Mengenal Lebih Dekat Buah Leunca Beserta Manfaatnya

March 10, 2015

leunca

Nama latin: Solanum nigrum

Nama lokal: Ranti, rampai, leunca, leunca badak, leunca hayam, leunca manuk, leunca pahit, bobose (Ternate)1

Nama asing: Black nightshade, european black nightshade, duscle, garden nightshade, hound’s berry, petty morel, wonder berry, small-fruited black nightshade, popolo (Jepang); poisonberry; longkui (seluruh tanaman), longkuigen (akar), longkuizi (biji) (Cina)

Ikhtisar

Tanaman asal Amerika Selatan itu mempunyai tinggi hingga 1,5 m. Leunca tumbuh tersebar di seluruh Nusantara, dari dataran rendah hingga ketinggian 3.000 m dpl. Umumnya tumbuh liar pada tanah lapang yang agak ternaungi atau terpapar sinari matahari. Leunca yang bersinonim Solanum americanum itu mudah dibudidayakan. Ia relatif tahan serangan hama dan penyakit.

Sosok

Tanaman: Musiman. Tinggi 25-100 cm. Batang tegak, berupa semak.

Daun: Tumbuh berselang-seling. Tangkai daun 1-2 cm. Lembaran daun bulat telur, ujung berduri. Panjang 2,5-10 cm dan lebar 1,5-5,5 cm. Pinggiran daun rata atau bergigi kasar mengarah ke depan dan bergelombang tidak beraturan. Gundul tanpa bulu atau kedua permukaan berbulu di beberapa titik.

Bunga: Mahkota berwarna putih. Kepala sari kuning. Pistil (putik) satu berbentuk membulat, ovari beruang dua.

Buah: Tipe buah beri berbentuk globose-hampir bundar, mengilap, berdiameter sekitar 8-10 mm. Berwarna hitam ketika matang.

Pemanfaatan Leunca

Tunas, daun muda, dan buah yang masih hijau dimakan sebagai sayuran. Bisa dimakan mentah, dikukus, atau dikombinasikan dengan sayuran lain. Buah muda yang rasanya agak getir umumnya tidak disukai anak-anak. Di Jawa Barat, daun terutama yang muda digemari sebagai lalapan-baik mentah, direbus, atau dikukus-sebagai pelengkap hidangan ikan.

Di Pakistan, tanaman yang dikenal masyarakat lokal sebagai kaach maach digunakan untuk menyembuhkan flu, demam, dan batuk dengan cara memanfaatkan daun mudanya sebagai teh. Buahnya yang dikeringkan digunakan untuk mengatasi sakit perut. Tapal daunnya dibalurkan pada kulit yang terbakar atau luka.

Komunitas Santal di distrik Dinajpur, India, memanfaatkan daunnya untuk mengobati penyakit mata. Sementara di distrik Jhabua, India, buahnya yang dikenal suku Bheel dan Bhilala sebagai makoi dikonsumsi tiga kali sehari untuk mengatasi penyakit kuning.

Dalam Ayurveda, buah leunca diindikasikan dapat mengatasi berbagai ganguan seperti peradangan, penyembuh luka, herpes, penyakit mulut, antitoksin, radang lever, penyakit mulut, gangguan tenggorokan, sakit telinga, gangguan mata, penambah nafsu makan, wasir, antidiare, penyakit jantung, antihipertensi, penyakit kulit, gout, antiarthtritis, gangguan ginjal, antidiabetes, dan demam kronis.

Aktivitas farmakologis

Anticendawan: Ekstrak daun, biji, dan akar dengan tiga pelarut diteliti untuk mengetahui efek anticendawan melawan Penicillium notatum, Aspergillus niger, Fusarium oxisporium dan Trichoderma viridae. Zona penghambatannya dibandingkan dengan antibiotik standar. Penapisan fitokimia ekstrak kasar menunjukkan keberadaan senyawa sekunder seperti aikaioid, flavonoid, steroid, tanin, dan fenol.

Ekstrak biji dengan pelarut organik (etanol, metanol, dan etil asetat) menunjukkan aktivitas anticendawan melawan semua strain yang diujikan dibandingkan ekstrak daun dan akar. Di antara semua ekstrak, ekstrak etil asetat biji menunjukkan aktivitas anticendawan tinggi (zona penghambatan 8-16 mm) pada semua cendawan yang diujikan. Adapun ekstrak etanol biji mempunyai nilai konsentrasi penghambatan minimum atau minimum inhibitory concentration (MIC) terendah relatif pada jangkauan 2-6 µg/ml.

Antihepatitis: Ekstrak metanol dan kloroform biji leunca menunjukkan 37% dan lebih dari 50% penghambatan virus hepatitis C (HCV) pada konsentrasi nontoksik. Efek antiviral ekstrak biji leunca juga dianalisis melawan HCV NS3 protease melalui penyusupan HCV NS3 protease plasmid ke dalam sel hati. Hasil menunjukkan ekstrak kloroform leunca menurunkan ekspresi atau fungsi dari HCV NS3 protease (tergantung dosis) dengan Glyceraldehyde-3-Phosphate Dehydrogenase (GAPDH) tetap konstan. Kesimpulannya, ekstrak leunca mengandung agen antiviral potensial melawan HCV dan kombinasi ekstrak leunca dengan molekul antiviral (interferon) akan menjadi pilihan yang lebih baik untuk mengatasi HCV kronis.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: