Pro Kontra Gula Jagung Tinggi Fruktosa

September 25, 2015

gula jagung

Dalam satu dekade terakhir, banyak perdebatan mengenai gula jagung tinggi fruktosa. Gula jagung dinilai tidak baik untuk kesehatan. Bahkan di negara maju sudah ada gerakan menolak gula jagung tinggi fruktosa. Bagaimana sebenarnya?

Gula jagung tinggi fruktosa (high fructose corn syrup) mulai diperkenalkan industri makanan kurang lebih 40 tahun yang lalu sebagal substitusi murah untuk gula pasir. Dalam kurun waktu itu pula, ada lonjakan drastis angka penderita obesitas, gangguan metabolik, dan diabetes tipe 2. Banyak juga kalangan yang menghubungkan lonjakan penderita obesitas, gangguan metabolik dan diabetes tipe 2 dengan konsumsi gula jagung tinggi fruktosa, namun kalangan industri makanan selalu menyangkalnya.

Gula Jagung vs Gula Pasir

Manakah yang lebih aman dikonsumsi, gula pasir ataukah gula jagung? Kedua-duanya adalah gula, dan mengonsumsi gula apa pun secara berlebihan tidaklah baik untuk tubuh. Seperti diketahui, perbandingan fruktosa dengan glukosa pada gula jagung tinggi fruktosa adalah 55% : 45%. Sedangkan gula pasir atau sukrosa bukanlah gula sederhana melainkan disakarida. Di dalam tubuh manusia, gula pasir akan dipecah menjadi fruktosa dan glukosa dengan perbandingan 50% : 50%.

Jika mengonsumsi gula jagung tinggi fruktosa, gula akan lebih cepat masuk ke aliran darah kita. Ini menyebabkan lonjakan kadar gula darah yang tidak baik untuk kesehatan. Saat gula dicernakan tubuh dengan cepat, insulin tubuh juga meningkat. Ini akan membuat Anda cepat merasa lapar, dan Anda jadi makan berlebihan.

Menjadi Lemak Tubuh

Sekadar Informasi, meskipun fruktosa dan glukosa sama-sama gula sederhana, namun tubuh kita mengolahnya dengan cara yang berbeda. Glukosa diolah di dalam liver (hati), sebagian diubah menjadi cadangan glikogen yang disimpan di dalam hati dan sel-sel otot. Glukosa sering juga disebut gula darah sebab dapat diolah oleh sel-sel lain sebagai sumber energi dengan bantuan insulin.

Di sisi lain fruktosa hanya dapat diolah di dalam hati. Jika cadangan glikogen pada hati sudah cukup, kelebihan gula akan diubah menjadi lemak/trigliserida yang tersimpan dalam sel-sel lemak atau tertimbun pada hati sehingga bisa menyebabkan penyakit penumpukan lemak hati. Fruktosa tidak menyebabkan kenaikan insulin, dan sebagian besar fruktosa yang diasup akan diubah menjadi lemak tubuh.

Dampak Fruktosa Bagi Tubuh

Sebuah studi yang dirilis Scientific Reports belum lama ini menyoroti dampak fruktosa pada tubuh, sekalipun total kalori yang dikonsumsi tidak seharusnya meningkatkan berat badan. Pada penelitian itu, sekelompok tikus mendapatkan 18 persen kalori harian dari glukosa, dan kelompok tikus kedua mendapatkannya dari fruktosa, dengan jumlah kalori yang sama. Hasil penelitian menunjukkan, kelompok tikus yang mendapatkan fruktosa mengalami kenaikan lemak tubuh selama percobaan berlangsung. Liver pada tikus-tikus yang mendapat fruktosa lebih berlemak, dan gerakannya tidak selincah gerakan tikus kelompok kontrol.

Studi pada hewan uji lainnya dilakukan di Princeton University. Dua kelompok tikus diberi asupan dengan kalori yang sama, tetapi satu kelompok mendapatkan gula jagung tinggi fruktosa, kelompok lainnya mendapatkan gula putih biasa. Hasil penelitian menunjukkan tikus yang diberi gula jagung tinggi fruktosa mengalami timbunan lemak tubuh lebih banyak daripada tikus yang mendapatkan gula biasa. Timbunan lemak itu terutama di daerah perut, dan kadar trigliserida di aliran darah juga meningkat. Hal-hal tersebut merupakan tanda-tanda sindrom metabolik.

Memang benar, gula putih yang kita konsumsi juga akan dipecah menjadi fruktosa dan glukosa yang sama di dalam tubuh. Akan tetapi pemecahan itu membutuhkan proses metabolism, dan proses inilah yang mengurangi dampak buruknya. Intinya, lebih cepat gula memasuki aliran darah kita, lebih banyak masalah yang ditimbulkannya.

Fruktosa Dalam Buah-buahan, Bagaimana?

Pelaku industri makanan pengguna gula jagung berdalih, fruktosa adalah gula yang banyak ditemui dalam buah-buahan. Hal itu memang benar, tetapi kadar alami fruktosa dalam buah-buahan tidaklah sebanyak fruktosa dalam berbagai makanan. Fruktosa pada buah juga terlindungi serat yang tidak tercernakan, sehingga memasuki aliran darah kita dengan lambat. Sehingga mengonsumsi fruktosa pada buah-buahan tidak bisa disamakan dengan mengonsumsi gula jagung tinggi fruktosa pada makanan-makanan olahan. Nah, jika Anda membaca makanan dalam kemasan, coba perhatikan labelnya, apakah menggunakan gula jagung tinggi fruktosa atau tidak.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: