Mengenal Patikan Kebo dan Berbagai Manfaatnya

September 17, 2015

patikan kebo

Nama latin: Euphorbia hirta

Nama lokal: Nanangkaan, si gendong anak (Sunda); kukon-kukon, patikan kebo, patikan jawa (Jawa); kak sekaan (Madura); sosononga, lobi-lobi (Halmahera, Maluku)

Nama asing: Hairy spurge, garden spurge, australian asthma weed (Inggris, Amerika); dafeiyangcao, fei yang cao (Cina); amanpat chaiarisi (India); gelang susu, ambin jantan, kelusan, keremak susu (Malaysia); tawa-tawa (Filipina)

Ikhtisar

Tumbuh di tempat terbuka, di antara celah bebatuan, di kawasan tropis hingga ketinggian 1.400 m dpl. Di Indonesia, tanaman patikan kebo banyak terdapat di sela-sela tanaman, semak-semak di pinggir jalan atau selokan. Tanaman yang biasa ditemui tumbuh subur bersama rumput liar itu berkembang biak melalui biji.

Pemanfaatan Patikan Kebo

Di Filipina tanaman anggota suku Euphorbiaceae dari bangsa Malpighiales itu digunakan sebagai obat demam berdarah. Penduduk komunitas Santai di India, menggunakan tanaman ini untuk mengatasi luka di kepala. Sementara penduduk di India yang tinggal di sekitar Taman Nasional Kaziranga, mengonsumsinya sebagai sayuran. Studi lainnya menyatakan daun patikan kebo dimanfaatkan untuk obat mag (antiulcer) oleh penduduk di Distrik Tamil Nadu, India. Di Australia dan Brasil digunakan sebagai obat penyakit asma. Ilmu pengobatan Cina menggunakan patikan kebo antara lain untuk mengatasi disentri, hematuria-urine mengandung sel darah merah, dan abses pulmonal-kematian patologis satu atau lebih sel, sebagian jaringan, atau organ dalam paru.

Sosok

Tanaman: Batang pendek berbuku-buku. Tinggi mencapai 30 cm dengan diameter 3-7 mm.

Daun: Bulat memanjang, dengan duduk daun berhadapan. Bentuk lanset. Ujung tumpul atau meruncing. Pertulangan daun menyirip. Permukaan atas dan bawah daun berbulu. Panjang daun 3-5 cm. Warna daun hijau keunguan.

Bunga: Muncul di ketiak daun. Ukuran sangat kecil, dengan mahkota bunga sekitar 1 mm, tetapi sangat banyak, membentuk bola kecil. Uniseksual. Bunga yang mekar berwarna semburat merah muda.

Buah: Kapsul. Berbentuk bulat telur, berambut. Panjang 1-1,5 mm. Buah berwarna hijau kecokelatan.

Biji: Berwarna cokelat.

Akar: Serabut.

Aktivitas farmakologis

Antidiabetes: Ekstrak etanol daun, bunga, dan batang dengan dosis 250 dan 500 mg/kg yang diujikan selama 21 hari pada mencit diabetes yang diinduksi streptozotocin (STZ) menunjukkan penurunan signifikan level glukosa darah. Level serum kolesterol, trigliserida, kreatinin, urea, dan alkaline phosphatase menurun secara signifikan pada pemberian semua jenis ekstrak dan glibenklamid-obat standar untuk diabetes. Namun, level HDL atau high density lipoprotein dan total protein meningkat setelah perlakuan. Studi menunjukkan patikan kebo memiliki efek antidiabetes, tetapi senyawa yang mengacu pada aktivitas itu belum diketahui.

Antibakteri: Tanaman patikan kebo yang dibuat bubuk kemudian diekstrak menggunakan 3 pelarut: metanol, heksana, dan air distilasi. Ekstrak air menunjukkan hasil lebih tinggi dan efektivitas antibakterialnya lebih tinggi dibandingkan ketika menggunakan pelarut organik. Ekstrak kasar menunjukkan adanya kandungan tanin, saponin, fenol, flavonoid, kardiak glikosida, antrakuinon, dan alkalin. Kandungan itu diduga berperan dalam aktivitas antimikrob. Ekstrak diujikan pada Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Shigella dysentriae, Salmonella typhl, dan Proteus mirabilis menggunakan metode well diffusion. Konsentrasi minimum penghambatan (minimum inhibitory concentration/MIC) dan konsentrasi bakterisidal minimum (minimum bactericidal concentration/MBC) berada pada kisaran 25 hingga 100 mg/ml. Penghambatan pertumbuhan semua bakteri berada pada tingkatan yang berbeda-beda. Hal itu menunjukkan kemampuan ekstrak mengatasi infeksi terutama E. coli dan S. thypi.

Diuretik: Daun patikan kebo bersifat diuretik setara dengan acetazolamide dan meningkatkan elektrolit.

Antialergi: Ekstrak etanol patikan kebo 95% mampu menghambat reaksi alergi fase lanjut dan awal berdasarkan uji pada hewan percobaan.

Antelmintik: Penelitian seperti tercantum pada jurnal kedokteran hewan memaparkan keampuhan ekstrak kasar cair patikan kebo sebagai antelmintik yang diujikan pada anjing nigeria. Penelitian menunjukkan adanya penurunan jumlah telur yang terdapat pada feses sehingga dapat dianjurkan sebagai agen antelmintik.

Penghambat Angiotosin Converting Enzyme (ACE): Ekstrak daun dan batang patikan kebo menunjukkan aktivitas penghambatan angiotensin converting enzyme (ACE) atau inhibitor ACE. Inhibitor ACE merupakan obat farmasi yang digunakan dalam perawatan tekanan darah tinggi dan otot jantung lemah. Pada dosis 500 pig dan 160 pg efek penghambatan yang terjadi yaitu 90% dan 50%. Pemberian ekstrak secara intraperioneal sebanyak 10 mg/100 mg bobot tubuh secara signifikan (p<0,05) menurunkan jumlah air yang dikonsumsi tikus. Efek itu berlangsung selama 2 jam.Antitumor: Aktivitas antitumor senyawa yang terdapat pada bagian aerial patikan kebo melawan sel EL-4 (S.C.) dievaluasi pada mencit swiss albino. Riset menunjukkan peningkatan signifikan waktu kelangsungan hidup dan penurunan masa tumor solid pada mencit yang menderita tumor karena adanya kandungan flavonoid patikan kebo.

Antidiare: Kandungan aktif flavonoid dan kuersetin patikan kebo menunjukkan aktivitas antidiare.

Antimikrob: Ekstrak etanol daun patikan kebo mampu menghambat Escherichia coli, Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa, dan Bacillus subtilis dengan nilai MIC (minimum inhibitory concentration) berturut-turut 58,09; 22,55; 57,64, dan 74,61 mg/ml. Pengujian pada Saimonella typhi yang dilakukan Ogbulie JN dan rekan pada penelitian yang sama menunjukkan tidak ada efek antlmikroblal. Ketidakmampuan ekstrak menghambat dimungkinkan karena beberapa bakteri memiliki mekanisme mengubah kandungan yang menghambat pertumbuhan menjadi senyawa yang tidak bersifat toksik. Tes toksikologis menggunakan tikus albino dengan cara suntik intraperitoneal menunjukkan ekstrak tidak bersifat toksik dalam darah. Efek antimlkroblal dimungkinkan dengan adanya kandungan tanin, alkaloid, dan flavonoid. Itu membuktikan bahwa penggunaan patikan kebo untuk bisul, luka, dan mengontrol disentri dan diare sudah tepat.

Penelitian lain yang dilakukan Abubakar EM menunjukkan ekstrak cair seluruh tanaman patikan kebo mampu menghambat Saimonella typhi dengan MIC 50 mg/ml. Selain itu, tes pada bakteri lainnya menghasilkan penghambatan E. coli (50 mg/ml), P. mirabilis (25 mg/ml), S. dysentriae (25 mg/ml), dan K. pneumoniae (50 mg/ml). Aktivitas itu meningkat pada kondisi asam dan suhu meningkat.

Infertilitas: Penelitian pada empat domba jantan dewasa secara seksual dan sehat secara klinis berumur 24-30 bulan menunjukkan adanya efek antifertllitas. Hewan percobaan diberi dosis ekstrak patikan kebo 400 mg/kg BB selama 14 hari. Sampel klinis air mani dikumpulkan sehari setelah pemberian ekstrak dan tujuh hari kemudian. Persentase motilitas-kemampuan untuk bergerak-sperma pada kontrol, saat eksperimen, dan setelah eksperimen berturut-turut 83,0%; 72,5%; dan 47,5%. Rasio hidup/mati selama eksperimen 81,25% signifikan lebih tinggi dibandingkan setelah eksperimen 32,5%, sedangkan kontrol 90,75%. Dapat disimpulkan patikan kebo dapat merangsang oligospermia-air mani mengandung konsentrasi sperma rendah-ditandai berkurangnya motllitas sperma dan persentase kemampuan hidup sperma.

Antimalaria: Menggunakan ekstrak metanol bagian aerial tanaman patikan kebo periset berhasil mengisolasi senyawa flavonol glikosida afzelin, kuersetin, dan myricitrin. Ketiganya menunjukkan penghambatan proliferasi Plasmodium falciparum dengan IC50 1,1; 4,1; 5,4 pg/ml. Selain itu juga dilaporkan adanya aktivitas toksisitas rendah melawan sel karsinoma epidermoid manusia KB 3-1.

Antiinflamasi: Ekstrak n-heksana bagian aerial tanaman patikan kebo yang mengandung triterpen, b-amyrin (1), 24-methylencycloartenol (2), dan b-sitosterol (3) diuji untuk mengetahui efek antiinflamasinya pada mencit. Baik ekstrak dan senyawa triterpen yang terkandung di dalamnya menunjukkan aktivitas antiinflamasi dosis dependen yang signifikan pada model telinga induksi TPA. Hasil juga membuktikan kombinasi dua atau tiga senyawa triterpen memiliki aktivitas antiinflamasi lebih tinggi dibandingkan hanya satu triterpene.

Antioksidan: Ekstrak metanol dan air patikan kebo menunjukkan aktivitas antioksidan yang dapat dibandingkan dengan teh hitam dan teh hijau.

Resep Bronkhitis

Untuk mengatasi penyakit bronkhitis, minum obat secara teratur dan perlu perawatan ketat. Hindari konsumsi minum air es, ikan, dan merokok. Jangan terkena udara dingin dan jaga pikiran agar tetap tenang.

Bahan

Tanaman patikan kebo Euphorbia hirta beserta akarnya 3 tanaman
Bunga cengkih Syzygium aromaticum 7 biji
Biji kemukus Piper cubeba 7 biji
Biji kapulaga Amomum cordamomum 7 biji
Adas manis Foenicuium vulgare 1 sendok teh
Kulit batang kayu manis Cinnamomum burmannii 1 jari
Rimpang jahe merah Zingiber sp 1 jari

Cara membuat

Kupas jahe, cuci, dan tumbuk hingga memar. Rebus semua bahan dalam 4 gelas air hingga mendidih dan tersisa 3 gelas. Angkat, saring, dan minum hasil rebusan 4 kali sehari masing-masing 1/2 gelas sesudah makan setiap pukul 8.00, 13.00, 17.00, dan 20.00. Lakukan selama sebulan.

Resep Paru-paru basah

Pengobatan paru-paru basah harus telaten dan rutin. Minum ramuan ini secara teratur selama 1 bulan. Jangan mengonsumsi semua jenis ikan karena membuat sesak napas dan batuk. Hindari menghirup asap rokok dan bakaran sampah. Usahakan pikiran selalu tenang, jangan bekerja terlalu berat, pantang minum kopi. Perbanyaklah makan sayuran dan buah-buahan.

Bahan

Daun dan akar patikan kebo Euphorbia hirta 3 batang
Daun sambiloto Andrographis paniculata segar 17 lembar
Rimpang kunyit Curcuma longa 1 buah
Daun dan akar kaki kuda Centella asiatica 17 lembar

Cara membuat

Kupas kunyit, cuci bersih, dan iris tipis-tipis. Rebus semua bahan dalam 5 gelas air hingga tersisa 3 gelas. Setelah disaring, minum 3 kali sehari sesudah makan masing-masing 1/4 gelas.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: