Mengenal Pohon Kamboja dan Berbagai Manfaatnya

October 31, 2014

pohon kamboja

Nama latin: Plumeria acuminata

Nama lokal: Semboja, kamboja (Jawa); samoja, kamoja (Sunda); pandam (Minangabau); campaka bukul, campaka sabakal, campaka malja (Madura); bunga jebun (Bali); capaka kubu (Tidore); saja kolocucu (Ternate); bunga uwae mawara, bunga tampung (Bugis)

Nama asing: Kalachuche, kaiasusi, kalatsutsi (Filipina); frangipani, pagoda tree (Inggris); flor de mayo (Meksiko); perungalli, champa, chafa, temple tree (India); dead man’s fingers (Australia); champa (Laos); plumeria, melia (Hawai); araliya (Srilanka); calachuchi (Thailand); mian zhi zi (Cina)

Ikhtisar

Nama genus Plumeria berasal dari nama botanis asal Prancis yang bepergian ke Dunia Baru dan mendokumentasikan beragam spesies flora fauna pada abad ke-17, Charles Plumier. Di dunia, kamboja dikenal dengan sebutan frangipani yang merujuk pada nama yang diberikan seorang bangsawan Italia yang menemukan parfum beraroma plumeria. Plumeria yang asli Amerika Tengah, Meksiko, Karibia, dan Amerika Selatan itu kini tumbuh menyebar di daerah tropis. Genus Plumeria mengalami revisi nama menjadi Plumeria rubra, Plumeria obtusa, dan hibridnya, Nama acuminata, acutifolia, dan lutea dimasukkan ke dalam Plumeria rubra. Plumeria acuminata yang berubah menjadi Plumeria rubra forma acutifolia berbunga berwarna putih hingga kuning. Plumeria rubra forma lutea berwarna kuning dengan semburat merah muda. Nama lainnya Plumeria rubra forma acutifolia. Termasuk bangsa Gentianales, suku Apocynaceae.

Sosok

Tanaman: Membentuk pohon kecil dengan tinggi 3-7 m. Batang halus dan berkilau. Batang sukulen – menyimpan banyak air. Mengandung getah seperti susu yang lengket dan dapat menimbulkan iritasi bila terkena mata dan kulit. Kayunya putih kekuningan dan lembut. Percabangan tebal dan berdaun di bagian ujung.

Daun: Tumbuh mengumpul pada ujung terminal cabang, bentuk bulat memanjang 20-40 cm. Lebar sekitar 7 cm tersusun spiral pada akhir cabang.

Bunga: Biseksual (bunga sempurna), beraroma wangi. Warna putih dengan bagian tengah dalam berwarna kuning. Bunga hibrida banyak berwarna paduan merah. Panjang 5-6 cm.

Buah: Linear – bulat memanjang atau elips dengan ujung lancip. Panjang 15-20 cm dengan diameter 1,5-2 cm.

Biji: Banyak dan bersayap.

Kandungan kimia

Kulit kayu mengandung glukosida irridoid. Daun mengandung stigmast-7-enol, lupeol carboxylic acid, lupeol acetate, ursolic acid. Dari akar berhasil diisolasi fulvoplummierin, plumericin, beta-dihydroplumericin, beta-dihydropluericinic acid. Batang mengandung minyak esensial yang terdiri dari geraniol, citronella, farnesol, phenylethyl alohol.

Pemanfaatan Bunga Kamboja

Serupa dengan di Indonesia, di India kamboja yang berwarna putih identik dengan kematian dan pemakaman. Di Filipina, pohon kamboja juga ditemui tumbuh di wilayah pemakaman. Namun, karena kecantikan bunganya, tidak jarang bunga yang dijuluki temple tree itu dipergunakan sebagai tanaman hias seperti yang terlihat di tempat peribadatan umat hindu di Bali. Bunga juga dijadikan hiasan riasan tradisional adat Bali hingga bunga pelengkap janur dan dekorasi. Di Cina bunganya kadang dibuat manisan. Di Jawa kulit batangnya untuk mengobati kaki pecah-pecah. Air seduhannya untuk merendam kaki yang bengkak. Seluruh bagian tumbuhan penuh getah putih, orang dahulu mengoleskannya pada gusi yang sakit karena gigi berlubang. Getah juga dioleskan pada luka bengkak agar bengkaknya cepat matang dan mata intinya dapat keluar. Di Madura kamboja dipakai sebagai pencahar. Pasta yang berasal dari akar yang dihancurkan secara topikal diaplikasikan untuk meningkatkan laktasi pada ibu menyusui. Pasta akar juga diaplikasikan untuk mencegah nanah pada luka terbuka. Di Meksiko, dekoksi (air rebusan) bunganya dipakai untuk mengatasi diabetes. Sedangkan di Yukatan, getahnya digunakan untuk obat sakit gigi.

Aktivitas farmakologis

Antikanker: Penelitian bertujuan menginvestigasi sitotoksik dan efek apoptosis saponin yang berasal dari pohon kamboja pada sel karsinoma sel skuamosa oral (OSCC). OSCC ditempatkan pada 2 x 104 sel/well dalam sebuah 96-well plate diberi perlakuan dengan saponin dari pohon kamboja dan cisplatin dalam konsentrasi berbeda selama 24 jam. Uji eksklusi Trypan blue dye dan ethidium bromide/ acridine orange masing-masing digunakan untuk mengevaluasi sitotoksisitas dan efek apoptosis pada sel. Hasil menunjukkan baik saponin dan cisplatin memiliki efek sitotoksik dan apoptosis pada OSCC. Saponin yang berasal dari pohon kamboja dapat berpotensi sebagai agen antikanker untuk OSCC.

Antiinflamasi: Ekstrak metanol daun kamboja menunjukkan aktivitas antiinflamasi secara nyata. Hasil maksimal dicapai pada dosis 500 g/kg BB yang diberikan pada tikus yang mengalami inflamasi akibat induksi karagenan.

Antipiretik dan antinosiseptif: Ekstrak metanol daun pada beberapa dosis (100, 250, dan 500 mg/kg bobot tubuh tikus) menunjukkan aktivitas antipiretik (penurun demam) dan antinosiseptif (penghilang rasa sakit) yang signifikan. Ekstrak juga menunjukkan kemampuan yang sama dengan parasetamol dosis 100 mg/kg BB. Aktivitas pengurang rasa sakit diduga terjadi karena kemampuan daun kamboja mengurangi peradangan.

Antioksidan: Aktivitas antioksidan memperlihatkan peningkatan nyata seiring kenaikan dosis ekstrak metanol daun kamboja. Dosis yang diujicobakan berkisar antara 50, 100, 200, 300, 400, dan 500 µg.

Antimikrob: Ekstrak metanol daun kamboja diujikan pada beberapa jenis bakteri: gram positif (Bacillus subtilus, Staphylococcus aureus, dan Micrococcus luteus) dan gram negatif (Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, dan Salmonella typhimurium). Ternyata ekstrak pada konsentrasi 250 µg/ml dan 1.000 µg/ml menunjukkan aktivitas penghambatan pada semua bakteri kecuali S. typhimurium. Ekstrak bersifat netral terhadap M. luteus, E. coli, dan P. aeruginosa.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: