Mengenal Penyakit Alzheimer dan Demensia

October 12, 2014

penyakit alzheimer

A. Penyakit Alzheimer

Dr. Aloysius Alzheimer (1864-1915) adalah seorang dokter berkebangsaan Jerman, yang sekaligus seorang psikiater dan neuropathologist. Ialah yang menemukan simtom Alzheimer (baca alsaimer).

Dr. Aloysius Alzheimer pertama kali mengidentifikasi penyakit ini pada tahun 1906. Ia menjelaskan bahwa ada pembuluh darah arteri di otak besar yang menyempit (ischemic) atau tersumbat (terjadi plak, infarct) pada penderita Alzheimer; karena itu, sebagian sel otak di terusan pembuluh darah yang tersumbat itu tidak mendapatkan darah segar dan oksigen (02) yang cukup. Akibatnya, sebagian sel otak mati, atau terjadi degenerasi sel otak karena dimakan usia. Sehingga lama-kelamaan volume otak mengecil dan menjadi relatif lebih kecil dibandingkan dengan volume otak yang normal. Inilah yang disebut athrophy otak besar. Dengan kondisi seperti ini, orang sudah mulai gampang lupa dan mempunyai masalah memori. Simtom semacam itu bisa dikatakan merupakan gejala awal Alzheimer.

Serangan penyakit Alzheimer ditandai dengan hilangnya kemampuan berpikir secara bertahap, hingga akhirnya mengalami cacat mental total. Gejala awal Alzheimer adalah mudah lupa pada hal-hal yang sering dilakukan dan hilangnya kemampuan memahami hal-hal yang baru. Penderita juga mengalami disorientasi waktu dan kesulitan dalam menjalankan fungsi kognitif yang kompleks, seperti menghitung matematika dan mempelajari hal-hal baru seperti mengirim sms atau e-mail.

Alzheimer berat ditandai dengan hilangnya daya ingat dan perkembangannya yang progresif. Penderita penyakit ini mengalami kesulitan dalam menjalankan aktivitas rutin; mengalami disorientasi tempat, orang, dan waktu; serta mengalami masalah dalam merawat diri sendiri, misalnya lupa mengganti pakaian dan sering buang air besar di celana. Penderita penyakit ini biasanya juga mengalami perubahan tingkah laku seperti depresi, paranoia (penyakit kecurigaan, ketakutan, atau kekecewaan), atau menjadi agresif. Orang dengan riwayat keluarga Alzheimer mempunyai risiko mengalami gejala seperti itu, dan risiko tersebut akan semakin meningkat apabila kedua orangtuanya juga mengidap Alzheimer (faktor genetik).

Alzheimer adalah penyakit yang progresif dan degeneratif. Penyakit ini dapat merusak sebagian sel otak. Simtom Alzheimer adalah pelupa, sulit mengingat sesuatu, dan sulit membuat suatu keputusan. Sampai kini belum ditemukan metode untuk menghentikan gejala penyakit Alzheimer, dan juga belum diketahui secara persis apa penyebabnya. Namun, para peneliti kedokteran neurologi telah mengindentifikasi faktor risiko yang berhubungan dengan Alzheimer, yaitu hal-hal berikut ini.

(1) Faktor risiko utama adalah usia tua. Orang yang sudah mencapai usia lanjut, semua sel organ tubuhnya, tanpa terkecuali, sudah mengalami degenerasi, termasuk organ otak. Jadi, sudah pasti faktor risiko Alzheimer adalah bertambahnya usia, dan lebih parah lagi bagi orang yang menderita tekanan darah tinggi, stres, dan kegemukan (obesitas).

(2) Faktor genetik juga memegang peran dalam penyakit ini, meskipun persentasenya tidak besar. Risiko faktor genetik kemungkinan bisa lebih menambah simtom. Meskipun begitu, tidak bisa menjamin bahwa seseorang pasti akan terkena Alzheimer.

(3) Penelitian sedang giat mencari kemungkinan faktor-faktor penyebab lainnya, seperti penyakit yang sedang diderita atau kondisi tertentu yang sedang dirasakan pasien — misalnya terkena infeksi, tak sengaja menghirup racun polutan lingkungan — atau faktor pendidikan dan pola hidup, seperti kecanduan alkohol dan merokok, mengonsumsi makanan yang tidak sehat, dan tidak suka berolahraga.

Iklan beberapa produk obat yang beredar di pasaran mengklaim mampu mengobati beberapa simtom penyakit Alzheimer. Obat-obatan tersebut sama sekali tidak mampu menghentikan perkembangan penyakit ini. Lebih baik berkonsultasi pada dokter spesialis, apakah ada obat yang cocok untuk penyakit Alzheimer.

Berdasarkan pengalaman klinis para pakar neurologi, kebanyakan penyakit Alzheimer berkembang secara bertahap, pelan, namun juga progresif. Masa perkembangan penyakit ini umumnya 7-10 tahun. Tetapi ada beberapa orang yang bisa bertahan lebih lama lagi.

B. Penyakit Demensia

Apa itu penyakit demensia (dementia)? Kata “dementia” (baca dimensia) berasal dari bahasa Latin, “de” artinya “berpisah” (apart), “mentia” artinya “pikiran” (mind). Di Indonesia, penyakit ini lazim disebut “pikun”. Demensia adalah suatu kondisi menurunnya fungsi kesadaran (cognitive function) sehingga kemampuan memproses pikiran (intelegentia) rusak secara progresif. Arti progresif di sini adalah gejalanya akan berkembang semakin cepat dan memburuk.

Demensia adalah simtom yang non-spesifik. Simtom ini memengaruhi sebagian area fungsi otak yang bisa mengakibatkan hilangnya ingatan (memori), menurunnya kemampuan berbahasa, dan melemahnya kemampuan “problem solving” serta atensi kepada sesuatu hal. Bila dilihat dari simtom penyakit ini, demensia jelas tidak sama dengan Alzheimer. Jika seseorang terkena penyakit demensia stadium lanjut, ia akan kehilangan kemampuan untuk mengingat hari atau bulan atau tahun, untuk mengenali tempat di mana dia berada, untuk mengenal orang-orang di sekitarnya termasuk istri atau suami atau bahkan anaknya. Mantan presiden Amerika Serikat, Ronald Reagan, di masa tuanya juga menderita demensia.

Simtom demensia lebih umum dan jelas sekali terjadi pada orang berusia lanjut. Namun, penyakit ini bisa saja mengenai orang dewasa di segala usia.

Simtom demensia yang sering ditemukan oleh neurolog adalah:

1. Hilang ingatan (memory loss). Pasien bisa lupa jalan pulang ke rumahnya, misalnya dari pergi berbelanja. Ia bisa lupa nama dan tempat yang dulu dikenalnya. Ia juga sulit mengingat aktivitas apa saja yang sudah dilakukannya, misalnya ia lupa bahwa ia sudah makan atau merasa belum makan dan minta makan lagi.

2. Pasien semakin sering merasa gelisah, ini dikarenakan sel-sel sebagian otak yang mengontrol emosi sudah rusak (damage). Kegelisahan ini juga bisa berubah menjadi ketakutan dan kekhawatiran. Pasien ini bisa selalu merasa ketakutan akan hal-hal yang bisa terjadi pada dirinya.

3. Pasien menjadi sulit berkomunikasi karena kesulitan berbicara, membaca, dan menulis.

Penyakit demensia bisa berkembang secara progresif, sampai menyebabkan hilangnya kemampuan melakukan pekerjaan rutin dan tidak mampu lagi merawat diri sendiri.

Stroke adalah masalah penyempitan pembuluh darah di otak yang terjadi karena adanya penyumbatan. Sel otak tidak bisa hidup bila tidak disuplai darah segar dan oksigen (02). Jika suplai darah terhambat atau terhenti, sel otak bisa mati. Ini yang juga bisa menjadi penyebab awal simtom demensia. Simtom ini bisa timbul secara tiba-tiba atau bertahap. Pada kasus stroke berat (major stroke) akan timbul simtom demensia secara tiba-tiba. Sedangkan pada kasus stroke ringan (minor stroke) tidak akan terjadi simtom demikian.

Para peneliti dari University of California, dalam majalah Archives of Neurology, terbitan Oktober 2012, melaporkan bahwa orang-orang berusia lanjut — lebih dari 90 tahun — sangat minim melakukan gerakan fisik. Oleh karena itu, mereka memiliki risiko lebih tinggi terkena simtom demensia. Laporan itu didasarkan pada hasil pengamatan terhadap orang-orang berusia lanjut saat mereka sedang mengontrol keseimbangan, berjalan kaki, bangkit dari kursi, berdiri, dan memegang barang.

Kebanyakan kasus penyakit demensia tidak bisa disembuhkan. Para peneliti menganggap selain terapi dengan obat-obatan, pengobatan dengan melatih kesadaran (cognitive) dan kelakuan (behaviour) pasien demensia juga bermanfaat untuk meringankan gejalanya. Dalam beberapa penelitian telah ditemukan bahwa terapi musik dapat membantu meringankan simtom demensia. Yang juga penting diingat oleh para pengawas atau perawat pasien demensia adalah memberikan latihan dan dukungan emosional kepada penderita demensia.

Para peneliti dari Rush University dan Illinois Institute of Technology melaporkan dalam Pertemuan Ilmiah (Scientlfic Assembly) ke-98 dan pertemuan tahunan Radiological Society of North America (RSNA) di Chicago, November 2012, bahwa aktivitas sederhana seperti main game, menyusun puzzles, membaca, dan menulis, berguna untuk mempertahankan kesehatan organ otak yang sudah menua.

Pemimpin peneliti, Konstantinos, mengatakan bahwa membaca koran, menulis surat, mengunjungi perpustakaan, bermain catur atau menonton orang main catur, semua aktivitas sederhana itu bisa memberi kontribusi untuk kesehatan otak.

Penulis naskah kerja ini mengundang 152 orang yang usianya rata-rata 81 tahun. Dia melaporkan bahwa 12 bulan sebelumnya mereka telah melibatkan diri dalam aktivitas mental (mental activities), seperti bermain kartu, mengikuti game, menulis surat, membaca majalah dan koran, menyusun puzzles, dan sebagainya. Mereka semua kemudian dievaluasi secara klinis, dan ditemukan bahwa tidak ada satu pun dari mereka yang mempunyai tanda-tanda demensia, atau kerusakan kesadaran yang ringan sekalipun.

Lewat pemeriksaan MRI brain scan yang dilakukan terhadap orang tua yang telah melewati periode 12 bulan mengikuti aktivitas mental tersebut, para peneliti menemukan bahwa aktivitas mental berhubungan erat dengan hasil positif untuk kesehatan otak.

Di wilayah Tiongkok Daratan ditemukan banyak centenarian (orang yang berumur 100 tahun ke atas) yang tidak menderita demensia. Hobi mereka adalah menulis kaligrafi, bermain alat musik tradisional, bermain majong, bermain catur, mengobrol bersama sambil minum teh, aktif bekerja di ladang, dan melakukan aktivitas lainnya.

Para peneliti dari University of Navarra, Spanyol, dalam laporannya di Journal of Neurology Neurosurgery and Psychiatry edisi May 2013, mengatakan bahwa Mediterranean diet ditambah dengan campuran biji-bijian (mixed nuts) atau minyak zaitun (olive oil), dianggap mampu menurunkan risiko terkena demensia.

Minyak zaitun murni (virgin olive oil) adalah minyak utama dalam Mediterranean diet. Komposisi menu diet ini mencakup sejumlah besar buah-buahan, sayur-sayuran, biji-bijian, kacang-kacangan, sedikit ikan dan makanan laut (seafood), serta anggur merah (red wine), ditambah sedikit sekali daging merah dan produk susu (dairy products).

Suatu penelitian yang dipublikasikan di majalah The Lancet pada tahun 2005 mengatakan bahwa jumlah penderita demensia di dunia diperkirakan mencapai 24,3 juta orang pada tahun 2005, dan berbarengan dengan itu, muncul 4,6 juta kasus baru setiap tahunnya. Jumlah penderita demensia akan berlipat ganda pada setiap dua dekade berikutnya, dan diperkirakan akan mencapai 81,1 juta pada tahun 2040. Di negara berkembang yang memiliki “harapan hidup” tinggi, perkembangan persentase penyakit demensia lebih cepat.

Sel otak yang sudah rusak tidak mungkin akan kembali normal (irreversible). Maka, penyakit demensia tidak akan bisa disembuhkan. Hanya bisa diusahakan agar tidak menjadi lebih parah lagi. Beberapa penyebab penyakit demensia bisa disembuhkan, seperti kondisi kelenjar thyroid yang bermasalah atau kekurangan vitamin.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: