Mengenal Pohon Kelor dan Berbagai Khasiatnya

January 14, 2015

pohon kelor

Nama latin: Moringa oleifera

Nama lokal: Murong (Aceh); marunggai, munggai (Minangkabau); kilor (Lampung); kelor (Sunda); limaran (Jawa); marongghi (Manado); kerol (Buru); marangghi (Madura), moltong (Flores), kelo (Gorontalo); keloro (Bugis), kawona (Sumba), ongge (Bima)

Nama asing: Horseradish tree, adrish tree, drumstick tree, other’s best friend, west indian ben (Inggris, Amerika); bèn ailé, benzolive, ben oléifère, arbre radis du cheval (Perancis); behenbaum, behenussbaum, flügelsaniger bennussbaum, pferderettichbaum (Jerman); sàndalo ceruleo (Italia); acacia branca, marungo, muringa, moringuiero (Portugis); cedro (Brasil), arbol del ben, ben, morango, moringa (Spanyol); shobhanjan (India); paizlava (Kamerun); b agaruwar maka (Nigeria); la mu (Mandarin); lat mok (Kanton)

Ikhtisar

Tanaman asli daerah Himalaya, termasuk India, Pakistan, Banglades, dan Afghanistan. Tumbuh dengan baik di ketinggian 300-500 m dpl. Saat ini merupakan tanaman penting di India, Ethiopia, Filipina, dan Sudan. Menyukai lingkungan tumbuh di daerah-daerah panas. Sering dikenal sebagai tanaman “drumstick” karena bentuk polong buahnya yang memanjang. Ada pula yang menyebutnya “horseradish” karena rasa akarnya menyerupai “radish”. Kerap disebut tanaman perintis karena mampu hidup di tanah minim air dan menjadi pembuka jalan yang memberi lingkungan tumbuh yang kondusif untuk tumbuhan lain. Termasuk bangsa Brassicales, suku Moringaceae. Nama lainnya Moringa pterygosperma dan Guilandina moringa.

Sosok

Tumbuhan: Perdu yang dapat memiliki ketinggian batang 7-11 meter. Batang kayunya mudah patah dan cabangnya jarang namun mempunyai akar yang kuat. Batang pokoknya berwarna kelabu.

Bunga: Berwarna putih kekuning-kuningan sementara tudung pelepah bunganya memiliki warna hijau. Bunga kelor muncul sepanjang tahun dengan wangi semerbak. Bunganya dapat dikonsumsi dengan terlebih dahulu dimasak.

Buah: Memiliki bentuk segi tiga memanjang, berwarna hijau dan keras serta berukuran kurang lebih 120 cm.

Biji: Setiap buah mengandung 5-20 biji yang diselimuti lapisan putih tipis.

Kandungan Kimia

Glikosida pyrrole alkaloid (pyrrolemarumine 4″-O-α-l-rhamnopyranoside) dan 4′-hydroxyphenylethanamide (marumosides A and B) diisolasi dari daun kelor bersama dengan senyawa lainnya niazirin, methyl 4-(α-l-rhamnopyranosyloxy)benzylcarbamate, benzyl β-d-glucopyranoside, benzyl β-d-xylopyranosyl-(l -> 6)-β-d-glucopyranoside, kaempferol 3-O-beta-d-glucopyranoside, quercetin 3-O-beta-d-glucopyranoside, adenosine, dan l-tryptophan.

Ekstrak metanol daun kelor mengandung asam klorogenik, rutin, quercetin glucoside, dan kaempferol rhamnoglucoside. Sementara akar dan kulit batang beberapa procyanidin terdeteksi.

Pemanfaatan Kelor

Daun dan bijinya dipakai sebagai pakan ternak, kayunya dipakai sebagai pewarna biru pakaian. Tanaman berbentuk pohon itu lazim digunakan sebagai tanaman pagar. Masyarakat Jawa terbiasa menanam pohon kelor di pekarangan karena dipercaya bisa menangkal kekuatan magis. Bubuk bijinya dipakai untuk menjernihkan air permukaan (kolam, danau), seperti yang dilakukan masyarakat Kamerun. Kulit akar punya bau dan rasa paling kuat di antara bagian tanaman yang lain. Di India getahnya dipakai dalam industri kain katun. Di Banglades, tanaman dicampur dalam masakan kari. Kelor juga dipakai untuk parfum dan minyak rambut oleh masyarakat sebuah desa di Oman.

Di tanah air kelor memang lebih kondang sebagai bahan pangan. Daun bercitarasa sedikit pahit, memberikan sensasi yang berbeda ke dalam masakan. Kulitnya bisa dikerik sampai kayu, lalu ditabur di atas daging atau ikan yang sedang direbus. Di Jawa buah mentah, disebut klentang, dimakan sebagai lalap. Masyarakat Nusa Tenggara Barat dan Madura kerap mengolah daun kelor menjadi sayur bening. Sup daun kelor atau kelor ayam madu menu favorit di Filipina. Masyarakat setempat juga mengolah daun kelor dengan minyak zaitun dan garam untuk membuat saus pesto.

Di Jawa, kelor sering dimanfaatkan sebagai tanaman obat. Bagian yang paling sering digunakan sebagai obat adalah kulit akar, batang, dan daun. Kulit akar dihaluskan bersama akar pepaya, dioleskan pada bagian yang bengkak. Akar ampuh menyembuhkan nyeri, rematik, dan asam urat. Olesan ekstrak kulit akar juga mujarab mengatasi pembengkakan dan sariawan. Rebusan kulit batang untuk pelancar haid. Sementara rebusan akar untuk mengobati sariawan. Daun hijau jika dilumat bersama sedikit kapur akan menghasilkan cairan kental berwarna hijau kekuningan yang bisa dipakai untuk obat luar kurap. Ramuan daun untuk membantu penyembuhan radang sendi, penurun gula darah, dan meningkatkan nafsu makan.

Daun dikenal bersifat diuretik, pelancar air seni pada penderita gonorrhoe, penyakit kelamin yang disebabkan oleh bakteri Neisseria Gonorrhoeae. Herbalis juga meresepkan daun kelor untuk menangani diabetes mellitus, panas dalam, anemia, dan memperlancar air susu ibu. Rebusan bunga kelor membantu mengatasi radang tenggorokan. Getahnya di Afrika dipakai untuk mengobati penyakit raja singa atau sifilis. Peternak di Sumedang, Jawa Barat, memakai kelor untuk mengobati penyakit cacingan pada kambing, domba, dan sapi. Caranya daun kelor dibakar lalu dicampur dengan air dan diminumkan pada ternak.

Aktivitas farmakologis

Penolak nyamuk: Pada tahap pupal, ekstrak metanol kelor menunjukkan LC50 dan LC90 67,77 ppm dan 141,00 ppm. Penelitian membuktikan kandungan fitokimia ekstrak biji kelor efektif sebagai agen kontrol vektor nyamuk.

Lever fibrosis: Penelitian dilakukan untuk mengetahui efek ekstrak biji kelor pada lever fibrosis. Lever fibrosis diinduksi dengan pemberian oral 20% karbon tetraklorida (CCI4), dua kali sepekan selama 8 pekan. Secara simultan, ekstrak biji kelor (1 g/kg) secara oral diberikan per hari. Hasil biokimia dan histologis menunjukkan moringa mengurangi kerusakan lever juga gejala lever fibrosis.

Pemberian ekstrak biji moringa menurunkan kenaikan CCI4-induced aktivitas serum aminotransferase dan level globulin. Peningkatan kandungan hepatic hydroxyproline dan aktivitas myeloperoxidase juga menurun dengan perlakuan moringa. Ekstrak biji kelor menunjukkan efek penghambatan signifikan pada radikal bebas 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl. Aktivitas superoxide dismutase serta kandungan malondialdehyde maupun protein carbonyl, yang merupakan penanda stres oksidatif, berbalik setelah perlakuan kelor. Hasil menunjukkan ekstrak biji kelor dapat berperan melawan cedera lever yang disebabkan induksi CCI4 dan fibrosis pada tikus dengan mekanisme terkait kandungan antioksidan, efek antiinflamasi, dan kemampuannya untuk melemahkan aktivasi sel stellate hepatik.

Antioksidan: Analisis fitokimia menemukan kandungan tanin, flavonoid, steroid, dan alkaloid. Nilai LC50 diperoleh pada 850 µg/ml untuk ekstrak petroleum eter, 800 µg/ml untuk ekstrak kloroform, dan 900 µg/ml untuk ekstrak metanol. Kandungan fenol total ekstrak metanol 50,72% w/w, ekuivalen dengan asam galat. Ekstrak petroleum eter, kloroform, dan metanol kelor serta standar asam askorbat ditemukan memburu radikal DPPH dengan IC50 124,75; 112,08; 54,34; dan 13,86 µg/ml. Ekstrak metanol terbukti menjadi pemburu yang baik bagi radikal DPPH. Ekstrak metanol dari fraksi larut petroleum eter, kloroform, etil asetat kelor serta asam askorbat terbukti menjadi pemburu radikal nitrit oksida dengan IC50 93,32; 65,12; 54,83; dan 12,59 µg/ml sehingga dapat disimpulkan ekstrak kasar kelor berpotensi sebagai sumber antioksidan alami.

Urolitiasis: Efek pemberian oral ekstrak air dan alkohol kulit akar kelor pada urolitiasis kalsium oksalat dipelajari pada tikus albino wistar jantan. Pemberian etilen glikol menghasilkan hyperoxaluria juga peningkatan ekskresi renal kalsium dan fosfat. Suplementasi dengan ekstrak alkohol dan air kulit akar kelor secara signifikan mengurangi peningkatan urinari oksalat, menunjukkan aksi pengaturan pada sintesis oksalat endogenous. Peningkatan deposisi kandungan yang membentuk batu pada ginjal tikus calculogenic secara signifikan menurun dengan perlakuan kuratif dan preventif menggunakan ekstrak air dan alkohol. Hasil mengindikasikan kulit akar kelor memiliki aktivitas antiurolitiatik alias menghambat pembentukan batu ginjal.

Antioksidan: Dengan menggunakan sistem model oksidase xanthine, semua ekstrak menunjukkan aktivitas antioksidan in vitro kuat dengan konsentrasi penghambatan 50% (IC50) 16, 30, dan 38 µl untuk akar, daun, dan kulit kayu. Kapasitas pemburu radikal diobservasi ketika ekstrak dievaluasi dengan sistem model uji 2-deoxyguanosine, dengan IC50 40, 58, dan 72 µl untuk ekstrak metanol daun, batang, kulit akar.

Hepatoprotektor: Khasiat daun kelor sebagai pelindung hati telah diuji secara praklinis. Sebanyak 15 ekor tikus dibagi dalam 3 kelompok, masing-masing terdiri dari 5 ekor. Kelompok I sebagai kontrol diberi perlakuan air suling. Kelompok II kontrol negatif diberi induksi 1 g parasetamol per kg bobot tubuh. Kelompok III induksi parasetamol 1 g per kg bobot tubuh dan 500 mg per kg bobot tubuh ekstrak daun kelor selama 10 hari. Pemberian parasetamol menyebabkan kerusakan organ hati. Hasilnya, kelompok yang diberi ekstrak daun kelor menunjukkan gejala nekrosis sel hati lebih sedikit dibanding grup lain. Ini artinya ada aktivitas hepatoprotektor dari ekstrak daun kelor. Diduga kandungan fenol, kumarin, lignan, minyak esensial, monoterpen, karotinoid, glikosida, flavonoid, asam organik, alkaloid, dan xanthenes berperan besar dalam melindungi hati dengan cara memperbaiki fungsi sel-sel hati.

Immunomodulator: Penelitian menginformasikan bawha daun kelor sanggup meningkatkan sistem kekebalan tubuh tikus putih yang disuntik obat kanker golongan chyclophospami 30 mg/kg. Secara umum kekebalan tubuh tikus mengalami penurunan setelah disuntik obat tersebut. Pengamatan menunjukkan tikus yang lemas karena disuntik chyclophospami kembali pulih jika disertai pemberian ekstrak daun kelor 125 mg/kg, 250 mg/kg, dan 500 mg/kg bobot tubuh. Tiga dosis itu secara signifikan menambah jumlah sel darah putih dan persentase neutrofil tikus sehingga meningkatkan kekebalan tubuh. Daun kelor memang kaya vitamin A, vitamin B, kalsium, besi, kalium, saponin, dan beragam asam amino yang telah diketahui bisa mendongkrak sistem imun.

Daun kelor memang kaya nutrisi. Sebuah penelitian di Burkina Faso, Afrika Barat, mendapati fakta peran daun tanaman asli India itu dalam memperbaiki gizi dan memicu sistem kekebalan tubuh alami anak-anak pengidap HIV dan malnutrisi di daerah itu.

Hipokolesterolemik (penurun kolesterol): Penelitian di Banglades berhasil membuktikan ekstrak daun kelor menghasilkan efek sebanding atenolol – obat hipertensi dan penyakit jantung – dalam menurunkan kadar lemak darah pada tikus. Disamping itu kadar gula darah dan bobot badan tikus percobaan ikut mengalami penurunan. Pada penelitian ini, efek penurunan kadar kolesterol juga ditunjukkan ketika menggunakan hewan percobaan kelinci. Kadar serum kolesterol, lemak dalam hati, jantung, dan aorta pada kelinci yang diberi asupan buah kelor 200 g/kg bobot badan/hari terbukti turun.

Sebuah riset lain di India yang dilakukan pada pasien memperkuat fungsi kelor sebagai agen penurun kolesterol. Dalam riset itu 20 pasien hiperlipidemia diberi 8 tablet daun kelor yang setara dengan 4,6 g serbuk daun kelor setiap hari selama 50 hari. Sebagai pembanding, 20 pasien lain tidak diberi ekstrak daun kelor. Hasil pengamatan menunjukkan kadar kolesterol total pada pasien yang mengonsumsi daun kelor mengalami penurunan rata-rata 3,14 mg/dl sementara pada kelompok pembanding hanya 1,65 mg/dl.13

Hipoglikemik (penurun gula darah): Kelor juga terbukti dapat mengatasi diabetes mellitus. Ekstrak kelor ternyata lebih baik dalam menurunkan kadar gula darah dibanding Glipizide, obat kencing manis yang biasa direkomendasikan dokter. Dalam penelitian, tikus diabetes mellitus semula memiliki kadar gula darah 300 g/dl. Namun setelah diberi 300 mg ekstrak daun kelor, kadar gula darah puasa 90 g/dl pada hari ke-21.

Resep Penurun Gula Darah

Cara membuat

Rebus segenggam (30 g) daun kelor dalam 3 gelas air hingga mendidih, dan tersisa 1 gelas. Air rebusan diminum sekaligus. Frekuensi konsumsi 3 kali sehari.

Resep Pegal-pegal

Bahan

– Daun kelor Moringa oleifera 100 g
– Garam sedikit

Cara membuat

Daun kelor bersama-sama dengan garam dihaluskan kemudian dioleskan ke bagian tubuh yang pegal.

Resep Peningkat Nafsu Makan

– Daun kelor Moringa oleifera 1/4 sdt
– Daun beluntas Pluchea indica 1 sdt
– Daun meniran Phyllanthus niruri 1/2 sdt
– Rimpang temulawak Curcuma zanthorrhiza 1 sdt

Cara membuat

Semua bahan direbus dalam dua gelas air hingga mendidih. Bagi ramuan menjadi dua gelas untuk diminum pagi dan sore hari. Dinginkan ramuan hingga endapan mengumpul di bawah kemudian minum segelas ramuan perlahan agar endapan tidak kembali tercampur.

Resep Hepatitis

Cara membuat

Sebanyak 15 gram daun kelor ditambah sedikit temulawak dan sambiloto direbus dalam 600 ml air hingga mendidih selama 15 menit. Saring ramuan kemudian minum 2-3 kali sehari masing-masing 300 ml setara 1 gelas. Untuk mengurangi rasa pahit dapat juga ditambahkan madu. Anak-anak usia 5—7 tahun juga dapat minum ramuan kelor dengan dosis setengah dosis orang dewasa.

Resep Mata Bengkak dan Pandangan Kabur

Cara membuat

Serbuk daun kelor Moringa oleifera sebanyak 20 gram direbus dalam 3 gelas air. Minum air rebusan itu 3 kali sehari selama sekitar 2 pekan.

Resep Batu ginjal

Cara konsumsi

Olahlah daun kelor menjadi sayur bening dan konsumsi sebanyak satu kali sehari. Kurang lebih sebulan setelah mengonsumsi sayur daun kelor, pada saat buang air kecil anda akan sering melihat butiran kecil seperti pasir berwarna putih ikut keluar bersama air seni. Nyeri pinggang pun berkurang.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: