Milia, Bintil Putih yang Membuat Risih

August 29, 2014

milia

Kata siapa kulit bayi selalu mulus? Anda mungkin pernah melihat ada bintik-bintik putih di hidung bayi yang baru lahir. Bentuknya memang mirip dengan jerawat, hanya saja ukurannya sangat kecil. Bintik-bintik ini adalah milia. Ya, milia memang banyak dijumpai pada bayi baru lahir. Milia tidak sama dengan jerawat, ia tidak berbahaya dan bisa hilang dengan sendirinya seiring waktu. Namun, bagaimana jika milia terjadi pada orang dewasa? Apa bedanya dengan jerawat dan bagaimana cara mengatasinya?

Si Kecil yang Meresahkan

Duh, jerawat lagi. Tapi kok di kelopak mata, ya? Tunggu dulu, jangan langsung dipencet. Bisa jadi itu bukan jerawat, melainkan milia. Dikatakan oleh dr. Laksmi Duarsa SpKK, milia adalah kantong atau kista kecil pada kulit yang berisi keratin, yaitu protein yang membentuk lapisan luar kulit. Bentuk milia memang seperti jerawat dan ia cukup sering dijumpai pada bayi baru lahir sehingga disebut dengan “jerawat bayi”. Meski demikian, milia tidaklah sama dengan jerawat. Satu buah milia disebut dengan milium. Namun, karena milium umumnya muncul secara bergerombol, maka ia lebih sering dikenal dengan istilah milia.

Setiap milium biasanya memiliki ukuran sekitar 1 hingga 2 mm. Tonjolan kecil berwarna putih atau kekuningan ini sering ditemukan di sekitar pipi, hidung, mata dan kelopak mata, dahi, dan dada. Meski demikian, umumnya milia dapat terjadi di bagian tubuh manapun. Milia sendiri ada beberapa macam dan penyebabnya juga dapat berbeda-beda. Ada yang disebut dengan milia neonatal, yaitu milia yang cukup sering ditemukan pada bayi baru lahir, terutama di daerah hidung. Selain hidung, daerah yang sering dihinggapi adalah kulit kepala, pipi, tubuh bagian atas, dan bagian dalam mulut. “Milia ini diduga berasal dari kelenjar keringat yang belum matur atau belum berkembang dengan sempurna,” jelasnya. Karena cukup sering ditemukan, milia dianggap merupakan hal yang normal pada bayi.

Milia yang terjadi pada orang dewasa maupun pada anak-anak tanpa penyebab khusus disebut dengan milia primer. Sedangkan milia sekunder adalah milia yang terbentuk di kulit atau tubuh yang mengalami luka sebelumnya. Misalnya akibat luka bakar atau melepuh. Milia ini dapat terbentuk pada saat kulit mulai sembuh. Penyebabnya diduga akibat kerusakan kelenjar keringat kulit. Milia sekunder juga dapat terjadi pasca penggunaan krim kulit, misalnya krim yang mengandung kortikosteroid.

Selain milia primer dan sekunder, ada juga yang disebut milia en plaque. Milia ini jarang terjadi, dan terbentuk pada kulit yang radang atau pada plak kulit dengan berukuran beberapa sentimeter. Penyebabnya belum diketahui dengan pasti. Milia jenis ini biasanya terdapat di belakang telinga, pada kelopak mata, atau pada daerah pipi dan rahang dan cenderung mengenai wanita usia paruh baya.

Perawatan Milia

Jerawat pada wajah tentu mengganggu penampilan. Demikian juga dengan milia. Namun, jerawat biasanya menimbulkan rasa nyeri dan tampak meradang, sedangkan milia tidak. Pada beberapa orang milia dapat menimbulkan rasa gatal. Milia yang berada di daerah yang sering bergesekan dengan pakaian juga mungkin terlihat kemerahan, tetapi bagian tengahnya akan tetap terlihat putih. “Jerawat disebabkan karena penyumbatan folikel rambut oleh minyak dan kotoran, sedangkan milia disebabkan karena gangguan pada kelenjar keringat,” jelasnya. Dengan demikian, isi jerawat dan isi milia juga berbeda. Isi jerawat biasanya agak cair dan mudah dikeluarkan, sedangkan milia bersifat padat dan tidak dapat dikeluarkan semudah jerawat.

Biasanya milia dapat didiagnosis dan dibedakan dari jerawat dengan mudah, sehingga tidak diperlukan pemeriksaan khusus untuk memastikannya. Pemeriksaan hanya perlu dilakukan jika diagnosisnya meragukan atau pada kasus milia en plaque. Caranya adalah dengan mengambil sedikit sampel milia, yaitu dengan mengikis sedikit kulit atau dengan menggunakan alat khusus.

Kebanyakan kasus milia juga tidak memerlukan penanganan khusus karena tidak berbahaya dan akan hilang dengan sendirinya dalam waktu beberapa minggu. Namun, ada juga jenis milia yang tidak kunjung hilang selama berbulan-bulan atau lebih. Selain itu, milia sekunder juga dapat bersifat permanen. Untuk kasus-kasus milia yang seperti ini, ada beberapa tindakan yang dapat dilakukan dokter untuk menyingkirkan milia.

Dokter dapat membuka milia menggunakan jarum steril berukuran kecil, kemudian mengeluarkan isinya dengan dipencet. “Tindakan ini sangat sederhana sehingga tidak perlu menggunakan obat bius. Meski demikian, penderita milia tidak dianjurkan untuk mengeluarkan atau mengobati milia sendiri tanpa bantuan profesional. Pasalnya, pengobatan yang kurang baik dapat menyebabkan kerusakan pada kulit, infeksi atau terbentuknya bekas luka yang sulit hilang,” ujarnya. Selain itu, pengeluaran isi milia yang tidak maksimal akan menyebabkan milia timbul kembali.

Untuk milia yang menetap dan menyebar luas, ada beberapa terapi yang dapat dilakukan oleh dokter kulit, di antaranya krioterapi, terapi laser, dermabrasi, dan peeling kimiawi. Meskipun milia bukan jerawat, penggunaan obat dan sabun untuk kulit berjerawat seperti asam salisi-lat atau asam glikolat juga dapat digunakan untuk mengatasi milia.

Tips Menghadapi Milia

✓ Milia tidak perlu diobati dan dapat hilang dengan sendirinya, meskipun pada orang dewasa biasanya membutuhkan waktu lebih lama untuk menghilang.

✓ Jika dirasa mengganggu penampilan, isi milia dapat dikeluarkan oleh dokter kulit melalui tindakan eksisi, penggunaan laser, krioterapi, dermabrasi, dan peeling kimiawi.

✓ Hindari memencet dan menusuk milia sendiri karena dapat menyebabkan infeksi, kerusakan pada kulit, hingga bekas luka yang sulit hilang. Obat jerawat dapat digunakan untuk mengatasi milia agar lebih cepat hilang.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: