Mengenal Bligo dan Berbagai Khasiatnya

August 9, 2014

bligo

Nama lokal: Kundur, beligo, beligu, tangkue

Nama asing: Courge cireuse, pasteque de chine, ash pumpkin, white gourd, white gourd, china waxgourd, Chinese waxgourd, wax gourd, Chinese preserving melon, zit-kawa, tunka (Amerika), dongguapi (Cina); brihatphala, ghrinavasa, gramyakarkati (Sansekerta)

Ikhtisar

Tanaman yang termasuk bangsa Cucurbitales dan suku Cucurbitaceae ini tumbuh di daerah tropis dan subtropis Asia. Bligo banyak terdapat di wilayah tengah dan selatan Cina. Sinonimnya Lagenaria leucantha var. clavata, Lagenaria leucantha var. hispida, Lagenaria siceraria var. hispida, Lagenaria vulgaris var. hispida.

Kandungan kimia

Daging buah mengandung trigonelline dan adenine.

Pemanfaatan Bligo

Di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, buah dan daun kundur – nama lokal bligo – digunakan untuk penawar racun; biji dan buahnya digunakan untuk diabetes, ambeien, pencahar, sembelit/susah buang air besar, biring peluh, radang usus, disentri, panas dalam, perut kembung, radang paru-paru, batuk kering; buahnya untuk mengatasi ayan; bijinya untuk mengatasi batu ginjal dan pelembut kulit, penurun panas/demam; buahnya untuk sakit jantung; daun dan kulit buah untuk keputihan akibat peradangan dalam, gangguan psikis dan fisik pada masa menopause, menghentikan pendarahan; buah dan batangnya untuk mengatasi cacar air, gatal-gatal, dan sakit kulit; biji atau buahnya digunakan sebagai tonik.

Di Cina, bagian yang digunakan untuk pengobatan adalah kulit terluar (pericarp) dari buahnya. Secara tradisional bligo digunakan sebagai obat untuk batuk kering, demam, batu empedu, dan kehausan.

Aktivitas farmakologis

Antinosiseptif dan antipiretik: Penelitian menggunakan ekstrak etanol biji bligo. Ragi Brewer (15%) digunakan untuk menginduksi pyrexia pada tikus. Ekstrak terbukti tidak menimbulkan kematian pada tikus hingga dosis 5.000 mg/kg bobot tubuh. Pada dosis 250 mg/kg dan 500 mg/kg, ekstrak secara signifikan (p<0,05) meningkatkan efektivitas antinosiseptif pada tikus untuk dosis tertentu. Pada kedua dosis yang sama, ekstrak juga secara signifikan (p<0,05) menurunkan pyrexia pada tikus yang diinduksi menggunakan ragi. Hasil mengindikasikan bahwa ekstrak etanol bligo memiliki efek antinosiseptif dan antipiretik sehingga memperkuat tradisi penggunaannya secara tradisional untuk mengatasi demam dan kondisi sakit.

Sosok

Tanaman: Batang dipenuhi rambut halus berwarna cokelat kekuningan.

Daun: Tumbuh berselang-seling. Tangkai daun gemuk. Lembaran daun seperti kertas dengan lebar 10-30 cm. Tepian daun serrulate-menggergaji, bergerigi lembut.

Bunga: Tunggal muncul pada ketiak daun. Tangkai bunga jantan panjangnya 5-15 cm, sedangkan tangkai bunga betina lebih pendek. Mahkota bunga berwarna kuning terang, berbentuk seperti roda.

Buah: Tipe buah pepo, panjang dan silinder atau hampir membulat, berair. Kulit buah berwarna hijau. Panjang hingga 60 cm dengan diameter 25 cm.

Biji: Bentuk bulat telur berwarna putih atau kuning pucat, pipih.

Resep Radang Paru

Bahan (berupa serbuk)

Biji bligo Benincasa hispida 15 g
Daun mimba Azadirachta indica 10 g
Daun rumput mutiara Hedyotis corymbosa 10 g
Daun sirih Piper betle 5 g

Cara membuat

Rebus semua bahan dengan 2 gelas air sekitar 400—500 cc hingga mendidih kemudian diamkan hingga dingin. Ramuan diminum tanpa ampas 2—3 kali sehari sebelum makan.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: