Mengenal Dewandaru dan Manfaatnya

October 9, 2014

dewandaru

Nama latin: Eugenia uniflora

Nama lokal: Asam selong

Nama asing: Surinam cherry, cayenne cherry, barbados cherry, french cherry, red brazii cherry (Inggris); pitanga; cerise côtelée, cerise créole, cerise de Cayenne, cerisier carré, cerisier de cayenne, roussaille (Perancis); pitanga (Portugis); cerezo de cayena, nagapiry, pitanga (Spanyol), hong guo zi (Cina)

Ikhtisar

Tanaman anggota famili Myrtaceae ini asli pantai timur Amerika Selatan mulai Suriname hingga Brasil bagian selatan. Umumnya tanaman kerabat jambu air itu dipergunakan sebagai tanaman pagar. Di Bermuda, tanaman yang awalnya menjadi tanaman hias itu berubah statusnya menjadi tanaman invasif.

Sosok

Tanaman: Membentuk pohon hingga setinggi 10 m. Cabang muda kadang diselimuti rambut merah.

Daun: Panjang lembaran daun 4 cm. Daunnya hijau mengilap ketika tua, daun mudanya berwarna tembaga. Daun tumbuh bertolak belakang, bertangkai pendek, bentuk oval hingga lanset memanjang. Tepi rata.

Bunga: Berwarna putih, harum. Ukuran diameter 13 mm. Memiliki banyak stamen yaitu organ bunga yang menghasilkan garnet jantan (sel sperma) dan berubah bentuk menjadi daun spora-kembang

Buah: Mengandung banyak air, berwarna jingga kemerahan ketika masak, bentuk membulat, berusuk delapan. Buah berdiameter 2 cm. Rasa bervariasi mulai asam hingga manis tergantung kultivar dan tingkat kematangan.

Biji: Satu buah berisi 1-3 biji.

Kandungan kimia

Dewandaru Eugenia uniflora mengandung senyawa flavonoid dan fenolik. Monoterpenes (75,3%) ditemukan sebagai kandungan volatile tertinggi dalam buah dewandaru. Adapun senyawa lainnya yaitu trans-beta-ocimene (36,2%), cisocimene (13,4%), isomeric beta-ocimene (15,4%), dan beta-pinene (10,3%). Kandungan terapeutik pada ekstrak daun seperti selina-1,3,7(11)-trien-8-one juga ditemukan pada ekstrak volatile buah. Hal itu menunjukkan kemungkinan buah bermanfaat terapeutik seperti layaknya ekstrak daun.

Minyak esensial daun dewandaru didapat melalui clevenger apparatus dan dianalisis dengan gas chromatography-mass spectrometry (GC-MS). Daun dikumpulkan dan segera diekstrak untuk lima hari berturut-turut pada pukul 09.00 hingga pukul 14.00. Tidak ada variasi pada hasil minyak yang diteliti pada waktu tersebut. Furanodiene dan produk susunan ulangnya, furanoelemene (atau curzerene, 50,2%), beta-elemene (5,9%) dan alfa-cadinol (4,7%) diidentifikasi sebagai senyawa yang terbanyak. GC-Olfatometry (GC-O) terkait dengan aroma extract dilution analysis (AEDA) mengidentifikasi adanya sembilan senyawa aroma aktif, furanodiene (bersama dengan furanoelemene, FD 1024), beta-elemene (FD 256), dan (E,E)-germacrone (FD 256) merupakan senyawa utama yang mempengaruhi aroma minyak esensial tersebut.

Pemanfaatan Dewandaru

Bijinya mengandung resin. Anjing yang diberi makan buah beserta bijinya dilaporkan terkena diare. Di Brasil, infusi daunnya dimanfaatkan sebagai obat penurun panas dan obat pengkelat serta untuk mengatasi masalah perut. Sedangkan di Suriname, air rebusan daun diminum untuk perawatan pilek atau dikombinasikan dengan sereh sebagai obat penurun panas.

Aktivitas farmakologis

Antibakteri: E. uniflora lectin (EuniSL) diisolasi dari ekstrak biji dan dimurnikan dengan kromatografi pertukaran ion dalam DEAE-Sephadex dengan faktor pemurnian 11,68. Riset membuktikan EuniSL sangat kuat menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa, dan Klebsiella sp dengan minimum konsentrasi penghambatan (MIC) 1,5 mikrog/ml dan secara moderat menghambat pertumbuhan Bacillus subtilis, Streptococcus sp, dan Escherichia coli dengan MIC 16,5 mikrog/ml.4

Antioksidan, antibakteri, dan antifungal: Minyak esensial (EO) dari daun dewandaru diteliti untuk mengetahui kandungan senyawa antioksidan, antibakteri, dan antifungal. Toksisitas akut EO yang diberikan secara oral juga dievaluasi pada mencit. EO menunjukkan aktivitas antioksidan pada uji DPPH, ABTS, dan FRAP serta menurunkan peroksidasi lipid pada ginjal mencit. EO juga menunjukkan aktivitas antimikrobial melawan dua bakteri patogen penting, Staphylococcus aureus dan Listeria monocytogenes, serta melawan cendawan spesies Candida, C. lipolytica dan C. guilllermondii. Pemberian akut EO secara oral tidak menyebabkan kematian atau efek toksisitas pada mencit.

Antipatogen, antitrypanosoma: Patogen Trypanosoma cruzi menjadi penyebab penyakit chagas. Alternatif untuk membasmi patogen itu salah satunya menggunakan produk alami yang diisolasi dari buah dewandaru. Periset menggunakan ekstrak etanol dewandaru untuk mengevaluasi secara in vitro aktivitas anti-epimastigote (salah satu fase pertumbuhan trypanosoma) dan sitotoksisitasnya. Penelitian menunjukkan aktivitas anti-trypanosoma ekstrak etanol dewandaru dengan nilai EC50 sebesar 62,76 µg/ml. Sementara konsentrasi penghambatan minimum (MIC) < 1.024 µg/ml. Itu menunjukkan dewandaru potensial menjadi sumber produk alami yang memiliki aktivitas anti-epimastigote dengan toksisitas rendah.Antitrichomonal: Dewandaru secara tradisional digunakan di beberapa negara tropis sebagai antiinfeksi. Riset ini menunjukkan aktivitas Eugenia dewandaru sebagai antimalaria dan antitrypanocidal. Antitricomonacidal (antitricomonas) ekstrak metanol daun terbukti pada pemurnian hingga satu tahap. Subfraksi E(2-5) memiliki nilai LC50 dan LC90 masing-masing sebesar 4,77-5,28 dan 18,49-25,00 µg/ml pada 24 jam serta 4,53-5,18 dan 18,32— 19,07 µg/ml pada 48 jam. Hasil itu lebih baik dibandingkan metronidazole. Pemurnian lanjut E(2-5) berimbas pada hilangnya aktivitas, diduga kandungan aktif bekerja secara sinergis dan bertambah. Rendahnya nilai titer hemaglutinasi ekstrak metanol dan fraksi partisinya menunjukkan sifat toksisitas rendah. Oleh karena itu tanaman dapat digunakan pada pengobatan tradisional sebagai agen antitrichomonal.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: