Menu Timur (Warteg) vs Menu Barat (Kafe)

November 20, 2013

menu timur

Perbedaan harga menu tidak selalu menunjukkan kualitas nilai gizi. Bukan karena tinggi harga menu, maka bergizi. Tidak pula karena rendah harga seporsi nasi campur, maka kurang bergizi. Lalu apa maksud judul di atas?

Tak suka sayur

Nyonya Mir, 54 tahun, baru saja operasi kanker usus besar. Dia terlambat bertemu dokter, karena mencret-mencret, dan sering mulas selama bertahun-tahun diabaikannya. Ia mengira sakit perut biasa. Tahunya kena kanker ganas usus besar (carcinoma colon).

Mengapa kena kanker usus besar? Erat kaitannya dengan pola dan pilihan menu, selain ada faktor genetik juga. Kebiasaan kurang menyantap menu berserat dan kelebihan menu daging merah juga disebut-sebut faktor pencetusnya. Dan Nyonya Mir memang tak suka sayur. Yang bisa ditelannya paling hanya kol saja. Seturut medik itu tak cukup.

Dari kecil tidak makan sayur membuat usus kehilangan serat. Serat diperlukan untuk membangun tinja, selain mendorong usus lebih rajin bergerak, sehingga buang air lebih lancar. Tanpa sayur, tinja lengket, dan lebih lama melekat pada dinding usus. Apalagi kalau tidak tertib setiap hari buang air. Tinja berisi banyak ampas protein dari daging dan sejenisnya, yang melekat lama pada dinding usus itulah yang mencetuskan terbentuknya kanker usus besar.

Kanker usus besar tergolong ganas. Sering tanpa keluhan dan gejala nyata, maka acap terlambat ditangani. Mereka yang berisiko terkena kanker usus sebaiknya waspada. Bila ada warisan kanker dalam garis keturunan, dan sering mengeluh tidak enak perut, perlu sigap. Dengan memeriksa darah samar tinja di laboratorium, hadirnya kanker usus besar bisa dicurigai.

Statistik menunjukkan makin banyak kasus kanker usus besar, selain kanker jenis lainnya juga lantaran orang keliru memilih menu. Bahwa penyakit orang sekarang betul lantaran keliru soal gaya hidup, termasuk gaya makan dan pilihan menu harian. Sekali lagi, kesehatan itu ada di dapur, bukan di restoran.

Bukan menu seimbang

Bedanya menu Barat dengan menu Timur dalam hal tidak proporsionalnya menu yang dipilih sesuai dengan yang tubuh minta. Bahwa kodrat tubuh kita membutuhkan lebih banyak karbohidrat ketimbang lemak dan protein. Tapi dalam seporsi bistik, misalnya, lebih banyak lemak dan protein melebihi karbohidrat yang didapat hanya dari beberapa potong saja kentang, wortel, selada, dan buncis.

Bertahun-tahun terbiasa mengonsumsi menu sejenis bistik sebagaimana lazim menu orang Barat menjadikan kecukupan gizi seimbang tubuh jadi terganggu. Maka, tubuh jadi mekar tambun dan darah kental oleh lemak (triglyceride dan cholesterol). Bahkan sejak masih usia kanak-kanak.

Bukan saja menu Barat porsi lemak dan proteinnya berlebih. Bahan baku menu kebanyakan kurang segar karena dipanen dibawa dari desa ke kota, disimpan di lemari es, dan baru setelah beberapa hari diolah menjadi menu. Sedang kita bisa memetik kangkung, bayam, atau sayur semasih segar, dan segera memasaknya tanpa perlu menyimpan di lemari es berlama-lama.

Begitu juga dengan kualitas buah-buahan kita. Kita masih memungkinkan memetiknya langsung di kebun pekarangan atau yang ditanam hidroponik di kaleng bekas atau di atap rumah. Buah impor selain sudah dipanen entah kapan, diawetkan dengan pendingin dan kulitnya diolesi bahan kimiawi supaya kulit buah tidak lecet atau bonyok. Jadi buah impor yang kita konsumsi sesungguhnya sudah berkurang kualitas asli buahnya. Tidak begitu kalau kita menanam jambu, belimbing, pepaya di pekarangan rumah. Kita bisa memetiknya setiap saat dan bisa langsung mengonsumsinya semasih amat segar.

Kesegaran bahan baku menu dan buah-buahan menjadi kendala kebanyakan orang di negara maju. Itu maka, ada kecenderungan orang modern sekarang terancam kekurangan enzim. Kita tahu tubuh membutuhkan ratusan jenis enzim sebagai katalisator pengolahan makanan yang kita konsumsi supaya sepenuhnya terpakai oleh tubuh. Kekurangan enzim berarti proses pengolahan dan pemakaian zat makanan tidak berlangsung sempurna. Tak sedikit keluhan dan penyakit orang sekarang disebabkan oleh tidak lengkap dan memadainya lagi enzim dalam tubuh. Penyebabnya karena kita mengonsumsi menu yang rata-rata sudah tidak lagi segar.

Menu Mediterania

Sudah lama diakui kalau menu Timur, termasuk menu ala nenek moyang kita, yakni sepiring nasi, sepotong ikan, tahu, tempe, atau daging, dan semangkuk sayur lodeh atau sayur asam, itulah menu yang lebih bersesuaian dengan kodrat tubuh kita. Itulah jenis menu seimbang karena sesuai dengan yang tubuh minta, yakni duapertiga porsi karbohidrat, seperempat porsi protein, dan sisanya porsi lemak.

Demikian pula halnya dengan menu yang dikenal sebagai “Menu Mediteraniaā€¯, serupa dengan menu harian nenek moyang kita, seperti yang diungkap Dr. Sonia Anand (Mc Master University, Hamilton, ON) baru-baru ini. Berasnya memilih beras tumbuk dan bukan beras giling.

Rotinya memilih roti gandum dan bukan roti putih. Gulanya memilih gula merah alami tanpa ditambahkan bahan kimiawi seperti proses mengubah air tebu menjadi gula pasir. Minyaknya memilih minyak zaitun dan bukan goreng atau minyak trans yang sudah dilarang di beberapa negara karena efek buruknya terhadap tubuh. Kasus penyakit jantung ditekan oleh pilihan menu Mediterania semacam ini.

Ternyata menu ketimur-timuran semacam itu yang sekarang sedang dilirik orang yang telanjur memilih menu salah di dunia Barat. Diakui kalau menu Timur seperti yang lazim disajikan di warung tegai (warteg) jauh lebih menyehatkan dibanding menu kafe yang serba berlemak dan berprotein tinggi.

Korelasi menu dengan kesehatan sudah lama diinsafi menentukan kualitas status kesehatan. Namun, generasi anak-anak kita sudah asing dengan menu nenek moyangnya saking sejak kecil sudah berkenalan dan dibuat rindu pada menu orang Barat. Rata-rata lidah anak-anak kita di perkotaan dan sebagian pedesaan sudah terbiasa oleh menu ayam goreng, pizza, burger, es krim, pasta, dan sejenis itu. Tak suka sayur lodeh, apalagi sayur asam karena itu menu asing di meja makan ibu.

Komposisi gigi-geligi

Ya, kalau disebut tidak memilih menu Barat, itu bukan berarti sama sekali anti menu Barat yang serba berdaging. Sesuai dengan kodrat tubuh manusia, melihat komposisi gigi-geligi kita, kita punya empat taring, enam gigi seri, dan lebih banyak geraham. Itu menunjukkan kalau tubuh kita membutuhkan daging hanya seperempat porsi, sedang kabohidrat lebih banyak.

Tubuh juga membutuhkan protein daging, ikan, telur, dan susu. Tapi porsinya disesuaikan dengan kebutuhan tubuh. Tubuh juga membutuhkan lemak. Tapi porsi lemak dari minyak goreng, susu, dan gajih hewan ternak perlu dibatasi, agar menu harian tetap seimbang.

Karena gigi seri untuk mengerat buah lebih banyak dari gigi taring, maka porsi buah-buahan juga perlu lebih besar dari porsi daging-dagingan. Bahkan lebih menyehatkan kalau protein hewani tersebut diperoleh dari ikan setelah usia semakin tua. Minyak dari ikan lebih menyehatkan ketimbang minyak daging merah. Daging putih dari ikan, kelinci, dan unggas lebih menyehatkan ketimbang daging merah dari sapi, kerbau, babi, atau kambing.

Jadi, sesungguhnyalah menu harian yang diwariskan nenek moyang kita sudah benar. Akulturasi pilihan makan Barat yang kita adopsi itulah sumber petaka kenapa orang muda kita sekarang lebih dini terserang jantung koroner, stroke, atau kanker dibanding nenek moyangnya dahulu. Tak bisa disangkal, soal keliru memilih menu penyebabnya, dan lupa kalau warteg di depan mata itulah yang sesungguhnya lebih benar di mata medik.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: