Obesitas Pada Anak: Dari Sini Masalah Muncul

March 23, 2014

obesitas pada anak

Dalam 10 tahun terakhir, angka obesitas anak meningkat dua kali lipat. Data kementerian kesehatan 2007 mencatat obesitas pada rentang usia 6-14: anak laki-laki 9.5%, anak perempuan: 6,4%. Riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2010 memberikan angka yang lebih mengerikan; untuk propinsi DKI Jaya 12,8% dan keseluruhan Indonesia 9,2% – dibanding tahun 1990 yang berkisar hanya 4%.

Mengintip data Amerika Serikat, sepertiga anak usia 2-19 tahun kelebihan berat badan. Anak-anak ini cenderung jadi diabetik, dengan penyulit penyakit jantung dan peningkatan risiko kanker hingga angka harapan hidup menyusut. Ngerinya mereka bisa jadi generasi yang ‘tetap hidup’ tapi tidak produktif, menguras dana, dan semakin membebani semua pihak. Biaya rawat untuk obesitas dan komplikasinya menghabiskan 150 milyar dolar Amerika setiap tahunnya.

Untuk apa ‘mengutak-atik statistik’ negara orang lain? Ini penting untuk memproyeksikan kemungkinan masalah besar yang akan kita hadapi (bahkan lebih parah, karena kondisi kita sebagai negara yang masih ‘berkembang’). Gaya hidup kita sekarang diam-diam semakin meniru gaya hidup orang-orang di seberang sana.

Apa yang sebenarnya membuat anak gemuk?

  • Pangan anak telah begitu ‘tercemari’ oleh HFCS (high fructose corn syrup)- dan berbagai pemanis tambahan khususnya pada jus kemasan dan cemilan. Istilah asing yang tertera di kemasan membuat orang tua memilih untuk tidak mau tahu dan ‘dianggap aman’ karena semata-mata terdapat label resmi POM atau Depkes.
  • Kekeliruan persepsi bahwa ‘semua lemak itu buruk’. Anak cenderung tidak makan makanan berlemak tapi makanan kering kemasan yang isinya gula dan tepung, yang justru membuat insulin anak melonjak sejak usia dini. Tubuh terbiasa mengubah kelebihan gula darah menjadi lemak dengan segala akibatnya.
  • Anak dengan tingginya asupan gula dan tepung memang jadi malas bergerak, karena rasa ngantuk, lemas dan akhirnya senang duduk bermain game atau nonton TV. Semakin tidak bergerak, semakin banyak lagi kalori yang ditimbun, semakin gemuk, kian tidak bisa bergerak lagi, dan…seterusnya. Hingga masalah anak bukan lagi sekadar kegemukan, tapi juga rasa minder.
  • Sebagian besar pengaruh anak usia sekolah berasal dari pergaulan (peer group). Sekolah bukan hanya mengajar hal-hal yang bersifat keilmuan, tapi juga gaya hidup. Apa yang dimakan anak-anak di sekolah dan apa yang menjadi bekal sekolah membentuk pemahaman tentang pola makan.

Ada anak-anak di sekolah ‘favorit’ yang malu menunjukkan bekal tempe atau sayur. Mereka lebih suka memamerkan gorengan sosis atau nugget yang sama sekali bukan makanan sehat. Berbagai bahan tambahan dari emulsifier hingga pengawet (gula dan garam juga pengawet!) dicampur dengan daging olahan (perhatikan: bukan daging utuh). Ini membuat nugget dan sosis dikritik banyak ahli nutrisi yang berpihak pada kesehatan anak karena miskin gizi dan risiko kanker yang mengancam. Istilah ‘rasa ayam’ atau ‘rasa kaldu sapi’ menggiring pemikiran orang pada daging yang sesungguhnya. Padahal kita tidak menemukan berton daging ayam atau sapi pada pabrik pembuatan ‘ramuan makanan’ tersebut.

Yang menjadi masalah besar balita dengan berat badan berlebih :

1. Beban pada tubuhnya (terutama tulang belakang dan tungkai) mempengaruhi postur di kemudian hari. Tulang belulang tidak selayaknya di usia pertumbuhan memperoleh beban berlebih.

2. Anak semakin besar makin malas bergerak dan cepat lelah. Padahal untuk membentuk tulang yang kuat mereka harus bergerak. Dengan tidak bergerak, otot pun tidak lentur. Padahal kelenturan-lah yang menjamin tidak terjadinya cedera, baik pada otot maupun tulangnya. Anak yang malas bergerak mustahil menjadi aktif di dunia 3 Dimensi, yaitu alam di luar sana. Padahal kita adalah manusia dengan gerak 3 Dimensi, bukan tenggelam di dunia khayal 2 dimensi: di depan layar televisi, monitor komputer, atau mengenal alam hanya di atas kertas buku.

3. Kegemukan membuat anak tidak nyaman di bawah matahari pagi baik untuk berlarian maupun berenang – padahal tulang yang kuat membutuhkan provitamin D 3 yang hanya bersumber dari matahari.

4. Yang paling menakutkan adalah anak-anak dengan obesitas terbukti 53 kali cenderung mengalami resistensi insulin, suatu sindrom yang mengawali munculnya diabetes tipe II. Ini sesuai dengan hasil penelitian University of North Carolina, Amerika Serikat; 688 anak dengan rentang usia 11-14 tahun menghadapi faktor risiko penyakit jantung dengan tanda-tanda awal (yang tidak pernah diperiksa dokter karena dianggap ‘masih anak-anak’):

  • tingginya level insulin (gula darah mungkin masih normal, tapi insulin meroket)
  • tingginya tekanan darah
  • kenaikan trigliserida bersamaan dengan rendahnya HDL (kolesterol ‘baik’)

Fakta tersebut telah dimuat di Annual Scientific Sessions of the American Heart Association, November, 2000, New Orleans, Louisiana. Sudah lewat 11 tahun, artinya angka statistik tersebut pastinya sudah merayap lebih mengerikan lagi.

Membentuk pola makan dan gaya hidup tanpa obesitas

  • Yang pertama sekali perlu berubah justru ayah dan ibu. Anak hanya mencontoh apa yang diperbuat orang tuanya. Untuk mencintai sayur buah dan makanan sehat, tidak secepat kita membalikkan tangan. Apalagi orang tua terlanjur menikmati tuntutan lidah dan dopamin (senyawa penghantar rangsang saraf) yang memberi efek ‘kecanduan’. Jadi, sama seperti mengubah kecanduan-kecanduan lainnya, butuh kerja keras, pemahaman.
  • Anak tidak akan mau mengubah pola makan selama ia tidak melihat ‘pentingnya untuk apa’. Lain halnya bila anak bisa merasakan perbedaan: bahwa setelah menghentikan makanan bertepung dan bergula ia mampu berkonsentrasi lebih baik, tidak mudah ngantuk, stamina tinggi, tidak minder lagi.
  • Anak juga perlu dibantu keluar dari rasa rendah diri/minder. Orang tua yang sengaja membandingkan (bahkan cenderung mengejek) anak sendiri dengan anak lain justru semakin merusak kondisi emosional anak. Jangan mengira anak bisa tergerak untuk berubah kalau dia tidak dibandingkan dengan anak lain! Barangkali itu jalan pikir orang tua. Tapi anak punya cara pandang sendiri dengan istilah ‘kompetisi’ – yang bisa jadi merupakan pukulan keras dan membuatnya malah mudah menyerah, merasa ‘tidak mampu, tidak berharga’. Lebih parah lagi, ada panggilan khusus yang melekat – seperti dipanggil ”Nduuutt…!” Ini adalah stigmata.
  • Biasakan anak untuk ‘curhat’ dengan terbuka dan jujur tanpa dihakimi, sehingga ia tidak melarikan diri dari masalah dengan makan sebagai pelampiasan.
  • Olahraga bersama kadang menjemukan, bila anak tidak merasa ‘fun’. Buatlah permainan rutin bersama mereka, seperti perang-perangan, petak lari, gobag sodor. Jika rumah terlalu kecil pergilah ke taman kompleks dekat rumah. Yang menyedihkan adalah orang tua jaman sekarang tidak paham lagi bagaimana caranya bermain dengan anak! Selain masalah bonding (kelekatan) timbul, anak juga cenderung ‘menjiplak’ budaya di luar rumah. Sejak anak bisa berjalan dan berlari, luangkan waktu setiap pagi sebelum berangkat kerja untuk bergerak menguras keringat! Biasakan minum air putih. Dingin atau dengan es, tanpa tambahan. Jangan menyimpan sirup atau minuman bersoda atau jus kemasan dalam lemari es.
  • Ajarkan anak tentang istilah makanan ‘sehat’ – yaitu semua bahan pangan di alam (bukan dalam kardus, kemasan atau dari kaleng) yang bisa dimakan apa adanya, tanpa intervensi teknologi (bahkan termasuk pemasakan).
  • Biasakan memberi hadiah dalam bentuk buku atau materi yang merangsang kreativitas, bukan makanan (permen, coklat, kue).
  • Anak butuh kalori dan zat gizi tertentu untuk tumbuh. Bicarakanlah dengan ahli tumbuh kembang tentang grafik pertumbuhan anak (berat badan berbanding panjang/tinggi badan). Ketika panjang/tinggi anak mencapai angka optimum, zat gizi bukan hanya untuk tumbuh, tapi juga berkembang. Zat gizi mematangkan organ tubuhnya, meluweskan sambungan saraf, memproduksi enzim, dan mengaktifkan pembuangan zat yang tak dibutuhkan.
  • Lewatkan waktu berkualitas dengan interaksi personal, bukan keasikan masing-masing di depan TV atau game. Berbagai permainan tradisional yang memicu gerak seperti yang saya sudah singgung di atas bisa jadi pilihan. Atau buatlah sandiwara/pementasan dari dongeng sebelum tidur. Acara kumpul keluarga tidak lagi dihabiskan di atas meja makan dan duduk sampai kenyang, tapi libatkan anak-anak dengan kegiatan memasaknya.
  • Berenang atau bersepeda di udara bersih terbuka lebih menjadi pilihan ketimbang gaya hidup konsumtif ke mall plus makanan ‘ala mall’.
  • Bila orang tua mampu mempertahankan berat badan ideal dan tetap kelihatan awet muda, tunjukkanlah itu pada anak-anak. Perlihatkan betapa bangganya anda berdua tetap tampil gagah, cantik dan fit tanpa lemak berlebih. Ajak keterlibatan sekolah dan pengelola kantin untuk lebih berkomitmen dengan cemilan dan minuman sehat untuk anak. Ganti cemilan bergula dan berwarna dengan berbagai ‘sate buah’. Ketimbang menjual makanan kering dalam kemasan, beri pilihan pisang kepok rebus atau es kelapa muda tanpa sirup (gantinya perasan jeruk buah asli). Berbagai pepesan yang diolah dengan ‘cara pintar’ membuat anak semakin menghargai panganan berbasis produk lokal. Ketimbang brownies kukus sarat gula dan tepung, buatlah kukusan telur, tahu dan jamur dengan berbagai bumbu dalam cetakan kecil untuk skotel. Gunakan kembang tahu sebagai pengganti kulit ‘pastry’ (seperti kulit tepung untuk pastel).

Dibilang tidak mudah, sebetulnya mudah. Dibilang sulit, pun tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Apa pun yang kita upayakan untuk kehidupan yang lebih baik, pasti membuahkan hasil. Komitmen dan kreativitas adalah bumbu racikannya!

 

 

loading...

Previous post:

Next post: