Sakit Bukanlah Halangan Untuk Berpuasa

July 15, 2014

berpuasa

Bagi umat Muslim, Ramadhan menjadi bulan yang dinantikan. Namun, bagaimana dengan penderita Diabetes Melitus, lansia dan penderita gangguan maag yang juga ingin berpuasa?

Pada sebagian orang, menjalankan ibadah puasa tidak lagi mudah. Apalagi, bagi mereka yang memiliki masalah dengan kesehatannya, seperti penderita diabetes militus, ginjal dan penderita gangguan maag. Dengan pertimbangan bulan ramadhan adalah bulan yang penuh berkah namun hanya sekali datang dalam setahun, banyak masyarakat kita yang enggan untuk meninggalkan puasa meski sedang sakit sekalipun. Dalam dunia medis tidak ada larangan untuk melakukan puasa, dengan syarat mempertimbangkan kondisi diri (terutama kesehatan). Maka, tips dan kiat menjalankan puasa agar tetap fit, terutama pada mereka yang memiliki penyakit kronis, sangat dibutuhkan. Sebab itu, kami menghadirkan ulasannya untuk Anda.

Maag Organik dan Fungsional

Staf Divisi Gastroenterologi FKUI/RSCM, Dr Ari Fahrial Syam, SpPD,KGEH,MMB menjelaskan, sakit maag atau dispepsia, yang ditandai dengan timbulnya rasa tidak nyaman atau perih di sekitar ulu hati, mual atau muntah, kembung, dan kurangnya nafsu makan, terbagi atas dua tipe. Yakni dispepsia organik dan dispepsia fungsional.

Dispepsia fungsional terjadi karena pola makan yang tidak teratur, kebiasaan makan camilan berlemak, minum kopi atau minuman bersoda sepanjang hari, merokok dan stress. Sementara dispepsia organik disebabkan oleh kuman Helicobacter pylori. “Gejala dispepsia organikjuga berbeda, karena selain gejala khas maag, juga terdapat gejala lain seperti kasus maag pertama pada usia di atas 45 tahun, berat badan menurun, pucat, dan perdarahan saluran cerna,” jelas Ari.

TIDAK DIANJURKAN PUASA

Ketika kita berpuasa, kata Ari pola makan yang lebih teratur, serta berkurangnya konsumsi camilan berlemak, rokok, kopi dan minuman bersoda mengurangi keluhan pada dispepsia fungsional. “Karena itu puasa diperbolehkan.” ujarnya. Tetapi tidak pada dispepsia organik karena dapat memperburuk keadaan lambung, kecuali bila telah dievaluasi lebih lanjut.

MENU BUKA PUASA & SAHUR

  • Hindari makanan yang banyak mengandung gas. Antara lain: Sayuran tertentu (sawi, kol), buahan-buahan tertentu (nangka,vpisang ambon), buah yang dikeringkan, makanan berserta tertentu semisal kedondong dan minuman yang mengandung soda.
  • Hindari makanan yang merangsang pengeluaran lambung. Antara lain: kopi, sari buah sitrus, susu, es krim.
  • Hindari makanan yang sulit dicerna yang dapat memperlambat pengosongan asam lambung seperti kue tart, keju.
  • Hindari makanan yang secara langsung merusak dinding lambung. Misalnya makanan mengandung cuka, pedas, merica dan bumbu yang merangsang.
  • Hindari makanan yang melemahkan klep kerongkongan bawah seperti minumal beralkohol, coklat, makanan tinggi lemak dan gorengan.
  • Beberapa sumber karbohidrat yang perlu dihindari misalnya beras ketan, mi, bihun, bulgur, jagung, ubi singkong, talas, dodol.

Pemakaian obat: Pilih obat yang memiliki kerja selama 12 jam. Makan saat Sahur tiba.

Penderita Kencing Manis

Menurut Dr. Tri Juli Turigan, SpPD, Staf Divisi Metabolik Endokrin FKUI/RSCM, Berpuasa selama 12 jam tidak mengganggu kesehatan pasien DM yang gula darahnya terkontrol. Tetapi pada pasien yang gula darahnya tidak terkontrol, berpuasa akan menimbulkan stres pada tubuh dan merangsang hormon kontra pengatur insulin untuk mencetus pembentukan gula darah yang lebih cepat, serta pemecahan lemak lebih awal dan menghasilkan keton. Akibatnya akan terjadi ketoasidosis (keadaan dimana darah menjadi asam). “Pasien DM tidak terkontrol juga cenderung poliuri atau banyak berkemih sehingga mudah dehidrasi atau kekurangan cairan,” ujarnya.

Puasa dianjurkan pada semua pasien DM tipe 2 (tidak tergantung insulin) dengan berat badan berlebih dan terkontrol dengan baik untuk memperbaiki sensitivitas insulin dan kontrol metabolik serta mengurangi berat badan.

TIDAK DIANJURKAN PUASA

Ada tipe-tipe pasien DM yang tidak boleh berpuasa yaitu pasien dengan kondisi gula darah tidak stabil dan tidak terkontrol dengan baik, serta tidak mengikuti anjuran diet, obat dan aktivitas. Tidak pula pada pasien DM dengan komplikasi serius, pasien DM dengan riwayat ketoasidosis, pasien yang sedang hamil, mengalami infeksi, pasien usia tua dengan masalah kesadaran serta apabila terdapat dua atau lebih kejadian hipoglikemia selama Ramadhan. Kontrol gula darah selama puasa harus dilakukan. “Jika glukosa darah kurang dari 63 mg/ dl maka harus segera berbuka,” pesannya.

YANG HARUS DIWASPADAI

  • Gula datah terlalu rendah (hipo-glikemik).
  • Gula darah terlalu tinggi(hiperglikemik).
  • Darah menjadi asam (ketoasidosis).
  • Kekurangan cairan (dehidrasi) dan timbul bekaan di pembuluh darah (trombosis).

MENU MAKANAN SAHUR DAN BUKA PUASA

  • Makan maknan sehat dan seimbang.
  • Menyegerakan berbuka dan melambatkan sahur.
  • Minum cukup, minimal 8 gelas.
  • Porsi kalori: 50 % buka puasa, 10% setelah traweh, 40 % saat sahur.
  • Pilih karbohidrat kompleks yang butuh pembakaran lama saat sahur (8 jam).
  • Kurangi lemak, perbanyak serat.
  • Cek gula darah sebelum sahur, 2 jam sesudah sahur, sebelum buka puasa, dan 2 jam sesudah buka puasa.

KAPAN HARUS BATAL PUASA?

  • Gula darah turun menjadi 60 mg/dl atau kurang.
  • Gula darah turun sekitar 70 mg/ dl di jam-jam awal, terutama pemakaian insulin, sulfonilurea, atau glinid yang dipakai saat sahur.
  • Gula darah naik lebih dari 300 mg/dl.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: