Mengenal Tanaman Alamanda dan Berbagai Khasiatnya

May 20, 2014

tanaman alamanda

Nama lokal: Lame areuy (Sunda); coblong-coblongan (Bali)

Nama asing: Golden trumpet, allamanda (Amerika); kampanero, kampanilya (Filipina); akar chempaka hutan, bunga akar kuning (Malaysia); ban buri lueang (Thailand); huynh anh, dlaaly h u [yf] n h (Vietnam)

Ikhtisar

Tanaman asli Brasil itu dikenal sebagai tanaman hias merambat. Getahnya yang berwarna putih susu dapat menyebabkan iritasi pada kulit dan mata. Di Indonesia, alamanda dijadikan tanaman hias pekarangan atau menutup pergola. Tanaman tumbuh cepat dengan bantuan tegakan untuk merambat.

Kandungan Kimia

Fraksinasi ekstrak EtOAc alamanda menggunakan strain ragi Sc-7 menghasilkan isolasi plumericin dan isoplumericin dengan tingkat toksisitas rendah. Biji alamanda mengandung trlolein, tripalmitin, dan stearin.

Pemanfaatan Alamanda

Di Jawa, infusa tanaman digunakan untuk mengatasi batuk dan sakit kepala. Daun tanaman alamanda dikenal dapat memperlancar buang air besar dan menyembuhkan demam. Namun, efek penggunaannya menyebabkan muntah-muntah dan diare. Sedangkan Akar umumnya digunakan untuk mengobati penyakit kuning dan malaria. Sesuai namanya, cothortico, alamanda bersifat cathartic alias merangsang buang air besar. Di India, kulit batang alamanda dijadikan obat laksatif-obat yang berfungsi membantu menyembuhkan sembelit dengan cara membuat kotoran mudah bergerak di dalam usus.

Rupa Alamanda

Tanaman: Lantaran tidak bersulur, tanaman semak asli Brasil itu membutuhkan media untuk memanjat. Tanaman memanjat hingga tinggi 6 m. Diameter batang dapat mencapai 5 cm.

Daun: Daun mengandung getah berwarna putih susu. Tangkai daun 1-5 mm bahkan hampir tidak terlihat. Lembaran daun panjangnya sekitar 6-14 cm dengan sisi pendek 2,5-4,5 cm. Bagian bawah daun berwarna lebih pucat. Bentuk daun elips hingga bulat telur.

Bunga: Berwarna kuning dengan diameter bunga 8-10 cm.

Buah: Berwarna hijau. Tipe polong. Polong berduri seperti buah rambutan. Ukuran 2,54-7,62 cm.

Biji: Memiliki bagian tambahan berfungsi seperti sayap sehingga ketika wadah biji kering dan pecah, biji akan beterbangan.

Aktivitas Farmakologis

Antimikrob: Ekstrak daun alamanda menunjukkan aktivitas antimikrobial lemah hingga sedang. Aktivitas tingkat tinggi terlihat pada fraksi cair kloroform melawan Shigello dysenterioe dengan daya hambat 13 mm. Studi menggunakan kanamycin pada konsentrasi 30 µg/cakram sebagai kontrol positif.

Penetral efek hemorrhagic: Ekstrak daun, cabang, dan batangnya digunakan untuk menetralisir efek hemorrhagic (pendarahan hebat) akibat Bothrops otrox-ular berbisa yang biasa hidup di daerah tropis. Efek netralisasi berada pada tingkat moderat 21-72% dengan dosis hingga 4 mg/kg bobot tubuh tikus.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: