Mengenal Tanaman Ajeran dan Berbagai Khasiatnya

May 7, 2014

tanaman ajeran

Nama lokal: Acerang, hareuga (Sunda); ambong-ambong, jaringan, ketul (Jawa); lanci thuwa (Madura)

Nama asing: Xian feng cao (Cina); black jack (Afrika); black jack, hairy beggarticks, water marigold, Spanish needle, cobbler’s pegs (Amerika); pisau-pisau (Filipina); sornet, piquant noir, bident hérissé, herbe aiguille, herbe villebague (Perancis); puen moksai (Thailand); kancing baju (Malaysia)

Ikhtisar

Ajeran berasal dari wilayah tropis Amerika Selatan. Kini ajeran, tersebar di daerah tropis dan subtropis sebagai gulma dan tanaman liar. Di Indonesia terdapat di berbagai wilayah, kecuali Kalimantan dan Maluku. Hidup hingga ketinggian 2.500 m dpl. Di sebagian wilayah di beberapa negara seperti Kenya, Tanzania, dan Uganda, tanaman yang memiliki sinonim Bidens sundaica, B. leucorrhiza, dan B. pilosa var. minor itu termasuk tanaman invasif -mempengaruhi atau mengolonisasi tanaman di sekitarnya.

Kandungan Kimia

Senyawa antioksidan utama: kuersetin 3-0-rabinobioside; kuersetin 3-O-rutinoside; asam klorogenat; 3,4-di-0-caffeoylquinic acid; 3,5-di-0-caffeoylquinic acid; 4,5-di-0-caffeoylquinic acid. Senyawa lain, heptanyl 2-0-beta-xylofuranosyl-(l→6)-beta-glucopyranoside, jacein, dan centaurein. Penelitian juga menyebutkan kandungan senyawa fenol yaitu quercetin 3-Orabinobiosid. Akarnya mengandung senyawa quercetin 3,3′-dimethyl ether, yaitu 7-0-a-d-rhamnopyranosyl-(l→6)-ß-d-glucopyranoside dan 7-O-ß-d-glucopyranoside. Ajeran juga mengandung senyawa dua poliasetilenik yang teridentifikasi pada fraksi butanol. Senyawa itu berperan dalam pencegahan awal terjadinya diabetes.

Pemanfaatan Ajeran

Di Bogor, Jawa Barat, seduhan dingin akar ajeran digunakan sebagai obat mata ketika mata tidak dapat melihat dengan jelas. Suku Naga di wilayah timur laut India kerap menggunakan rebusan daun dan bunganya untuk mengobati diare. Sementara di Meksiko, daunnya dijadikan pengganti teh.

Rupa Tanaman Ajeran

Tanaman: Tinggi tanaman 1-2 m. Batangnya berbentuk 4 sudut (quadrangular), berambut atau sebagian berambut.

Daun: Pinnate – majemuk menyirip – memiliki anak daun 3-5 lembar dengan pinggiran daun bergigi. Tangkai daun terlihat agak bersayap.

Bunga: Kelopak bunga berwarna putih dengan benangsari kuning.

Biji: Memanjang ramping berwarna hitam.

Aktivitas Farmakologis

Kemopreventif: Fraksi etil asetat dan butanol yang dipartisi dari total ekstrak kasar Bidens pilosa menunjukkan aktivitas pemburu radikal bebas yang sebanding dengan a-tokoferol. Tokoferol merupakan kelas senyawa kimia yang memiliki aktivitas vitamin E. Selain itu, sitotoksisitas pada sel RAW 264,7 – sel yang berasal dari mencit Mus musculus – terlihat signifikan pada fraksi etil asetat dosis >100 pg/ml. Uji sitotoksisitas dilakukan untuk mengetahui kemampuan sel bertahan hidup karena adanya senyawa toksik. Uji itu untuk mendeteksi aktivitas antikanker dari suatu senyawa.

Antidiare: Dosis ekstrak metanol 800 mg/kg ajeran menunjukkan aktivitas penghambatan yang signifikan melawan diare yang diinduksi minyak jarak. Setelah jam ke-4, mencit albino yang diberi ekstrak 1 jam sebelum induksi minyak jarak tidak menunjukkan adanya aktivitas diare.

Ekstrak juga mengurangi timbulnya akumulasi cairan dalam lambung akibat induksi Prostaglandin E2 (PGE2) – pada dosis tertentu, PGE2 menghasilkan akumulasi cairan pada usus kecil dan usus besar. Itu menunjukkan ekstrak mampu memberikan efek antidiare. Efek pengurangan frekuensi diare yang ditunjukkan ekstrak sebesar 94,23% sedangkan obat standar Loperamide sebesar 96,08%.

Ekstrak tanaman juga menunjukkan penurunan motilitas gastrointestinal – gerakan penyerapan makanan – signifikan pada tes charcoal meal. Penurunan motilitas gastrointestinal merupakan salah satu mekanisme agen antidiare. Tes charcoal meal yaitu tes untuk mengevaluasi keampuhan senyawa yang diujikan untuk menghambat motilitas propulsif usus kecil atau mencegah penghambatan motilitas propulsive pencernaan berkaitan dengan pembiusan dan pembedahan. Tes berdasarkan perpindahan charcoal meal (yang berwarna hitam) pada usus kecil.

Pada tes toksisitas akut, tikus yang diberi perlakuan ekstrak tanaman 800 mg/kg tidak menunjukkan perubahan SGOT, SGPT, kolesterol, dan level protein total yang signifikan dibandingkan kontrol. Artinya, ekstrak tidak menyebabkan keracunan pada dosis tersebut sehingga aman dikonsumsi.

Antimalaria: Ekstrak etanol tanaman menunjukkan adanya aktivitas antimalaria karena mengandung senyawa flavonoid. Mencit yang diberi dosis ekstrak 500 mg/kg atau kurang secara oral mampu mengurangi parasitaemia – parasit dalam darah – dan kematian tikus yang diinfeksi dengan Plasmodium berghei. Protozoa penyebab malaria pada mamalia dengan perantara nyamuk dan tikus itu kerap dijadikan model organisme untuk penelitian eksperimental. Dosis 500 mg/kg terbukti efektif, tetapi dosis lebih tinggi terbukti kurang efektif.

Pada tes melawan tiga P. falciparum – protozoa parasit penyebab malaria pada manusia yang melibatkan nyamuk Anopheles sebagai perantara, dua di antaranya resisten klorokuinon dan satu resisten meflokuin, tanaman yang dibudidayakan dengan kondisi standar dan tanah kaya humus menunjukkan aktivitas aktif, tetapi tanaman liar paling aktif dibandingkan keduanya.

Antiulcer: Ekstrak ajeran memiliki efek perlindungan mukosa lambung pada tingkat yang sangat rendah melawan luka dan borok pada lambung-usus 12 jari yang diinduksi etanol absolut. Efek perlindungannya hanya 9,8% pada dosis 750 mg/kg dibandingkan kontrol.

Antidiabetes: Ekstrak etanol air B. pilosa menunjukkan aktivitas penurunan gula dalam darah pada mencit normal puasa sebesar 15,7% dalam 120 menit dan 30,2% dalam 240 menit setelah pemberian ekstrak secara intraperitoneal. Ekstrak berhasil menurunkan hiperglikemia 32,6% pada mencit diabetes tingkat ringan. Sayangnya, pada diabetes dengan tingkat keparahan tinggi, ekstrak tidak mampu menurunkan gula darah secara signifikan. Dari hasil penelitian disimpulkan, ekstrak memerlukan keberadaan insulin untuk menunjukkan aktivitas hipoglikemia-penurun gula darah.

Kandungan fitokimia terkait hipoglikemik berasal dari grup glukosida senyawa poliasetilenik yang ditemukan pada bagian aerial tanaman yaitu 2-beta-D-glucopyranosyloxy-1-hydroxy-5(E)-tridecene-7,9,11-triyne dan 3-beta-D-glucopyranosyloxy-l-hydroxy-6(E)-tetradecene-8,10,11,12-triyne. Penelitian lainnya juga mendukung keberadaan senyawa poliasetilen untuk merawat pasien diabetes, salah satunya cytopiloyne yang terbukti mampu mencegah diabetes tipe 1 pada tikus non-obese.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: