Mengenal Preeklampsia, Alias Keracunan Kehamilan

October 7, 2014

preeklampsia

Dahulu dikenal dengan keracunan kehamilan, preeklampsia sekarang tetap menjadi momok bagi wanita hamil yang memasuki trimester ke tiga. Preeklampsia adalah kondisi pada wanita hamil, yang ditandai dengan tekanan darah tinggi dan protein berlebih di dalam urin. Jika tidak terdiagnosis dan ditangani, preeklampsia dapat menimbulkan komplikasi serius, bahkan fatal bagi ibu dan janin. Gangguan ini tidak ada obatnya, dan baru akan berangsur-angsur menghilang setelah bayi dilahirkan. Menakutkan? Tenang, meski tidak dapat dicegah tapi anda bisa melindungi diri dengan mempelajari gejala-gejala preeklampsia dan memeriksakan diri secara teratur ke dokter.

Bengkak yang Tidak Biasa

Preeklampsia dapat timbul selama separuh akhir kehamilan (sekitar 20 minggu) atau segera setelah bayi dilahirkan. Umumnya preeklampsia ringan timbul menjelang tanggal perkiraan kelahiran bayi. Dengan perawatan yang baik, ibu dan bayi umumnya akan baik-baik saja. Namun jika diabaikan dan bersifat berat, preeklampsia dapat menimbulkan komplikasi ke berbagai organ, bahkan mengancam jiwa.

Kebanyakan kasus preeklampsia baru diketahui setelah ibu diperiksa tekanan darah dan kadar protein urinnya pada pemeriksaan kehamilan rutin. Oleh karena itu, sangat penting bagi ibu hamil untuk tidak melewatkan pemeriksaan kehamilannya. Pada preeklampsia, hasil pemeriksaan tekanan darah akan tinggi (hipertensi), yaitu 140/90 mmHg atau lebih dalam dua kali pemeriksaan dengan rentang waktu sedikitnya 6 jam. Selain itu, terdapat kadar protein urin yang tinggi (proteinuria).

Jika berlanjut, preeklampsia dapat menimbulkan gejala seperti:

  • Udem atau pembengkakan pada kaki, tungkai, wajah, dan tangan akibat retensi cairan.
  • Nyeri kepala hebat.
  • Gangguan penglihatan, seperti penglihatan kabur, kebutaan sementara, atau sensitif terhadap cahaya.
  • Nyeri pada perut bagian atas, terutama di bawah iga sebelah kanan.
  • Mual atau muntah.
  • Pusing berkunang-kunang.
  • Jumlah urin berkurang.
  • Peningkatan berat badan berlebih, biasanya lebih dari 1 kg per minggu.

Gejala preeklampsia dapat berbeda-beda pada setiap wanita, bahkan mungkin tidak ada gejala yang jelas, terutama pada kasus yang ringan. Apalagi, gejala bengkak pada kaki dan penglihatan buram memang sering dialami oleh wanita hamil. Namun untuk berjaga-jaga, jika Anda merasakan hal ini, sebaiknya berkonsultasi segera dengan dokter.

Preeklampsia dapat menyebabkan pembuluh darah menyempit, sehingga tekanan darah jadi meningkat dan aliran darah ke organ seperti hati, ginjal dan otak menurun. Akibatnya dapat terjadi kejang dan kerusakan permanen. Sedangkan pada bayi, menurunnya aliran darah ke rahim dapat menyebabkan kurangnya cairan ketuban, gangguan pertumbuhan janin, bahkan terlepasnya plasenta dari dinding rahim. Selain itu, jika preeklampsi mulai mempengaruhi keselamatan ibu, ada risiko terjadinya kelahiran prematur karena preeklampsia hanya bisa sembuh setelah bayi lahir. Semakin dini terdiagnosis dan ditangani, maka prognosis ibu dan bayi akan semakin baik.

Masih Belum Diketahui Penyebabnya

Apa yang menyebabkan terjadinya preeklampsia masih belum diketahui dengan jelas. Ada beberapa dugaan seperti gangguan aliran darah ke rahim, kerusakan pembuluh darah, gangguan sistem imun, kegemukan, hingga diet yang buruk. Meski penyebabnya belum diketahui pasti, namun ada beberapa faktor yang menyebabkan sejumlah wanita lebih berisiko mengalami preeklampsia:

  • Riwayat preeklampsia pada kehamilan sebelumnya atau pada keluarga.
  • Kehamilan pertama.
  • Usia lebih muda dari 20 tahun atau lebih dari 40 tahun.
  • Obesitas.
  • Kehamilan kembar.
  • Jarak kehamilan yang terlalu jauh.
  • Diabetes dan diabetes gesta-sional.
  • Riwayat hipertensi, migren, diabetes, penyakit ginjal, dan lain-lain.

Diagnosis Cukup Dengan Pemeriksaan Tekanan Darah dan Protein Urin

Diagnosis preeklampsia biasanya dapat ditegakkan hanya melalui pemeriksaan yang mudah dan sederhana. Dua pemeriksaan yang paling penting adalah pemeriksaan tekanan darah dan diikuti dengan pemeriksaan urin. Pada pemeriksaan darah, disebut tinggi atau tidak normal jika mencapai 140/90 mmHg atau lebih. Namun, jika anda baru sekali ini memiliki tekanan darah yang tinggi, maka akan diperlukan pemeriksaan ulang, biasanya dalam 6 jam setelahnya. Hasil yang abnormal akan mendorong dokter untuk memeriksa kadar protein dalam urin anda.

Selain dua pemeriksaan di atas, dokter mungkin akan menganjurkan pemeriksaan lain, untuk memastikan fungsi organ masih bekerja dengan baik, dan tidak terpengaruh oleh preeklampsi yang terjadi. Di antaranya pemeriksaan fungsi hati, ginjal, dan jumlah trombosit, pemeriksaan urin 24 jam, USG janin, serta non stress test untuk memastikan janin dalam keadaan sehat.

Sembuh Setelah Bayi Dikeluarkan

Satu-satunya terapi untuk preeklampsia adalah dengan persalinan. Selama tekanan darah masih tinggi, maka anda masih berisiko mengalami kejang, abrupsi plasenta, stroke dan perdarahan berat. Tidak masalah jika preeklampsia terjadi pada usia kehamilan di atas 37 minggu, karena bayi dapat lahir dengan selamat melalui induksi, meski belum ada tanda-tanda persalinan. Yang menjadi masalah adalah jika usia kehamilan masih di bawah 37 minggu, maka persalinan mungkin bukan jalan terbaik bagi kesehatan bayi.

Untuk mengurangi gejala dan beratnya preeklampsia pada usia kehamilan di bawah 37 minggu, dokter dapat memberikan obat-obatan penurun tekanan darah, kortikosteroid, obat anti kejang, serta menganjurkan anda untuk tirah baring. Diharapkan, tekanan darah dapat turun dan aliran darah ke plasenta meningkat, sehingga persalinan dapat ditunda hingga janin siap dilahirkan. Pada kasus ringan dan stabil, anda dapat melakukan tirah baring di rumah, meski tidak lepas dari pengawasan. Namun bisa juga dilakukan di rumah sakit, sehingga mempermudah dokter dalam melakukan monitoring.

Preeklampsia yang tidak segera diatasi bisa berlanjut pada eklampsia, dimana jika telah memasuki fase ini gejala diperburuk dengan tambahan kejang-kejang dan tidak sadarkan diri. Berikutnya, jika bayi tidak segera dikeluarkan bisa membahayakan nyawa dari sang ibu itu sendiri. Namun menjadi dilematis jika ibu hamil menderita eklampsia di trimester awal, karena memaksa bayi untuk lahir premature.

Jika terjadi eklampsi atau komplikasi lain yang membahayakan, maka dokter akan melakukan induksi persalinan atau menganjurkan untuk dilakukannya operasi Caesar. Dokter akan menyuntikkan steroid untuk membantu pematangan paru si kecil. Selama proses persalinan, anda akan diberikan infus berisi magnesium sulfat untuk meningkatkan aliran darah ke rahim dan mencegah terjadinya kejang. Pengawasan ketat terhadap tekanan darah dan kemungkinan komplikasi akan tetap diawasi sedikitnya hingga 48 jam setelah persalinan. Jika bayi telah lahir, tekanan darah seharusnya akan kembali normal hanya dalam beberapa minggu.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: