Mengi Pada Anak Belum Tentu Asma

September 14, 2014

mengi

“Malam itu saya sangat panik. Baru saja pulang kerja, anak saya batuk-batuk dan napasnya berbunyi ngikngik. Karena saya punya riwayat asma, saya segera bawa Dinda ke rumah sakit. Namun menurut dokter, Dinda bukan mengalami asma melainkan infeksi saluran napas. Saya jadi ragu, apakah benar anak saya tidak menderita asma?”. Demikian curahan hati Bu Rini. Memang, selama ini mengi identik dengan asma. Maka tidak heran saat napas si kecil berbunyi Bunda jadi ketar-ketir.

Sulitnya Diagnosis Asma Pada Anak

Mengi atau dalam bahasa kedokteran disebut wheezing, adalah suara napas abnormal yang terdengar seperti siulan.

Mengi memang merupakan salah satu tanda khas asma. Pada asma terjadi pembengkakan dan produksi lendir berlebihan di dalam saluran napas. Akibatnya, udara yang dihirup dan keluar tidak dapat lewat dengan leluasa dan menimbulkan bunyi yang khas.

Meski mengi khas terjadi pada asma, mengi pada anak-anak tidak selalu disebabkan oleh asma. Tidak seperti orang dewasa, bayi dan balita memiliki saluran napas yang mungil sehingga mengi dapat timbul dengan lebih mudah. Bahkan, infeksi virus sederhana sekalipun dapat menyebabkan napas si kecil berbunyi.

Penyebab timbulnya mengi pada bayi dan anak yang masih kecil biasanya bersifat sementara dan dapat disembuhkan dengan pengobatan yang tepat. Hal ini tentu berbeda dengan asma. Asma merupakan penyakit kronik yang dapat kambuh sewaktu-waktu. Diagnosis asma pada balita sulit untuk ditegakkan. Pasalnya, bayi dan balita memiliki saluran napas yang berbeda dari anak yang lebih besar ataupun orang dewasa.

Ini Penyebab Mengi Pada Anak Selain Asma

Napas si kecil berbunyi ngikngik disertai batuk? Kemungkinan besar ia justru bukan menderita asma, melainkan bronkiolitis. Bronkiolitis biasanya disebabkan oleh infeksi virus, yaitu respiratory syncitial virus (RSV). Selain mengi dan batuk, bronkiolitis juga ditandai dengan timbulnya demam. Anak yang menderita bronkiolitis juga lebih rentan mengalami asma di kemudian hari. Infeksi lain penyebab mengi adalah batuk rejan atau pertusis serta infeksi paru atau pneumonia.

Si kecil sedang belajar merangkak? Bisa jadi tangannya juga gatal mengambil benda-benda kecil di hadapannya dan memasukkannya ke mulut. Jika benda cukup besar, mungkin ia dapat tersedak. Namun jika ukurannya kecil, benda tersebut dapat masuk ke dalam paru-paru dan menyebabkan timbulnya mengi. Benda asing lain yang sering “nyasar” ke paru dan menimbulkan mengi adalah makanan yang tidak sengaja terhirup ke paru-paru saat si kecil batuk, muntah, atau akibat refluks asam lambung (membaliknya asam lambung ke tenggorokan).

Hal lain yang cukup sering menimbulkan mengi adalah asma, alergi, dan asap rokok. Mengi pada alergi dan asma biasanya timbul tiba-tiba setelah makan atau menghirup bahan alergen. Reaksi ini juga disertai dengan tanda-tanda alergi lainnya, seperti bersin-bersin, mata berair, gatal-gatal, dan memburuk pada malam hari. Anak yang mengalami asma dan alergi biasanya juga memiliki keluarga atau orang tua yang memiliki riwayat alergi. Meski sesak dapat hilang dengan cepat, si kecil dapat kembali sesak jika terpapar alergen yang sama. “Asap rokok cukup sering menimbulkan mengi pada anak. Karena itu, orang tua sangat dianjurkan untuk tidak merokok di dekat anak,” ujarnya.

Paru-paru bayi prematur seringkali belum berkembang dengan sempurna. Pada bayi ini seringkali terdengar suara mengi. Selain hal-hal di atas, mengi juga dapat disebabkan oleh kelainan bentuk saluran napas, kelainan pita suara, serta fibrosis kistik, yaitu penyakit genetik yang menyebabkan kelainan pembentukan lendir di dalam paru.

Mengi Lebih dari Sekali

Siapa yang tidak kasihan jika melihat anak tersayang batuk sampai kurus dan tidak bisa tidur? Apalagi jika disertai sesak dan mengi, Anda tentu kuatir dan takut. Batuk dan mengi yang datang berkali-kali dapat mengganggu pertumbuhan anak. Karena itu, jika mengi datang berkali-kali atau tidak kunjung sembuh, ada baiknya membawa si kecil ke dokter untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Pada asma, mengi tidak hanya terjadi sekali, melainkan berkali-kali. Bahkan, pada kasus yang ekstrim mengi dan sesak dapat terjadi setiap hari. Meski demikian, mengi berulang belum tentu merupakan tanda adanya asma, terutama pada anak yang masih sangat kecil. Diagnosis asma baru dapat ditegakan pada saat anak sudah beranjak besar melalui berbagai pemeriksaan. Dengan demikian, dokter juga dapat membuat rencana terapi jangka panjang untuk si kecil.

Tidak semua anak yang pernah mengalami mengi akan menderita asma, dan sebaliknya, tidak semua anak yang menderita asma mengalami mengi. Asma merupakan penyakit kronik yang dapat merubah kehidupan anak dan keluarganya, karena itu dokter tidak dapat cepat-cepat mendiagnosis mengi sebagai asma. Meski demikian, asma yang tidak terkontrol dapat menyebabkan kerusakan paru perlahan-lahan. Oleh sebab itu, meski belum didiagnosis sebagai asma, dokter mungkin akan tetap memberikan obat-obatan anti radang untuk mencegah terjadinya kerusakan ini.

Kenali Tanda Batuk yang Berbahaya

Meski jarang, batuk dan sesak dapat berbahaya dan menyebabkan henti napas pada anak. Jika batuk dan mengi tidak kunjung reda, atau jika anak rewel dan menangis terus, segera bawa ke dokter atau ke rumah sakit. Anak juga perlu segera dibawa ke dokter jika terdapat gejala-gejala berikut:

  • Sulit bernapas, ditandai dengan cuping hidung kembang kempis atau leher dan dada terlihat cekung saat bernapas, napas menjadi cepat dan tidak teratur.
  • Napas terdengar berisik, bahkan saat si kecil tidak sedang menangis.
  • Kulit tampak kebiruan atau tampak pucat.
  • Bila si kecil terlihat capek atau lemas.
  • Tersedak, biasanya anak tiba-tiba batuk dan rewel. Hal ini harus diatasi dengan segera.
  • Hidung tersumbat, baik karena sedang pilek atau karena ada benda asing yang tersangkut.
  • Tidak mau makan maupun minum.
  • Demam lebih dari 37°C.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: