Penyakit-penyakit dari Tikus

May 5, 2014

penyakit tikus

Sejak tahun 1928, Walt Disney berhasil mengembangkan sayap di dunia perfilman dengan mengusung karakter sepasang tikus, yaitu Mickey dan Minnie Mouse. Tidak hanya Mickey dan Minnie, di dunia film tikus seringkali digambarkan sebagai tokoh protagonis yang cerdas. Sebut saja Jerry pada Tom & Jerry, Remy si koki dalam Rattatouille, Stuart dalam Stuart Little, dan masih banyak lagi. Padahal, kenyataannya tikus adalah hewan yang dikenal sebagai tokoh antagonis pembawa penyakit. Penyakit apa saja? Berikut penyakit yang dibawa tikus di Indonesia.

□ Leptospirosis

Di musim penghujan dan banjir, tidak hanya ISPA dan penyakit kulit yang perlu Anda waspadai. Ada leptospirosis, penyakit bakteri yang sering dilupakan para korban banjir. Menurut dr. Khie Chen Lie SpPD-KPTI, Staf Divisi Tropik dan Infeksi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM, Jakarta, leptospirosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh kuman leptospira. Kuman ini dibawa oleh tikus dan disebarkan melalui air kencingnya. Gejala leptospirosis dapat bermacam-macam. Mulai dari demam, pegal-pegal, hingga menimbulkan komplikasi serius di ginjal, selaput otak, hati, bahkan kematian.

Sebenarnya, leptospirosis tidak hanya dapat disebarkan oleh tikus. Hewan ternak, babi, kuda, anjing, dan hewan-hewan liar lainnya juga dapat menularkan kuman melalui air seni. Meski demikian, tikus adalah tersangka utamanya. Manusia dapat terinfeksi jika bersentuhan dengan air kencing tikus atau bersentuhan dengan tanah, air, atau makanan yang terkontaminasi kencing tikus. Kuman kemudian dapat menyusup masuk melalui kulit, hidung, atau mulut. “Infeksi leptospirosis akan semakin mudah terjadi jika terdapat luka pada tempat masuk kuman. Selain itu, kuman juga dapat masuk melalui air minum yang terkontaminasi,” jelasnya.

Entah ada apa dengan masyarakat di negeri ini. Saat terjadi banjir, anak-anak mendadak senang dan menganggap lokasi banjir sebagai kolam raksasa. Sedangkan orang dewasanya hobi berjalan-jalan di tengah banjir. Bahkan, mereka yang tidak terkena banjir pun datang khusus untuk menyaksikan banjir. Padahal, Jakarta terkenal sebagai kota dengan tikus-tikus yang berukuran raksasa. Maka tidak heran, jika beberapa waktu lalu leptospirosis menjadi langganan kasus di sejumlah rumah sakit yang dekat dengan lokasi banjir.

Lalu apa yang harus dilakukan supaya tidak tertular leptospirosis? Jangan biarkan anak bermain banjir. Tidak hanya hal ini berbahaya, tetapi juga dapat menimbulkan penyakit bahkan setelah banjir selesai. Jika ia ingin berenang, coba janjikan untuk berenang di kolam renang yang bersih setelah banjir usai. Hindari berjalan-jalan dengan menerjang banjir. Tak dapat disangkal, air banjir pasti mengandung banyak kuman. Siapa yang tahu kalau salah satu di antaranya adalah kuman Yersinia pestis? Jika terpaksa, sebisa mungkin kenakan pelindung, seperti sepatu boot atau pakaian khusus. Dan tentu pemeliharaan lingkungan agar tetap bersih dan sehat, termasuk pembuangan sampah yang baik dapat mengurangi populasi tikus sebelum banjir terjadi.

□ Koriomeningitis limfositik

Siapa yang tak gemas melihat marmut dan hamster? Kedua hewan imut dan lucu ini sempat populer sebagai hewan peliharaan. Tapi tahukah Anda bahwa marmut dan hamster sebenarnya masih satu keluarga dengan tikus? Tidak hanya itu, marmut dan hamster ternyata juga dapat membawa penyakit, sama seperti tikus-tikus lain di luar sana. Keluarga besar tikus ini dapat menyebabkan koriomeningitis limfositik, yaitu peradangan selaput otak dan peradangan otak yang sangat berbahaya.

Memang, hewan utama yang membawa kuman adalah tikus rumah atau nama Latinnya Mus musculus. Namun, virus ini dapat menular ke saudara-saudarinya saat di toko hewan peliharaan atau di rumah Anda sendiri. Sayangnya, hewan lucu peliharaan Anda mungkin tidak menunjukkan gejala-gejala sakit, sehingga sulit untuk mengetahui apakah ia terinfeksi atau tidak.

“Virus penyebab penyakit ini dapat ditularkan ke manusia melalui air liur, tempat tinggal, urine, dan tinja tikus yang terinfeksi, saat bersentuhan dengan kulit yang luka, hidung, mata atau mulut. Penyakit ini tidak menular secara langsung dari manusia ke manusia. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan kuman dapat ditularkan dari ibu ke janin yang dikandungnya,” jelasnya.

Agar tetap dapat membelai hewan peliharaan tanpa takut, berhati-hatilah saat memegang dan membersihkan kandang si imut. Kenakan sarung tangan, terutama jika jelas-jelas bersentuhan dengan urine atau alas kandangnya. Peternak, toko hewan, dan pemilik hewan peliharaan juga harus mencegah agar hewan peliharaan tidak berhubungan dengan tikus liar agar tidak tertular.

Jika rumah sudah diserbu oleh tikus, cari perangkap tikus yang aman dan efektif. Setelah itu, bersihkan dengan mengenakan sarung tangan karet, lateks, atau vinil. Jangan membersihkan debu dengan menggunakan penyedot debu atau sapu. Sebaiknya langsung dibersihkan dengan cairan pemutih pakaian yang diencerkan atau menggunakan disinfektan. Setelah dibasahi, ambil benda yang terkontaminasi dengan handuk yang agak basah dan lap daerah tersebut menggunakan larutan pemutih atau disinfektan. Setelah membersihkan, lepaskan sarung tangan dan jangan lupa untuk mencuci tangan menggunakan air dan sabun.

□ Pes, si wabah hitam

Tidak hanya sutera yang dibawa oleh bangsa Eropa dari China melalui Jalur Sutera. Penyakit pes yang menewaskan 57 juta hingga 200 juta warga Eropa, juga dibawa melalui jalan legendaris ini. Penyakit pes atau sampar disebabkan oleh kuman Yersinia pestis, yang sangat menular dan mematikan. Dan tikus, memegang andil dalam penyebaran penyakit ini.

Kuman Yersinia pestis memang tidak langsung disebarkan oleh tikus, melainkan oleh kutu yang terdapat di bulu-bulu tikus. Manusia dapat terinfeksi akibat gigitan kutu yang membawa kuman tersebut. Manusia juga dapat terkena penyakit ini jika menghirup tetesan air yang mengandung kuman Yersinia pestis. Bahkan, penyakit ini dapat mampir pada peneliti-peneliti yang menggunakan tikus sebagai hewan percobaan.

Bahaya pes juga dapat terjadi di daerah-daerah pertanian pada musim hujan. Pasalnya, musim hujan adalah musim yang tepat bagi tikus untuk berkembang biak. Selain itu, tumbuhan yang tumbuh subur akan menyediakan suplai makanan yang berlimpah bagi tikus dan kutu-kutu yang hinggap di badannya.

Untuk menghindari penyakit pes, ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan. Di antaranya, jangan menyentuh atau mengambil hewan yang sudah mati. Jika ada laporan kasus pes di derah Anda, segera laporkan jika ada hewan yang sakit atau mati ke departemen kesehatan setempat. Bersihkan juga semua tempat yang dapat menjadi sumber makanan atau sarang tikus di sekitar rumah, kantor, ataupun tempat wisata. Jika Anda hendak berkunjung ke tempat yang banyak tikusnya, sebaiknya gunakan penolak serangga baik di kulit maupun di pakaian untuk menghindari gigitan kutu. Hal serupa perlu dilakukan terhadap hewan peliharaan di rumah. Jangan sampai hewan kesayangan Anda diserang kutu pembawa kuman.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: