Mengenal Blustru dan Khasiatnya

August 22, 2014

blustru

Nama lokal: Hurung jawa, ketola, timput (Palembang); lopang, blestru (Jawa); dodahala (Maluku); petola panjang, petola cina, blustru (Jakarta)

Nama asing: Suakwa vegetablesponge, suakwa towelgourd, loofah, sponskomkommer, sponge gourd, gourd towel (Amerika); sigualuo (Cina)

Ikhtisar

Negara penghasil blustru utama yaitu Cina, Korea, India, dan Jepang. Di Cina, tanaman famili Cucurbitaceae dan ordo Cucurbitales itu tumbuh di daerah tropis dan subtropis. Di Indonesia, tanaman semusim itu tumbuh merambat sebagai tanaman pagar untuk dimanfaatkan sebagai sayur atau tumbuh liar di semak, tepi sungai, dan pantai.

Kandungan kimia

Blustru mengandung dua triterpenoid yaitu sapogenin 1 dan sapogenin 2. Berdasarkan penelitian Velmurugan V dan rekan, ekstrak tanaman mengandung lucoside C, E, F, H, campuran alpha-spinasterol, campuran alpha-spnisteryl glucoside, stigmasteryl-beta-D-glucoside, dan metil ester diosmetin 7-0-beta-d-glucuronide. Pada saat skrining awal, kandungan yang terdeteksi yaitu karbohidrat, flavanoid, glikosida, dan saponin. Buahnya mengandung p-coumaric acid, 1-0-feruloyl-â-D-glucose, 1-0-p-coumaroyl-â-D-glucose, 1-0-caffeoyl-â-D-glucose, l-0-(4-hydroxybenzoyl)glucose, diosmetin-7-0-â-D-glucuronide methyl ester, apigenin-7-0-â-Dglucuronide methyl ester, dan luteolin-7-O-â-D-glucuronide methyl ester. Ekstrak petroleum eter buahnya mengandung 3-hydroxy-l-methylene-2,3,4,4-tetrahydroxynapthalene-2-carbaldehyde dan 22,23-dihydroxy spinasterol. Bijinya mengandung gula, protein, alkaloid, flavonoid, sterol, dan glikosida.

Pemanfaatan Blustru

Penelitian dari University of Benin, Nigeria, mengungkapkan campuran biji dan spons blustru terbukti mampu menjadi alternatif penyerap ion metal alami untuk menyerap nikel, plumbum, tembaga, dan seng. Itu artinya, campuran tersebut bisa dijadikan alternatif pemakaian karbon aktif yang penting dalam pengelolaan air daur ulang.

Seperti di Indonesia, di Cina dan Filipina, buah blustru populer sebagai sayuran yang disajikan dalam masakan sehari-hari. Bagian yang digunakan dalam pengobatan Cina yaitu bagian fasikula buah matang. Efek yang ditimbulkan antara lain analgesik, antiinflamasi, dan sedatif. Digunakan untuk mengatasi nafsu makan kurang, tuberculosis, dan neurasthenia, penyakit dengan gejala antara lain gelisah, lelah, sakit kepala, dan depresi.

Suku Mullu Kuruma di Distrik Wayanad, Kerala, India, memanfaatkan pasta daunnya sebagai obat luar penyakit lepra dan hemorrhoid alias wasir. Di distrik Jalgaon, India, jus daunnya digunakan untuk mengatasi bagian tubuh luar yang bengkak. Tanaman yang dibudidayakan penduduk setempat itu daunnya dibuat menyerupai rokok untuk mengurangi gejala migrain. Penelitian lainnya di India menyebut penggunaan jus daun blustru untuk dropsy – bengkak karena jaringan sel mengandung banyak air. Pasta daunnya untuk bengkak, bisul, borok atau tukak, dan luka. Buah hijau dikonsumsi sebagai sayur dan membantu mengatasi batuk.

Sosok

Tanaman: Batang halus, berusuk lima. Memanjat. Sulur muncul dari ketiak daun. Sulur gemuk, bercabang 2-4 seperti garpu.

Daun: Tunggal. Daun tumbuh berselang-seling. Tangkai daun tebal dan kasar dengan panjang 10-12 cm. Tulang daun menonjol di bagian permukaan bawah. Lembaran daun segitiga atau hampir bulat, umumnya ada yang menjari 5 cuping, cuping segitiga serrulate — bergigi tajam halus.

Bunga: Uniseksual (hanya memiliki saju jenis kelamin dalam satu bunga).

Tandan bunga jantan memiliki tangkai, panjang 10-15 cm. Jumlah stamen (benangsari) 5. Bunga betina tumbuh tunggal, panjang tangkai bunga 2-10 cm. Cuping kelopak bulat telur-lanset. Mahkota bunga kuning atau kuning pucat, berbentuk seperti roda dengan diameter 5-9 cm, cuping seperti telur. Ovarium bunga berbentuk silinder. Kepala putik 3.

Buah: Berbentuk silinder. Panjang 20-25 cm. Tegak atau agak bengkok. Memiliki alur membujur atau strip yang dangkal. Permukaan kulit hijau berubah hijau kekuningan hingga cokelat ketika masak. Daging buah penuh serat seperti jala. Pecah di bagian atas bila terlalu matang.

Biji: Elips, hitam, rata, pipih, dan pinggiran terdapat sayap sempit.

Aktivitas farmakologis

Antitumor: Luffin-a, protein ribosome-inactivating Tipe-I rantai-tunggal, yang diketahui merupakan keluarga luffin paling toksik dan rupanya memiliki aktivitas antitumor, diisolasi dari biji blustru. Pada penelitian ini, mature alpha-luffin diklon dari L cylindrica dan diketahui bahwa mature alpha-luffin memiliki 96% asam amino serupa dengan luffin-a. Rekombinan mature alpha-luffin berhasil diekspresikan dalam sebuah bagian bentuk yang dapat larut pada Escherichia coli setelah kondisi optimisasi ekspresi. Efek protein rekombinan pada pertumbuhan bakteri dan aktivitas penghambatan sintesis protein secara in vitro dikaji dalam penelitian. Kemudian, aktivitas antitumor melawan beberapa sel kanker dievaluasi dengan menggunakan CCK-8 assay dan sitrometri arus. Hasil mengindikasikan bahwa rekombinan alpha-luffin sedikit toksik pada E. coli. Rekombinan alpha-luffin dapat menghambat sintesis protein pada sistem lisat retikulosit kelinci. Pada waktu bersamaan, juga menghambat pertumbuhan sel tumor pada dosis dan waktu tertentu. Rekombinan alpha-luffin juga dapat memicu kematian sel secara apoptosis. Sitotoksisitas alpha-luffin pada sel tumor membuatnya berpotensi sebagai agen antitumor.

Anti-HIV-1: Luffin P1, peptida ribosome-inactivating terkecil dari biji blustru ditemukan memiliki aktivitas anti-HIV-1 pada sel garis C8166 yang diinfeksi HIV-1 dan mampu berikatan dengan HIV Rev Response Element. Spektroskopi resonansi magnetic inti menampakkan bawah luffin Pl yang terdiri dari motif helix-loop-helix, dengan dua alfa heliks erat berkaitan dengan ikatan disulfida.

Efek imunomodulator: Dua triterpenoids (sapogenins 1 dan 2) diisolasi dari blustru untuk mengkaji aktivitas imunomodulatornya pada mencit Balb/c jantan. Mencit diberi perlakuan tiga dosis sapogenins 1 dan 2 (10, 30, dan 100 mg/kg) dan levamisole (2,5 mg/kg) digunakan sebagai obat referensi standar selama 15 hari. Respon imun terhadap T-dependent antigen SRBCs diamati menggunakan parameter HA, PFC, DTH, proliferasi limfosit dan fagositosis. Berkenaan dengan parameter tersebut, sapogenins 1 dan 2 menunjukkan peningkatan signifikan pada respon HA, PFC, dan DTH pada dosis 10 mg/kg (p<0,01) dan 100 mg/ kg (p<0,001). Sapogenins 1 dan 2 juga menunjukkan penurunan uji proliferasi limfosit pada dosis tertentu dan kenaikan aktivitas fagositik makrofag. Secara keseluruhan, sapogenins 1 dan 2 menunjukkan efek imunomodulator tergantung dosis pada fungsi imun mencit secara in vivo.Analgesik: Penelitian dilakukan Velmurugan V dan rekan menggunakan metode geliat induksi asam asetat dan metode perendaman ekor. Pada metode pertama, mencit dibagi 4 kelompok perlakuan: kontrol, ekstrak etanol buah blustru, ekstrak alkohol buah blustru, dan aspirin. Ekstrak air dan ekstrak alkohol serta aspirin diberikan dengan dosis masing-masing 100 mg/kg bobot tubuh. Setelah 30 menit perlakuan, semua kelompok diberi iritan – penyebab rasa sakit. Hasil menunjukkan persentase penghambatan rasa sakit pada ekstrak alkohol, etanol, dan pemberian aspirin yaitu 51%, 63%, dan 80%. Pada metode kedua, pentazocln digunakan sebagai obat standar. Hasil menunjukkan ekstrak memiliki aktivitas analgesik yang hampir sama dengan obat standar.

Antibakteri: Zona penghambatan maksimum diperlihatkan ekstrak alkohol dan etanol buah blustru melawan Salmonella typhi – penyebab tipes – dan Staphylococcus aureus – salah satu penyebab keracunan makanan – yakni masing-masing 20 mm dan 19 mm untuk ekstrak air serta 21 mm dan 18 mm untuk ekstrak alkohol pada dosis 100 mg/kg bobot tubuh mencit. Penelitian dibandingkan dengan standar Ciprofloxacin 5 mcg. Kedua ekstrak juga menunjukkan aktivitas antibakteri moderat melawan Bacillus subtilis dan Vibrio cholera serta aktivitas lemah melawan Fusarium moniliformae. Penelitian lainnya yang mengkaji ekstrak petroleum eter buah blustru menunjukkan kandungan 3-hydroxy-l-methylene-2,3,4,4-tetrahydroxynapthalene-2-carbaldehyde dan 22,23-dihydroxy spinasterol hanya memperlihatkan aktivitas lemah hingga moderat melawan bakteri gram positif (Bacillus cereus, B. megaterium, B. subtilis, Staphylococcus aureus, Sarcina lutea) dan gram negatif (Escherichia coli, Salmonella paratyphi, S. thypi, Shigella boydii, Shigella dysenteriae, Vibrio mimicus, dan V. parahemolyticus) yang diujikan. Bijinya efektif melawan S. aureus dan Candida albicans.

Antioksidan: Delapan senyawa aktif yang terdapat pada buah blustru diuji dengan menggunakan metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl). DPPH merupakan salah satu metode yang digunakan untuk menguji aktivitas antioksidan. Hasil menunjukkan kekuatan aktivitas senyawa tersebut dibandingkan asam askorbat yaitu (dimulai dari yang tertinggi) p-coumaric acid > asam askorbat > 1-O-caffeoyl-â-D-glucose > 1-O-p-coumaroyl-â-D-glucose > 1-O-feruloyl-â-D-glucose > luteolin-7-0-â-D-glucuronide methyl ester > diosmetin-7-O-â-D-glucuronide methyl ester > apigenin-7-O-â-Dglucuronide methyl ester > 1-0-(4-hydroxybenzoyl) glucose.

Anticendawan: Ekstrak kasar petroleum eter buah blustru hanya menunjukkan aktivitas lemah hingga moderat melawan cendawan Candida albicans (7 ± 0.46 mm) dan Aspergillus niger (8 ± 0,53 mm).

Antialergi: Penelitian yang membandingkan efek antialergi bryonolic acid-yang diisolasi dari sel kultur Luffa cylindrica L. – dan glycyrrhetinic acid yang berasal dari akar manis (Glycyrrhiza glabra) menunjukkan, pada dosis glycyrrhetinic acid 600 mg/kg bobot tubuh tikus, bryonolic acid mampu menghambat homologous passive cutaneous anaphylaxis (PCA) lebih kuat dibandingkan glycyrrhetinic acid. Kelebihan lainnya, bryonolic acid menunjukkan penundaan hipersensitivitas dan tidak ada efek samping yang terlihat pada hewan percobaan dibandingkan glycyrrhetinic acid.

Hepatoprotektor: Ekstrak etanol dan ekstrak air buah blustru pada dosis 100 dan 200 mg/kg yang diujikan pada tikus albino yang diinduksi parasetamol (2 mg/kg) menunjukkan adanya aktivitas hepatoprotektif. Hal itu juga diperkuat melalui studi histopatologis.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: