Mengenal Saraf Kejepit

March 10, 2014

saraf kejepit

Mungkin anda pernah merasakan ngilu dan nyeri pada bagian-bagian tubuh tertentu terutama jika anda duduk terlalu lama atau sehabis melakukan aktivitas yang cukup berat. Rasa nyeri yang dirasakan mungkin saja bukan nyeri biasa jika anda sering merasakannya dan terasa ke bagian tubuh lain. Bisa jadi itu adalah gejala yang dikenal dengan sebutan saraf kejepit. Keluhan ini banyak dikeluhkan para lansia, ini terkait dengan faktor degeneratif. Namun kaum muda yang masih produktif tak sedikit pula yang mengalaminya.

dr. Yohanna Kusuma, Sp.S cert., Neurosonology ASN (USA) & WFN-NSRG Consultant National Brain Centre menguraikan, saraf kejepit terjadi akibat adanya suatu “osteophyte” (pengapuran) di sekitar tulang belakang. Biasanya, pengapuran ini timbul karena proses degenerasi yang men-giritasi dan menjepit saraf yang keluar dari samping tulang belakang.

Penyebab Saraf Kejepit

Banyak anggapan bahwa saraf kejepit hanya dialami oleh para lanjut usia, dimana mereka memiliki tulang yang semakin rapuh. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar, karena kaum muda yang masih produktif pun bisa mengalami saraf kejepit ini, terutama terjadi pada mereka yang melakukan aktivitas harian yang sangat berat. Kemungkinan mendapat saraf kejepit ini semakin tinggi jika mereka hanya bertumpu pada satu bagian tubuh tertentu ketika mengangkat beban berat, sehingga membuat tulang di daerah tersebut mendapat tekanan yang besar dan mengenai saraf. Akibatnya timbullah nyeri.

Trauma, seperti trauma akibat kecelakaan yang mengenai tulang punggung, terjatuh lalu mengenai tulang belakang juga dapat menjadi penyebab saraf kejepit. Posisi tubuh yang salah dan over exercise bisa pula memberikan kontribusi pada terjadinya trauma mekanik sebagai penyebab saraf kejepit. Tidak heran, saraf kejepit banyak dialami pemain sepak bola dan atlet yang sering melakukan over exercise di gymnasium. “Wanita hamil juga rentan mengalami lho, terutama yang umur kehamilannya cukup tua,” imbuhnya.

Tidak sedikit pula mereka yang waktunya banyak dihabiskan dengan berdiri maupun duduk mengalami hal ini. Menurut dr. Yohana, posisi berdiri atau duduk yang terlalu lama lambat laun bisa mengakibatkan trauma dan perubahan posisi tulang yang dapat mengiritasi saraf yang keluar dari samping tulang tersebut.

Ada juga penyebab lain yang disebabkan oleh penyakit TBC. Kuman ini jika tak segera ditangani dapat menyebar dan mengeroposi tulang sehingga berakibat mengenai saraf. Kanker dan tumor juga bisa menjadi penyebab saraf kejepit. “Jika kanker atau tumor telah menyebar ke tulang dapat menyebabkan tulang menjadi rapih sehingga saraf bisa langsung terjepit oleh tulang,” ungkapnya.

Jangan Diabaikan

Gejala saraf kejepit biasanya diawali dengan “musclespasm” atau kaku otot dan nyeri yang dirasakan di sekitar tulang di mana saraf tersebut terjepit. “Lambat laun, rasa nyeri tersebut bisa dirasakan menjalar kebawah, rasa baal (kebas) atau kesemutan, bahkan terkadang rasa panas seperti tersengat api,” jelasnya.

Dari gejala ringan, kemudian berlanjut pada keluhan yang semakin berat. Pasien lambat laut akan sulit menggerakkan tangan dan berjalan. Bahkan, dalam kondisi berat, saraf kejepit juga bisa menimbulkan incontinensio uri (sulit berkemih) dan atrofi (otot menjadi mengecil).

Saraf kejepit kadang masih disepelekan, padahal jika tidak segera ditangani dapat menimbulkan kerusakan permanen seperti kelumpuhan terutama jika terdapat kompresi/penekanan saraf yang kian memberat, ujarnya.

Pemeriksaan dan Pengobatan

Untuk mendiagnosis penyakit ini, pasien akan diminta untuk melakukan pemeriksaan X-ray. Tujuannya untuk melihat struktur tulang dan komposisi tulang. Pemeriksaan MRI (Magnetic Resonance Imaging) akan melihat lebih teliti. “Selain dengan Xray, EMG (electromyography) juga merupakan pemeriksaan diagnostik penunjang yang juga bisa memungkinkan melihat adanya iritasi dari saraf,” katanya.

Penanganan saraf kejepit tidak selalu melibatkan tindakan operasi. Pasien umumnya diminta untuk meminimalisir gerakan. Pasien juga diberikan pengobatan berupa obat analgetik sebagai penghilang rasa nyeri, anti inflamasi non steroid dan muscle relaxant. Pembedahan, ditegaskan dr.Yohanna adalah pilihan terakhir jika saraf terjepit sudah mengalami kompresi yang parah dan tidak dapat diobati lagi dengan obat-obatan oral.

Cegah Nyeri Akibat Saraf Kejepit

  • Ambil posisi tubuh yang baik dan stabil saat mengangkat barang.
  • Hindari langsung membengkokkan badan saat akan mengangkat barang. Terlebih dahulu bengkokkan lutut, baru mengambil barang.
  • Lakukan aktifitas fisik, seperti berenang untuk mengatasi saraf kejepit.
  • Tidurlah ditempat yang beralas keras, saat nyeri kian terasa berat.
  • Lakukan fisioterapi dengan rutin.
  • Jaga pola hidup yang sehat.
  • Jaga agar berat badan tetap ideal.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: