Misteri Kepala Peyang Pada Bayi

February 23, 2015

kepala peyang

Apakah Anda pernah melihat bayi baru lahir yang bentuk kepalanya datar alias peyang beberapa bulan setelah lahir? Menetap tidak, ya? Bagaimana pencegahan dan penanganannya? Dan apakah hal ini dapat mengganggu pertumbuhan otak anak? Baca terus untuk mendapat jawabannya.

Akibat Terlalu Banyak Berbaring

Dalam dunia kedokteran, kepala datar atau peyang dikenal dengan istilah plagiocephaly. Plagiocephaly adalah adanya bagian datar di kepala yang menyebabkan bentuk kepala terlihat tidak simetris.

Plagiocephaly terjadi akibat beberapa faktor. Kemungkinan pertama adalah faktor kandungan, misalnya dari rahim yang sempit saat bayi di dalam kandungan, kehamilan kembar, atau kurangnya cairan ketuban. Faktor kedua adalah adanya craniosynostosis, yaitu cacat lahir berupa penyatuan dini lempengan tulang kepala. Namun, faktor tersering plagiocephaly adalah tekanan pada kepala karena berbaring dengan satu posisi terus-menerus.

Pada tahun 1992, kasus peyang di Amerika Serikat tiba-tiba meningkat lima kali lipat. Selidik punya selidik, rupanya hal ini terjadi setelah pemerintah memperingatkan bahwa bayi harus tidur terlentang untuk menurunkan risiko kematian mendadak akibat terbekap kasur.

Tengkorak bayi terdiri dari beberapa lempeng tulang yang belum menyatu. Jaringan lunak kepala bayi juga masih lunak dan longgar. Karena bayi belum bisa menegakkan kepala, ia tentu akan menghabiskan waktu seharian dengan berbaring. Akibatnya, bagian kepala yang tertekan terus-menerus dengan kasur akan menjadi datar dan bagian yang berlawanan bisa terlihat menonjol.

Namun, begitu tekanan ini menghilang, peyang juga akan hilang. Apalagi tulang, daging, dan jaringan kepala lainnya akan tumbuh sehingga kepala menjadi bulat kembali.

Kepala peyang umumnya dapat ditemukan pada bayi yang hobi tidur dan yang kepalanya besar. Bayi prematur juga rentan mengalami plagiocephaly karena tengkoraknya masih sangat lunak saat melewati jalan lahir. Bagian
kepala yang peyang umumnya terdapat di bagian belakang, tapi bisa juga di sisi kiri atau kanan kepala.

Ini terutama terjadi pada bayi yang senang tidur miring atau dengan kelainan otot leher sehingga kepalanya selalu menoleh ke satu sisi.

Pencegahan kepala peyang perlu dilakukan sejak bayi berusia dua minggu karena pada saat ini kepala bayi masih sangat lunak dan mudah berubah bentuk. Semakin dini diketahui, peyang akan semakin mudah diatasi. Sebaliknya, jika sudah terlambat, kepala bayi biasanya sudah keras dan sulit berubah bentuk.

Dapat Hilang Dengan Sendirinya

Kasus peyang yang ringan umumnya dapat hilang dengan sendirinya saat si kecil berusia enam bulan, yaitu saat bayi sudah mulai merangkak dan duduk. Dengan demikian, tekanan saat ia berbaring di kasur atau kursi jadi berkurang dan kepala bisa kembali bulat. Namun, beberapa kasus yang berat dapat menetap hingga si kecil dewasa. Meski demikian, ada beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk mengurangi peyang pada bayi.

Jika Anda menjumpai peyang pada kepala si kecil, jangan tunda untuk berkonsultasi ke dokter. Terapi pada plagiocephaly yang disebabkan oleh posisi akan bergantung pada usia bayi dan derajat keparahannya.

Si kecil mungkin punya posisi favorit saat ia berbaring di kasur atau kursi bouncernya. Namun, begitu peyang terbentuk, posisi kepala saat tidur juga jadi sulit berubah. Akibatnya peyang dapat bertambah parah. Karena itu, terapi peyang dilakukan dengan cara mengubah-ubah posisi bayi untuk meminimalkan tekanan pada bagian yang datar. Hal ini disebut dengan terapi reposisi.

● Saat tidur

Coba letakkan si kecil pada sudut tempat tidur yang berbeda setiap kali ia tidur. Anda dapat mendempetkan tempat tidurnya dengan dinding sehingga si kecil secara refleks akan menengok ke arah luar. Gantung mainan lucu dengan warna dan suara di luar tempat tidur untuk menarik perhatiannya. Posisi mainan ini dapat dipindah-pindah agar ia tidak melulu menengok ke arah yang sama. Jangan menggunakan bantal atau selimut untuk mengganjal kepala si kecil karena dapat menutupi hidung dan mulu-tunya secara tidak sengaja.

● Saat bangun

Saat yang tepat untuk melakukan terapi reposisi adalah saat si kecil sedang bangun. Caranya adalah dengan mengajak si kecil bermain pada posisi tengkurap. Selain penting untuk perkembangan motorik, “tummy time” juga melatih kekuatan otot leher, dada, dan kepala bayi. Posisi ini dapat dilakukan segera setelah tali pusat puput. Yang penting, si kecil hanya boleh ditengkurapkan hanya saat ia sedang bangun dan dalam pengawasan penuh Anda. Beberapa bayi mungkin menangis karena merasa tidak nyaman saat tengkurap. Anda dapat menyiasatinya dengan membiarkan ia tengkurap di atas perut Anda atau memposisikan diri Anda ikut tengkurap bersamanya. Acara tengkurap juga dapat makin menyenangkan dengan mengajak si kecil meraih mainan atau sekedar menikmati pijatan Anda.

● Saat minum susu

Ketika menyusui, biasakan mengubah posisi menyusui bergantian antara kiri dan kanan.

● Saat berjalan-jalan

Sesekali tinggalkan stroller mahal Anda di rumah dan gendonglah si kecil saat berjalan-jalan. Selain mengurangi tekanan pada kepala, menggendong bayi juga dapat mempererat ikatan antara Anda dan si kecil. Jangan lupa untuk sering mengganti posisi gendongan agar ia tidak tidur terlalu lama pada posisi yang sama. Jika berkendara dengan mobil, jangan biarkan si kecil berlama-lama duduk di carseat. Segera gendong dan turunkan dari carseat setiba di tempat tujuan.

Jika Tidak Hilang Juga

Meski sebagian besar plagiocephally dapat hilang dengan sendirinya, ada juga yang menetap hingga dewasa. Umumnya ini terjadi jika plagiocephally sudah berat atau penderitanya sudah terlanjur besar. Pada kasus seperti ini, ada dua hal yang dapat dilakukan, yaitu fisioterapi dan terapi cranial orthotic.

Fisioterapi bertujuan untuk melemaskan otot-otot leher yang tegang dan memperluas rentang gerak leher si kecil. Sedangkan terapi cranial orthotic adalah terapi dengan memasangkan helm atau alat khusus pada kepala bayi 23 jam per hari selama dua hingga enam bulan. Terapi ini diharapkan dapat memperbaiki bentuk kepala, terutama pada bayi yang berusia kurang dari enam bulan. Terapi cranial orthotic harus disertai dengan fisioterapi. Kekurangannya adalah terapi ini tidak nyaman, mahal, dan belum terbukti secara ilmiah.

Dapat Menimbulkan Gangguan Kesehatan

Sepertinya sepele, tapi ternyata plagiocephally dapat menimbulkan efek jangka panjang bagi si kecil. Ada sejumlah studi yang menunjukkan bahwa plagiocephally dapat menyebabkan gangguan kesehatan secara umum. Pertama, anak berisiko tinggi mengalami keterlambatan belajar dan gangguan perkembangan. Anak dengan plagiocephally juga cenderung memerlukan bantuan saat memasuki usia sekolah. Secara fisik, ia juga lebih berisiko mengalami gangguan susunan gigi dan TMJ, skoliosis, dan infeksi telinga. Plagiocephally yang disebabkan oleh craniosynostosis harus segera dioperasi karena dapat menghambat pertumbuhan otak.

Secara psikologis, anak mungkin akan merasa minder atau malu karena bentuk kepalanya yang berbeda dari orang lain. Meski demikian, jarang sekali terjadi kasus anak yang diejek di sekolah karena plagiocephally. Hampir semua orang memiliki bentuk kepala yang tidak sempurna. Seiring waktu, tumbuhnya rambut juga akan memperbaiki penampilan kepala dan menyembunyikan kekurangan si kecil.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: