Mengenal Penyakit Herpes Pada Anak

March 30, 2014

penyakit herpes

Virus yang tergolong dalam kategori dDNA (double stranded DNA/ mempunyai rantai ganda DNA) adalah: Adenovirus, Hepadna (Hepatitis B), Herpes, Papova virus (Human Papilloma virus/ HPV) dan Pox virus (virus cacar). “Keluarga” Herpes sendiri terbagi lagi menjadi Herpes Simplex Virus(HSV, tipe 1 dan 2), VZV (Varicella Zoster Virus), EBV (Epstein Barr Virus), CMV (CytoMegalo Virus), KSHV (virus penyebab Kaposi sarcoma pada penderita AIDS).

Dari penjelasan di atas nampak jelas perbedaannya, bahwa Herpes Simpleks disebabkan oleh HSV itu sendiri (Herpes Simplex Virus) yang penyebarannya melalui kontak langsung (termasuk seksual), sedangkan Herpes Zoster disebabkan oleh VZV (Varicella Zoster Virus) yang penyebarannya terjadi melalui jalur pernafasan (seperti penularan flu dan batuk pilek).

Pada bayi baru lahir, infeksi Herpes Simpleks terjadi selama persalinan dari kontak langsung saluran kelahiran sang ibu yang sudah mempunyai luka infeksi. Hal ini disebut infeksi perinatal yang bisa menyebar hingga selaput otak dan akibatnya fatal bila daya tahan menjadi sangat rendah. Varicella Zoster Virus bila menginfeksi bayi di dalam rahim dapat mengakibatkan cacat tubuh. Sesuai dengan namanya, Varicella Zoster Virus, maka sebelum terkena Herpes Zoster seseorang biasanya terkena Varicella-nya terlebih dahulu (Varicella = cacar air).

Infeksi virus pada bayi dan anak-anak perlu mendapat perhatian serius, karena kelompok keluarga Herpes ini memberikan penyulit di kemudian hari, bukan hanya sekadar apa yang tampak di permukaan kulit.

Pada penelitian yang pernah diselenggarakan dengan melibatkan 243 kasus terbukti bahwa konsumsi buah segar sangat berhubungan dengan penurunan risiko berkembangnya herpes zoster. Mereka yang mengonsumsi kurang dari seporsi buah per hari mempunyai risiko tiga kali lebih besar dari yang makan lebih dari tiga porsi per harinya.

Masa usia 6 bulan hingga 24 bulan adalah masa peralihan dari ASI eksklusif menjadi makanan padat saja, ketika genap usia 2 tahun. Itulah sebabnya usia 6 bulan kita memperkenalkan MPASI (Makanan Pendamping ASI), hingga secara berangsur bayi meninggalkan susunya karena sudah tidak mencukupi kebutuhan gizinya lagi. Bayi sepenuhnya bergantung pada makanan padat yang dikunyah memasuki usia 24 bulan.

Kesalahan didik dalam pola makan atau stimulasi refleks bayi yang belum terintegrasi sempurna (tidak menyusu pada ibunya dan tidak melalui Inisiasi Menyusu Dini) mengakibatkan anak bermasalah dalam mengonsumsi makanan padat. Namun ini tentu bisa dikoreksi dengan bimbingan terapis. Bila orang tua masih mengandalkan sepenuhnya pada susu, maka anak semakin tidak bisa melepaskan ketergantungan pada susu dan malnutrisi mulai muncul. Malnutrisi bukan berarti anak kurus atau nampak busung lapar, tapi yang jauh lebih berbahaya: anak nampak gemuk dengan risiko obesitas serta gangguan pembuluh darah maupun hormonal di kemudian hari. (Baca juga Obesitas Pada Anak: Dari Sini Masalah Muncul)

Sangatlah menyesatkan bila susu dianggap mampu memenuhi gizi anak di usia tumbuh kembangnya saat ia harus melepaskan diri dari makanan cair. Kita tidak perlu jadi anti susu formula, tapi marilah mempromosikan hidup sehat selaras alam dan kodrat – dan ini adalah “pilihan bebas”, bukan paksaan. Sedangkan mereka yang menciptakan susu formula pastinya punya kepentingan sendiri. Investasi yang tidak murah memang, tapi jadi masalah bila kesehatan anak jadi taruhannya.

Di atas usia 2 tahun, gizi yang sehat seimbang berasal dari karbohidrat, protein dan lemak yang didapatkan dari makanan padat.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: