Mengenal Gangguan Hormonal dan Kista Ovarium

May 25, 2014

kista ovarium

Kista indung telur (ovarian cyst) merupakan semacam cairan yang tertampung dalam dinding yang sangat tipis dalam indung telur. Kalau ukurannya lebih dari 2 cm, baru disebut kista ovarium yang sesungguhnya. Sebab, dalam siklus kesuburan perempuan, bentuk seperti kista dalam indung telur ini sangat alamiah dan tidak menimbulkan masalah. Bentuk yang alamiah dan tidak bermasalah ini disebut “kista ovarium fungsional” terjadi akibat proses pematangan sel telur (disebut folikel), yang mengeluarkan hormon estrogen dan progesteron. Normalnya, folikel yang ’melembung’ di pertengahan siklus menstruasi mencapai puncaknya lalu melepaskan sel telur ke dalam saluran telur untuk bertemu sperma ketika terjadi hubungan seksual untuk selanjutnya terbentuklah pembuahan.

Ketika folikel sudah pecah dan sel telur dilepaskan, ia tetap menghasilkan estrogen dan progesteron dalam jumlah banyak untuk persiapan jika terjadinya konsepsi/ pembuahan. Folikel ini sekarang disebut sebagai corpus luteum. Kadang, bagian tempat pecahnya folikel (gerbang keluarnya sel telur) bisa menutup sendiri dan cairan terkumpul di dalam folikel, membuat corpus luteum ’melembung’ menjadi kista. Kista seperti di atas biasanya tidak bermasalah dan jarang menyebabkan nyeri. Hilang sendiri setelah 2-3 siklus menstruasi. Kista serupa ini sama sekali tidak memengaruhi kesuburan.

Walaupun begitu, ada beberapa tipe kista yang tidak berhubungan dengan fungsi normal siklus menstruasi. Di antaranya: Kista dermoid – ke’aneh’annya terletak pada isi kistanya: bisa terdapat jaringan rambut, kulit bahkan gigi – karena terbentuk dari sel ’cikal bakal’ yang juga menghasilkan sel telur manusia. Cystadenoma – berkembang dari jaringan indung telur dan bisa terisi oleh cairan atau lendir. Endometrioma – berkembang akibat efek endometriosis, yaitu jaringan selaput lendir rahim yang ’nyasar’ ke indung telur. Kista dermoid dan cystadenoma bisa menjadi besar, sehingga menyebabkan indung telur keluar dari posisinya yang semula dalam rongga panggul. Bahkan kerap menyebabkan indung telur seakan ’terpuntir’ (ovarian torsion) dan menyebabkan nyeri hebat.

Gejala kista ovarium dapat berupa ketidakteraturan siklus menstruasi, nyeri panggul (bisa terus menerus atau berselang) yang kadang menjalar hingga pinggang dan paha atas. Nyeri muncul biasanya sesaat sebelum dimulainya atau berakhirnya menstruasi. Perasaan tidak nyaman juga bisa terjadi saat hubungan seksual, pergerakan usus atau tekanan pada daerah perut bawah. Terkadang rasa penuh dan ’berat’ dirasakan di area rongga perut, sering kencing/ kesulitan membuang air seni tuntas (karena tekanan kista pada kandung kemih) bahkan gejala mual-muntah mirip tanda awal kehamilan bisa terjadi.

Sebagai tambahan, sekarang cukup banyak ditemui PCOS (Polycystic Ovary Syndrome) yaitu terdapatnya beberapa kista pada indung telur yang bisa berakibat pada tidak terjadinya pelepasan telur (ovulasi) dan tentunya gangguan menstruasi, kesuburan, jerawat dan obesitas. Wanita dengan PCOS juga ternyata mempunyai berbagai tingkat resistensi insulin (penurunan kepekaan terhadap insulin untuk menormalkan kadar gula darah), peningkatan terjadinya diabetes tipe 2, tingginya trigliserida (ketidakseimbangan profil lemak darah) dan rendahnya kepadatan tulang.

PCOS terjadi ketika seorang wanita tidak mengalami ovulasi (pelepasan sel telur) yang menyebabkan kekacauan interrela – si hormon, kelenjar otak penghasil hormon dan indung telur sendiri. Normalnya, hipotalamus (kelenjar pengatur di otak) memonitor pengeluaran hormon dari indung telur dan menyelaraskannya dengan siklus menstruasi. Saat perdarahan berhenti, hipotalamus mengeluarkan GnRH (Gonadotropin Releasing Hormone) yang merangsang kelenjar lain di otak (pituitari) melepaskan FSH (Follicle Stimulating Hormone) dan LH (Lu-teinizing Hormone). Nah, kedua hormon ini yang langsung mendorong indung teiur membuat estrogen untuk merangsang pematangan sel telur.

Bila sel telur berhasil dikeluarkan saat ovulasi namun tidak terjadi pembuahan, maka indung telur otomatis berhenti memproduksi estrogen maupun progesteron. Penurunan mendadak kedua hormon tersebut menyebabkan ’rontok’nya selaput lendir rahim dan terjadilah menstruasi. Anjloknya estrogen dan progesteron juga direspon oleh kelenjar hipotalamus otak untuk kembali meningkatkan GnRH, siklus baru dimulai lagi. Hebat kan, Pengaturan tubuh wanita?

Tapi apa yang terjadi bila pelepasan telur karena salah satu bal gagal terjadi? Folikel menjadi kista dan lonjakan progesteron tidak terjadi. ”Absen”nya progesteron terdeteksi oleh hipotalamus, yang langsung menstimulasi indung telur dengan meningkatkan produksi GnRH, yang merangsang pituitari untuk juga menghasilkan FSH dan LH. Indung telur kelabakan cepat-cepat menghasilkan estrogen dan androgen lagi, yang menstimulasi lebih banyak folikel lagi untuk ovulasi. Bila folikel-folikel tambahan ini juga tidak berhasil melepaskan sel telur matang (ovulasi) dan progesteron, maka siklus menstruasi “dikuasai” oleh tingginya estrogen dan androgen tanpa progesteron. Inilah cikal bakal terbentuknya PCOS.

John R. Lee, M.D. (Medical Letter July 1999) telah melakukan survey dalam prakteknya dan pengamatan di alam bahwa folikel disfungsional tidak melepaskan sel telur disebabkan oleh paparan embrio perempuan terhadap xenobiotics, pencemar lingkungan yang secara kimiawi bertingkah seperti estrogen pada perkembangan bayi. Ketika embrio perempuan berkembang di dalam rahim ibunya, 500-800 ribu folikel terbentuk dengan sel-sel telur yang masih belum matang. Ini saat yang sangat rentan terhadap xenobiotics. Efeknya tidak nampak hingga janin tersebut dilahirkan bahkan menjadi remaja.

Faktor lain yang mungkin juga karena stres, yang mendorong kortisol dihasilkan kelenjar adrenal, kurangnya olah raga, dan gizi buruk. Wanita muda dengan konsumsi karbohidrat tinggi gula (termasuk tepung) dengan akibat lonjakan insulin yang tidak sehat sangat mungkin menderita PCOS.

Sekali lagi, menyelesaikan masalah kesehatan memang perlu hingga akar permasalahannya. Banyak ’terapi’ yang dianjurkan sering hanya berupa penyelesaian masalah sesaat. Bila gaya hidup, pola makan dan sikap masih amburadul, maka semakin banyak rentetan masalah yang akan dihadapi.

Sebisa mungkin, tetaplah menjadi ’orang Indonesia” yang bangga hidup di tanah subur yang menjanjikan sumber pangan tersehat. Asuplah karbohidrat sehat (semakin dekat dengan bentuk aslinya di alam), sebagai sayur lalap dan buah. Lupakan produk industri dan produk turunannya. Kita cukup sehat hidup tanpa gula, terigu, dan berbagai tepung olahan apalagi makanan kemasan. Asup juga protein sehat dari alam mulai dari ayam yang masih mendapat pakan ’sesungguhnya’, ikan tak tercemar, telur, tempe, berbagai jamur dan kacang-kacangan. Keseimbangan karbohidrat – protein dilengkapi dengan asupan lemak sehat dari kemiri, extra virgin olive oil, dan sumber buah berlemak sehat seperti alpukat.

Sudah cukup banyak tanpa kita sadari penggunaan bahan kimia, mulai dari pasta gigi, sabun, shampoo hingga sabun cuci hingga pembersih lantai. Diam-diam semuanya terserap dalam tubuh. Jangan lagi ditambah dengan yang sama sekali tidak perlu: dari berbagai ’pewangi artifisial’ ruangan, mobil, baju, hingga ’pewangi’ tubuh alias deodoran. Di negara maju, banyak pengamatan kritis sudah bermunculan. Hidup bersih, membiarkan matahari masuk, memelihara tumbuhan asli aromatik, adalah jalan tersehat.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: