Mengenal Asam Kandis

June 26, 2014

asam kandis

Nama lokal: Entelang, ete, gandis, kandis, kumanjing (Kalimantan); kundong, walung (Jawa); kiceuri (Sunda)

Nama asing: Asam aur-aur (Brunei); asam alui-alui, kundung, yellow kandis (Sabah, Malaysia); brunei cherry (Amerika)

Ikhtisar

Tanaman perennial tumbuh hingga ketinggian 1.000 m dpl. Hidup di bawah tegakan atau di daerah dengan kelembapan cukup tinggi. Asam kandis tumbuh di daerah tropis Thailand dan Semenanjung Malaysia. Di Indonesia asam kandis dapat ditemui di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Kandungan kimia

Sembilan xanthone, parvixanthones A-l, diisolasi dari kulit batang asam kandis yang dikeringkan. Semuanya memiliki pola 1,3,6,7-oxygenated pada inti xanthone tetapi memiliki kelompok unsur oxygenated isoprenyl atau geranyl bervariasi. Garciniavalline, senyawa aporphinoid alkaloid, selain empat alkaloid lainnya yang lebih dahulu diketahui cleistopholine, 0-methylmoschatoline, (-)-oliveroline dan (-)-oliveridine berhasil diisolasi dari kulit batang Gorcinia porvifolio Miq. Daunnya mengandung parvifoliquinone, parvifoliols B, C, E, garcidepsidone B, nigrolineaisoflavone A, dan mangostinone.

Rupa Asam Kandis

Tanaman: Tinggi pohon mencapai 10-25 m. Kayunya mudah merekah.

Daun: Berwarna hijau tua di permukaan atas dan hijau muda pucat di bagian bawah. Bertangkai daun pendek 0,5-1,5 cm. Bentuk oblong atau lanset-oblong. Panjang 3,5-17 cm. Lebar 2-7 cm.

Bunga: Berwarna kuning pucat hingga jingga berukuran 0,5-1 cm. Bunga jantan tanpa pistilode-putik steril. Bunga betina memiliki 7-12 stamen.

Buah: Saat muda berwarna hijau berubah jingga hingga merah ketika matang. Daging buah jingga kekuningan.

Biji: Satu buah berisi 5-8 biji berwarna putih.

Pemanfaatan Asam Kandis

Buah dikonsumsi sebagai bahan campuran membuat sambal atau bumbu masakan berbahan daging. Daun mudanya yang berwarna kemerahan dimasak sebagai sayur. Penduduk di Sabah, Malaysia menggunakan buahnya untuk sayur.

Aktivitas farmakologis

Antiplasmodial: Ekstrak kasar akar, kulit batang, buah, dan daun G. porvifolia dilarutkan dalam n-hexane, etil asetat, dan methanol. Ekstrak akar dan kulit batang menunjukkan aktivitas antiplasmodial yang kuat.

Penelitian lainnya terkait antiplasmodial menunjukkan kandungan cleistopholine dan (-)-oliveroline yang terdapat pada kulit batang asam kandis menunjukkan aktivitas antiplasmodial melawan Plasmodium folciporum-salah satu protozoa parasit penyebab malaria pada manusia.

Masih terkait malaria, ekstrak kulit batang asam kandis dengan pelarut etanol 70% pada dosis 100 mg/kg BB, 300 mg/kg BB, 500 mg/kg BB, dan 1.000 mg/kg BB juga terbukti dapat menghambat pertumbuhan Plasmodium yoelii. Bahkan persentase penghambatan terhadap P. yoelii pada dosis 1.000 mg/kg mendekati efek penghambatan klorokuin-obat standar malaria yaitu 80,0996 untuk ekstrak kulit batang berbanding dengan klorokuin 94,5%.

Antioksidan: Ekstrak kasar akar, kulit batang, buah, dan daun asam kandis dilarutkan dalam n-hexane, etil asetat, dan metanol. Semua ekstrak menunjukkan aktivitas antioksidan dengan IC50 <100 µg/ml dan aktivitas antioksidan dengan LC50 <1000 µg/ml.Antibakteri: Ekstrak kasar akar, kulit batang, buah, dan daun asam kandis dilarutkan dalam n-heksana, etil asetat, dan metanol. Ekstrak n-hexane daun dan buah tidak menunjukkan aktivitas antibakteri sedangkan ekstrak n-heksana dan etil asetat dari kulit batang, akar, dan buah menunjukkan aktivitas antibakteri kuat khususnya melawan Staphyloccocus aureus.5 Menekan kerusakan lever: Penelitian ditujukan untuk mengetahui efek kulit batang asam kandis terhadap kerusakan hati pada mencityang terinfeksi Plasmodium berghei. Bervariasi dosis diberikan untuk meneliti level malondialdehida (MDA), SGOT, dan SGPT terkait dengan kerusakan sel iever dan tingkat parasitemia.

Riset menunjukkan pemberian ekstrak kulit batang asam kandis dengan dosis 400 mg/kg BB pada masa infeksi malaria berefek produksi MDA meningkat dan kerusakan lever cenderung lebih ringan. Pemberian ekstrak kulit batang asam kandis secara oral dapat menurunkan level MDA, SGOT, dan SPGT, khususnya dengan dosis 400 mg/kg BB/hari dan 800 mg/kg BB/hari.

Antimikrob: Rubraxanthone yang diisolasi dari latek asam kandis menunjukkan aktivitas kuat melawan Staphylococcus aureus – bakteri penyebab penyakit antara lain pneumonia dan meningitis – baik pada strain normal dan strain resisten penisilin. Selain itu, senyawa itu juga menunjukkan aktivitas tingkat menengah melawan Trichophyton mentagrophytes dan Microsporum gypseum. Keduanya cendawan yang berhubungan dengan infeksi kulit pada hewan dan manusia.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: