Mengenal Tanaman Aren dan Berbagai Khasiatnya

June 16, 2014

tanaman aren

Nama lokal: Bak juk, bak huwat jok (Aceh); pola, paula, bagot, agaton, bargot (Batak, Sumatera); moke (Ende, Flores); aren, lirang, nanggung (Jawa); jaka, hano (Bali); kawung, taren (Sunda); enau (Banjarmasin); semaki (Irian utara); seho (Ternate); anau, biluluk (Minangkabau); pola (Sumbawa); nao (Bima); onau (Sau-su, Toraja)

Nama asing: Sugar palm, arenga palm, black-fiber palm, gomuti palm (Amerika); zuikerplam (Belanda); zuckerpalme (Jerman); kaong (Filipina)

Rupa Tanaman Aren

Tanaman: Tinggi pohon hingga 25 m dengan diameter hingga 65 cm. Bagian pokok atas diselimuti serabut warna hitam yang disebut ijuk. Sebenarnya ijuk merupakan bagian dari pelepah daun.

Daun: Majemuk menyirip seperti daun kelapa. Panjang daun dapat mencapai 5 m dengan tangkai daun sepanjang 1,5 m. Warna lembaran anak daun hijau gelap di bagian atas dan hijau keputihan di bagian bawah.

Bunga: Bunga jantan dan bunga betina terpisah pada tongkol yang berbeda. Bunga jantan tumbuh berpasangan. Bunga betina berbentuk membulat hampir seperti bola. Panjang tongkol hingga 2,5 m. Keduanya muncul di ketiak daun. Bunga mulai muncul pada tahun ke-7-10. Masa berbunga terus berlangsung hingga 2-5 tahun kemudian tanaman mati.

Buah: Kerap disebut beluluk. Buah buni bulat dengan diameter sekitar 4 cm.

Biji: Buah memiliki 3 ruang yang menghasilkan masing-masing satu biji. Inti buah mengandung getah yang menimbulkan gatal sehingga tidak dapat langsung dikonsumsi.

Ikhtisar

Aren tumbuh hingga daerah berketinggian 1.400 m dpl. Umumnya tumbuh di lereng atau pinggir sungai. Tanaman anggota famili Arecaceae itu tersebar mulai dari India, Myanmar, Thailand, Vietnam, Malaysia, Indonesia, Filipina, dan Cina. Termasuk bangsa Arecales.

Kandungan kimia

Akar Arengo pinnoto mengandung saponin, flavonoida, dan polifenol.

Pemanfaatan Tanaman Aren

Di Indonesia, aren menjadi komoditas penting bagi komunitas masyarakat tertentu yang memanfaatkan nira tanaman famili Arecaceae itu untuk membuat gula aren. Misalnya, penduduk di Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

Cairan yang dihasilkan tandan bunga jantan dipanen untuk mendapatkan gula di India disebut gur. Di Indonesia disebut nira atau orang Jawa menyebutnya legen. Warnanya putih agak keruh seperti air kelapa. Cairan itu dimasak hingga mengental untuk menjadi gula cair kemudian ditambahkan beberapa bahan agar teksturnya mengeras. Cairan itu juga digunakan untuk menghasilkan cuka dan minuman fermentasi seperti tuak atau saguer. Nira mentah bersifat pencahar, bisa juga dibuat sebagai bahan pengembang dalam pembuatan roti.

Buah mudanya dimakan setelah diolah sebagai penganan yang disebut kolang-kaling. Namun, buahnya hanya bisa dimakan bila diolah dengan tepat. Buah mentah memiliki getah yang menimbulkan gatal dan beracun. Untuk itu perlu dikukus dalam jangka waktu cukup lama sekitar 2-3 jam. Inti biji berwarna putih transparan yang diperolah dari buah pun perlu direndam air selama 10-20 hari terlebih dahulu.

Ijuk-serat hitam di sekitar pangkal pohon-dimanfaatkan sebagai sapu atau bahan atap rumah tradisional. Empulurnya dapat diolah menjadi sagu. Batang yang telah diambil empulurnya dapat dijadikan saluran air. Akarnya memiliki serat berkualitas untuk tali pancing atau cambuk. Akar digunakan untuk mengatasi penyakit batu ginjal dan ruam kulit, sedangkan tuak digunakan untuk mengatasi sariawan dan sembelit.

Daunnya bisa digunakan sebagai lapisan penutup atap rumah seperti layaknya daun rumbia. Biasanya, rumah adat atau penduduk di perkampungan adat masih menggunakan atap berbahan daun aren ataupun ijuk, seperti di Kampung Naga, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Lembaran daunnya juga masih ditemukan di pinggiran jalan sebagai pembungkus buah durian atau pembungkus gula aren. Di Mizoram, India, dekoksi akarnya diaplikasikan untuk mengatasi penyakit bronkitis dan sakit perut.

Aktivitas farmakologis

Peluruh batu ginjal: Ekstrak akar aren dapat melarutkan batu ginjal kalsium. Akar aren diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan metanohair (1:1), kemudian didapatkan ekstrak kental dan dibuat seri kadar yaitu; 9%, 18%, 27%, 32%, 45% (v/v). Kemudian dari beberapa seri kadar itu digunakan untuk merendam batu ginjal kalsium selama sekitar 5 jam pada suhu 37°C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak akar aren dengan kadar 9%, 18%, 27%, 32%, 45% (v/v) mempunyai daya melarutkan terhadap batu ginjal kalsium. Kadar optimal ekstrak akar aren yang dapat melarutkan batu ginjal kalsium adalah 32% v/v.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: