Menu Bergizi Tak Perlu Mahal

November 10, 2013

menu bergizi

Tidak sedikit orang yang mengeluh sekarang ini apakah bisa terus mencukupi kecukupan gizi harian keluarga ketika harga-harga kebutuhan sehari-hari semakin melangit harganya. Para ibu rumah tangga cemas, apakah anggota keluarga, khususnya anak-anak akan bisa terpenuhi kelengkapan gizinya setiap hari. Betulkah akan menjadi seperti itu keadaannya?

Tidak. Menu bergizi tidak identik dengan harga tinggi. Belum tentu menu yang mahal, bernilai gizi tinggi. Boleh jadi malah sebaliknya. Kultur yang membuat kebanyakan orang kita merasa malu mengonsumsi menu lokal, padahal bergizi. Kebiasaan keliru juga apabila melihat makanan atau minuman impor selalu dianggap lebih berkualitas dibanding buatan lokal. Ini yang perlu segera dihapus dari benak setiap konsumen kita.

Menu lokal = racikan jamu

Sadarkah kita bahwa sayur masakan olahan nenek moyang kita sebetulnya jauh lebih menyehatkan daripada yang kita terima dari menu barat? Kita menikmati begitu beragam dan beranekanya jenis masakan peninggalan nenek moyang kita. Bukan saja yang berasal dari Padang. Kita juga menikmati masakan Manado, selain Aceh, Solo, Yogya, Makassar, dan saya kira setiap daerah memiliki kekhasan olahannnya sendiri. Bahkan setiap suku menyimpan ragam masakannya sendiri. Kini terungkap ketika penjelajahan kuliner kian menyingkap betapa kekayaan masakan bangsa kita.

Kalau diamati, masakan kita sedemikian beragam bumbu yang dipakainya. Bahkan tak cukup satu-dua bumbu dan rempah masakan belaka. Perhatikan saja masakan lodeh dan sayur asam misalnya. Lebih lima jenis rempah dan bumbu yang dimasukkan ke dalamnya. Belum lagi kalau melihat bagaimana bumbu rendang diracik. Lebih sepuluh jenis rempah-rempah, yang sekarang terungkap, kalau kebanyakan rempah yang kita konsumsi dalam masakan lokal tergolong yang menyehatkan. Termasuk yang terkandung dalam masakan rendang, dan yang sejenisnya.

Apa artinya itu? Artinya, setiap kali kita mengonsumsi jenis masakan lokal milik nenek moyang kita, sesungguhnya tanpa kita insafi, kita sedang mengonsumsi jamu-jamuan. Karena bukanlah jamu tradisional kita pun terbuat dari sebagian besar bahan alami yang dipakai dalam masakan yang berasal dari pelbagai suku bangsa kita.

Daun salam diteliti potensi antidiabetesnya, jahe sudah dimanfaatkan untuk kesehatan persendian, kunir untuk kesehatan pencernaan, temulawak untuk kesehatan liver, bawang putih, kapulaga, cengkeh, biji pala, merica, temukunci, laos, sereh, ketumbar, dan jinten banyak kandungan vitamin dan mineral selain zat berkhasiat yang belum seluruhnya terungkap. Kalau pun bukan untuk pengungkit kesehatan, ragam rempah-rempah tersebut juga mengandung sejumlah zat yang dibutuhkan tubuh setiap hari.

Belum lagi sayur mayur yang demikian beraneka ragam di bumi kita melebihi yang dimiliki bumi orang Barat. Lalapan, seperti daun mangkokan, pohpohan, kecipir, randa midang, daun lobak, tespong, yang kini sudah merambah memasuki supermarket. Ini bukti bahwa lalapan mentah yang dulu hanya dijual di pasar tradisional kini dicari orang kota juga.

Amati pula, kacang tanah, kacang bogor, kecipir, terong-terongan, daun melinjo, sampai jengkol sudah tersedia di supermarket mewah. Termasuk kelewih, talas, ketela, dan aneka ubi bisa diperoleh di supermarket juga. Masyarakat sekarang tahu kalau tekokak (sejenis terung- terungan) sedang diteliti di China sebagai antikanker, padahal orang Indonesia, di Sunda khususnya, sudah lama mengonsumsinya. Begitu juga dengan leunca, kini jadi menu rutin restoran sunda, selain banyak memakai daun kemangi.

Itu berarti begitu beragam jenis rempah serta bahan alami untuk membuat masakan kita. Dan jika diamati, yang telah bumi kita sediakan sesungguhnya sudah bisa mencukupi kebutuhan tubuh akan semua zat gizi. Tentu dengan catatan, jika yang kita sajikan di meja makan senantiasa beragam jenis menunya, beraneka pula bahan bakunya.

Semua bahan baku masakan asli bumi kita bukanlah barang mewah. Daun katuk, bayam, kangkung, dan segala jenis sawi, mudah didapat selain sayur mayur yang harganya terjangkau. Apalagi kalau mau repot menanamnya sendiri secara gampang (hydroponik), di atas atap, atau di kaleng bekas, anggaran dapur jadi lebih irit.

Soal buah juga begitu. Kini mudah diperoleh bibit belimbing, jambu, dan pepaya, yang terus berbuah tanpa mengenal musim. Anggaran sehari-hari untuk membeli buah bisa diirit jika menanam sendiri buah-buahan yang selalu berbuah dan bisa dikonsumsi untuk kebutuhan keluarga setiap harinya. Tak sulit menanam jenis buah- buahan tersebut.

“Import minded”

Kesalahan kebanyakan masyarakat kita, lantaran lebih suka memilih menu dan bahan baku masakan yang serba impor, seolah-olah yang serba impor itu lebih berkualitas dalam hal gizi. Padahal, harganya rata-rata lebih mahal dari yang lokal.

Kalau dicermati, bahan-bahan baku masakan impor rata-rata sudah tidak sesegar bahan baku lokal. Kalau diingat berapa lama bahan baku tersebut dipanen, disimpan, dan didistribusikan dari tanah asalnya, lalu diekspor, dan baru setelah beberapa lama tiba di dapur kita. Bukanlah lebih memakan waktu dibanding bahan baku lokal.

Daging lokal dan buah lokal lebih segar dibanding yang impor. Begitu pula yang sudah jadi dan makanan kalengan. Belum lagi kalau diolahnya secara berlebihan, diimbuhi bumbu, penyedap, pengawet, pemanis buatan, dan perenyah serta bahan kimiawi lainnya yang tidak menyehatkan. Sedang kita sendiri bisa menumis bayam dan kangkung, dua jenis sayur bergizi, cukup dengan sesendok minyak kelapa (bukan minyak goreng yang tergolong lemak jenuh tak menyehatkan), setengah matang, dan sayurnya masih segar karena baru dipetik tanpa diimbuhi bumbu tak menyehatkan. Buahnya diperoleh dari halaman rumah, betul masih ranum di pohon, yang kandungan vitaminnya masih utuh dan lengkap.

Memilih bahan baku masakan dan menu impor bukan saja menguras anggaran dapur yang lebih tinggi, melainkan kandungan gizi rata-rata yang diimpor sudah berkurang, selain belum tentu menyehatkan. Menu sejenis steak, misalnya, tidak lebih menyehatkan dibanding menu sayur lodeh, dengan sepotong ikan kembung goreng. Mengapa?

Oleh karena menu steak dan sejenisnya bukanlah tergolong menu seimbang (balance diet) sebagaimana yang diminta ilmu gizi. Bahwa porsi karbohidrat yang diminta menu seimbang itu sekitar 60 persen dari seluruh kebutuhan kalori tubuh, yakni sepiring nasi atau kentang atau ubi atau sagu atau jagung sebagai makanan pokok kita. Selebihnya diperoleh dari lauk pauk berupa protein 25 persen, dan lemak 15 persen.

Jadi pola menu harian bangsa kita sesungguhnyalah yang tergolong seimbang. Sepiring nasi, semangkuk sayur (lodeh, kari, sayur asam, sop, dan gulai) dengan sepotong ikan, daging, tempe, tahu, dan beberapa porsi buah dan sayur mayur. Sedang menu steak, justru kebalikannya, porsi lemak dan proteinnya yang lebih besar (lebih dari 60 persen), sedang karbohidratnya, yakni kentang dan wortelnya hanya kecil saja. Padahal, harganya lebih tinggi dibanding rata-rata menu harian milik kita.

Membentuk selera makan yang salah

Lidah anak-anak generasi sekarang sudah terbentuk secara tidak tepat, lidah yang dibiasakan menikmati menu impor, berupa burger, hotdog, steak, ayam goreng, dan sukar menerima sayur lodeh, sayur asam, apalagi lalapan lokal.

Itu berarti selain keliru secara gizi, pilihan menu bukan milik nenek moyang sendiri, tubuh berisiko kekurangan sejumlah zat gizi yang hilang dari menu bukan milik bangsa sendiri. Apalagi kalau yang telanjur menjadi keranjingan lidah anak-anak generasi sekarang sudah tergolong ”menu ampas” (junk food), berarti anak terancam kekurangan gizi. Kelihatannya saja berperawakan tinggi besar, nyatanya tubuhnya kekurangan sekian zat gizi, seperti terungkap sudah terjadi pada tubuh orang AS dan mereka yang memilih menu barat setiap hari.

Bahwa sesekali menikmati menu Barat tidak ada salahnya. Seperti sesekali kita juga mengonsumsi satai kambing, gulai jeroan, dan steak. Tapi bukan menjadi menu harian yang menambah tumpukan kelebihan kalori dalam tubuh, selain mengancam timbulnya penyakit orang modern, antara lain jantung koroner, stroke, dan kencing manis.

Maka, jangan malu memilih menu lokal, berbahan baku lokal, dan diolah secara lokal. Karena justeru jenis menu dan berbahan baku itulah yang menyehatkan. Termasuk menukar nasi dengan ubi yang sangat menyehatkan. Sudah lebih menyehatkan, mengirit anggaran dapur pula.

Saatnya kini menghapuskan anggapan salah bahwa yang bergizi tinggi itu harus berharga tinggi. Justru kita bisa mendapatkan yang lebih bergizi dengan harga lebih murah dari bumi sendiri dan berselera pada menu peninggalan nenek moyang kita, yang sayang sudah tercerabut dari pola makan rata-rata anak-anak generasi kiwari.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: