Menghasilkan ASI Berkualitas

April 30, 2014

asi berkualitas

Kita mengenal istiah “lactogenesis”, alias kisah kejadian terbentuknya ASI. Tahap pertama, yaitu 12 minggu sebelum persalinan – kelenjar susu sudah terbentuk sempurna untuk siap menghasilkan susu. Tahap kedua, disebut inisiasi (awal tercetusnya) sekresi/pengeluaran susu yang sifatnya melimpah ruah (copions) – dan ini baru terjadi setelah 72 jam pasca persalinan. Tahap ketiga, baru sifatnya pemeliharaan (maintenance) produksi susu.

Dari penjelasan di atas, teranglah sudah bahwa memang sebelum bayi berusia 3 hari, ASI belum mengalir deras. Stimulasi semakin gencarnya bayi mengenyot pada payudara memberi sinyal pada kelenjar otak ibu untuk menghasilkan hormon prolaktin, yang dibutuhkan untuk membentuk ASI. Selanjutnya, kosongnya saluran susu merupakan stimulasi pula pada kelenjar otak ibu untuk menghasilkan hormon oksitosin yang bertanggung jawab mengalirkan susu dari sel kelenjar susu ke saluran susu untuk dialirkan ke puting.

Prinsip menyusui anak dengan sukses bukan hanya terletak pada asupan gizi ibu, tapi juga proses emosional ibu. Semakin anda panik, tidak percaya diri, semakin sedikit ASI yang keluar. Memberi ASI bukan sekadar memberi ‘makan anak’. Tapi memberi keseluruhan diri kita sebagai seorang ibu. Nurturing the Nature. Memberi ASI bukan sekadar men-‘cekok’ nutrisi makanan fisik untuk bayi. Ketika bayi didekap mendengar detak jantung ibu, menatap ibunya, mendapat senyum, meraih payudara ibunya, semua memberi rasa aman dan kepuasan. Tidak seperti rasa aman dan puas yang bisa dibayangkan orang dewasa. Bayi mempunyai dunianya tersendiri, kebutuhan tumbuh kembangnya termasuk integrasi refleks primitifnya. Mendapat ASI langsung dari puting ibu dan diberi rasa aman sejati tentu berbeda dari ASI ’botolan’ yang dicekoki pengasuh.

Proses sucking (mengenyot) dan rooting (berakar) merupakan refleks primitif yang semestinya sudah harus terintegrasi di usia 2-3 bulan. Refleks Babkin-palmomental bisa dites ketika jari diketuk diujung bibir bayi: bila bayi memberi reaksi seperti mencari dengan gerak bibirnya berarti refleksnya belum terintegrasi.

Anak-anak dengan hambatan integrasi refleks primitif biasanya punya masalah di usia selanjutnya, dari kesulitan mengunyah makanan padat (di-’emut’) hingga makan semua tanpa kontrol menjadikan anak cenderung menderita obesitas. Ciri khas anak dengan refleks Babkin-palmomental yang masih belum terintegrasi ditandai dengan kehidupan sosialisasi yang sulit, lebih menarik diri, kesulitan memadukan kerja otak kiri dan otak kanannya, serta punya kecenderungan menjadi pencemas dengan reaksi fisik tangan tergenggam kuat tanpa disadari.

Seperti yang selalu ditekankan oleh Prof.Dr.Utami Roesli, SpA(K) – memberi ASI eksklusif jangan sekali-kali di-‘barengi’ susu lain. Susuilah anak dalam keadaan santai dan tenang, bukan sambil sibuk dengan telepon genggam, bekerja di komputer atau memberi instruksi pembantu. Sungguh-sungguh luangkan waktu untuk si kecil, bicaralah dengannya, beri sapaan – mulai berkomunikasi dengan anak sendiri.

Bagaimana dengan peran suami? apakah ia berpikir menyusui hanya sekadar ‘pekerjaan ibu’? Salah besar. Sekali pun suami tidak memberikan tubuhnya langsung dalam proses menyusui, tapi pendampingannya selama ibu menyusui sangat menentukan. Apakah setiap 2 jam sekali bayi terbangun di malam hari suami juga ikut bangun menyiapkan segala sesuatunya? Ia bisa mengangkat bayi dari pembaringan, mengambil kapas pembersih puting, mengambil minum untuk istrinya, dan semua ini adalah proses indah yang tak akan terulang. Di Asia, masih ada pemahaman bahwa mengurus anak sepenuhnya di tangan ibu, dan ayah adalah pencari uang – yang tidurnya tidak boleh diganggu. Setiap anak berharga, setiap anak berhak mendapatkan kedua orang tuanya secara utuh dalam masa tumbuh kembang, yang tentunya dimulai sejak proses menyusu. Gizi yang terbaik hingga anak usia 6 bulan tetaplah ASI murni, eksklusif. Bukan tambahan yang lain. Tidak ada tambahan ‘pendongkrak’ ASI.

Lactose intolemnce/ intoleransi laktosa (ketidak mampuan menoleransi laktosa) terhadap laktosa ASI bisa dibilang sangat jarang. Enzim rennin dan lactase yang dihasilkan usus bayi biasanya mampu mengenali laktosa susu manusia untuk dapat dicerna karena sifatnya berbeda dengan susu hewan. Mencret pada bayi ASI eksklusif tidak berarti selalu gejala intoleransi laktosa, apalagi kalau mencretnya tidak terjadi saat pertama kali bayi lahir dan mulai menyusu.

Mencret/diare bayi dengan ASI eksklusif bisa akibat hal-hal lain seperti: biasanya bayi masih diberi empeng di luar waktu minum susu. Dan empeng ini tidak selalu dalam keadaan bersih. Selain jarang dicuci, bisa jatuh atau kena debu Selain itu, ada bayi yang kata ibunya diberi ASI eksklusif tapi diam-diam diberi air putih – padahal di bawah usia 6 bulan tentunya belum perlu. Air minum ini pun bisa jadi tidak steril, termasuk sendok/dot nya.

Tidak ada sekolah menjadi orang tua. Kita semua berangkat dari nol besar ketika ‘diwisuda’ menjadi seorang ibu baru atau ayah baru. Seringkali satu-satunya yang menjadi acuan ketika mulai ‘praktek’ adalah pengalaman yang kita dapatkan dari orang tua kita sendiri. Itulah sebabnya mengapa jaman dahulu ibu atau pun ibu mertua tinggal bersama anak/menantunya yang baru melahirkan. Kita perlu ‘magang’ dari mereka. Yang repot dan menjadi masalah adalah bila hubungan kita dengan mereka tidak lagi baik, atau mereka sendiri membesarkan anak-anaknya dengan tangan pembantu

Selamat menjadi Ibu!

 

 

loading...

Previous post:

Next post: