Mengenal Anestesi dan Efek Sampingnya

February 15, 2015

anestesi

Siapa yang tidak kenal obat bius? Sebelum obat bius alias obat anestesi ditemukan, bisa dipastikan bahwa setiap pembedahan akan diikuti dengan jeritan-jeritan maut yang memekakkan telinga. Penemuan obat-obat anestesi tidak hanya mendukung pembedahan yang aman tapi juga nyaman bagi pasien maupun dokter yang melakukan. Anestesi atau pembiusan saat ini dapat dilakukan melalui beberapa cara. Apa saja dan apa efek sampingnya?

Anestesi Lokal

Merupakan obat anestesi yang diberikan untuk menghentikan sensasi nyeri sementara waktu di bagian tubuh tertentu. Selama pembiusan, Anda dapat tetap sadar. Obat ini umumnya diberikan melalui suntikan di daerah yang akan dioperasi. Jika ingin didapatkan daerah baal yang lebih luas, dokter dapat melakukan pemblokan saraf di suatu bagian. Misalnya pada jari, seluruh tangan, atau satu rahang pada pencabutan gigi.

Selain berbentuk obat suntik, anestesi lokal juga tersedia dalam bentuk salep, misalnya untuk sariawan yang super nyeri di mulut; atau berupa obat tetes seperti obat tetes mata yang digunakan untuk membaalkan mata saat operasi katarak.

Obat anestesi lokal umumnya bekerja dengan cepat dan dapat langsung terasa manfaatnya hanya dalam beberapa menit setelah diberikan. Efek obatnya juga bertahan hingga dua jam atau lebih sehingga dokter dapat leluasa melakukan prosedur tanpa harus berulang kali menyuntikkan obat. Jika efeknya sudah habis, sensasi di daerah yang dibius akan pulih sempurna. Jika ada kemungkinan timbul nyeri setelah obat habis, Anda akan perlu minum obat antinyeri.

Obat anestesi lokal ini cocok digunakan untuk operasi-operasi kecil seperti pengangkatan tahi lalat, kutil, tumor jinak kulit, biopsi, hingga pencabutan gigi. Beberapa efek samping yang sering terjadi di antaranya mual, mengantuk, perubahan mood, telinga berdenging, pusing, gangguan penglihatan sementara, hingga gemetar, kebas, nyeri kepala, atau otot terasa berkedut. Meski jarang sekali terjadi, pemberian bius lokal dapat menimbulkan komplikasi berupa kejang atau henti jantung.

Anestesi Regional

Anestesi regional adalah pembiusan satu bagian tubuh yang akan dioperasi, misalnya daerah perut ke bawah, daerah tungkai, atau daerah dada. Anestesi ini diberikan dengan cara menyuntikkan obat anestesi lokal pada saraf yang mempersarafi bagian tubuh tersebut. Anestesi ini memungkinkan kita dapat tetap sadar tapi tidak merasakan apapun saat dioperasi.

Berbeda dengan anestesi lokal, pemberian anestesi regional tidak hanya dapat menghilangkan rasa nyeri, tetapi juga sensasi lainnya. Bagian tubuh yang dibius akan terasa berat, baal, bahkan tidak dapat digerakkan sementara waktu.

Salah satu jenis anestesi regional yang paling populer adalah anestesi spinal dan epidural. Pada anestesi yang banyak diberikan pada ibu hamil ini, obat dimasukkan ke rongga sekitar tulang belakang, dekat dengan sumsum tulang belakang. Pada anestesi spinal, suntikan hanya diberikan satu kali, sedangkan pada epidural, obat diberikan terus-menerus melalui sebuah selang kecil selama masih diperlukan.

Dengan anestesi regional ini, dokter dapat melakukan operasi caesar dengan ibu dalam keadaan sadar. Anestesi epidural juga sering dilakukan untuk meredakan nyeri selama kontraksi pada ibu yang ingin melahirkan secara normal. Sama seperti anestesi lokal, efek anestesi regional juga akan menghilang secara perlahan-lahan dan tubuh akan pulih kembali seperti semula dalam beberapa jam.

Meski tergolong cukup aman, ada beberapa efek samping yang dapat terjadi setelah pemberian anestesi spinal dan epidural. Di antaranya:

● Tekanan darah rendah

Merupakan efek samping yang paling sering terjadi. Hal ini terjadi karena persarafan pembuluh darah ikut terpengaruh oleh obat anestesi. Akibatnya pembuluh darah melebar dan tekanan darah menjadi turun. Hal ini dapat menyebabkan timbulnya rasa melayang atau mual.

● Nyeri dan rasa tidak nyaman saat disuntik

Pada orang tertentu, anestesi regional dapat sulit dilakukan atau obat tidak tersebar merata. Jika hal ini terjadi, bukan tidak mungkin prosedur harus diulang atau diganti dengan prosedur anestesi lain sehingga menimbulkan rasa nyeri atau tidak nyaman. Jika Anda merasakan nyeri tajam saat disuntik, segera beritahukan dokter agar ia dapat mengubah posisi jarum.

● Mengompol atau malah sulit buang air kecil

Setelah diberikan anestesi epidural atau spinal, Anda akan sulit mengendalikan kandung kemih. Pada pria, Anda dapat jadi sulit untuk buang air kecil. Sedangkan pada wanita, rasa ingin buang air kecil dapat menghilang sehingga timbul mengompol. Tidak heran jika dokter perlu memasang kateter pada saluran kencing Anda. Jangan kuatir, efek ini hanya sementara. Kemampuan Anda untuk menahan dan mengeluarkan urine akan kembali segera setelah efek obat anestesinya habis.

● Gatal-gatal

Kombinasi antara obat anestesi spinal dengan obat anti nyeri tertentu dapat menimbulkan rasa gatal di kulit. Jika hal ini terjadi, segera beritahukan perawat atau dokter.

● Mual

Meski lebih sering terjadi pada bius umum, kadang-kadang mual juga dapat terjadi pada anestesi spinal.

● Sakit kepala

Sakit kepala dapat terjadi setelah anestesi spinal. Meski demikian, perlu diingat bahwa penyebab sakit kepala dapat bermacam-macam, termasuk stress menghadapi operasi, dehidrasi, atau operasinya sendiri. Sakit kepala ini biasanya akan hilang dalam beberapa jam dan dapat diobati dengan obat pereda nyeri.

● Kerusakan saraf

Merupakan komplikasi yang jarang terjadi dan umumnya bersifat sementara waktu. Kerusakan saraf ditandai dengan hilangnya sensasi, sensasi seperti tertusuk jarum dan kadang-kadang kelemahan otot yang berlangsung beberapa hari hingga minggu.

Anestesi Umum

Anestesi umum adalah obat bius yang digunakan untuk membuat seseorang memasuki tidur yang dalam. Dengan demikian, Anda tidak akan merasakan apapun selama pembedahan berlangsung. Obat anestesi umum dapat diberikan dengan cara dihirup melalui masker atau selang, diberikan melalui infus dan suntikan, atau dapat juga kombinasi keduanya.

Anestesi umum dapat menekan seluruh fungsi tubuh, termasuk pernapasan, denyut jantung, aliran darah, saluran cerna, serta refleks menelan, batuk, atau memuntahkan benda asing yang masuk ke dalam paru-paru. Karena itu, dokter anestesi harus mengawasi kondisi Anda secara seksama selama pembedahan berlangsung. Agar pernapasan dapat tetap lancar, dokter akan memasukkan selang ke dalam tenggorokan untuk menyalurkan oksigen segera setelah Anda tertidur. Jika operasi sudah selesai, obat bius akan distop dan Anda akan dibawa ke ruang pemulihan untuk pengawasan lebih lanjut.

Beberapa efek samping anestesi umum di antaranya:

● Mual dan muntah segera setelah operasi. Untuk mencegah terhirupnya muntahan, Anda harus puasa sedikitnya 8 jam sebelum operasi.

● Kedinginan dan menggigil hingga 30 menit setelah operasi.

● Bingung, sulit berpikir jernih, dan amnesia. Gangguan ini bersifat sementara dan biasanya terjadi pada lansia.

● Gangguan berkemih, baik sulit buang air kecil atau mengompol.

● Pusing berputar.

● Nyeri tenggorok atau cedera bibir dan gigi akibat pemasangan selang pernapasan.

Selain efek samping di atas, ada beberapa efek samping serius tetapi jarang terjadi, yaitu:

● Serangan jantung, gagal jantung, atau stroke.

● Tekanan darah meningkat atau menurun.

● Pneumonia alias infeksi paru-paru atau gangguan pernapasan lainnya.

● Kegagalan pemasangan selang pernapasan.

● Alergi atau reaksi yang tidak diinginkan terhadap obat-obatan anestesi.

● Kerusakan otot dan peningkatan suhu tubuh secara mendadak

● Kematian

Karena sifatnya yang memengaruhi seluruh tubuh, kemungkinan timbulnya efek samping pada anestesi umum akan lebih besar dibanding anestesi lokal ataupun regional. Meski demikian, efek samping ini umumnya bersifat ringan dan dapat diatasi dengan mudah. Efek samping yang serius juga sangat jarang terjadi pada orang yang secara secara umum sehat.

 

 

 

loading...

Previous post:

Next post: