Mengenal Kanker Leher Rahim

May 30, 2014

kanker leher rahim

Kanker leher rahim menjadi salah satu jenis kanker yang paling sering dibahas karena menempati urutan tertinggi yang menyebabkan kematian wanita, bahkan sudah menuai kontroversi tentang pencegahannya. Kesetiaan pada pasangan seksual (berlaku untuk suami istri), tanpa berganti pasangan mampu mencegah risiko kanker serviks. Sudah terbukti kanker serviks (leher rahim) dipicu oleh pengalaman seksual perempuan di usia yang terlalu muda, berganti-ganti pasangan, dan mempunyai risiko perlukaan alat reproduksi karena aktivitas seksual yang kasar dan tidak lazim. Akibatnya jaringan lunak yang sering teriritasi tersebut rentan terinfeksi termasuk Human Papiloma Virus (HPV) yang menjadi salah satu (bukan faktor utama) penyebab kanker serviks. Faktor internal terjadinya kanker leher rahim juga akibat masalah hormonal pada perempuan yang justru tidak menikah, tidak pernah mempunyai anak, dan belum pernah menyusui (tidak terbukti pula mengidap infeksi HPV).

HPV sudah lama dikenal sebagai ‘kutil kelamin’ diperkirakan 25 juta penduduk Amerika sudah tertular dan menurut Centre for Disease Control and Prevention, dalam 90 persen kasus justru daya tahan kekebalan tubuh mampu mengusir infeksi HPV dalam waktu 2 tahun. Dalam jurnal kebidanan yang juga sudah dikutip oleh kantor berita Reuters 6 Juni 2008, ada hasil penelitian yang menunjukkan kandungan teh hijau (sinecathechins) ternyata efektif untuk mengobati HPV (external genital and anal warts). Namun teh hijau pun sama sekali tidak berarti bila dikemas dengan proses sintetis apalagi dibubuhi gula dan pemanis (yang justru memicu kankernya) tanpa disertai pola hidup sehat.

Tidak banyak orang paham bahwa terdapat 100 tipe berbagai Human Papiloma Virus (HPV), tapi, yang potensial menyebabkan kanker leher rahim atau serviks sekitar 10-30 jenis. Dan vaksin sementara ini hanya meng-cover sekitar 4 jenis. Jadi, vaksin tidaklah seindah promosinyanya. Masyarakat harus memahami HPV yang sebenarnya dan adanya risiko tetap tertular sekalipun sudah divaksinasi. Tindakan medis apa pun tidak mungkin menggantikan hak otonom dan peran individu untuk melindungi dirinya sendiri. Promosi berlebihan tentang campur tangan institusi atau tindakan medis akhirnya meremehkan atau bahkan meniadakan tanggung jawab kita untuk memelihara kesehatan dengan cara yang lebih manusiawi, alami dan bertanggung jawab. Faktor eksternal yang sudah dicermati dengan banyak bukti adalah apa yang kita asup dan dianggap ‘lumrah’ sehingga tidak terpantau lagi penumpukannya dalam tubuh dan yang lebih bahaya lagi asupan per harinya tidak terkontrol. Jadilah selalu menjadi sadar dengan pilihan pangan yang anda asup. Perasa buatan sering terdiri dari bahan baku yang daftar komposisinya berisi ‘istilah ajaib’. Mereka tidak lagi menulis bahan seperti MSG atau trans-fat misalnya, tapi dengan halus diganti dengan istilah “hydrogenated oils”. Belum lagi masalah microwave, alat masak dengan pelapis anti lengket yang sudah tergores (walaupun belum kasat mata), pengharum buatan, segala bentuk, hingga pengharum dan pembersih vagina.

Penting untuk memperbaiki akhlak, promosi kesetiaan perkawinan, pendidikan seksualitas remaja, kesadaran tentang Penyakit Menular Seksual, hubungan seksual yang berkualitas bagi suami istri, nikmatnya pola makan sehat, olah raga dan menikmati asupan vitamin D alami dari cahaya matahari pagi. Semua ini bisa dilakukan swadaya oleh berbagai kelompok kategorial masyarakat tanpa ditunggangi ‘jualan pabrik’ atau memberi keuntungan pada sektor tertentu yang bermain di masyarakat.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: