Mengenal Jambu Biji dan Berbagai Khasiatnya

November 12, 2014

jambu biji

Naman latin: Psidium guajava

Nama lokal: Jambu klutuk, jambu batu, djamboe

Nama asing: Common guava, apple guava, guava, lemon guava, yellow guava (Inggris); koejawel (Afrika); goyavier (Perancis); guave, guavebeum, guayave (Jerman); amrood, perala, amratafalam (India); banjiro (Jepang); golaba, goiabeiro (Portugis); araca-guacu, gualava, araca-goiaba (Brasil); guayaba, guayabo (Spanyol); guava (Swedia); jambu pelawas, jambu buyawas, jambu bereksa (Malaysia)

Ikhtisar

Berasal dari daerah Amerika tropis. Kerap ditanam di pekarangan. Buahnya dikenal sebagai buah meja yang banyak diperjualbelikan di pasar tradisional. Termasuk bangsa Myrtales, suku Myrtaceae, Sinonimnya Guaiava pyrigormis, Guajava pumila, Guajava pyrifera, Myrtus guajava, Psidium angustifolium, Psidium cujavillus, Psidium cujavus, Psidium fragrans, Psidium igatemyense, Psidium intermedium, Psidium pomiferum, Psidium prostratum, Psidium pumilum, Psidium pyriferum, Psidium sapidissimum, Psidium vulgare, dan Syzygium ellipticum.

Kandungan kimia

Empat senyawa antibakteri diisolasi dari daun jambu biji, dua glikosida flavonoid baru, morin-3-0-alfa-L-lyxopyranoside dan morin-3-O-alfa-L-arabopyranoside, serta dua flavonoid lainnya, guaijavarin dan puercetin.

Jambu biji Psidium guajava L cv. Chung-Shan-Yueh-Pa adalah kultivar jambu biji yang digunakan untuk industri jus di Taiwan lantaran memiliki aroma enak. Senyawa volatil utama yang diisolasi dari buah jambu biji tersebut yaitu alfa-pinene, 1,8-cineole, beta-caryophyllene, nerolidol, globulol, aldehida C6, alkohol C6, etil heksanoat, dan (Z)-3-hexenyl acetate. Keberadaan aldehida C6, alkohol C6, etil heksanoat, (Z)-3-hexenyl acetate, terpene, dan 1,8-cineole berkaitan dengan aroma unik yang ditimbulkan buah jambu biji.

Ekstrak benzened ipisahkandengan kromatografi kolom menggunakan gel silika sebagai adsorben. Fraksi benzena daun jambu biji menghasilkan tiga senyawa dalam bentuk murni seperti 17-methoy-beta-sitosterol (1), Cholest-5-ene-3, 25-diol (2), 1-hydroxy-3acetoxy-7-methoxy-2’methyl-5’carboxy-(3-carboxy but-2-enyl)-furano (3′, 4’5, 6) – xanthone(3).

Sosok

Tanaman: Membentuk semak atau pun pohon kecil. Kulit batang halus berwarna cokelat muda. Tinggi hingga 13 m. Kulit kayu halus berwarna abu-abu, kulitnya mudah terkelupas, tunas beranting.

Daun: Tumbuh saling bertolak belakang. Bentuk lembaran daun ovate-elips, oblong-eliptik. Sedikit berambut di bagian permukaan bawah. Urat lateral 10-20 pasang. Panjang daun 7-15 cm dengan lebar 3-5 cm.

Bunga: Muncul tunggal atau 2-4 kuntum di ketiak bunga, lebar 2,5 cm. Tangkai bunga 1-2 cm. Mahkota bunga berwarna putih.

Buah: Bentuk globose, ovoid (bulat telur) atau pyriform. Daging buah yang berair berwarna putih susu atau merah muda. Rasanya perpaduan manis dan asam. Daging buah putih dan kuning.

Biji: Kuning kecokelatan. Reniform (oblong). Biji banyak.

Pemanfaatan Jambu Biji

Ramuan daunnya digunakan masyarakat Meksiko untuk membersihkan usus besar, sedangkan buahnya digunakan sebagai anthelmintik – obat cacing. Di Uruguay, ramuan daunnya digunakan untuk mencuci vagina. Di Indonesia, pucuk daun maupun daunnya kerap dikonsumsi langsung atau direbus untuk mengatasi diare. Di Kostarika, justru bunganya yang dijadikan bahan ramuan mengatasi diare dan memperlancar peredaran darah. Buah jambu biji juga dipakai dalam ilmu pengobatan Cina, buah tua dipercaya menurunkan gula darah dan hemostatik. Selain menurunkan gula darah, daunnya memiliki kandungan antibakteri dan pencegah kanker. Sementara akarnya bersifat antifertil.

Aktivitas farmakofogis

Antibakteri: Riset menunjukkan konsentrasi penghambatan minimum dua glikosida flavonoid pada daun jambu biji, morin-3-0-alfa-L-lyxopyranoside dan morin-3-O-alfa-L-arabopyranoside yakni masing-masing sebesar 200 mikrog/ml melawan Salmonella enteritidis, serta 250 mikrog/ml dan 300 mikrog/ml melawan Bacillus cereus.

Antioksidan: Penelitian bertujuan mengetahui efek konsumsi jambu biji Psidium guajava pada status antioksidan total dan profil lemak (total kolesterol, trigliserida, kolesterol LDL, dan kolesterol HDL) pada pemuda normal. Penelitian berjalan selama sembilan pekan yang terbagi menjadi tiga fase: normal (satu minggu), perawatan (empat minggu), dan kontrol (empat minggu). Sampel darah dikumpulkan pada akhir setiap fase untuk tes biokimia. Status antioksidan total, glukosa, profil lemak, dan enzim antioksidan (glutathione peroxidase dan glutathione reductase) ditetapkan dengan menggunakan Cobas Mira auto analyzer (Roche). Asupan makanan pada setiap fase dipelajari menggunakan pengingat diet 24 jam.

Hasil menunjukkan peningkatan signifikan kolesterol total, trigliserida, dan kolesterol HDL selama fase perawatan, dibandingkan dengan fase normal dan kontrol (p<0,05). Peningkatan kolesterol HDL berkaitan dengan penurunan risiko serangan jantung dan penyakit kardiovaskular. Meskipun terdapat peningkatan total kolesterol dan trigliserida pada fase perawatan dibandingkan fase normal dan kontrol, peningkatan tetap berada pada batas normal. Selain itu terdapat peningkatan signifikan total antioksidan selama fase perawatan, dibandingkan fase normal dan kontrol (p<0,05).Terdapat tren penurunan glutathione peroxidase dan glutathione reductase pada fase perawatan dibandingkan fase normal dan kontrol. Namun, penurunan tidak signifikan secara statistik. Penurunan enzim antioksidan terkait dengan menurunnya stres oksidatif dan penurunan aktivitas radikal bebas.Konsumsi jambu biji menghasilkan peningkatan status antioksidan dan profil lipid. Dengan kata lain, hal itu dapat menurunkan risiko penyakit yang disebabkan radikal bebas dan kolesterol tinggi dalam darah.Antihiperglikemik: Penelitian dilakukan untuk mengevaluasi potensi glikemik ekstrak cair kulit buah jambu biji yang belum matang pada level glukosa darah (blood glucose level/BGL) pada tikus normal dan tikus diabetes tingkat ringan dan parah yang diinduksi streptozotocin.

Level glukosa darah dihitung dengan metode oksidasi glukosa. Tikus wistar albino jantan 6-8 minggu dipilih untuk penelitian. Diabetes diinduksi dengan infeksi streptozotocin. Aktivitas antihiperglikemik ekstrak dihitung pada tikus diabetes tingkat ringan dan parah.

Hasilnya, maksimum penurunan 21,2% (p<0,01) dan 26,9% (p<0,01) setelah 3 jam pemberian glukosa selama tes toleransi glukosa (glucose tolerance test/GTT) diobservasi pada BGL dari dosis 400 mg/ kg, dosis tersebut diidentifikasi sebagai dosis paling efektif, berturut-turut pada tikus normal dan tikus diabetes tingkat ringan. Pada tikus dengan diabetes tingkat parah, maksimum penurunan 20,8 dan 17,5% pada level glukosa darah puasa (fasting blood glucose/FBG) dan glukosa setelah makan (post prandial glucose/PPG), serta 50% (p<0,01) pada level gula urine diobservasi dengan dosis sama. Level hemoglobin meningkat 5,2% (P<0,05) dan bobot tubuh 2,5% (p<0,05) setelah 21 hari perlakuan.Kesimpulan, pada model tikus normal, diabetes tingkat ringan dan tingkat parah menunjukkan efek hipoglikemik dan antidiabetes setelah pemberian ekstrak cair kulit buah jambu yang belum matang. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengetahui senyawa aktif yang terdapat pada kulit.Antikolesterol: Kejadian penyakit jantung koroner sangat erat hubungannya dengan aterosklerosis. Aterosklerosis atau penumpukan kolesterol yang terjadi di arteri koroner adalah penyebab paling umum dari infark miokarb – serangan jantung. Salah satu alternatif untuk menurunkan kadar kolesterol dalam darah secara jangka panjang adalah konsumsi bahan alami seperti buah jambu biji merah. Pembuktiannya sebagai antikolesterol didapat dari hasil penelitian ini. Sebanyak 30 ekor tikus putih dibagi dalam 5 kelompok perlakuan: 1 (kontrol positif), 2 (diet tinggi lemak), 3 (diet tinggi lemak + 3,6 mg simvastatin per kg bobot tubuh), 4 (perlakuan 50 mg jus buah jambu biji per kg bobot tubuh), dan 5 (perlakuan 100 mgjus buah jambu biji merah per kg bobot tubuh). Pengukuran kadar lipid darah dilakukan pada hari pertama praperlakuan, hari ke-30, dan 60.

Hasil penelitian menunjukkan pemberian jus buah jambu biji merah dosis 50 mg/kg BB dalam 60 hari menurunkan 52,64% kadar kolesterol total dan 82,23% LDL, sama baiknya dengan pemberian 3,6 mg simvastin per kg bobot tubuh. Simvastin adalah obat penurun kadar kolesterol yang banyak beredar di pasaran. Tidak hanya itu pemberian jus jambu biji selama 2 bulan mendongkrak high density lipoprotein (HDL) atau kolesterol baik sebesar 39,79%.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: