Mobil Murah Menambah Masalah?

January 30, 2014

mobil murah'

Memutuskan untuk tinggal di Jakarta, sama saja dengan teken kontrak dengan kemacetan. Ibukota negeri kita tercinta ini memang identik dengan padatnya lalu lintas. Tapi rupanya kemacetan juga sedang mempersiapkan kontrak dengan sejumlah kota besar lain di Indonesia. Apa pasal? Yang dituding sebagai penyebab utama kemacetan tentu jumlah mobil yang terlalu banyak dibanding kapasitas jalan untuk menampung mobilitas manusia. Namun, apa daya. Fasilitas angkutan umum yang nyaman, aman, cepat, dan mampu menampung banyak penumpang, dianggap belum ada hingga saat ini. Akibatnya, orang tentu memilih menggunakan kendaraan pribadi.

Di tengah rencana perbaikan dan pembangunan fasilitas angkutan massal, tiba-tiba masyarakat dikejutkan dengan kabar disetujuinya pelemparan mobil murah di pasaran Indonesia. Tak pelak, hal ini menimbulkan kebingungan bahkan keberangan beberapa pihak. Tidak hanya dikuatirkan akan memperpanjang kemacetan, fenomena mobil murah juga dikuatirkan semakin memboroskan bahan bakar minyak bersubsidi. Apakah kebijakan ini sudah tepat? Terlepas dari itu, perlu dikaji juga dampak bertambahnya jumlah mobil yang beredar di jalan terhadap polusi dan kesehatan.

Mobil Murah vs Polusi

Menurut Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE, Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementrian Kesehatan RI, mobilitas tinggi adalah salah satu ciri penduduk dari negara yang sedang berkembang seperti Indonesia. Sayangnya, mobilitas yang tinggi ini belum didukung oleh sistem angkutan umum massal yang efektif dan efisien. Saat ini, siapa yang tidak ingin punya kendaraan pribadi? Bagi mereka yang berekonomi sedang, pasti akan menyambut baik adanya mobil murah. Dan ini berarti, bertambah lagi jumlah mobil yang beredar di jalan.

Tidak hanya macet, bertambahnya kendaraan roda empat di jalan juga akan berdampak pada kesehatan dan lingkungan. Apalagi, mobil berbahan bakar fosil menghasilkan berbagai gas dan partikel yang menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan. “Emisi atau gas buang kendaraan akan menciptakan efek rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim. Polutan dan partikel-partikel berbahaya dapat terserap ke dalam tanah dan air, sehingga dapat memasuki rantai makanan manusia. Belum lagi hujan asam yang juga akan diserap oleh udara dan air di sekitarnya. Akibatnya, generasi yang akan datang akan makin banyak yang mengalami gangguan reproduksi, pernapasan, kekebalan tubuh, hingga persarafan,” ungkapnya. Sedangkan orang dewasa, akan lebih banyak yang mengalami penuaan dini, penyakit Alzheimer, dan juga Parkinson.

Hmm, sepertinya sekarang memang bukan saat yang tepat untuk membeli mobil bukan? Namun kenyataannya, produksi mobil murah semakin marak karena tingginya permintaan pasar. Jika anda memang berencana membeli mobil, paling tidak perhatikan beberapa hal berikut untuk mengurangi sumbangsih anda terhadap meningkatnya polusi.

Pertama, pilih mobil yang lebih ramah lingkungan, misalnya mobil hibrid yang dapat menggunakan listrik atau gas alam sebagai bahan bakar. Jika memutuskan untuk membeli mobil bekas, pastikan bahwa mobil memiliki mesin yang terawat baik, sehingga juga lebih ramah lingkungan. Mobil berukuran kecil biasanya juga menghasilkan polusi yang lebih kecil. Mobil dengan teknologi stop-start yang dapat mematikan mesin secara otomatis saat mobil dalam keadaan diam dan dapat dinyalakan kembali dengan cepat, juga dapat menghemat bahan bakar dan mengurangi polusi yang dihasilkan. Penggunaan pendingin ruangan dan alat elektronik dapat memboroskan bahan bakar. Untuk itu, ada baiknya mematikan AC dan radio sekali-kali.

Merawat mobil secara rutin tidak hanya akan membuat mobil awet, namun juga lebih efektif dan efisien dalam menggunakan bahan bakar. Untuk perjalanan pendek, anda dapat menggunakan alternatif lain selain mobil pribadi, seperti sepeda, berjalan kaki, atau naik kendaraan umum. Anda juga bisa mengajak teman lain untuk naik mobil bersama, ketimbang berangkat dengan mobil masing-masing. Hindari menaruh terlalu banyak barang di dalam mobil. Selain itu, mengemudi dengan kecepatan rendah dan stabil dapat membantu lingkungan dengan menghemat bahan bakar dan mengurangi polusi.

Gaya Hidup vs Kesehatan

Kalau teori Darwin memang benar, manusia berevolusi dari makhluk purba Homo sapiens menjadi manusia modern, maka sesungguhnya tidak hanya wujud manusia yang berubah, tetapi aktivitasnya juga. Dahulu, manusia berburu dan bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan perut. Jika ingin bepergian, cukup berjalan kaki atau paling-paling mengendarai hewan. Tapi ini tahun 2014, mengendarai mobil menjadi pilihan populer sebagian orang. Namun tahukah anda, kalau evolusi aktivitas ini ternyata juga berdampak pada kesehatan dan panjang umur manusia?

Menurut Prof. Tjandra, dalam dunia kesehatan, gaya hidup yang santai dan bermalas-malasan (sedentary lifestyle) adalah salah satu faktor terjadinya sejumlah penyakit, seperti penyakit jantung, diabetes, dan obesitas. Ini karena metabolisme tubuh juga akan ikut bermalas-malasan. Oleh karena itu, pengobatan penyakit-penyakit ini juga harus disertai dengan perubahan gaya hidup.

Penelitian membuktikan, bahwa gaya hidup yang sehat harus mengikutsertakan aktivitas fisik dalam kehidupan sehari-hari. Pasalnya, meski kita berolahraga setengah jam setiap hari, kita tetap tidak boleh melupakan 23,5 jam sisanya. Menjaga tubuh tetap aktif, adalah kunci untuk mempertahankan tubuh agar terhindar dari berbagai penyakit metabolik dan degeneratif di masa yang akan datang.

Kehidupan manusia modern, sangat lekat dengan kebiasaan minim aktivitas fisik. Mulai dari menonton televisi, duduk di dalam mobil, atau bekerja di depan komputer. Jika anda berkilah anda pergi ke gym setiap hari untuk berolahraga, studi membuktikan bahwa orang seperti Anda ternyata tetap kalah bugar dengan pelayan restoran yang bekerja mondar mandir seharian. Tapi usaha yang anda lakukan tersebut tetap lebih baik dibanding rekan anda yang memilih duduk santai menonton televisi sepulang kerja.

Studi membuktikan, bahwa duduk lama dapat meningkatkan kadar gula darah dan meningkatkan resistensi insulin, dua ciri utama diabetes. Duduk lama ini, termasuk duduk lama di dalam mobil. Oleh karena itu, alternatif yang sehat tentu saja dengan berjalan kaki atau bersepeda ketika ingin menempuh jarak yang tidak terlalu jauh. “Saat duduk, tubuh tidak terlalu banyak membakar kalori, sehingga gula darah diubah menjadi cadangan energi berupa lemak, terutama di daerah perut. Akibatnya dapat timbul obesitas, yang merupakan faktor risiko terjadinya diabetes dan penyakit jantung koroner,” jelasnya.

Gaya hidup sehat bukan berarti harus menjual mobil dan membuang televisi. Kita dapat mengintegrasikan perubahan gaya hidup dalam kehidupan sehari-hari. Manfaatkan tangga dan bukan naik lift, membuat jeda saat menggunakan komputer dalam jangka waktu lama, misalnya dengan menyusun berkas-berkas di dalam lemari, mengambil air minum atau menelepon, berjalan kaki saat jam makan siang, dan bermain dengan anak setelah pulang kerja, bukan malah menonton televisi. Jika ingin berkomunikasi dengan rekan sekantor, usahakan untuk berbicara langsung dan bukan lewat e-mail atau messenger, sehingga ada kesempatan untuk berdiri dan berjalan. Selain lebih aktif, kalori yang terbakar juga lebih banyak sehingga dapat mencegah obesitas.

Lalu bagaimana jika terpaksa naik mobil dan hobi menonton televisi? Usahakan untuk mengolahragakan otot perut dan kaki saat di lampu merah. Menonton televisi pun tidak harus hanya duduk diam. Banyak orang yang berlari di treadmill sambil menonton televisi. Hal lain yang bisa dilakukan adalah sit up dan melakukan peregangan saat jeda iklan atau menonton televisi sambil menyetrika, bersih-bersih atau pekerjaan rumah lainnya.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: