan olahan.

Meskipun FDA (Badan Makanan dan Obat-obatan Amerika) mengakui MSG aman untuk dikonsumsi, efek potensinya terhadap kesehatan tetap kontroversial.

MSG juga secara alami ditemukan pada produk seperti protein nabati terhidrolisis, ekstrak ragi, ekstrak kedelai, tomat dan keju.

Beberapa penelitian telah menghubungkan konsumsi MSG yang sangat tinggi dengan penambahan berat badan dan bahkan meningkatkan tekanan darah, sakit kepala dan mual.

Namun, penelitian lain tidak menemukan hubungan antara berat badan dan MSG saat orang mengkonsumsinya dalam jumlah sedang.

Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa MSG dapat berdampak negatif terhadap kesehatan otak. Satu penelitian tabung menemukan bahwa MSG dapat menyebabkan pembengkakan dan kematian sel otak matang.

Namun demikian, penelitian lain menunjukkan bahwa MSG cenderung memiliki sedikit efek pada kesehatan otak, bahkan dalam jumlah besar sekalipun tidak dapat melewati pembatas darah otak.

Meskipun MSG kemungkinan aman dalam porsi sedang, beberapa orang mungkin memiliki kepekaan terhadap MSG dan harus membatasi asupannya.

Kondisi ini dikenal dengan gejala MSG. Penderita mungkin mengalami gejala seperti sakit kepala, sesak otot, mati rasa dan kesemutan.

Kesimpulan: Mie instan seringkali mengandung MSG, yang dapat menyebabkan efek buruk pada dosis tinggi dan dapat memicu gejala pada orang yang sensitif.

Asupan Mie Instan Bisa dikaitkan dengan Kualitas Diet Buruk

Beberapa penelitian telah menemukan bahwa konsumsi mie instan secara teratur dapat dikaitkan dengan kualitas diet yang buruk secara keseluruhan.

Satu penelitian membandingkan diet konsumen mie instan dan konsumen bukan mie instan.

Meskipun konsumen mie instan memiliki peningkatan asupan beberapa mikronutrien tertentu, mereka mengalami penurunan asupan protein, kalsium, vitamin C, fosfor, besi, niasin dan vitamin A.

Selain itu, penelitian tersebut menemukan bahwa konsumen mie instan mengalami peningkatan asupan sodium dan kalori dibandingkan konsumen mie instan.

Mie instan juga dapat meningkatkan risiko pengembangan sindrom metabolik, suatu kondisi yang meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes dan stroke.

Sebuah penelitian tahun 2014 melihat diet dari 10.711 orang dewasa. Ditemukan bahwa mengonsumsi mie instan setidaknya dua kali per minggu meningkatkan risiko sindrom metabolik pada wanita.

Studi lain melihat status vitamin D dan hubungannya dengan faktor makanan dan gaya hidup pada 3.450 orang dewasa muda.
Asupan mie instan dikaitkan dengan penurunan kadar vitamin D. Hal itu juga terkait dengan obesitas, gaya hidup dan asupan minuman manis.

Kesimpulan: Penelitian menunjukkan bahwa asupan mie instan dapat dikaitkan dengan asupan natrium, kalori dan lemak yang lebih tinggi ditambah asupan protein, vitamin dan mineral yang lebih rendah.

Mie Instan Tinggi Sodium (Garam)

Satu porsi mie instan mengandung 861 mg sodium.

Ada bukti yang menunjukkan bahwa asupan sodium yang tinggi mungkin memiliki efek negatif pada orang-orang tertentu yang dianggap peka terhadap garam.

Individu ini mungkin lebih rentan terhadap efek natrium dan peningkatan asupan sodium dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah.

Penelitian telah menunjukkan bahwa mengurangi asupan sodium bisa bermanfaat bagi mereka yang peka terhadap garam.

Satu penelitian melihat efek mengurangi asupan garam di lebih dari 3.153 peserta. Pada peserta dengan tekanan darah tinggi, setiap pengurangan asupan sodium 1.000 mg menyebabkan penurunan tekanan darah sistolik 0,94 mmHg.

Penelitian lain dilakukan pada orang dewasa yang berisiko terkena tekanan darah tinggi selama periode 10-15 tahun untuk memeriksa efek jangka panjang pengurangan garam.

Pada akhirnya, ditemukan bahwa mengurangi asupan sodium menurunkan risiko kejadian kardiovaskular hingga 30%.

Kesimpulan: Mie instan mengandung sodium tinggi, yang mungkin terkait dengan tekanan darah tinggi pada individu yang sensitif terhadap garam.

Kesimpulan Akhir Bahaya Mie Instan

Jika mengkonsumsi dalam jumlah sedang, mie instan dalam diet anda kemungkinan tidak akan disertai efek kesehatan negatif.

Namun, mereka rendah nutrisi, jadi jangan menggunakannya sebagai makanan pokok dalam makanan Anda.

Terlebih lagi, konsumsi yang sering dikaitkan dengan kualitas diet yang buruk dan peningkatan risiko sindrom metabolik.

Secara keseluruhan, konsumsi secara moderat, pilih varietas yang sehat dan tambahkan beberapa sayuran dan sumber protein.

Sesekali menikmati mie instan baik-baik saja – selama anda mempertahankan diet sehat.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: