Mengenal Biduri dan Khasiatnya

August 5, 2014

biduri

Nama lokal: Widuri (Sunda); rubik (Aceh); biduri (Melayu); rumbigo (Minangkabau, Sumatera); widuri (Jawa Tengah); bidhuri (Madura); Muduri (Bali); rembiga, kore, krokoh, modo, kapauk (Nusa Tenggara)

Nama asing: Crown flower, madar, giant milkweed, bowstring hemp, crown flower, lechoso, swallow wort (Amerika)

Ikhtisar

Biduri tanaman asli Indonesia, Kamboja, Malaysia, Filipina, Thailand, Srilanka, India, dan Cina. Tumbuh liar di sekitar pantai hingga ketinggian 600 m dpl. Seluruh bagian tanaman menggandung getah berwarna putih susu. Sinonimnya Calotropis gigantea, Madorius giganteus, Periploca cochinchinensis, dan Streptocaulon cochinchinense. Biduri termasuk bangsa Gentianales dan suku Apocynaceae.

Kandungan kimia

Pregnanone baru bernama calotropone (1) diisolasi dari ekstrak EtOH akar biduri bersama dengan glikosida kardiak. Senyawa 1 dan 2 menunjukkan efek penghambatan terhadap garis sel K562 leukemia myelogenous kronis dan SGC-7901 kanker lambung manusia.

Ekstrak diklorometan dari daun biduri mengandung uscharin (1), 3,5,8-trihydroxy-24-methylcholest-6,22-diene (2), campuran dari (24R)-3beta-hydroxy-24-ethylcholest-5-en-7-one (3a) dan 6beta-hydroxy-24-ethylcholest-4,22-dien-3-one (3b), serta campuran lain (24R)-24-ethylcholest-4-en-3-one (4a) dan (24S)-24-ethylcholest-4,22-dien-3-one (4b).

Sosok

Tanaman: Tinggi mencapai 7 m. Batang berwarna keputihan.

Daun: Tumbuh bertolak belakang. Pinggiran daun rata. Hampir tidak memiliki tangkai daun. Panjang daun 7,6-20,3 cm dengan lebar 5,1-12,7 cm. Tulang daun terlihat jelas.

Bunga: Berbentuk bintang berwarna ungu keputihan. Terdiri dari 5 mahkota bunga.

Buah: Berbentuk kantung yang menyerupai ginjal. Di dalamnya terdapat kumpulan jaringan menyerupai rambut. Berwarna hijau dan berubah menjadi cokelat muda ketika tua.

Biji: Tipis, mudah terbawa angin ketika kering.

Pemanfaatan Biduri

Di Kamboja biduri umum digunakan sebagai bunga duka di acara pemakaman. Penduduk Kecamatan Alor Tengah Utara, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, berdasarkan hasil tesis Masni Usman dari Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang, menggunakan kolam susu – sebutan lokal biduri – untuk mengatasi kencing batu. Bagian tanaman yang digunakan adalah akar. Penggunaannya dengan cara merebus akar kolam susu yang telah dicuci bersih secukupnya menggunakan 3 gelas air matang hingga tersisa 1 gelas. Air rebusan kemudian diminum 2 kali sehari setiap pagi dan sore.

Aktivitas farmakologis

Antioksidan dan antidiabetes: Studi dilakukan untuk mengetahui pertahanan antioksidan ekstrak kloroform biduri pada streptozotocin (40 mg/kg, intraperitonial, injeksi tunggal) induksi diabetes pada tikus wistar albino. Ekstrak secara signifikan menurunkan level zat kimia reaktif asam thiobarbituric pankreatik (TBARS) dan signifikan meningkatkan level superoksida dismutase, katalase, dan glutation dibandingkan level di atas pada jaringan pankreatik tikus patogen diabetes. Tes dibandingkan dengan glibenclamide (5 mg/kg, harian), agen antihiperglikemlk. Studi menyimpulkan biduri meningkatkan pertahanan antioksidan melawan spesies reaktif oksigen yang diproduksi dl bawah kondisi hiperglikemlk dan melindungi ß-cells dan menunjukkan kandungan antidiabetes.

Penyembuh luka: Penelitian bertujuan menginvestigasi efek akar kulit kayu pada aktivitas penyembuhan luka pada tikus dengan model pemotongan, penyayatan, dan pemulihan luka ruang/rongga mati-adanya rongga pada luka yang terjadi karena penjahitan yang tidak lapis demi lapis-pada tikus. Tikus wistar albino diberi perlakuan formulasi ekstrak dalam bentuk salep dengan menggunakan salep BP sederhana sebagai dasar. Salep 5% (w/w) diaplikasikan sehari sekali pada model luka pemotongan. Ekstrak etanol diberikan secara oral dengan dosis 100 mg, 200 mg, dan 400 mg/kg pada model luka penyayatan dan penyembuhan luka ruang mati. Tikus kelompok standar diberi perlakuan 5% salep povidone iodine pada bagian luar. Persentase penutupan luka, waktu epitelisasi, kandungan hidroksiprolin, dan area bekas luka pada epitelisasi lengkap dihitung. Aplikasi topikal pada model luka pemotongan meningkatkan presentase kontraksi luka. Area bekas luka dan waktu epitelisasi menurun. Pada luka sayatan dan luka ruang mati retaknya kekuatan luka dan hidroksiprolin meningkat. Biduri mempercepat penyembuhan luka pada tikus.

Antinyamuk: Ekstrak daun biduri dan Bacillus thuringiensis dites pada larva instar pertama hingga keempat dan pupa Anopheles stephensi, Aedes aegypti, dan Culex quinquefasciatus. Tanaman dikumpulkan dari sekitar Bharathiar University, Coimbatore, India. Daun biduri dicuci dengan air mengalir dan dikeringanginkan pada suhu kamar kemudian diblender. Bubuk daun 500 g diekstrak dengan 1,5 l pelarut organik metanol selama 8 jam menggunakan aparsatus Soxhlet lalu disaring.

Ekstrak daun kasar dievaporasikan hingga kering dalam evaporator vakum putar. Ekstrak tanaman menunjukkan efek larvacidal dan pupicidal setelah 24 jam terekspos, tidak ada kematian terjadi pada kelompok kontrol. Untuk biduri dan B. thuringiensis, nilai konsentrasi letal median (LC50) diamati untuk melihat aktivitas larvacidal dan pupicidal melawan spesies vektor nyamuk Anopheles stephensi, Aedes aegypti, serta Culex quinquefasciatus. Studi membuktikan ekstrak metanol daun biduri dan bakteri insektisida B. thuringiensis memiliki kandungan zat mosquitocidal.

Hepatoprotektor: Ekstrak etanol (50 %) tangkai biduri pada dosis 250 dan 500 mg/kg diteliti untuk mengetahui efek hepatoprotektif pada tikus wistar jantan dengan kerusakan liver hasil induksi karbon tetraklorida 2 mL/kg dua kali sepekan. Efek perlindungan dibandingkan dengan silymarin, obat standar. Beragam parameter biokimia seperti aspartate amino transferase (AST), alanine amino transferase (ALT), glutathione (GSH), peroksida lipid (LPO), superoxidedismutase (SOD), glutathione peroxidase (GPx), dan katalase (CAT) dievaluasi. Hasil menunjukkan ekstrak signifikan menurunkan AST, ALT, dan level peroksida lipid. Parameter antioxidan: level GSH, GPx, SOD dan katalase sangat meningkat dibandingkan level pada kelompok yang tidak diberi ekstrak.

Hipoglikemik: Aktivitas hipoglikemik pada tikus normal diteliti dengan perlakuan ekstrak kloroform daun dan bunga biduri sebanyak 10, 20, dan 50 mg/kg, secara oral. Tes toleransi glukosa oral dilakukan dengan memberikan glukosa (2 g/kg, p.o) kepada tikus nondiabetes yang diberi perlakuan ekstrak daun dan bunga pada oral dosis 10, 20 and 50 mg/kg, p.o dan glibenclamide 10 mg/kg. Glukosa serum kemudian diukur pada 0; 1,5; 3; dan 5 jam setelah pemberian ekstrak/obat. Tikus diabetes yang diinduksi streptozotocin diberikan dosis ekstrak bunga dan daun yang sama, sedangkan glibenclamide sebagai obat standar diberikan pada tikus normal atau 0,5 ml dari 5% Tween-80 selama 27 hari. Hasil penelitian membuktikan ekstrak daun dan bunga biduri efektif menurunkan level glukosa serum pada tikus normal dan tikus diabetes yang diinduksi streptozotocin.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: