Mengenal Bayam Merah dan Khasiatnya

August 2, 2014

bayam merah

Nama lokal: Bayam gelatik, bayam kakap, bayam abang (Jawa); senggang beureum (Sunda)

Nama asing: Amaranthe tricolore

Ikhtisar

Genus Amaranthus terdiri dari 70 spesies. Empat puluh di antaranya tanaman asli Amerika. Setidaknya terdapat 17 spesies yang umum dikonsumsi. Salah satunya Amaranthus tricolor yang berasal dari daerah tropis Asia. Di wilayah Asia tenggara dan selatan, tanaman yang bersinonim dengan Amaranthus tricolor var. tritis itu termasuk salah satu sayuran daun yang banyak dikonsumsi. Bayam merah termasuk bangsa Caryophyllales dan suku Amaranthaceae.

Kandungan kimia

Polisakarida larut-air (PS-I) yang diisolasi dari ekstrak batang bayam merah ditemukan mengandung L-arabinose, methyl-D-galacturonate, D-galactose, dan 3-O-Ac-L-rhamnose.

Sosok

Tanaman: Tinggi mencapai 1,5 m.

Daun: Seperti bayam hijau, tetapi di bagian dekat urat daun tengah muncul warna merah keunguan. Varian lainnya ada yang berwana kuning kombinasi merah. Tumbuh berselang-seling. Tepi daun bergelombang.

Bunga: Kecil.

Biji: Kecil berwarna hitam.

Akar: Putih.

Pemanfaatan Bayam Merah

Di Indonesia, Cina, India, dan Jepang daun dan batang bayam merah lazim digunakan sebagai salad, pelengkap sup, maupun dimakan sebagai lalapan.

Aktivitas farmakologis

Aktivitas penghambatan sel kanker dan antiproliferasi: Isolasi bioassay-terarah daun dan batang bayam merah menghasilkan tiga galactosyl diacylglycerols (1-3) dengan aktivitas penghambat tumor manusia dan siklooksigenase yang kuat. Galactosyl diacylglycerols 1-3 menghambat enzim cyclooxygenase-1 (COX-1) melalui 78, 63, dan 93%, serta enzim cyclooxygenase-2 (COX-2) melalui 87, 74, dan 95%, berturut-turut. Senyawa dites untuk melihat aktivitas antiproliperatif menggunakan garis sel kanker AGS manusia (lambung), CNS (sistem saraf pusat; SF-268), HCT-116 (usus besar), NCI-H460 (paru-paru), dan MCF-7 (payudara). Senyawa 1 menghambat pertumbuhan garis sel kanker AGS, SF-268, HCT-116, NCI-H460, dan MCF-7 dengan nilai IC50 49,1; 71,8; 42,8; 62,5; dan 39,2 mug/ml, berturut-turut. Untuk garis sel tumor AGS, HCT-116, dan MCF-7, nilai IC50 senyawa 2 dan 3 yaitu 74,3; 71,3; dan 58,7 mikrog/ml serta 83,4; 73,1; dan 85,4 berturut-turut. Itu merupakan hasil penelitian pertama yang menunjukkan aktivitas penghambatan enzim COX untuk gliserol galaktosil dan aktivitas antiproliperatif melawan garis sel kanker CNS, perut, paru-paru, payudara, dan usus besar pada manusia.

Hepatoprotektor: Ekstrak etanol daun bayam merah (ATE) diuji untuk mengetahui efektivitasnya melawan toksisitas liver yang diinduksi CCI pada tikus. Aktivitas hepatoprotektif ATE dievaluasi melalui beragam parameter toksisitas liver, profil lipid, dan evaluasi histopatologikal. Studi penentuan waktu tidur dan tes toksisitas akut dilakukan pada mencit. Hasilnya secara jelas menunjukkan bahwa pemberian ATE oral selama tiga minggu secara signifikan mengurangi level kenaikan serum GOT (glutamic oxaloacetic transaminase), GPT (Glutamic pyruvic transaminase), GGT (Gamma glutamyl transpeptidase), ALP (Alkaline phosphatase), bilirubin, kolesterol, LDL (Low density lipoprotein), VLDL (Very low density lipoprotein), TG (Trigliserida), dan MDA (malondialdehyde) yang diinduksi oleh CCI. Lebih lanjut, perlakuan ATE juga signifikan meningkatkan aktivitas NP-SH (non-protein sulfhydryl) dan TP (Total Protein) pada jaringan liver. Temuan biokimia tersebut didukung evaluasi histopatologi pada tikus. Perpanjangan narkolepsi yang diinduksi pentobarbital memendek secara signifikan berkat ekstrak. Tes toksisitas akut menunjukkan tidak ada ketidakwajaran dan kematian yang disebabkan ekstrak. Efek hepatoprotektif yang diobservasi terlihat berkaitan dengan kandungan antioksidan bayam merah, yang dapat digunakan untuk melawan penyakit liver.

Efek sitoprotektif lambung: Efek daun bayam merah pada sekresi lambung dan efek sitoproteksi lambung dievaluasi menggunakan lima model tukak lambung berbeda: tukak lambung yang diinduksi asam asetat, diinduksi pylorus ligation, diinduksi etanol, diinduksi indomethacin, dan diinduksi ischemia-reperfusion. Ekstrak berbeda, yaitu, ekstrak etanol (EAT), ekstrak petroleum eter (PEAT), ekstrak kloroform (CAT), dan ekstrak etil asetat (EAAT) daun bayam merah diberikan pada dosis 200 mg/kg per oral (p.o.). Studi toksisitas oral akut memunculkan bahwa semua ekstrak tersimpan hingga lebih dari 2.000 mg/kg, p.o, sebab itu sepersepuluh dosis dipilih untuk mengevaluasi aktivitas antitukak. EAT dan EAAT (200 mg/kg, p.o.) menunjukkan efek penyembuhan tukak lambung pada tukak lambung kronis induksi asam asetat. EAT dan EAAT menghambat sekresi lambung pada tikus pylorus ligated dan menunjukkan efek sitoprotektif lambung pada tukak lambung induksi etanol dan induksi indomethacin, sementara PEAT dan CAT menunjukkan efek antitukak yang tidak signifikan. Ekstrak daun bayam merah ditemukan memiliki kandungan antitukak yang terbukti baik pada tukak lambung percobaan model hewan, itu sesuai dengan kebiasaan pengobatan tradisional turun-temurun.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: