Penyebab Gigi Goyang Pada Orang Dewasa

September 27, 2014

gigi goyang

Gigi si kecil goyang? Wah gampang, dicabut saja! Tapi kalau gigi ayah bundanya yang goyang, masa dicabut juga? Anda tentu malas kalau senyum indah Anda berubah bolong-bolong seperti rangkaian tuts piano. Mengapa sih gigi bisa goyang dan harus diapakan? Mari kita cari tahu.

Akibat Infeksi dan Trauma

Dari kecil hingga dewasa, gigi goyang identik dengan tanggalnya gigi. Kalau masih anak-anak gigi dicabut pun tidak masalah karena toh nantinya akan tumbuh kembali. Namun, jika goyangnya gigi ini terjadi pada orang dewasa, tentu akan menjadi masalah.

Goyangnya gigi sebenarnya juga terjadi pada gigi yang normal. Hal ini terjadi karena gigi tidak melekat erat pada tulang sehingga masih dapat bergerak. Meski demikian, gerakan ini sangat kecil dan tidak mengganggu bahkan tidak terasa oleh yang empunya gigi. Gigi dianggap goyang dan tidak normal jika sisi depannya teraba goyang saat gigi atas dan bawah digesekkan ke arah samping atau depan. Jika sudah begini, segera buat janji dengan dokter gigi agar tidak semakin goyah.

Penyebab gigi goyang pada orang dewasa ada bermacam-macam. Salah satunya adalah gangguan di jaringan sekitar gigi (periodontal). Malas membersihkan gigi, merokok, dan karang gigi menyebabkan sisa makanan yang terselip menumpuk dan menjadi tempat berkembang biaknya kuman serta menyebabkan infeksi pada gusi. Akibatnya, gigi serta jaringan dan tulang rahang di sekitar gigi mengalami peradangan. Jaringan gusi dan tulang pun menjadi rusak sehingga gigi menjadi goyah dan hilang pegangan. Kalau sudah begini, bukan hanya satu gigi yang dapat tanggal. Gigi-gigi di sekitarnya juga dapat ikut goyah secara berjamaah.

Pernah melihat petinju bergigi emas? Terlihat keren, ya? Padahal, gigi emas itu menggantikan gigi-gigi si petinju yang rontok saat bertanding. Ya, benturan atau trauma yang keras pada gigi dan daerah rahang dapat menyebabkan gigi menjadi goyang dan tanggal. Trauma ini termasuk juga trauma oklusal, yaitu trauma yang terjadi karena gesekan antara gigi atas dan gigi bawah. Misalnya, pada orang yang giginya sering beradu pada saat tidur atau orang yang susunan giginya tidak rata. Selain penyebab di atas, abses atau bisul serta adanya tumor di daerah sekitar gigi juga dapat menyebabkan gigi menjadi goyang.

Sudah rajin membersihkan gigi dan tidak terbentur, tapi gigi mudah goyang? Jika Anda menderita kencing manis, hal ini wajar terjadi. Pasalnya, diabetisi lebih mudah mengalami infeksi di daerah mulut yang berujung pada rusaknya jaringan periodontium. Inilah sebabnya mengapa banyak penderita diabetes yang mengalami gigi goyang.

Risiko Gigi Goyang

Siapa yang tidak kenal rendang? Rendang memang nikmat. Saking nikmatnya, masakan asli Sumatera Barat ini dinobatkan sebagai salah satu makanan terenak di seluruh dunia. Tapi kalau gigi goyang, makan rendang tentu bukannya nikmat, melainkan siksaan.

Tunggu dulu, ternyata tanggalnya gigi bukan satu-satunya hal yang perlu dikuatirkan si pemilik gigi goyang. Selain bergerak maju-mundur atau kiri-kanan, gigi yang goyang juga sering menimbulkan rasa sakit atau rasa risih saat mengunyah. Apalagi jika goyangnya gigi disertai dengan membengkaknya gusi dan pipi.

Dicabut Sayang

Serba salah rasanya jika punya gigi yang goyang. Mau dibuang sayang, tidak dibuang bikin malu atau bahkan nyeri. Akibatnya, banyak orang yang menahan-nahan untuk ke dokter gigi karena takut dianjurkan untuk membuang si gigi.

Jangan kuatir, ternyata cabut gigi bukan pilihan pertama dan utama pada kasus gigi goyang. Dokter gigi mungkin hanya membersihkan gusi secara seksama, memberikan obat, memasang pengaman agar gigi tidak ke mana-mana, melakukan perawatan ortodontik atau pilihan lain sesuai dengan penyebabnya.

Jika disebabkan oleh peradangan dan infeksi pada gusi, dokter mungkin hanya akan membersihkan gigi dan gusi. Tujuannya adalah untuk menyingkirkan kuman penyebab goyahnya gigi dan mengurangi derajat pergeseran gigi. Jika disebabkan oleh trauma oklusal, dokter dapat melakukan perawatan orthodontik agar tekanan pada permukaan gigi berkurang. Bagi orang yang gigi-giginya sering beradu pada malam hari, dapat diberikan pelindung gigi yang digunakan saat tidur.

Jika belum cukup, dokter mungkin akan menganjurkan pemasangan splint. Splinting adalah tindakan mengikat gigi yang goyang ke gigi yang kokoh di sebelahnya dengan menggunakan kawat splint. Tujuannya adalah untuk mencegah atau mengurangi derajat goyahnya gigi. Tindakan ini dianjurkan terutama pada gigi yang pergeserannya hanya sekitar 1 mm saja. Pemasangan splint dapat dilakukan dengan atau tanpa anestesi lokal, tergantung kondisi masing-masing pasien. Pertanyaannya, bagaimana jika goyang yang terjadi lebih dari 1 mm? Ternyata, splinting tetap dapat dilakukan. Hanya saja semakin jauh pergerakan gigi, efektivitasnya juga semakin berkurang.

Splint dapat dipasang secara permanen atau hanya sementara. Mula-mula, splint temporer dapat dipasang untuk mempermudah perawatan sambil menunggu apakah perawatan gigi dan gusi berhasil mengembalikan kekokohan gigi. Jika tidak berhasil, maka baru dilakukan pemasangan splint secara permanen. Namun, jika gigi sudah sangat goyang dan dapat bergerak ke segala arah, maka biasanya gigi sudah tak terselamatkan lagi dan terpaksa harus dicabut.

Tetap Harus Rajin Kontrol

Gigi boleh saja tidak goyang lagi. Namun, tidak berarti Anda boleh santai-santai dan melanjutkan kebiasaan buruk yang menyebabkan goyangnya gigi. Apalagi jika Anda juga menderita kencing manis. Perawatan gigi dan gusi tidak boleh dilupakan jika ingin gigi tetap utuh dan awet hingga kakek-nenek. Kebersihan mulut dan gigi tetap harus dijaga dengan rajin menyikat gigi, menggunakan benang gigi dan berkumur. Rokok juga harus dihindari dan jangan lupa untuk kontrol ke dokter gigi setiap enam bulan meski tidak ada keluhan.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: