Mengendalikan Penyakit Asma di Musim Hujan

February 2, 2014

penyakit asma

Asma adalah nama penyakit yang banyak disandang oleh orang dari berbagai kalangan. Meski asma dan hujan memang memiliki hubungan dekat, tapi dampaknya tidaklah romantis.

Asma adalah penyakit yang mengenai bronkus, yaitu percabangan tenggorok, yang membawa udara keluar dan masuk ke dalam paru. Asma tidak dapat dipisahkan dari alergi, karena dasar penyakitnya adalah hipersensitivitas di bronkus. Penderita asma dapat mengalami serangan berupa sesak napas secara tiba-tiba akibat pemicu tertentu. Mulai dari serbuk sari, debu, kelelahan atau aktivitas fisik, hingga makanan. Sesak ini terjadi akibat otot-otot di saluran napas berkontraksi, sehingga menutup atau mempersempit saluran napas. Hal ini diperparah dengan pembengkakan atau peradangan di saluran napas dan produksi lendir yang lebih kental dari biasanya.

Menurut Prof.Dr.dr.Faisal Yunus SpP(K), penyempitan saluran napas akan menyebabkan penderita serangan asma sulit bernapas, yang dapat disertai dengan batuk terutama pada malam hari, sering bersin, dan nyeri, rasa tertekan atau berat di dada. Salah satu gejala asma yang paling khas adalah bunyi napas yang terjepit disebut mengi. Setiap penderita asama memiliki gejala yang berbeda-beda. Bahkan, serangan asma juga dapat bervariasi pada satu penderita.

Asma tidak dapat disembuhkan, namun dapat dikendalikan agar tidak mudah kambuh. Caranya adalah dengan menghindari pencetus, meminum obat atau menggunakan obat semprot, dan mengawasi timbulnya gejala. Untuk mencapai kontrol asma yang baik, diperlukan obat yang tepat. Oleh sebab itu, tidak cukup hanya meminum obat warung jika serangan asma terjadi sangat sering hingga lebih dari 2 kali seminggu. Bila sudah seperti ini, sebaiknya berkonsultasi ke dokter untuk mencegah asma agar tidak sering kambuh.

Penyakit Asma dan Hujan

Asma dan perubahan cuaca adalah sahabat karib. Bagaimana hal ini bisa terjadi masih belum jelas. Namun, jelas bahwa asma seringkali kambuh di musim semi, saat bunga-bunga mekar dan menyebarkan serbuk sari di udara. Serangan asma juga ternyata lebih sering dijumpai saat musim dingin dan penghujan seperti sekarang.

Asma di musim hujan diduga makin berat akibat udara yang dingin dan kering. “Udara seperti ini memang dikenal dapat mencetuskan asma. Udara yang lembab juga dapat mencetuskan serangan, ditambah hujan yang mempercepat tumbuhnya spora jamur, yang juga merupakan pencetus asma,” jelasnya.

Studi menunjukkan bahwa hujan badai dapat mencetuskan serangan asma. Dikatakan bahwa selama hujan badai berlangsung, jumlah pasien yang berobat ke rumah sakit akibat asma meningkat hingga 15%. Pada studi tersebut, yang terbukti menjadi biang keladinya adalah spora jamur yang berkembang biak dua kali lipat dibanding biasanya. Peningkatan ini rupanya bukan disebabkan oleh hujan, melainkan oleh angin. Spora jamur yang berada di dalam tanah terhempas oleh hujan dan angin selama hujan badai. Akibatnya spora berkembang biak dan tersebar di udara.

Selain spora jamur, perubahan suhu akibat cuaca secara mendadak dapat menyebabkan inflamasi di saluran bronkus. Peralihan musim dari panas ke hujan juga menimbulkan perubahan suhu yang besar antara malam dan siang hari. Kedua hal ini dapat mencetuskan serangan asma secara tiba-tiba di musim hujan.

Menghindar dari Penyakit Asma

Bagi penderita asma, kunci untuk menikmati napas lega adalah menghindari pencetus. Ada baiknya untuk membuat buku catatan mengenai gejala dan kemungkinan pencetus yang pernah menimbulkan asma. Catatan ini juga dapat digunakan sebagai panduan dokter dalam mengevaluasi pencetus dan apakah obat pengontrol asma yang diberikan sudah tepat.

Meski berenang adalah olahraga yang baik untuk penderita asma, tetapi pasien tidak dianjurkan untuk berenang di musim hujan. Apalagi jika air kolam dingin dan tidak terkena sinar matahari yang hangat. Bahkan, asma dapat tercetus hanya dalam lima menit setelah masuk ke dalam kolam.

Jika anak memiliki asma, ada baiknya untuk membatasi aktivitas anak di luar ruangan selama musim hujan. Pastikan anak mengenakan pakaian yang hangat serta scarf atau masker untuk menutupi mulut dan hidung saat berada di luar dalam cuaca dingin. Jangan lupa untuk menutup jendela pada malam hari. Pastikan juga anak selalu membawa obat pelega kerja cepat, agar mudah digunakan sewaktu-waktu.

Untuk Anda yang bekerja di ruangan ber-AC, tidak ada salahnya untuk sedikit memodifikasi gaya berpakaian. “Kenakan pakaian yang hangat berlengan panjang, atau model turtle neck yang menutupi leher, termasuk juga saat tidur. Jika perlu, gunakan selimut yang bebas debu atau khusus untuk penderita asma,” tambahnya. Untuk mereka yang mudah terserang asma di musim hujan, dapat juga menggunakan penyaring udara di kamar selama tidur.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: