Perlengketan Usus, Apa dan Cara Mengatasinya

May 7, 2015

perlengketan usus

Dina dan suaminya sudah tiga tahun menikah tetapi belum juga memiliki momongan. Bukan karena tidak mau, tetapi segala daya dan upaya yang mereka lakukan tidak juga membuahkan hasil. Bingung harus bagaimana, Dina sempat berpindah-pindah dokter kandungan sebelum akhirnya diketahui mengalami perlengketan usus. Lho, apa hubungannya usus dengan kesuburan? Ternyata, perlengketan usus yang dialami Dina membuat saluran telurnya tersumbat. Setelah diingat-ingat, Dina ternyata pernah menjalani operasi usus buntu saat masih kecil. Dokter menduga, inilah yang membuatnya jadi sulit hamil. Penasaran mengapa hal ini bisa terjadi? Apa itu perlengketan usus dan bagaimana mengatasinya? Baca terus untuk mendapatkan jawabannya.

Usus Juga Bisa Lengket

Begitu hebatnya Tuhan menciptakan manusia sehingga perut kita yang kecil ini bisa menampung begitu banyak organ. Bayangkan saja, perut Jennifer Aniston yang ramping bisa menampung hati seberat 1,5 kg, pankreas, empedu, limpa, ginjal, lambung, hingga usus yang panjangnya mencapai 8 meter. Tak pelak lagi, organ-organ ini tentu berjejalan di dalam perut. Meski demikian, semua organ ini memiliki permukaan yang licin sehingga dapat bergeser mengikuti pergerakan tubuh.

Namun, ada kalanya organ di dalam perut mengalami perlengketan satu sama lain sehingga tidak lagi dapat bergerak bebas. Penyebabnya adalah jaringan parut yang terbentuk akibat penyakit. Saat mengalami luka, entah cedera, infeksi, atau akibat pembedahan, jaringan tubuh kita akan bereaksi dan membentuk jaringan parut seperti bekas luka yang terdapat di kulit.

Jaringan parut merupakan bagian dari proses penyembuhan yang normal. Jaringan parut yang terbentuk bisa tipis seperti benang, tetapi bisa juga tebal dan kaku sehingga membuat organ di sekitarnya tidak dapat bergerak bebas, bahkan tertarik dan terpuntir.

Efek Operasi

Penyebab tersering terjadinya perlengketan usus adalah tindakan operasi atau pembedahan di daerah perut. Bahkan, hampir semua orang yang pernah menjalani operasi di daerah perut akan mengalami perlengketan usus. Meski demikian, perlengketan ini biasanya tidak terasa atau menimbulkan gangguan, bahkan penderitanya mungkin tidak tahu kalau di perutnya terdapat perlengketan.

Risiko perlengketan lebih besar jika pembedahannya dilakukan di daerah panggul dan perut bagian bawah, termasuk pembedahan di daerah kandungan. Perlengketan ini terjadi akibat jaringan parut yang terbentuk karena adanya luka sayatan, bekuan darah di daerah luka, proses penyembuhan luka yang berlebihan, atau infeksi setelah pembedahan. Perlengketan dapat membesar dan makin erat seiring waktu, sehingga baru menimbulkan gangguan bertahun-tahun sesudah operasi dilakukan.

Selain pembedahan, perlengketan usus juga dapat terjadi akibat usus buntu, terapi sinar pada pengobatan kanker, infeksi di daerah perut, infeksi usus, dan radang usus. Pada wanita, perlengketan juga dapat terjadi akibat peradangan panggul dan endometriosis.

Pengaruhi Kesuburan

Umumnya, perlengketan tidak menimbulkan gejala apa-apa sehingga tidak disadari oleh penderitanya. Kalaupun ada, gejala yang paling umum adalah nyeri menahun di daerah perut atau panggul. Nyeri ini sering mirip dengan nyeri akibat usus buntu, endometriosis, dan radang di daerah usus yang disebut divertikulitis.

Pada beberapa kasus, perlengketan dapat menimbulkan sumbatan pada usus dan gangguan kesuburan pada wanita. Hal ini disebabkan oleh jaringan parut tebal dan kaku yang menarik jaringan di sekitarnya. Bila terjadi di daerah usus, usus dapat tertekuk, terpuntir, atau tertarik dari posisinya semula. Akibatnya, usus dapat tersumbat separuh atau tertutup sepenuhnya sehingga makanan atau feses tidak dapat melewati usus. Hal ini dapat menimbulkan gejala berupa nyeri perut yang hebat, mual, muntah, kembung, perut terlihat membesar, serta sulit buang angin dan buang air besar. Sumbatan total pada usus sangat berbahaya sehingga perlu diatasi dan biasanya harus segera dioperasi.

Jaringan parut atau perlengketan pada perut bagian bawah berisiko menyebabkan gangguan kesuburan pada wanita. Perlengketan ini dapat menyebabkan saluran telur menjadi tertekuk, terpuntir atau tertarik sehingga sel telur tidak dapat lewat menuju rahim.

Operasi Ulang?

Tidak semua penyakit di daerah perut dapat terlihat dengan menggunakan rontgen. Perlengketan di daerah perut adalah salah satu contohnya. Rontgen atau USG hanya dapat melihat apakah usus memang tersumbat. Lalu, bagaimana kita bisa tahu apakah di dalam perut kita terdapat perlengketan atau tidak? Satu-satunya cara adalah dengan melakukan operasi dan melihat ke dalam perut.

Apakah semua perlengketan harus dioperasi? Perlengketan di daerah perut ternyata tidak perlu dioperasi selama tidak menimbulkan masalah kesehatan. Pembedahan biasanya hanya dilakukan jika perlengketan tersebut menimbulkan nyeri, sumbatan usus, dan gangguan kesuburan. Hingga kini, pembedahan masih merupakan satu-satunya cara untuk membebaskan perlengketan dari organ. Meski demikian, perlu diingat bahwa pembedahan ini juga berisiko menimbulkan perlengketan baru sehingga perlu dilakukan dengan sangat hati-hati.

Jika sumbatan usus akibat perlengketan bersifat total, pembedahan harus segera dilakukan. Namun, jika hanya tersumbat separuh, pembedahan dapat ditunda. Gejala sumbatan parsial ini dapat diredakan dengan memberikan makanan cair atau makanan yang sedikit menyisakan ampas, yaitu makanan yang banyak mengandung susu, rendah serat, dan yang mudah dicerna oleh usus.

Cegah Dengan Laparoskopi

Zaman dahulu, pembedahan dilakukan dengan melakukan sayatan besar di kulit agar dokter bedah dapat melihat dengan jelas ke dalam tubuh. Tidak heran jika akhirnya risiko terjadinya perlengketan sangat tinggi. Perlengketan memang sulit dihindari, tetapi dapat diminimalkan melalui pembedahan secara lembut, teliti, dan hati-hati.

Saat ini, pembedahan dapat dilakukan dengan teknik laparoskopi atau peneropongan. Dengan demikian, sayatan yang diperlukan jauh lebih kecil dibanding bedah terbuka. Agar dapat terlihat jelas dan dokter dapat menggerakkan peralatan bedah secara bebas, bagian dalam perut dikembangkan menggunakan gas karbondioksida. Dengan demikian, perlengketan dapat dihindari atau setidaknya menjadi minimal. Selain itu, penggunaan sarung tangan latex-free, mempersingkat lama operasi, dan menjaga agar jaringan tidak mengering selama operasi juga akan menurunkan kemungkinan terbentuknya perlengketan.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: