Menjaga Kesehatan Telinga

February 7, 2014

kesehatan telinga

Meski tak seindah mata, telinga tidak kalah penting dengan indera lainnya. Telinga membantu kita untuk bercakap-cakap, menikmati musik, hingga menjauhkan dari bahaya. Namun demi mengikuti tren gaya hidup terkini, kesehatan telinga kerap dipinggirkan. Berharganya kesehatan telinga barulah disadari penting setelah muncul keluhan, mulai dari infeksi hingga gangguan pendengaran. Yuk, kita rawat telinga dengan baik sebelum terlambat.

Merawat Telinga Pasca Tindik

Bagi beberapa wanita, anting yang menggantung di telinga tidak hanya mempercantik penampilan, tapi juga merupakan lambang kefemininan dan sebagai bagian dari gaya hidup. Bahkan, ada yang berani memamerkan sederet tindikan di daun telinganya. Trend ini, belakangan juga diikuti oleh sekelompok kaum adam. Bukan karena ingin terlihat cantik, melainkan agar terlihat lebih keren. Namun, tahukah anda jika tindik telinga ini tidak boleh sembarangan? Tindikan baru dan lama juga perlu perawatan. Salah-salah, bukan keren yang terlihat, tapi infeksi yang didapat.

Menurut Dr. Asrul Muhadi SpB, supaya tidak terjadi infeksi, penindikan telinga harus dilakukan dengan benar. Karena itu, sangat tidak dianjurkan untuk menindik telinga sendiri atau dengan bantuan teman yang tidak mengerti cara menindik yang benar. Bahkan, di tempat profesional sekali pun, anak-anak tidak boleh ditindik tanpa persetujuan orang tuanya.

Sebelum melakukan penindikan, dokter atau petugas profesional akan mencuci tangan dengan antiseptik atau mengenakan sarung tangan. Alat dan anting yang disiapkan juga harus steril. “Idealnya, anting pertama yang digunakan setelah ditindik tidak terbuat dari logam dan disterilkan terlebih dahulu,” jelasnya. Setelah empat hingga enam minggu, barulah kita dapat bergaya dengan anting yang diidam-idamkan. Jika penindikan dilakukan di bagian telinga selain cuping, tunda penggantian anting hingga 8-12 minggu.

Penindikan telinga sudah dikenal sejak berabad-abad silam. Namun, jaman dahulu infeksi pasca penindikan bukan barang langka. Tentu anda tidak mau telinga sampai terinfeksi seperti orang purba. Bagaimana cara merawatnya? Pertama, setelah ditindik hindari menyentuh telinga terlalu sering. Sebaiknya, telinga dipegang hanya saat ingin membersihkannya dan sebelumnya harus mencuci tangan dengan sabun. Untuk wanita yang memakai kerudung, harus lebih waspada karena dapat tersangkut pada anting. Sebaiknya kenakan kerudung yang agak longgar dan ganti setiap hari. Tidak hanya kerudung yang perlu diganti setiap hari, sarung bantal untuk tidur juga harus rutin diganti.”Telinga yang baru ditindik sebaiknya jangan terkena air. Jadi, tunda dulu keinginan untuk berenang dan jangan lupa tutupi dengan plastik saat sedang keramas,” tambahnya.

Apakah telinga yang baru ditindik perlu dibersihkan? Tentu saja, membersihkan tindikan tiga kali sehari sangat penting agar tidak terjadi infeksi. Mula-mula, kedua tangan harus dicuci bersih dengan sabun antiseptik. Kemudian telinga dapat dibersihkan menggunakan cotton bud yang sudah dicelup dalam cairan antiseptik. Penggunaan cairan seperti alkohol, hidrogen peroksida, dan salep antibiotik tidak dianjurkan karena malah dapat memperlambat penyembuhan luka tindikan. Bersihkan bagian depan dan belakang tindikan, kemudian putar anting secara perlahan dua atau tiga kali untuk memastikan cairan antiseptik juga masuk ke dalam luka dan agar lubang yang terbentuk tidak terlalu kecil. Ganti cotton bud untuk membersihkan tindikan di telinga yang lain.

Jika telinga menjadi kemerahan dan membengkak, atau timbul nanah dan nyeri hebat, mungkin tindikan mengalami infeksi. Untuk itu, Anda perlu segera ke dokter. Anda juga harus ke dokter jika anting tidak bisa digerakkan, telinga bengkak, dan sangat gatal, karena mungkin saja hal ini disebabkan oleh alergi terhadap bahan anting.

Bersih-Bersih Telinga

Kotoran telinga adalah minyak yang dihasilkan liang telinga luar untuk melindungi telinga dari masuknya kotoran dan serangga. Bentuk dan warnanya bisa dibilang menjijikkan, tapi ternyata kotoran ini tidak selalu perlu dibersihkan. Kebanyakan orang tidak perlu mengorek-ngorek telinga. Selain karena kelenjar minyak biasanya hanya terdapat di sepertiga bagian luar liang telinga, ternyata kotoran ini dapat keluar dengan sendirinya. Ya benar, canggihnya tubuh kita memungkinkan kotoran telinga keluar saat kita berbicara, mengunyah, dan menelan. Mengorek-ngorek telinga malah berisiko menyebabkan luka pada telinga luar dan merobek gendang telinga. Bahkan, kotoran telinga tidak jarang malah terdorong semakin dalam dan berkumpul menjadi keras dan menyebabkan menurunnya pendengaran. Nah lho, kalau sudah begini barulah Anda perlu ke dokter untuk membersihkan telinga.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merawat kebersihan telinga. Pada intinya, kita tidak dianjurkan untuk memasukkan benda apapun ke dalam telinga jika tidak diperlukan. Entah itu cotton bud, ear candle, alau alat pengorek telinga. Telinga juga tidak boleh dibersihkan jika cairan yang keluar dari telinga tidak terlihat seperti kotoran telinga, misalnya cairan kuning berbau, cairan jernih, atau darah. Jika hal ini terjadi atau anda mencurigai ada sumbatan di telinga, sebaiknya segera ke dokter untuk mencari tahu penyebab dan mengatasinya.

Ada beberapa orang yang mengalami pengerasan dan penumpukan kotoran telinga. Hal ini selain disebabkan karena kotoran terdorong oleh cotton bud, juga dapat terjadi akibat terlalu sering menggunakan sumbat telinga atau earphone untuk mendengarkan musik. Untuk mengatasinya, dokter akan meneteskan obat khusus untuk membuat kotoran telinga menjadi lunak. Setelah satu hingga tiga hari, kotoran telinga baru dikeluarkan dengan menyemprotkan cairan hangat atau cairan peroksida. Prosedur ini mungkin perlu dilakukan beberapa kali hingga bersih.

Jaga Pendengaran Agar Tetap Tajam

Selama ini, yang dikenal dengan tuli adalah orang yang tidak dapat mendengar. Padahal sebenarnya penurunan pendengaran juga bagian dari ketulian. Penderita penurunan pedengaran ini jumlahnya jauh lebih banyak dari orang yang tuli total, dan sering tidak terdeteksi atau tersembunyi. Penyebabnya banyak, dimulai dari kebiasaan sepele seperti mendengarkan musik melalui earphone hingga ketulian akibat penuaan.

Salah satu jenis ketulian yang paling sering adalah ketulian yang disebabkan suara keras (Noise induced hearing loss). Konon, jika Anda terpaksa harus berteriak karena saking bisingnya, ini berarti suara di sekitar Anda terlalu keras dan dapat menyebabkan ketulian. Misalnya suara lalu lintas di jalanan, suara musik, bising di pabrik, dan alat seperti bor, palu godam, pesawat, dan sebagainya. Namun jangan kuatir, karena kita bisa melindungi telinga dengan menggunakan earplug atau ear muff.

Selain menggunakan pelindung, kita juga perlu aktif untuk mengurangi risiko ketulian. Pertama tentu saja dengan mengurangi volume suara televisi, radio, atau pemutar musik sebisa mungkin. Hindari juga merokok, termasuk merokok secara pasif karena dapat mempercepat terjadinya penurunan pendengaran. Jika anda termasuk orang yang kotoran telinganya sulit dibersihkan, bersihkan di dokter ahli THT. Penurunan pendengaran juga dapat disebabkan oleh obat- obatan tertentu, seperti antibiotik, obat anti kanker, dan aspirin dosis tinggi. Oleh sebab itu, jangan sembarangan meminum obat, terutama obat resep. Tanyakan pada dokter apakah obat yang diresepkan dapat mengganggu pendengaran, dan perhatikan jika ada perubahan yang terjadi pada pendengaran selama meminum obat.

Bagaimana kita bisa tahu bahwa pendengaran sudah berkurang? “Ketajaman pendengaran dapat diperiksa melalui beberapa tes di rumah sakit. Jika sudah timbul gejala seperti sulit mendengar dalam percakapan sehari-hari, sering terdengar suara berdenging di telinga, atau timbul keluhan dari orang sekitar, mungkin sudah saatnya anda memeriksakan diri. Pemeriksaan pendengaran juga dianjurkan jika memiliki kerabat yang terganggu pendengarannya dan terpapar dengan suara bising sehari-hari,” tutup Dr. Asrul.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: