Pro Kontra Diet Tinggi Protein

July 15, 2015

diet protein

Bagi mereka yang ingin menurunkan berat badan atau menjaga kelangsingan, ada beragam cara diet yang bisa dipilih. Salah satu yang cukup populer adalah diet tinggi protein. Namun penyuka diet ini perlu mempertimbangkan pilihan diet ini. Sebuah penelitian menunjukkan diet tinggi protein ini dalam jangka panjang bisa menimbulkan masalah.

Diet tinggi protein sering juga disebut dengan diet Atkins. Hal ini didasarkan kepada nama dokter orang yang mempopulerkannya, yaitu dr Robert Atkins dari Amerika Serikat. Dokter tersebut mempromosikan jenis diet rendah kalori berdasarkan sebuah makalah ilmiah mengenai penurunan berat badan yang dimuat The Journal of the American Medical Association (1958). Makalah itu kemudian diterbitkan terpisah di tahun 1958. Dalam penelitian tersebut, diet tinggi protein menunjukkan perbedaan penurunan berat badan hingga 2,9% jika dibandingkan dengan kelompok kontrol.

Dr. Robert Atkins menggunakan penelitian tersebut untuk mengatasi masalah kelebihan berat badannya sendiri. Belakangan ia mempopulerkan cara diet tersebut melalui buku-buku yang ditulisnya. Buku pertamanya berjudul Dr. Atkins’ Diet Revolution, terbit tahun 1972. Pada buku keduanya yang berjudul Dr. Atkins’ New Diet Revolution (2002), ia memodifikasi sebagian cara diet namun tidak mengubah konsep awal.

Buku ketiga The New Atkins for a New You (2010) diperbaharui dengan masukan serta perkembangan informasi dekade terakhir, yang belum termuat dalam buku sebelumnya. Sedangkan buku The New Atkins for a New You Cookbook yang dirilis tahun 2011 ditulis oleh Colette Heimowitz, berisikan aneka resep rendah kalori yang mudah untuk dibuat.

Risiko Untuk Kesehatan

Diet tinggi protein memang sangat populer. Di Inggris saja, menurut Daily Mail (8/5/2015) diperkirakan diet ini diikuti oleh tiga juta orang. Pada prinsipnya, karena protein lebih mengenyangkan daripada karbohidrat, maka pada diet tinggi protein disarankan untuk memperbanyak protein dalam upaya menurunkan berat badan. Namun hasil penelitian terbaru memperlihatkan diet ini tidak sepenuhnya aman.

Sebuah riset telah dilakukan di Rovira i Virgili University di Reus, Spanyol. Peneliti memantau kesehatan laki-laki dan wanita yang berisiko tinggi kena penyakit jantung selama lima tahun. Penelitan berfokus pada berapa banyak protein yang mereka makan. Analisis hasil penelitian menunjukkan, bahwa mereka yang mengasup banyak protein dan sedikit karbohidrat – seperti pada diet tinggi protein — ternyata dua kali lebih berpeluang mengalami kelebihan berat badan hingga 10 persen dari berat badan mereka, ketimbang mereka yang pola makannya tidak tinggi protein.

Masih dari penelitian tersebut, jika pola makan mereka tinggi protein tetapi rendah lemak dan karbohidrat, lebih berbahaya. Risiko kematian menjadi lebih tinggi daripada mereka yang tidak menjalani diet tinggi protein. Hal ini dihitung berdasarkan angka kematian peserta penelitian di dalam rentang waktu penelitian tersebut. Para penulis studi tersebut mengatakan risiko kematian yang tinggi ini berkaitan dengan kerusakan ginjal, perubahan kadar lemak darah serta cara pengolahan gula dalam tubuh.

Bahaya Gizi Tidak Seimbang

Hasil penelitian di Spanyol ini, mendukung penelitian-penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa defisiensi nutrisi berkaitan erat dengan obesitas. Para peneliti di Universitas Milan menyimpulkan demikian setelah melakukan penelitian pada 400 orang yang gemuk/kelebihan berat badan. Para peserta penelitian itu dibagi menjadi tiga kelompok; yang menerima suplemen vitamin D sebanyak 25.000 unit per bulan, 100.000 unit per bulan, dan yang tidak mendapatkan suplemen. Semua peserta mendapatkan makanan yang seimbang.

Setelah 6 bulan berjalan, para peserta yang mendapatkan suplemen vitamin D mengalami penurunan berat badan dan lingkar pinggang daripada mereka yang tidak mendapatkan suplemen vitamin D. Mereka yang mengasup suplemen 100.000 unit vitamin D per bulan dapat menurunkan berat badan rata-rata 5.4kg dan pengecilan lingkar pinggang rata-rata 5.48cm. Sedangkan mereka yang mendapatkan 25.000 unit vitamin D per bulan mengalami penurunan berat rata-rata 3.8kg dan pengecilan lingkar pinggang 4cm. Ada pun yang tidak mendapatkan suplemen vitamin D hanya mengalami penurunan berat badan dan pengurangan lingkar pinggang sebanyak 1.2kg dan 3.21cm.

Para peneliti tersebut menyimpulkan bahwa obesitas atau kegemukan bisa tejadi akibat kekurangan vitamin D, sehingga merekomendasikan untuk mengasup suplemen vitamin D.

Diet Tinggi Protein Kurang Baik

Jadi, apakah baik jika kita menggunakan diet tinggi protein dalam upaya menurunkan berat badan. Simaklah pendapat Helena Gibson-Moore, dari British Nutrition Foundation, seperti dikutip Daily Mail, (8/5/2015). Ia menyebutkan bahwa bukti yang menunjang diet tinggi protein untuk menjaga kelangsingan tubuh dalam jangka panjang ini tidaklah cukup. Keamanan diet tinggi protein tersebut dalam jangka panjang juga dikhawatirkan.

“Pada saat ini, tidak ada bukti yang mendukung diet tinggi protein untuk menurunkan berat badan dalam jangka waktu yang panjang. Sebaliknya, saat ini ada bukti yang menunjukkan efek negatif diet tinggi protein pada kondisi klinis yang lain, termasuk bukti dari penelitian kami.”

 

 

loading...

Previous post:

Next post: