Meredam Nyeri Persalinan

July 6, 2014

persalinan

Untuk anda yang pernah melahirkan secara normal, tentu masih ingat bagaimana sakitnya proses melahirkan. Bukan hanya saat melahirkannya saja, namun juga nyeri saat kontraksi demi kontraksi terjadi. Bukan tidak mungkin, ini menimbulkan perasaan trauma bagi anda. Seandainya ada obat yang bisa membawa pergi nyeri tersebut, tentu proses melahirkan akan menjadi pengalaman yang indah. Kabar baik, obat seperti ini memang ada, bahkan telah banyak dilakukan terhadap ibu yang sedang dalam proses persalinan. Namun Anda perlu tahu juga risikonya bagi Anda dan buah hati.

Melahirkan dengan Injeksi Epidural

Rasa sakit adalah hal lumrah yang dialami saat melahirkan. Tidak jarang ini menjadi momok bagi wanita yang sudah di ujung masa kehamilannya. Nyeri melahirkan memang tidak dapat diprediksi. Meski bisa sangat hebat, yang terpenting adalah cara kita menghadapi nyeri tersebut. Namun, adakalanya nyeri tidak dapat diatasi hanya dengan pengaturan napas, teknik relaksasi, dan berpindah-pindah posisi. Apalagi jika yang bersangkutan tergolong orang yang sangat peka terhadap nyeri. Untuk itulah tersedia suntikan bebas nyeri, atau yang dikenal dengan injeksi epidural.

Menurut Dr. dr. Ike Sri Redjeki SpAn-KIC, KMN, Mkes, injeksi epidural merupakan metode anestesi yang paling populer untuk meredakan nyeri selama proses persalinan. Selain efektif, teknik anestesi epidural juga tergolong aman bagi ibu dan bayi. Suntikan ini diberikan di daerah punggung, yang bertujuan untuk menimbulkan rasa baal dari pinggang ke bawah. Hebatnya, meski nyeri menghilang tetapi anda tetap bisa mengejan jika saatnya sudah tiba. Dengan dosis epidural yang rendah, anda juga masih akan dapat berjalan namun tetap merasa nyaman.

Cara Pemberian

Di luar sana, dokter yang akan membantu proses persalinan biasanya akan menanyakan apakah anda ingin mendapat injeksi epidural. Jika setuju, infus akan dipasang terlebih dahulu, disusul dengan pemasangan selang dan injeksi di daerah punggung. Yang akan melakukan prosedur ini adalah dokter ahli anestesi. Ia dapat dilakukan dengan posisi tubuh berbaring miring, dengan punggung melengkung dan kaki tertekuk, atau bisa juga dalam posisi duduk. Epidural biasanya akan dilakukan saat pembukaan mulut rahim mencapai 4-5 cm dan dalam proses persalinan yang aktif.

Obat yang digunakan dalam anestesi epidural antara lain bupivacaine, chloroprocaine, atau lidocaine. Obat dapat dikombinasi dengan golongan opioid atau narkotik untuk mengurangi dosis anestesi yang diperlukan. “Tujuannya, agar nyeri berkurang dengan efek samping minimal,” jelasnya. Selain itu, anestesi epidural dapat juga dikombinasi dengan epinefrin, fentanil, morfin, atau klonidin guna memperpanjang efek atau untuk menjaga kestabilan tekanan darah ibu.

Obat epidural diberikan melalui selang yang sangat tipis ke daerah sekitar korda spinalis, tepat di dalam rongga epidural. Setelah prosedur berlangsung, anda akan tetap sadar karena obat yang disuntikkan tidak mencapai otak dan susunan saraf pusat. Obat juga tidak memasuki aliran darah, sehingga cenderung aman bagi janin. Meski demikian, biasanya janin tetap akan terus dimonitor.

Rasa nyeri akan berkurang segera setelah epidural dilakukan. Efek kebas akan dirasakan setelah 10 hingga 20 menit. Begitu efeknya mulai berkurang, obat dapat ditambahkan setiap satu hingga dua jam sekali.

Selain teknik epidural biasa, ada juga teknik kombinasi anestesi spinal-epidural. Pada anestesi ini, obat mula-mula diberikan ke dalam cairan spinal di sekitar korda spinalis. Baru setelahnya dipasang selang untuk memasukkan obat secara epidural. Hal ini dilakukan karena injeksi spinal mulai bekerja lebih cepat dibanding epidural.

Keuntungan dan Kerugian

Meski melahirkan konon tak seru kalau tidak sakit, tapi anestesi epidural dapat memberikan sejumlah manfaat untuk memperlancar proses persalinan. “Ketimbang capek menahan sakit, Anda bisa fokus menyimpan tenaga untuk mengejan jika saatnya sudah tiba. Rasa nyaman selama persalinan, juga membantu calon ibu untuk mendapat pengalaman bersalin yang positif,” tambahnya. Ibu juga tetap waspada dan aktif berpartisipasi dalam proses persalinan.

Pada jenis epidural tertentu, Anda bisa berjalan dan ke kamar mandi selama proses persalinan. Anestesi epidural cenderung tidak mengganggu sistem saraf pusat, sehingga Anda dan bayi dapat tetap sadar setelah persalinan berakhir. Terakhir, jika pada akhirnya harus menjalani operasi caesar, anestesinya akan lebih mudah.

Meski banyak keuntungannya, epidural juga memiliki beberapa kekurangan. Di antaranya dapat menurunkan tekanan darah secara tiba-tiba. Untuk itu, dokter akan memeriksa tekanan darah secara rutin guna memastikan janin tetap mendapat aliran darah yang cukup. Epidural juga dapat mencetuskan sakit kepala hebat akibat kebocoran cairan spinal. Hal ini dapat terjadi pada 1% wanita.

Pemberian epidural dapat menyebabkan proses persalinan menjadi lebih panjang atau bahkan terhenti. Ini dapat terjadi jika Anda terus berbaring di satu sisi setelah selang dipasang. Efek kebas juga mungkin membuat proses mengejan menjadi lebih sulit, sehingga memerlukan bantuan seperti obat Pitocin, forseps, ekstraksi vakum atau operasi caesar. Efek kebas dapat berlangsung hingga beberapa jam setelah melahirkan. Walhasil, anda akan memerlukan bantuan untuk berjalan.

Efek samping lain dari epidural di antaranya adalah menggigil, telinga berdenging, nyeri punggung, nyeri pada daerah yang disuntik, mual, dan sulit buang air kecil, ada juga kemungkinan kecil terjadinya kerusakan saraf permanen pada daerah yang disuntik.

Epidural atau tidak?

Bingung mau menggunakan anestesi epidural atau tidak? Pertimbangkan masak-masak dan sesuaikan dengan kondisi anda. Mengapa anda jenis orang yang cocok untuk prosedur epidural:

  • Anda jenis orang yang tidak tahan sakit.
  • Ingin tetap dapat bergerak dan berjalan selama proses persalinan berlangsung.
  • Jika kemungkinan besar anda akan menjalani operasi caesar. Misalnya punya riwayat operasi caesar sebelumnya.
  • Nyeri yang dirasakan sangat hebat dan tidak dapat dikontrol tanpa obat.

Mengapa tidak perlu menggunakan epidural:

  • Tidak suka menggunakan obat dan infus.
  • Ragu atau takut akan risiko epidural, termasuk efeknya dalam memperlambat proses persalinan.
  • Memiliki riwayat persalinan yang cepat dan tidak cukup waktu untuk dilakukannya epidural.
  • Pernah mengalami infeksi di daerah yang akan dipasang selang epidural.
  • Memiliki gangguan pembekuan darah atau meminum obat pengencer darah.
  • Memiliki kelainan tulang belakang.
  • Sedang mengalami perdarahan atau syok, infeksi, atau trombosi-topenia.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: