Mengetahui Transfusi Darah yang Aman

June 27, 2014

transfusi darah

Kesalahan atau ketidakcocokan transfusi darah dapat sangat berbahaya dan menyebabkan kematian pada penerimanya. Sebab itu pahami lebih lanjut!

Seandainya pada tahun 1818 James Blundell tidak mencoba memasukkan darah manusia ke seorang wanita yang mengalami pendarahan setelah melahirkan, mungkin ada ribuan bahkan jutaan nyawa di dunia ini yang sudah melayang. Satu percobaan berani yang dilakukan Blundell telah melahirkan apa yang disebut dengan transfusi darah, yang menyelamatkan banyak nyawa sejak saat itu. Mungkin nyawa Anda salah satu di antaranya.

Darah, Si Cairan Kehidupan

Transfusi darah umumnya dikenal sebagai prosedur penggantian darah pada orang yang mengalami pendarahan. Mulai dari pendarahan saat melahirkan, hingga pendarahan akibat kecelakaan. Namun ternyata transfusi darah juga dapat diberikan pada penyakit lain. Bahkan, kini transfusi darah ada bermacam-macam dan dapat diberikan sesuai dengan kebutuhan.

Selain untuk menggantikan darah yang keluar akibat luka, transfusi darah juga dapat diberikan pada penderita gangguan hati berat sehingga tubuh tidak dapat memproduksi darah atau komponen darah. Transfusi juga bermanfaat bagi para penderita penyakit kronik yang menyebabkan anemia, misalnya penyakit ginjal atau kanker. Selain itu, transfusi darah juga dapat menjadi penyelamat bagi mereka yang memiliki kelainan darah seperti hemofilia, thalasemia, hingga trombositopenia.

Transfusi darah diberikan melalui infus langsung ke dalam pembuluh darah. Jumlah darah yang diberikan dapat bervariasi bergantung pada jumlah darah yang dibutuhkan. Satu kantong darah, biasanya diberikan dalam waktu dua hingga tiga jam. Dahulu, transfusi darah bukan jaminan seseorang akan sembuh. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, ilmu mengenai darah semakin banyak, sehingga kini transfusi umumnya dapat diberikan dengan aman tanpa komplikasi, termasuk untuk bayi baru lahir sekalipun.

Dikatakan oleh dr. Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH, MMB, terdapat empat golongan darah ABO yang kita kenal, yaitu golongan darah A, B, AB, dan O. Penggolongan darah juga dikelompokkan berdasarkan rhesus, yaitu Rhesus positif dan Rhesus negatif. Golongan darah ini sangat penting karena penerima transfusi tidak boleh menerima darah yang tidak cocok golongan ABO maupun rhesusnya. Kesalahan atau ketidakcocockan transfusi dapat sangat berbahaya dan menyebabkan kematian pada penerimanya.

Tidak semua darah yang ditransfusikan berasal dari orang lain. Jika Anda berencana untuk menjalani operasi besar yang membutuhkan darah, Anda dapat mendonorkan darah untuk Anda gunakan sendiri seandainya diperlukan. Dengan demikian, Anda tidak perlu takut terjadi reaksi ketidakcocokan transfusi atau takut menerima darah dari orang lain yang mengandung penyakit.

Ada Banyak Jenisnya

Mendengar kata transfusi darah, yang terbayang dalam pikiran kita mungkin adalah kantong darah berwarna merah yang tergantung di tiang infus. Padahal, transfusi darah ternyata tidak selalu berwarna merah. Bagaimana bisa?

Dalam darah kita, ada berbagai macam komponen, yaitu sel darah merah (eritrosit), trombosit, sel darah putih (leukosit), dan cairan penampung sel-sel ini yang disebut plasma. Dengan teknologi canggih, komponen-komponen darah dapat diproses dan ditampung dalam kantong yang berbeda-beda. Dengan demikian, satu kantong darah dapat dipisah-pisah untuk menghasilkan masing-masing satu kantong sel darah merah, trombosit, dan plasma. Lalu bagaimana dengan sel darah putih? Sel darah putih berpotensi menimbulkan alergi. Karena itu, sel darah putih biasanya dibuang dan tidak diberikan untuk transfusi.

□ Transfusi sel darah merah

Sel darah merah adalah komponen darah yang paling sering dibutuhkan dalam transfusi. “Sel darah merah berfungsi untuk membawa oksigen dan nutrisi. Sel darah merah juga membantu tubuh untuk membuang karbondioksida dan zat-zat racun sisa metabolisme,” jelasnya. Transfusi sel darah merah atau disebut PRC (packed red blood cell) umumnya diperlukan jika terjadi pendarahan akibat luka atau operasi. Transfusi ini juga dapat diberikan pada orang yang anemia akibat penyakit yang dideritanya. Sesuai dengan namanya, PRC berwarna merah karena sel darah merah mengandung hemoglobin, protein pembawa oksigen yang berwarna merah.

□ Transfusi trombosit dan faktor-faktor pembekuan

Bagi Anda yang pernah mengalami demam berdarah tentu tidak asing lagi mendengar kata trombosit. Trombosit adalah komponen darah yang berfungsi untuk menghentikan pendarahan. Meski demikian, trombosit tidak dapat bekerja sendirian. Proses pembekuan darah adalah proses rumit yang juga melibatkan faktor-faktor pembekuan darah. Orang yang kekurangan trombosit dan faktor pembekuan darah biasanya mudah memar bila terbentur. Bahkan, pembuluh darah dapat tiba-tiba pecah dengan sendirinya tanpa adanya benturan. Jadi sudah bisa menebak apa guna transfusi trombosit? Ya, trombosit dapat ditransfusikan untuk orang-orang dengan gangguan pembekuan darah. Contohnya pada penderita hemofilia dan trombositopenia akibat kanker darah, kemoterapi, atau penyakit hati kronis.

□ Transfusi plasma

Plasma adalah komponen darah yang cair, sehingga darah dapat mengalir. Plasma berwarna jernih kekuningan dengan kandungan utama air. Plasma juga mengandung protein, faktor pembekuan, hormon, vitamin, kolesterol, glukosa, dan berbagai elektrolit. Transfusi plasma biasanya diberikan pada penderita luka bakar yang berat.

□ Transfusi darah utuh

Darah utuh atau whole blood adalah darah yang belum diproses dan komponennya kecuali leukosit belum dipisah-pisahkan. Darah ini adalah jenis darah yang paling banyak digunakan dan mudah diberikan. Transfusi darah utuh mudah diberikan pada keadaan darurat yang memerlukan darah dengan segera. Dengan demikian, selain memperbaiki kondisi pendarahan dan meningkatkan suplai oksigen, pemberian darah utuh juga dapat membantu mengembalikan volume darah yang hilang akibat pendarahan. Misalnya pada kasus pendarahan akibat kecelakaan yang mengalami syok. Penambahan volume darah akan membantu meningkatkan tekanan darah dan menstabilkan kondisi korban dan memberi waktu bagi dokter untuk mengatasi pendarahannya.

Ada Risikonya

Transfusi darah adalah prosedur penyelamat yang mudah dan aman. Meski demikian, tetap ada risiko transfusi yang perlu diwaspadai.

• Reaksi alergi

Alergi terhadap darah transfusi dapat terjadi, meskipun golongan darah yang diberikan sudah sesuai dengan golongan darah penerima. Reaksi alergi dapat bersifat ringan seperti gatal-gatal, biduran, demam, dan mual. Namun, ada juga yang bersifat berat dan menimbulkan syok dan reaksi anafilaktik. Jika ini terjadi, dokter harus segera menghentikan transfusi dan menilai berat ringannya reaksi. Setelah itu, baru dapat diputuskan apakah diperlukan terapi untuk mengatasi alergi dan apakah transfusi dapat dimulai kembali.

• Penyakit virus dan infeksi menular lainnya

Ada banyak penyakit yang dapat ditularkan melalui darah. Termasuk di antaranya adalah penyakit-penyakit yang berbahaya dan sulit disembuhkan, seperti hepatitis B dan C, HIV dan penyakit varian Creutzfeldt-Jakob. Meski bank darah biasanya melakukan skrining terhadap darah yang diterima, risiko ini tetap ada dan perlu diwaspadai.

• Demam

Penerima transfusi darah seringkali mengalami demam tiba-tiba selama atau setelah transfusi dilakukan. Hal ini merupakan reaksi normal tubuh terhadap sel darah putih yang masih terkandung di dalam darah transfusi. Untuk mengatasinya dapat diberikan parasetamol atau obat demam lainnya.

• Penumpukan zat besi

Transfusi darah dalam jumlah besar dapat menyebabkan penumpukan zat besi di dalam tubuh. Orang yang mendapat transfusi darah berulang kali, seperti talasemia dapat mengalami hal ini. Penumpukan zat besi dapat menyebabkan kerusakan pada hati, jantung, dan organ lain. Hal ini dapat dicegah dengan terapi kelatasi besi.

• Kerusakan paru

Meski jarang tejadi, transfusi darah dapat menyebabkan kerusakan pada paru dan menimbulkan sesak napas dalam waktu 6 jam setelah transfusi diberikan. Umumnya pasien dapat pulih seperti semula, tetapi ada juga kasus berat yang menyebabkan kematian. Belum diketahui mengapa hal ini dapat terjadi.

• Reaksi hemolitik imun akut

Reaksi ini juga jarang terjadi, tetapi berdampak fatal. Reaksi ini dapat terjadi akibat pemberian darah yang tidak cocok dengan darah penerima. Akibatnya, tubuh penerima akan menyerang darah yang baru masuk, dan menghasilkan zat-zat yang merusak ginjal. Gejalanya antara lain menggigil, mual, nyeri dada atau punggung, dan urine berwarna gelap. Transfusi harus segera dihentikan bila hal ini terjadi.

• Reaksi hemolitik terlambat

Merupakan reaksi hemolitik yang lebih lambat. Tubuh menghancurkan sel darah merah yang baru masuk sehingga jumlah sel darah merah menjadi rendah. Reaksi ini lebih sering terjadi pada mereka yang sebelumnya sudah pernah menjalani transfusi darah.

• Graft-Versus-Host Disease

Penyakit ini timbul akibat sel darah putih dari darah yang ditransfusikan menyerang tubuh. Reaksi ini umumnya bersifat fatal dan sering terjadi pada mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang sangat lemah. Penyakit ini dapat timbul satu bulan setelah transfusi dilakukan, dengan gejala berupa demam, ruam kulit, dan diare. Untuk mencegahnya, darah yang didonorkan sebaiknya diproses agar tidak lagi mengandung sel darah putih atau leukosit.

Siapa yang Perlu?

Pada kondisi tertentu, kadang-kadang seseorang dihadapkan pada keharusan untuk melakukan transfusi darah. Idealnya seseorang memerlukan transfusi darah jika tingkat hemoglobin (Hb) berada di bawah 10 g/dl (gram per desiliter darah). Namun jika seseorang harus melakukan operasi besar, sedang mendapatkan terapi kanker seperti kemoterapi dan radiasi, atau mengalami pendarahan aktif, maka dibutuhkan transfusi darah.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: